Tampilkan postingan dengan label Tradition and Heritage. Tampilkan semua postingan

Meratapi Kristus di Noemuti



Sore itu, awan hitam menggantung di atas langit Bijeli, nama tempat di mana rumah kami menginap. Pukul 15.00, kami berangkat menuju Gereja Satu Hati, Satu Cinta, Satu Keluarga, Noemuti untuk mengikuti Ibadat Cium Salib dan Perayaan Ekaristi Jumat Agung.

 (Hah? Kenapa? Nama Gerejanya panjang? hahaha Ember, tetapi itu beneran. Serius).

Tiba di gereja, misa baru saja dimulai. Beruntung, kami masih mendapat tempat di dalam gereja, meskipun di bangku paling jauh dari altar. Saya dan salah satu teman saya, menempati satu bangku bersama dua orang bapak dan seorang wanita paruh baya, mungkin dia seumuran saya. Hm…

Beberapa menit sebelum Passio Injil Tuhan dimulai pada Perayaan Jumat Agung yang muram, terdengar guntur yang menggelegar dengan dahsyatnya. Ini terjadi sepanjang bacaan injil yang dinyanyikan tersebut berlangsung di atas altar.

Demikian, supaya genaplah isi Kitab Suci, “ketika Yesus mati di kayu salib, langit seketika menjadi gelap gulita, terjadi gempa bumi yang hebat, Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah, dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit.” (Matius, 27: 51-52)


Yah tidak sehoror isi Kitab Suci juga. Masih dalam taraf yang bisa diterima dan dihadapi.

Hal yang sama terjadi, terdengar dentuman keras dari langit, tepat di atas gereja, hanya sepersekian detik ketika barisan wanita dan Patung Yesus tiba di pintu masuk gereja menuju altar untuk memulai RATAPAN. Setelah Passio selesai, upacara dilanjutkan dengan RATAPAN. Tradisi meratapi kematian Kristus di Hari Jumat Agung setelah Kisah Sengsara selesai dinyanyikan ini, terdapat di beberapa Paroki di Keuskupan Atambua maupun juga Keuskupan Agung Kupang.

Disebut ratapan, sebab syair yang dinyanyikan dalam bahasa Dawan ini berisi tentang kesedihan dan duka yang mendalam akan kematian Kristus. Orang Dawan, sebagaimana juga beberapa suku lain di Nusa Tenggara Timur, memiliki kebiasaan menangis di samping jenazah yang telah meninggal dunia. Tangisan tersebut memiliki nada dan akan terdengar seperti nyanyian yang sedih menyayat hati. Saat menangis itu, kenangan-kenangan yang sudah terjadi di masa hidup Almarhum akan diungkapkan melalui ratapan tersebut.

Ketimbang panik dengan bunyi-bunyi alam dari langit, umat di dalam gereja memilih tetap khusyuk dan tenang. Sepertinya ini fenomena alam yang sudah lumrah terjadi setiap tahunnya di sini.

Ketika ratapan dimulai, seluruh gereja hening, masing-masing sibuk dengan isi di dalam hatinya (bukan kepala, saya yakin begitu). Di luar dugaan, pada ratapan yang memilukan ini, terdapat satu bagian yang dinyanyikan bersama-sama dengan UMAT.

Tidak ada bahasa yang tepat untuk menjelaskan suasana serta perasaan untuk kejadian ini. Jika kau mungkin ingin tahu, apa yang saya lakukan saat itu; saya menutup Novel Cannery Row yang tengah saya baca sejak Passio mencapai pertengahan tadi (karena saya sungguh mulai bosan dengan Kisah Sengsara yang diulang-ulang sejak saya belum mengerti hingga khatam Kitab Suci).

Saya kemudian terdiam, tenggelam bersama ratapan. Tanpa sadar, mata saya basah. Biasanya, untuk hal-hal semacam ini, saya tidak pernah punya cukup alasan untuk hal-hal yang terjadi dengan tubuh saya, apalagi ini berada di luar kendali saya. Menalarnya dengan cara apa pun, saya tak mampu. Maka, saya memilih diam sembari membiarkan pipi, rambut hingga bahu saya kebanjiran.

Saya teringat anjuran Yesus yang dahulu, waktu saya masih kanak-kanak, yang saya nilai sungguh angkuh sekali: “Jang ko menangis saya. Menangis untuk ko, ko pu suami dan ko pu anak-anak.”

(yang single, dikondisikan aja yah :D)

Hingga saat ini, saya masih kepo, sungguhkah Tuhan ada? Benarkah Yesus, PuteraNya?

(24 Jam kemudian, saya tetap menyatakan Percaya bahwa Ia sungguh ada dan Yesus sungguh Puteranya pada Pembaharuan Janji Baptis di Perayaan Ekaristi Sabtu Alleluya).

Saya kadang dijuluki sangat kekanak-kanakan di usia yang sebegini ini, masih saja meragukan Tuhan dan semua sepak terjang Beliau.

Kisahnya tak lekang oleh waktu, meski sampai detik ini, tidak ada satu pun yang bisa memastikan “Apa agama Yesus?”

Yesus hanya menyebarkan sebuah ajaran yang kadang sangat menguras tenaga, waktu dan perasaan: “CINTA KASIH.”

Dan saya, masih terduduk di antara ratusan umat di gereja ini, meratapi kematian laki-laki seksi berambut sebahu, sebab siang kemarin Ia dibiarkan telanjang di tiang gantungan. Ia dengan tegas membalikkan makna tiang penyiksaan tersebut dari simbol keterpurukan, penyiksaan yang hina dina menjadi sebuah tanda kemenangan, yang entah mengapa, hingga saat ini, masih menjadi gerakan sekaligus mantra utama dalam setiap kondisi.


Nikiniki, 31 Maret 2018
Dari sebuah Perayaan Malam Paskah yang melelahkan
Saya memilih untuk belum move on dan mencatat ini pada Jurnal
*Akhir bulan ini, saya cerewet sekali.


Barisan Wanita yang Meratap. Foto: Eko Ninu







Taman Bung Karno Ende - Saran untuk pengembangan



Akhirnya!!!

*Jika ingin melihat gambar lebih jelas, bisa double klik pada gambar. Thanks




Saran saya ini sempat saya sampaikan ketika saya ngomel-ngomel di postingan Generasi Bangsa Ini, Diajarkan Untuk Lupa kemarin. Berikut saya uraikan lebih rinci;

Pintu depan: Ada Petugas jaga/Piket yang bekerja beberapa shift (bergantian), Pagi-Siang-Sore-Malam. Petugas-petugas ini juga bertanggung jawab atas Keamanan Lingkungan Taman setiap hari termasuk Security Check. Pengunjung DILARANG membawa spidol,pilox, atau alat-alat lainnya yang memiliki potensi Vandalisme ke dalam taman.

Di pintu depan disiapkan Katalog yang bisa dibagikan ke pengunjung saat akan masuk ke taman sebagai penunjang informasi selain juga PAPAN INFORMASI yang bisa disediakan di sudut tertentu dari taman. Informasi bisa berupa “Kenapa Taman Bung Karno dibangun?” // “Cerita tentang Proses Pembangunan hingga Peresmian” // “Sejarah Bung Karno di Ende” // “Pohon Sukun dan Falsafah Pancasila” // ini salah satu solusi yang ditawarkan untuk mengedukasi masyarakat supaya punya rasa bangga dan kepedulian lebih terhadap Taman.

Patung: Sebaiknya Lokasi Patung tidak diakses leluasa oleh pengunjung, dipagari rapi lalu diberi tulisan “PENGUNJUNG DILARANG NAIK DAN DUDUK DEKAT/DI ATAS PATUNG.” Ini terkesan keras atau mungkin norak tetapi juga mengajarkan pengunjung supaya tidak terlalu kurang ajar karena beberapa pengunjung yang ceroboh malah membuat Patung Bung Karno itu tidak memiliki wibawa sama sekali sebagai Tokoh Proklamator dan Presiden Pertama Indonesia.

Kolam airnya mohon dijaga supaya selalu berisi air, tidak kering. Karena memang begitu fungsinya, menambah keindahan dengan pantulan bayangan patung tersebut ke air (menurut saya sih).

Petugas Kebersihan: Daun-daun yang jatuh dari pohon itu tidak masalah, itu bisa dibersihkan sesekali tetapi sampah plastik atau bekas makanan yang dibuang sembarangan pengunjung itu kadang mengganggu sekali padahal sudah disediakan tempat sampah di titik tertentu. Kita harus menerima kenyataan, masyarakat kita belum begitu paham tentang “Membuang Sampah Pada Tempatnya” sehingga harus dibutuhkan pekerja extra sampai waktu yang tidak ditentukan. Petugasnya usahakan yang memang talentanya di situ, bukan yang terima gaji buta wkwkwkw…

TOILET: Belum ada toilet di Taman Bung Karno (Atau sudah ada, cuma saya yang kurang perhatikan)

Seperti di atas dulu untuk sementara, kalau seiring waktu ada yang nyasar di kepala saya dan belum terlambat untuk disampaikan, saya akan berkabar. Hm..Kalau tambahan petugas itu dirasa akan menguras banyak biaya demi menggaji mereka, pengunjung mungkin bisa dikenakan biaya retribusi masuk yang “masuk akal” untuk mengimbangi hal tersebut.

Demikian~


Ketika Bapak Hilang



Sebuah Cerpen #MariaPankratia

(Ini cerpen lama yang saya edit dan kirimkan ke Santarang. Lalu diedit kembali oleh Pemred Jurnal Santarang yang ngeri-ngeri sedap itu, maka jadi lah seperti ini. Ada kemungkinan cerita ini akan saya revisi lagi pada bagian akhirnya. Hihi)


*Santarang Edisi Agustus 2016



Lukas melepas celana yang basah setelah sekian lama terendam air sungai. Hampir lima jam Ia menghabiskan waktu untuk bermain bersama kawan-kawan sejak pulang sekolah. Dan kini yang terjadi, Ia mulai menggigil kedinginan dengan jemari yang mulai pucat keriput karena terendam air. Bergegas Ia mendekati tungku yang sedang menyala membara, perasaan hangat menjalar seketika. Beberapa saat kemudian, Mama telah berada di sampingnya sambil memperbaiki letak kayu bakar supaya tetap menyala mekar.

“Dari mana saja kau? Jam begini baru pulang?”

Lukas menyeringai. Dalam temaram dapur, seringai itu nampak menyebalkan. Hal itu membuat Mama bingung dan kesal sehingga menghardiknya.

“Pergi pake baju sudah sana! Besok kau tidak bisa sekolah, kau lihat memang.”

Lukas yang sudah kembali pulih dari rasa dingin lekas bangkit dan berlari ke dalam kamar untuk berpakaian. Di luar, rintik hujan mulai menggerogoti atap ilalang rumah yang perlahan meranggas akibat terlalap musim yang tak pernah pasti.

***

Lukas adalah anak tunggal dari Bapak Petrus dan Mama Ance. Kelakuannya yang “aduhai” mestilah ditoleransi karena usianya yang baru mendekati tujuh. Bapak Petrus sekeluarga menempati sebuah rumah sederhana beratap alang-alang di Desa Pemo, sekian langkah dari Danau Kelimutu. Di sekitar danau bertaburan hutan pinus dan pepohonan yang namanya sulit disebut.

Danau Kelimutu merupakan danau yang indah, bahkan sudah terkenal ke seluruh penjuru Dunia. Air danau Kelimutu memiliki tiga warna berbeda, ceruk-ceruknya dalam mengandung belerang yang berasal dari letusan gunung berapi sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Ada banyak legenda yang melatarbelakangi fenomena Danau Kelimutu. Bapak Petrus, Ayah Lukas, merupakan salah seorang pencerita yang handal. Pernah sekali waktu, Lukas dan kawan-kawannya menghabiskan malam yang panjang mendengarkan sebuah legenda tentang seorang suami yang nekat melompat ke dalam danau demi menemukan isterinya yang telah meninggal dunia. Masyarakat setempat percaya bahwa manusia yang telah meninggal dunia tempatnya ada di dalam danau tersebut.

Danau berwarna hitam (tiwu ata bupu) adalah tempat bagi orang-orang tua, danau berwarna hijau (tiwu ko’o fai nuwa muri) adalah tempat bagi muda-mudi dan danau berwarna merah (tiwu ata polo) adalah tempat bagi mereka yang selama hidupnya melakukan hal-hal yang menyimpang seperti penenung, penyihir dan sebagainya. Dalam bahasa setempat “Polo Wera” atau “suanggi.”

Semalaman mereka dibuat bergidik membayangkan kejadian yang sebenarnya, mata mereka benderang karena takut bermimpi yang bukan-bukan. Tentu saja hal ini menimbulkan geli bagi bapak petrus dan mama ance yang akhirnya bekerja extra untuk merayu anak-anak itu tidur. Kawan-kawan Lukas memilih menginap saja di rumah Lukas ketimbang pulang dan mengambil resiko bertemu sesuatu di jalanan pada malam gelap buta.

***

Hari ini Lukas bersemangat, sekolahnya akan mengadakan panen jeruk. Semua siswa diajak bersama-sama memanen jeruk di kebun belakang sekolah setelah jam istirahat pertama. Itu artinya kegiatan belajar-mengajar hanya diadakan setengah hari. Lukas dan kawan-kawan dapat menghabiskan jeruk semampu mereka hingga puas dan sakit perut. Bapak Petrus juga akan memanen jeruk di kebun mereka yang berdekatan dengan Danau Kelimutu. Sejak pagi beliau sudah berangkat seorang diri. Hasil panen akan dijual saat rega atau hari pasar nanti. Lukas berniat membantu bapak setelah pulang sekolah.

“Mama, sa pi sekolah dulu” Lukas berteriak pamit pada mamanya

Di luar telah menunggu Ebit dan Anis, sahabat-sahabat Lukas.

“Ho, mbana si..mawe-mawe…” (*Iya, pergilah. Pelan-pelan)

Mama Ance membalas salam Lukas dari dalam rumah.

Pada saat rumah begitu senyap, seisi kampung sibuk barkelompok di kebun. Hanya keretak kayu bakar yang mengisi suara-suara siang dan mama ance pun tenggelam dalam kesibukan menyiapkan makan siang bagi suaminya di ladang. Siang nanti setelah Lukas pulang dari sekolah, mama ance akan mengajak putranya mengantarkan makan siang sekaligus membantu sang suami memanen hasil jeruk mereka.

***

“Mama….”

Jika suara Lukas terdengar membahana didepan rumah, itu tanda sekolah telah usai. Lukas tidak pernah membolos, Ia sangat senang bersekolah, bahkan saat kondisi tubuh melemah dan tak memungkinkan atau cuaca tak bagus dan jalanan berbahaya karena diaspal bagus. Lukas tetap akan berangkat ke sekolah dan menantikan jam-jam ketika Ia bersama kawan-kawan dapat duduk manis mendengarkan sang guru berkisah tentang dunia.

“He, kau su pulang?”

“Iya. Jadi ke kebun tidak kita?”

“Jadi le, kita makan di kebun saja e? Kau su lapar?”

“Belum. OKE BOS”

sambil berucap demikian, Lukas mengangkat ibujarinya tinggi-tinggi. Melihat tingkah anaknya, mama ance hanya bisa tertawa.

***

Hari beranjak siang dan kabut perlahan turun di antara ranting-ranting pinus yang bercabang liar. Sejauh mata memandang hanyalah warna putih yang menyelimuti dan rasa dingin yang menusuk. Mama Ance mengencangkan sarungnya sehingga lebih mudah berjalan. Di depannya, Lukas dengan lincah berloncatan melewati semak belukar. Cuaca di pegunungan memang selalu tidak menentu, di siang hari sekalipun yang semestinya panas terik, kabut justru melebat dengan pongahnya.

Lukas mempercepat langkahnya, Ia tak sabar ingin berjumpa bapak. Beberapa saat kemudian, mereka telah tiba di tujuan. Kebun tampak lengang. Dari pondok tempat bapak biasa beristirahat, tampak asap membumbung. Sepertinya beliau sedang membakar sesuatu, entah ubi, kentang atau sejenisnya. Lukas bergegas menuju pondok sambil berteriak memanggil.

“Bapa.. bapa.. kami ra’i do” (*Bapa, bapa, kami sudah datang)

Tidak ada sahutan dari dalam pondok maupun dari sekitaran kebun. Mama Ance masih berdiri, sesekali mengamati palawija yang ditanam di samping pondok. Mama Ance seperti merasakan diam yang aneh. Firasat buruk menghampirinya. Mama Ance menyusul Lukas ke pondok. Di dalam pondok tidak tampak seorang pun kecuali tungku api yang masih menyala terang dengan onggokan ubi jalar yang sepertinya hendak dibakar. Kain sarung bapak tergeletak begitu saja di bale-bale. Mama Ance keluar dan mulai berkeliling menyusuri kebun. Diikutinya jejak sepasang kaki yang diduga adalah kaki suaminya. Jejak kaki itu berakhir di semak-semak yang ditumbuhi rerumputan dan semak belukar. Tiba-tiba mama ance menyadari Ia telah sampai pada batas hutan. Hutan hujan yang gulita meskipun hari tengah siang, hutan yang banyak menyimpan cerita dan mitos. Hutan yang dipercaya oleh masyarakat setempat sungguh keramat. Ada dunia lain di sana yang tidak boleh disentuh, jika tak ingin membahayakan diri sendiri. Mama Ance pucat pasi sementara Lukas mulai menangis, takut kehilangan bapaknya. Mama Ance lalu memeluk Lukas dan berkata,

“Mai si, kita walo ro. Kita nosi ebe gheta nua” (*Ayo, kita pulang saja dulu. Kita beritahu orang-orang di kampung)

Tergesa mama ance dan lukas menyusuri jalan pulang. Tidak terasa lagi onak dan duri yang menggores kulit sepanjang perjalanan. Pikiran keduanya hanya terfokus pada satu pertanyaan, “Di mana bapak?”

***

Om Thomas sedang berkelakar ria dengan beberapa penduduk yang lain di bale-bale depan rumah, ketika Ia melihat dua sosok yang berjalan tergesa-gesa mendatanginya. Setelah dekat barulah disadari, mereka adalah saudari dan keponakannya. Lukas tampak menangis tersedu dan Ibunya begitu pucat pasi seperti ketakutan. Mama Ance menghampiri om thomas segera dan tanpa menunggu ditanya lagi beliau langsung memberitahu

“Petrus… Petrus ata polo sono” (Petrus, petrus disembunyikan suanggi)

Om thomas membelalak terkejut, sebagian yang juga ikut mendengarkan bergumam kaget. Setelah sedikit hilang keterkejutannya, om thomas pun bertanya 

“Leka emba? Kau mbe’o leka sai me?” (*Di mana? Dari siapa kamu tahu bahwa dia disembunyikan?)

“gheta uma” (*Di kebun)


Saat mengucapkan kalimat ini mama ance tidak dapat menahan air matanya lagi. Ia menangis histeris. Om thomas pun langsung mengerti setelah mendengarkan kalimat penunjuk keterangan tempat tersebut. Semua orang kampung tahu jika kebun bapak petrus dan mama ance berbatasan langsung dengan hutan keramat. Beberapa kali mereka selalu diperingati agar memperhatikan hari di mana mereka berkebun karena saat-saat tertentu bisa sangat berbahaya. Hal itu lumrah terjadi karena maklhuk-makhluk tak kasat mata tersebut sangat sensitif terhadap perubahan alam maupun lingkungan di sekitar mereka. Untuk menandakan hal itu mereka akan melakukan hal-hal yang kadang tidak masuk akal bagi manusia.

Om Thomas kemudian menghimbau kepada warga yang ada di situ agar mengajak warga lainnya khususnya kaum laki-laki untuk bersama-sama mencari bapak petrus sebelum hari beranjak malam. Para pria berkumpul di rumah om thomas. Setelah mengadakan sedikit diskusi dan mengatur strategi, mereka pun berangkat menuju kebun bapak petrus. Lukas merengek-rengek pada pamannya agar dia ikut mencari. Om Thomas tidak dapat melihat kesedihan di mata bocah itu. Karena sangat menyayangi keponakannya, ia pun mengijinkan Lukas untuk turut serta mencari. Para warga menyisir seluruh kebun hingga jarak 200 meter setelahnya. Ketika mencapai batas hutan keramat, langkah mereka terhenti. Tidak sembarangan orang dapat masuk ke sana tanpa persiapan terlebih dahulu. Segala tumbuhan dan makhluk yang ada di dalamnya begitu purba dan terjaga sejak lama, seperti bahasa alam yang tidak bisa dijelaskan. Beberapa warga menanyakan pendapat om thomas.

“Bagaimana ni? Kita tidak mungkin masuk ke sana tanpa persiapan”

Om Thomas terdiam, beliau tampak berpikir keras dan akhirnya memutuskan.

“Baik, kita pulang saja dulu. Kita lapor Mosalaki. Semoga Beliau bisa kasih petunjuk”

Mosalaki adalah sebutan bagi pemimpin atau tetua adat di kampung itu.


Rombongan kembali ke kampung dan langsung menuju Sa’o Ria atau Rumah Besar, tempat Mosalaki berdiam. Terjadi perbincangan serius antara para lelaki dan Mosalaki. Pada akhirnya diputuskan akan diadakan upacara “Pati Ka Ata Mata” atau “dhera” atau Upacara memberi makan/sesajen bagi para leluhur. Dengan cara ini Mosalaki yakin para leluhur akan memberikan petunjuk atau jalan keluar atas peristiwa yang tengah menimpa warga desanya. Upacara akan diadakan keesokan hari.

***
Bulan tampak kesiangan diatas pucuk menara Sa’o Ria. Lukas telah terjaga sejak tadi. Ia memilih duduk terpaku di sudut rumah sambil menunggu pamannya terbangun untuk meminta Mosalaki melaksanakan upacara. Lukas mulai frustrasi karena tidak bertemu bapak lebih dari sehari.

“Hei Lukas, kau sudah bangun?”

Om Thomas tiba-tiba sudah duduk di sampingnya sembari memeluk Lukas erat-erat.

“Tenang, kita pasti menemukan bapa”

“Hari ini juga? Bisa?”

“Semoga saja”

Lukas tertunduk lesu mendengar jawaban pamannya yang tidak pasti. Ini akan menjadi hari yang panjang baginya. 

Pukul 10.00 pagi, mama ance telah bergabung bersama lukas, om thomas dan beberapa warga yang berdatangan. Mama Ance membawa dua ekor ayam kampung masing-masing berwarna hitam dan merah. Juga ada beras merah, telur ayam kampung, sirih pinang, kapur sirih dan sebotol Moke. Sementara itu, Mosalaki telah mempersiapkan beberapa perlengkapan untuk upacara tersebut. Setelah melewati sesi konsultasi yang panjang dan rumit antara Mama Ance, Om Thomas dan Mosalaki, upacara pun dilaksanakan. Mama Ance Terlebih dahulu memasak bahan makanan yang tadi telah dibawa. Berasnya harus ditanak di dalam bambu sesuai tradisi masyarakat Lio.

Pukul 12.00 siang semua kebutuhan upacara, termasuk makanan, telah lengkap. Mosalaki menghamparkan semua sesajen di atas sebidang batu datar di depan Sa’o Ria. Kemudian, sambil merapalkan mantra, beliau meminta semua warga yang ada disekitarnya turut serta berdoa agar diberikan petunjuk oleh leluhur dan semesta. Selesai upacara dilakukan, petunjuk tidak otomatis didapatkan. Mosalaki harus menunggu waktu semalam lagi untuk didatangi leluhur yang dipercaya akan memberitahukan langkah selanjutnya.

***

Pagi-pagi sekali, Om Thomas, Lukas dan Mama Ance serta beberapa keluarga dekat mereka telah mendatangi Sa’o Ria. Berharap Mosalaki telah mendapatkan petunjuk. Mosalaki dengan luka lesu kebesarannya duduk berhadapan dengan Mama Ance, Lukas dan Om Thomas. Beliau kemudian berbicara.

“Ada kesalahan kecil yang sudah keluarga ini lakukan sehingga leluhur menjadi marah dan memerintahkan makhluk-mahkluk itu menyembunyikan Petrus. Beberapa hari yang lalu, Lukas dan teman-temannya ada pigi bermain di sungai. Apakah benar?”

Mama Ance dan Om Thomas beralih melihat Lukas. Lukas mengangguk mengiyakan. Kemudian Mosalaki berbicara lagi.

“Nah, kalian tidak hati-hati. Kalian mengambil paksa beberapa tanaman yang seharusnya tidak boleh kalian ambil di hutan. Leluhur tidak memberitahukan tanaman apa itu namun karena kelakuan kalian, kehidupan makhluk di sana menjadi terganggu, karena itu mereka marah sekali. Mereka menyandera bapamu supaya kamu dan teman-temanmu menyadari kesalahan kalian dan berjanji tidak akan melakukannya lagi.”

Lukas terdiam. Ia tiba-tiba teringat beberapa hari yang lalu saat menghabiskan waktu bermain di sungai bersama kawan-kawan. Mereka mematahkan beberapa ranting pepohonan yang mereka sendiri tidak ketahui namanya. Pohon itu memiliki daun yang lebar dan batang yang alot sehingga dapat dipakai sebagai perahu-perahuan di sungai. Mereka mematahkannya dengan paksa sampai terlepas ranting dari pohonnya. Tanpa mereka sadari, pohon itu adalah tempat tinggal beberapa makhluk penjaga hutan. Pohon itu sudah seperti rumah bagi para makhluk tersebut sehingga saat ada orang lain yang tiba-tiba mengusiknya, mereka menjadi sangat marah. Mosalaki kembali berbicara.

“Untuk menebus kesalahan kalian, dan agar bapamu bisa kembali lagi, kalian harus mengadakan upacara sekali lagi di perbatasan hutan. Sesajennya masih sama seperti kemarin. Kita akan melakukan itu sore ini pukul enam di kebun kalian. Semoga saja bapamu akan dikembalikan dan masih dalam kondisi baik-baik saja.”

Mama Ance menarik nafas panjang, Om Thomas menyampaikan terima kasih yang mendalam kemudian pamit untuk segera menyiapkan perlengkapan upacara.

***

Sore beranjak remang, dengan dibantu cahaya dari obor bambu rombongan, yang terdiri atas Mosalaki, Om Thomas, Mama Ance, Lukas dan keluarga terdekat, menuju ladang di kaki Danau Kelimutu. Dari kejauhan, Danau Kelimutu seperti tembok alam raksasa. Matahari sebentar lagi menghilang dan bintang mulai menyembul di langit. Bulan merangkak perlahan dengan cahayanya yang hangat. Tepat pukul enam sore, waktu yang dipercaya sebagai momen peralihan antara dunia siang dan dunia malam, upacara dimulai. Mosalaki kembali menghamparkan sesajen di atas batu datar di pinggiran ladang yang berbatasan dengan hutan. Beliau merapalkan mantra dan melihat ke sekeliling. Sesekali Mosalaki memejamkan matanya dan mengarahkan kepala ke langit seperti memohon. Selang beberapa saat kemudian, munculah sebuah bayangan diantara semak-semak dari arah hutan. Bapa petrus terlihat kuyu dan berjalan terhuyung-huyung menghampiri mereka. Seketika Lukas berteriak kencang sambil menangis

“Bapa…. Ampun bapa, Lukas yang salah…” 

Bapa Petrus tidak berkata apa-apa karena tidak memiliki tenaga lagi. Beliau hanya memeluk Lukas dan Mama Ance erat-erat.

***


Lukas menemukan keceriaannya kembali, keluarganya telah utuh seperti semula. Sejak hari itu, Lukas berjanji untuk memperingati kawan-kawannya agar tidak sembarangan memotong, mencabut atau merusak tumbuhan dan segala hal yang terdapat di hutan.





Kalau Saya Orang Bali, Apakah Saya Mampu?


*Tulisan ini dimuat di balebengong.net - media warga berbagi cerita pada tanggal 07 Maret 2016 di Rubrik SOSIAL BUDAYA. Satu hari sebelum Hari Raya Nyepi Caka.
 
Foto : kabardewata.com


Membahas Bali biasanya semua orang fokus kepada pariwisatanya, pantai dan perempuan-perempuan cantiknya. Bingung saya, kenapa setiap bertemu mereka yang ingin ke Bali atau baru saja mendarat di Bali, selalu itu dua hal saja yang dibahas. Tak tahu mereka, Bali sering mondar-mandir di televisi dengan sajian budayanya, alam raya yang penuh barisan teras-teras sawah dan upacara-upacara adat yang banyak mengandung makna bagi kehidupan. Salah satu upacara yang sebentar lagi akan dilaksanakan adalah Nyepi yang diawali dengan Melasti.

Upacara ini selalu saya nantikan setiap tahun. Kalau ditanya kenapa, saya akan menjawab tidak tahu. Entahlah. Suka aja. Hah?

Agar tidak fatal maka sebelum saya lanjut bercerita, saya lampirkan sebaris makna dan tujuan dari Melasti. Saya temukan ini di Wikipedia berbahasa Indonesia dan beberapa situs budaya.

Melasti : Tiga atau dua hari sebelum Nyepi, umat Hindu melakukan Penyucian dengan melakukan upacara Melasti atau disebut juga Melis/Mekiyis. Pada hari tersebut, segala sarana persembahyangan yang ada di Pura (tempat suci) di arak ke pantai atau danau, karena laut atau danau adalah sumber air suci (tirta amerta) dan bisa menyucikan segala leteh (kotor) di dalam diri manusia dan alam.

Makna lain dari Melasti : Ritual membersihkan "pratima" dan benda yang disakralkan ke laut. Kegiatan ini diwariskan secara turun temurun di agama Hindu. Umat yang melakukan prosesi melasti tersebut membawa sesaji dan peralatan suci (arca atau pratima), sembari diiringi dengan musik gamelan bleganjur atau alunan musik tradisional khas umat Hindu. Prosesi melasti di Agama Hindu adalah kegiatan menyucikan pratima menjelang hari raya Nyepi sebagai pergantian tahun saka. Dalam prosesi melasti tersebut, dilangsungkan doa bersama di pinggir pantai. Di depan umat Hindu yang berdoa, berjejer aneka ragam sesaji yang ada di jepana. Di dalam jepana itu ada telur, aneka ragam buah-buahan untuk dilarung ke laut, secara bersama-sama. Sesaji dilarung ke laut itu sebagai bentuk tolak bala dan syukur agar dunia ini semakin lestari.

Di arak ke pantai atau danau dengah berjalan kaki, bukan konvoi dan sejenisnya yang sering dilakukan orang-orang bermotor besar atau anak-ank racing gagal move on. Dahulu sekali, saat kepekaan saya belum bekerja dengan baik, saya sering kepikiran ketika Nyepi hampir tiba. Gelap, tak ada cahaya. Persediaan makanan harus banyak sebab tak ada satu pun manusia beraktivitas termasuk ibu-ibu pemilik warung di sekitar lingkungan kos-an. Paranoid gila-gilaan lah, seolah-olah Nyepi akan berlangsung satu minggu.

Beberapa tahun lalu, tepatnya tahun 2012. Saya sudah hidup di Denpasar selama tujuh tahun saat itu. Malam itu dengan tenaga dan pikiran yang masih tersisa kurang lebih 30% untuk melanjutkan perjalanan ke Gereja sebab ada latihan tablo (Drama Kisah Sengsara Yesus) untuk Paskah. Lesu saya menantikan Angkutan umum di tempat ngetem-nya yang biasa (saya tidak bisa berkendara, roda dua maupun empat). Namun hampir tiga puluh menit saya menanti, tidak ada satupun angkot yang parkir di situ sementara hujan perlahan turun. Tiba-tiba dari arah kanan jalan yaitu dari arah pantai pelabuhan nelayan Benoa, muncul rombongan orang-orang berpakaian putih-putih. Para wanita berkebaya putih dan ber-kamben putih mengusung gebogan dan alat-alat persembahyangan sementara para lelaki pun sama dengan udeng dan kemeja putih juga kamben berwarna senada. Beberapa orang lelaki berjalan cepat sembari memegang payung yang menangkup arca dan pratima. Kondisi saat itu, rintik hujan mulai bervolume besar, mungkin apabila diumpamakan dengan kecepatan speedometer mencapai 40KM/Jam. Akan tetapi, dengan jarak tempuh sejauh itu menuju Pura Utama sebagai tujuan terakhir dari perjalanan, sambil memikul gebogan, alat persembahyangan dan lain-lain, sembari menghaturkan pujian atau yang lebih dikenal me-kidung, juga memikul alat musik berat seperti Gong beserta perangkatnya, rombongan ini tetap bersemangat dan antusias. Tak tampak lelah sama sekali. Satu kalimat yang terlintas di pikiran saya saat itu, “kalau saya dilahirkan menjadi orang Bali, apakah saya mampu untuk melakukan ini?”

Daripada menunggu lama angkot yang tidak muncul juga, saya memutuskan berjalan beriringan dengan rombongan ini. Tepat disamping para kaum lelaki yang memainkan gamelan bleganjur ditingkahi kidung yang membuat suasana saat itu begitu syahdu-mistis meskipun semua berlangsung di jalanan yang cukup ramai (Traffic light Benoa-Bali). Saya kemudian teringat Prosesi Semana Santa di Larantuka yang pernah saya ikuti baru sekali dalam seumur hidup saya. Yang sering juga terjadi pada bulan yang sama ketika Hari Raya Nyepi diperingati. Sudah lumrah terjadi bahwa Hari Raya Paskah selalu terjadi tepat beberapa minggu setelah Nyepi berlangsung. Tidak banyak yang menyadari ini, semua didunia ini memiliki citra dan maknanya masing-masing. Alangkah baiknya jika kita mampu menikmati semua keberagaman ini. Dan pada tahun 2016, kali ini Nyepi jatuh tepat pada tanggal 9 Maret, dimana pada hari yang sama Gerhana Matahari yang hanya terjadi 350 tahun sekali akan melintasi 11 Provinsi di Indonesia. Tidak termasuk Bali. Namun, apakah lagi-lagi kita akan menyikapi ini sebagai sebuah kebetulan saja? Para Pendahulu pasti tidak serampangan menetapkan tanggal untuk sebuah perayaan spiritual seperti Nyepi. Hari khusus memulai tahun yang baru dengan melakukan "Catur Brata" Penyepian yang terdiri dari amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Serta bagi yang mampu dapat melaksanakan tapa,brata,yoga dan semadhi. Demikianlah untuk masa baru, benar-benar dimulai dengan suatu halaman baru yang putih bersih. Untuk memulai hidup dalam tahun baru Caka pun, dasar ini dipergunakan, sehingga semua yang kita lakukan berawal dari ketiadaan,suci dan bersih. Tiap orang berilmu (sang wruhing tattwa jñana) melaksanakan brata (pengekangan hawa nafsu), yoga ( menghubungkan jiwa dengan paramatma (Tuhan), tapa (latihan ketahanan menderita), dan samadi (manunggal kepada Tuhan, yang tujuan akhirnya adalah kesucian lahir batin). Semua itu menjadi keharusan bagi umat Hindu agar memiliki kesiapan batin untuk menghadapi setiap tantangan kehidupan di tahun yang baru.

Kadang banyak hal yang sulit dipahami tapi cukup dinikmati saja, begitulah yang saya rasakan saat saya menyaksikan KEHIDUPAN DI BALI. Banyak hal yang menimbulkan pertanyaan dan pernyataan baru, menariknya saya tidak mau terburu-buru mencari tahu karena sepertinya semua punya kesempatannya sendiri untuk menjadi hal terdepan di pikiran saya. Untuk dipikirkan, diperdalam kemudian disimpan dengan baik sebagai HARTA yang mesti dibagikan kepada penerus-penerus hidup ini dikemudian hari.

Bagi teman-teman saya yang sebentar lagi akan melaksanakan Ibadah Nyepi beserta rangkaiannya, saya ucapkan Selamat Menunaikan Ibadahnya. Semoga seluruh semesta diberkati dan berbahagia.


Long Sa'an itu di Indonesia!

-Tentang manis udara pagi dari mana jejak awal berasal. Tentang dedaunan kering yang terbang karena buaian angin. Tentang ketulusan dan cinta akan tanda kelahiran. Tentang bagaimana semua dapat mewujud karena ada titik mula-

***

Saya belum bisa berkomentar tentang film ini karena sebenanrya film ini masih dalam tahap proses editing. Namun bagaimana Bang Erik selaku sutradara berhasil merekam gambar dengan kualitas yang bagus, lalu renyah suara Robi Navicula yang melatarbelakangi film ini sehingga membuat kita leluasa menangkap kesan yang hendak disampaikan meskipun belum semuanya digambarkan pada video berdurasi 25 menit ini. Film ini sesungguhnya belum ditayangkan di tempat lain kecuali di Bali.

Bagaimana film ini mampu membuat saya memiliki keinginan mengulas lagi?

Karena sudah sekian lama saya tidak pernah lagi mengulas film, membuat jurnal atau catatan perjalanan, dan hal-hal lain yang selalu saya senang lakukan setelah melewati sebuah peristiwa yang menurut saya cukup luar biasa. Maka perkenankan saya mulai mengetengahkan alasan mengapa saya ingin berbagi pengalaman menonton semalam dengan kekawan sekalian. Berikut,



Pada tahun 1960 desa Kenyah Dayak Long Saan yang sangat terpencil dan terletak tinggi di pegunungan hutan hujan dan sangat tertutup di Kalimantan, ditinggalkan oleh penduduknya. 1600 penduduk berjalan selama berbulan-bulan melewati pegunungan dan sungai untuk mencari tempat tinggal yang lebih dekat dengan pantai, perjalanan ini dilakukan demi perdagangan yang lebih baik, pendidikan dan kesehatan yang lebih baik. Singkatnya, untuk kehidupan yang lebih baik bagi anak dan cucu mereka. Selama bertahun-tahun mereka tidak pernah kembali ke Long Saan karena letaknya yang sangat jauh dan akses transportasi yang sulit.

“Jaman dahulu, jika kami ingin bermain ke sungai. Kami berangkat jam 7 pagi dan tiba di sungai jam 12 siang.” Ujar Laen yang adalah salah satu generasi Long Sa'an

Beberapa hal yang sempat dibagikan oleh sang sutradara ketika obrolan lepas berlangsung setelah film ini diputar.

“Tidak ada garam di Long Sa’an, jika mereka butuh garam, mereka menghabiskan waktu sekitar satu bulan untuk bisa menemukan garam dan kembali ke desa. Ada seorang ibu yang bercerita, jadi saat ekspedisi dari Long Sa’an ke Setulang, saat berangkat itu anaknya masih berusia sekitar dua bulan, dan ketika mereka tiba di setulang anaknya sudah mencapai usia setahun. Karena perjalanan tersebut benar-benar panjang dengan banyak perhentian diakibatkan kehabisan bahan makanan, terkena wabah penyakit dan sebagainya”

Film ini merekam perjalanan sekelompok suku Dayak (sekarang Sesepuh di desa baru, Setulang) kembali ke rumah masa kecil mereka, dimana mereka menghabiskan masa kecil mereka sepanjang jalanan di hutan, bermain di sungai, dan berburu. Selain itu perjalanan ini juga mengantar mereka kembali ke situs pemakaman kuno, tempat nenek moyang dan orang tua mereka dikuburkan. Sebuah situs pemakaman yang berada di dinding-dinding tebing tinggi berbentuk seperti perahu, tempat diletakan jenazah orang-orang yang sudah meninggal. Sebagian dari kita yang mengaku bangsa Indonesia mungkin tidak pernah tahu tentang ini, dan dengan ketidaktahuan kita; ketika ada bangsa tetangga yang mengakui keberadaan tersebut sebagai budaya dan situs kebudayaan mereka, kita berdecak kagum dan memuji tanpa pernah teliliti bahwasannya itu titipan nenek moyang bagi para generasi bangsa ini. Ironi!

Ekspedisi ini menunjukkan, bukan untuk pertama kalinya, betapa pentingnya tanah kelahiran bagi orang Dayak. Hubungan spiritual mereka dengan hutan, sungai, dan binatang – mungkin sulit bagi kita untuk memahami, apalagi dengan perkembangan hidup jaman sekarang yang begitu modern dan kapitalis.

Tahun 2012, ketika saya menghabiskan waktu selama satu minggu di Kalimantan Barat untuk sebuah kegiatan orang muda, yah saya cukup beruntung karena menyaksikan langsung, betul adanya bahwa orang Dayak mulai merasa kehilangan jati diri mereka. Tempat asal mereka yang adalah rimba. Kota-kota dibangun, lahan-lahan dibuka dengan ukuran dan kapasitas yang maha luas yang tidak sepatutnya sering dilakukan masyarakat setempat, yang biasanya hanya untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari eh sekarang untuk memenuhi timbunan kekayaan orang tertentu.

Orang Dayak mungkin tidak berharap mengenakan kulit kayu lagi dan bermalam di rimba tanpa cahaya lagi, tetapi mereka tetap berharap bahwa hutan dan alam semesta ini tetap seimbang dan terjaga. Mengambil secukupnya sesuai yang dibutuhkan dan mengembalikan sebanyak sebagai yang sudah diambil. Sudah begitu saja, tidak repot, tidak ada birokrasi, tidak ada surat perjanjian bahkan materai 6000.

Lalu apakah ada yang peduli dengan ini?!

Harusnya PEMERINTAH. Iya, tetapi pemerintah urusannya buanyak dan semuanya belum tentu memiliki peta pemikiran yang sama. Trade recordnya bisa dilihat :p

Hm.. kan ada LSM/NGO! Heilooo… apakah semua Lembaga Swadaya Masyarakat bisa menyelesaikan permasalahan lingkungan dan sosial masyarakat semesta ini?

Saatnya sama-sama kita mulai serius. Pelan saja, dari hal yang kecil. Pupuk kepedulian kita untuk sekedar belajar dan mencari tahu tentang Indonesia – tentang iklim perkembangannya – tentang budaya dan semua potensi yang bisa dikembangkan – tentang kita yang katanya generasi biru dan bisa melakukan semua karena kita JAGO!

Deuh saya sok sekali! hahaha

***
Saat memejamkan mata semalam karena kelelahan yang mendera, saya tiba-tiba teringat kampung halaman saya di kaki gunung Kelimutu. Tepatnya kampung halaman Bapak. Orang-orang di kampung bapak juga sebenarnya adalah masyarakat yang berpindah dari kampung induk mereka, anehnya mereka mencari pemukiman yang jauh dari sungai. Dahulu saat masih kecil, jika main ke kampung dan hendak mandi, kami diwajibkan turun ke sungai jam tiga sore sehingga bisa kembali ke kampung saat hari masih terang, kira-kira jam lima senja. Karena untuk turun ke sungai butuh waktu satu jam dan kembali ke kampung butuh waktu satu jam lagi, belum ditambah waktu untuk beristirahat, mencuri jeruk di ladang tetangga atau singgah ke kebun sendiri untuk membakar jagung dan kentang. Namun seberapa pun jauh, mendaki dan melelahkan kampung halaman saya tersebut, orang-orangnya tetap setia membangun rumah dan keluarga mereka, permanen. Di bukit tempat orang-orang kampung saya bermukim tersebut, jeruk, kemiri, vanili, kelapa dan semua palawija tumbuh dengan sentosa dan selalu memberi hasil sesuai yang orang-orang kampung butuhkan. Demikian pun orang-orang kampung saya, tak pernah lupa bersyukur, mengambil seperlunya, menjual karena membutuhkan uang untuk kebutuhan hidup, mengatur sesajen kepada Tuhan dan nenek moyang mereka sebab telah diberikan hidup yang baik dan menggembirakan.

Semoga tulisan ini memberikan terang dan sukacita, saya hanya garam yang kadang-kadang terlalu asin :)

PS : Gambar diambil dari google "dayak tempo doloe"

Dan, dibawah ini salah satu thriler "Long Sa'an.


Negeri Mamoli

*Tulisan Lama yang kedua yang Baru di posting*
**Tulisan ini dibuat di atas Angkot pada jalan pulang ke Kos**
***Sayang saya lupa Sore hari apa itu***

Senja ini lepitan ingatan saya melihat Sumba
Mataharinya yang hangat sempurna
Pohon Kehi yang ceria
Rembulannya yang bulat Purnama
Dan gemerisik ilalang di Padang Sabana

Senja ini saya mengenang Tambolaka
Dari ujung Waikelo dan Akhirnya ke Purukambera
Dari manapun saya memulai
Hanya akan ada puji saya terpatri

Hutan, Laut, Batu Kubur,
Kuda, Sapi, Kerbau,
Kain Sumba dan alunan kabokang nan menggelitik kalbu

Nyaris setahun kita tak bersua yah...:D
Mungkin ulang tahun keramat ini bisa jadi Nostalgia
Tujuh selalu jadi angka sempurna

#Saya dan #Sumba

KETIKA BAPAK HILANG

*Tulisan lama yang Baru saja di Posting*


Lukas melepas celananya yang basah setelah sekian lama terendam air sungai yang dingin di musim hujan nan kuyup. Hampir lima jam Ia menghabiskan waktu bersama kawan-kawannya bermain selepas pulang sekolah. Dan kini yang terjadi, Ia mulai menggigil kedinginan dengan jemari yang mulai pucat keriput karena terendam air. Bergegas Ia mendekati tungku yang sedang menyala membara, perasaan hangat menjalar seketika pada tubunya. Beberapa saat kemudian Mama telah berada disampingnya sambil memperbaiki letak kayu bakar supaya tetap menyala mekar.

“Darimana saja kau? Jam begini baru pulang?” Tanya mama

Lukas menyeringai, dalam temaram dapur seringaiannya terlihat menyebalkan. Hal ini membuat Mama bingung dan kesal sehingga menghardiknya

“Pergi pake baju sudah sana, besok kau tidak bisa sekolah kau lihat memang”

Lukas yang sudah kembali pulih dari rasa dingin yang membuatnya keriput lekas bangkit dan berlari kedalam kamar untuk berpakaian. Diluar rintik hujan mulai menggerogoti atap ilalang rumah yang perlahan meranggas akibat terlalap musim yang tak pernah pasti.

***

Lukas adalah satu-satunya putra, tunggal, dari Bapak Petrus dan Mama Ance. Kelakuannya yang aduhai mestilah ditoleransi karena usianya yang baru mendekati tujuh. Lukas sekeluarga menempati sebuah rumah sederhana beratap alang-alang di lingkungan Desa Pemo, sepersekian langkah dari Danau Kelimutu. Disekitarnya bertaburan hutan pinus dan pepohonan yang sulit namanya disebut.

Danau Kelimutu merupakan danau yang indah bahkan sudah terkenal ke seluruh penjuru dunia dan masuk dalam tujuh keajaiban dunia (beberapa dekade yang lalu). Air danau Kelimutu memiliki beberapa warna, ceruk-ceruknya dalam mengandung belerang yang berasal dari letusan gunung berapi sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Ada banyak legenda yang melatarbelakangi fenomena Danau Kelimutu dan Bapak Petrus, Ayah Lukas merupakan salah seorang pencerita yang handal. Pernah sekali waktu, Lukas dan kawan-kawannya menghabiskan malam yang panjang mendengarkan sebuah legenda tentang seorang suami yang nekat melompat kedalam danau demi menemukan isterinya yang telah meninggal dunia karena dipercaya oleh masyarakat setempat bahwa manusia yang telah meninggal dunia tempatnya ada didalam danau tersebut.



Danau berwarna hitam (tiwu ata bupu) adalah tempat bagi orang-orang tua, danau berwarna hijau (tiwu ko’o fai nuwa muri) adalah tempat bagi para muda/I dan danau berwarna merah (tiwu ata polo) adalah tempat bagi mereka yang selama hidupnya melakukan hal-hal yang menyimpang seperti tenung, sihir dan sebagainya. Dalam bahasa setempat “Polo Wera” atau “suanggi” (kalo di bali : Leak)

Semalaman mereka dibuat bergidik membayangkan kejadian yang sebenarnya, mata mereka dibuat benderang karena takut bermimpi yang bukan-bukan. Tentu saja hal ini menimbulkan geli bagi Bapak Petrus dan Mama Ance yang akhirnya bekerja extra demi merayu anak-anak ini tidur. Kawan-kawan Lukas memilih menginap saja di rumahnya ketimbang pulang dan mengambil resiko bertemu sesuatu di jalanan pada malam gelap buta.

***

Hari ini Lukas bersemangat, sekolahnya akan mengadakan panen jeruk. Semua siswa/inya diajak bersama-sama memanen jeruk di kebun belakang sekolah setelah jam istirahat pertama. Itu artinya sekolah hanya diadakan setengah hari saja. Lukas dan kawan-kawan dapat menghabiskan jeruk semampu mereka hingga puas dan sakit perut. Bapak Petrus juga akan memanen jeruk di kebun mereka yang berdekatan dengan Danau Kelimutu. Sejak pagi beliau sudah berangkat seorang diri, hasil panenannya akan dijual saat rega nanti (*rega : hari pasar). Lukas berniat membantu bapak setelah pulang sekolah nanti.
“Mama, sa pi sekolah dulu” Lukas berteriak pamit pada Ibunya.

Diluar telah menunggu Ebit dan Anis, sahabat-sahabat Lukas yang tidak pernah melewatkan harinya tanpa kehadiran Lukas.

“Ho, mbana si..mawe-mawe…” Mama Ance membalas salam Lukas dari dalam rumah
(*Iya, jalan sudah. Pelan-pelan)

Pada saat rumah begitu senyap, seisi kampung sibuk barjamaah di kebunnya hanya keretak kayu bakar yang mengisi suara-suara siang dan Mama Ance pun tenggelam dalam kesibukannya menyiapkan makan siang bagi Bapak Petrus di ladang. Siang nanti setelah Lukas pulang dari sekolah, Mama Ance akan mengajak putranya mengantarkan makan siang sekaligus membantu sang suami memanen hasil jeruk mereka.

***

“Mama….”

Jika suara Lukas terdengar membahana didepan rumah maka pertanda sekolah telah usai. Lukas tidak pernah membolos, Ia sangat menggandrungi sekolah bahkan saat kondisi tubuh melemah tak memungkinkan atau cuaca tak bagus dan jalanan berbahaya karena jalanan di kampung belum di aspal bagus. Lukas tetap akan berangkat ke sekolah dan menantikan jam-jam dimana Ia bersama kawan-kawan dapat duduk manis mendengarkan sang guru menceritakan dunia.

“He, kau su pulang?” Tanya Mama Ance kepada Lukas

“Iya. Jadi ke kebun tidak kita?”

“Jadi, kita makan di kebun saja e? Kau sudah lapar?”

“Belum. OKE BOS” sambil berucap demikian , Ibu Jari Lukas mengacung tinggi-tinggi ke arah Mama Ance. Melihat tingkah pola anaknya Mama Ance hanya bisa tertawa.

***

Hari beranjak siang dan kabut perlahan turun diantara ranting-ranting pinus yang bercabang liar. Sejauh mata memandang hanyalah warna putih yang menyelimuti dan perasaan dingin yang menggigil. Mama Ance mengencangkan sarungnya sehingga lebih mudah berjalan, didepannya Lukas dengan lincah berloncatan melewati semak belukar. Cuaca di pegunungan memang selalu tidak menentu, di siang hari sekalipun yang semestinya panas terik justru sebaliknya kabut mengencang dengan pongahnya.

Lukas mempercepat langkahnya, Ia tak sabar ingin berjumpa bapak. Beberapa saat kemudian, mereka telah tiba di tujuan. Kebun tampak lengang, dari pondok tempat bapak biasa beristirahat tampak asap membumbung. Sepertinya beliau sedang membakar sesuatu, entah ubi, kentang atau sejenisnya. Lukas bergegas menuju pondok sambil berteriak memanggil bapak.

“Bapa.. bapa.. kami ra’I do” (*Bapak, kami sudah datang)

Tidak ada sahutan dari dalam pondok maupun dari sekitaran kebun, Mama Ance masih berdiri sesekali mengamati palawija yang ditanam disamping pondok. Mama Ance seperti merasakan diam yang aneh, firasat buruk kemudian menghampirinya. Mama Ance menyusul Lukas ke pondok. Didalam pondok tidak tampak seorang pun kecuali tungku api yang masih menyala terang dengan onggokan ubi jalar disampingnya yang sepertinya hendak dibakar. Kain sarung bapa tergeletak begitu saja di bale-bale. Mama Ance keluar dari pondok dan mulai berkeliling menyusuri kebun. Diikutinya jejak sepasang kaki yang diduga adalah kaki suaminya. Jejak kaki itu berakhir di semak-semak yang ditumbuhi rerumputan dan semak belukar. Tiba-tiba Mama Ance menyadari Ia telah sampai pada batas hutan. Hutan hujan yang gulita meskipun hari tengah siang, hutan yang banyak menyimpan cerita dan mitos dan dipercaya oleh masyarakat setempat. Hutan itu keramat. Ada dunia lain disana yang tidak boleh disentuh kecuali ingin membahayakan diri sendiri. Mama Ance pucat pasi sementara Lukas mulai menangis, takut kehilangan bapaknya. Mama Ance lalu memeluk Lukas dan berkata,

“Mai si, kita walo ro. Kita nosi ebe gheta nua” (*Ayo, kita pulang saja dulu. Kita kasitahu orang-orang kampung)

Tergesa Mama Ance dan Lukas menyusuri jalan pulang. Tidak terasa lagi onak dan duri yang menggores kulit sepanjang perjalanan pulang. Pikiran keduanya saat ini hanya terfokus pada “Dimana Bapak?”

***

Eja Thomas saat itu tengah berkelakar ria dengan beberapa penduduk yang lain di bale-bale depan rumahnya, ketika Ia melihat dua sosok ibu dan anak yang berjalan tergesa-gesa menuju rumahnya. Setelah dekat barulah Ia kenali mereka adalah saudari dan keponakannya. Ance dan Lukas kecil. Lukas tampak menangis tersedu dan Ibunya begitu pucat pasi seperti ketakutan. Mama Ance menghampiri Eja Thomas begitu segera dan tanpa menunggu ditanya lagi beliau langsung memberitahu

“Petrus… Petrus ata polo sono” (Petrus, petrus disembunyikan suanggi)

Eja Thomas membelalak terkejut, sebagian yang juga ikut mendengarkan bergumam kaget. Setelah sedikit hilang keterkejutannya Eja Thomas pun bertanya

“Leka emba? Kau mbe’o leka sai me?” (*Dimana? Darimana kamu tahu bahwa dia disembunyikan?)

“gheta uma” (*Di kebun)

Saat mengucapkan kalimat ini Mama Ance tidak dapat menahan air matanya lagi. Ia menangis histeris. Eja Thomas pun langsung mengerti setelah mendengarkan kalimat penunjuk keterangan tempat tersebut. Semua orang kampung tahu jika kebun Bapak Petrus dan Mama Ance berbatasan langsung dengan hutan keramat. Beberapa kali mereka selalu diperingati agar memperhatikan hari dimana mereka berkebun karena ada saat-saat tertentu bisa sangat berbahaya sekali. Hal ini lumrah terjadi karena maklhuk-makhluk tak kasat mata tersebut sangat sensitif terhadap perubahan alam maupun lingkungan disekitar mereka. Untuk menandakan hal tersebut mereka akan melakukan hal-hal yang kadang tidak masuk akal bagi manusia.

Eja Thomas kemudian menghimbau kepada warga yang ada disitu agar mengajak warga lainnya khususnya kaum laki-laki untuk bersama-sama mencari Bapak Petrus sebelum hari beranjak sore dan malam menghampiri. Para kaum pria berkumpul di rumah Eja Thomas. Setelah mengadakan sedikit diskusi dan mengatur strategi mereka pun berangkat menuju kebun Bapak Petrus. Lukas merengek-rengek pada pamannya agat dia ikut mencari. Eja Thomas tidak dapat melihat kesedihan di mata bocah tersebut, Ia sangat menyayangi keponakannya itu maka Ia pun mengijinkan Lukas untuk turut serta mencari. Para warga menyisir seluruh kebun hingga jarak 200 meter setelahnya namun ketika mencapai batas hutan keramat, langkah mereka terhenti. Tidak sembarangan orang dapat masuk kesana tanpa persiapan terlebih dahulu. Segala tumbuhan dan makhluk yang ada didalamnya begitu purba dan terjaga sejak lama, seperti bahasa alam yang tidak bisa dibahasakan ataupun dijelaskan. Itulah kepercayaan dan hukum antara manusia dan alam. Beberapa warga menanyakan pendapat Eja Thomas.

“Bagaimana ni? Kita tidak mungkin masuk kesana tanpa persiapan”

Eja Thomas terdiam, beliau tampak berpikir keras dan akhirnya memutuskan.
“Baik, kita pulang saja dulu. Kita lapor Mosalaki. Semoga Beliau bisa kasih petunjuk”
(*Mosalaki : Pemimpin/Tetua Adat)

Rombongan kembali ke kampung dan langsung menuju Sa’o Ria (*Rumah Besar tempat Mosalaki berdiam). Terjadi perbincangan serius antara para lelaki dan Mosalaki. Pada akhirnya diputuskan akan diadakan upacara “Pati Ka Ata Mata” (*Memberi makan/sesajen bagi para leluhur). Dengan cara ini Mosalaki yakin para leluhur akan memberikan petunjuk/jalan keluar atas peristiwa yang tengah menimpa warga desanya. Upacara akan diadakan keesokan hari.



***

Bulan tampak kesiangan diatas pucuk menara Sa’o Ria. Lukas telah terjaga sejak tadi. Ia memilih duduk terpaku di sudut Sa’o Ria sambil menunggu Pamannya Eja Thomas terbangun dan segera meminta Mosalaki melaksanakan upacara. Lukas mulai frustrasi karena tidak bertemu bapak lebih dari sehari. Ia merindukan bapak.

“Hei Lukas, kau sudah bangun?” Eja Thomas menepuk bahu Lukas lalu memeluknya.

“Tenang, kita pasti menemukan bapa”

“Hari ini juga? Bisa?”

“Semoga saja”

Lukas tertunduk lesu mendengar jawaban pamannya yang tidak pasti. Ini akan menjadi hari yang panjang baginya.

Pukul 10.00 pagi, Mama Ance telah bergabung bersama Lukas, Eja Thomas dan beberapa warga yang berdatangan. Mama Ance membawa dua ekor ayam kampung masing-masing berwarna hitam dan merah. Kemudian ada beras merah, telur ayam kampung, sirih pinang, kapur sirih dan sebotol Moke (*Moke : Minuman Keras orang Ende Lio). Sementara itu, Mosalaki telah mempersiapkan beberapa perlengkapan demi berjalannya upacara tersebut. Setelah melewati sesi konsultasi yang panjang dan rumit antara Mama Ance, Eja Thomas dan Mosalaki maka upacara pun dilaksanakan. Terlebih dahulu Mama Ance memasak segala bahan makanan yang tadi telah dibawa termasuk Ayam. Berasnya harus ditanak didalam bambu sesuai tradisi masyarakat Lio.

Pukul 12.00 siang semua kebutuhan upacara termasuk makanan telah lengkap. Mosalaki menghamparkan semua sesajen diatas sebidang batu datar didepan Sa’o Ria. Kemudian sambil merapalkan mantra dia meminta semua warga yang ada disekitarnya turut serta berdoa agar diberikan petunjuk oleh leluhur dan semesta. Selesai upacara dilakukan tidak otomatis petunjuk didapatkan. Mosalaki harus menunggu waktu semalam lagi untuk didatangi leluhur yang dipercaya akan memberitahukan langkah selanjutnya.

***

Pagi-pagi sekali, Eja Thomas, Lukas dan Mama Ance serta beberapa keluarga dekat mereka telah mendatangi Sa’o Ria. Berharap Mosalaki telah mendapatkan petunjuk. Mosalaki dengan luka lesu kebesarannya duduk berhadapan dengan Mama Ance, Lukas dan Eja Thomas. Beliau kemudian berbicara

“Ada kesalahan kecil yang sudah keluarga ini lakukan sehingga leluhur menjadi marah dan memerintahkan makhluk-mahkluk itu menyembunyikan Petrus. Beberapa hari yang lalu, saat Lukas dan teman-temannya bermain di pinggir sungai. Apakah benar?”

Mama Ance dan Eja Thomas beralih melihat Lukas, saat itu Lukas mengangguk mengiyakan. Kemudian Mosalaki berbicara lagi.

“Nah, kalian tidak hati-hati. Kalian mengambil paksa beberapa tanaman yang seharusnya tidak boleh kalian ambil di hutan. Leluhur tidak memberitahukan tanaman apa itu namun karena kelakuan kalian, kehidupan makhluk disana menjadi terganggu oleh karena itu mereka marah sekali. Mereka menyandera bapamu supaya kamu dan teman-temanmu menyadari kesalahan kalian dan berjanji tidak akan melakukannya lagi.”

Lukas terdiam. Ia tiba-tiba teringat beberapa hari yang lalu saat menghabiskan waktu bermain di sungai bersama kawan-kawan. Mereka mematahkan beberapa ranting pepohonan yang mereka sendiri tidak ketahui namanya, namun pohon itu memiliki daun yang lebar dan batang yang a lot sehingga dapat dipakai sebagai perahu-perahuan di sungai. Tanpa Ia sadari, pohon itu adalah tempat tinggal beberapa makhluk penjaga hutan. Pohon itu sudah seperti rumah mereka sehingga saat ada orang lain yang tiba-tiba mengusiknya mereka menjadi sangat marah sehingga menculik bapak petrus. Mosalaki kembali berbicara

“Untuk menebus kesalahan kalian dan agar bapamu bisa kembali lagi, kalian harus mengadakan upacara sekali lagi di perbatasan hutan. Sesajennya masih sama seperti kemarin. Kita akan melakukan itu sore ini pukul enam di kebun kalian. Semoga saja bapamu akan dikembalikan dan masih dalam kondisi baik-baik saja.”
Mama Ance menarik nafas panjang, Eja Thomas menyampaikan terima kasih yang mendalam kemudian pamit untuk segera menyiapkan perlengkapan upacara.

***

Sore beranjak remang, dengan dibantu cahaya dari obor bambu rombongan yang terdiri dari Mosalaki, Eja Thomas, Mama Ance, Lukas dan keluarga terdekat mereka menuju ladang di kaki Danau Kelimutu. Dari kejauhan, Danau Kelimutu seperti tembok alam raksasa. Matahari sebentar lagi menghilang dan bebintang mulai menghiasi langit, bulan merangkak perlahan dengan cahanya yang hangat. Tepat pukul enam sore, waktu yang dipercaya adalah waktu peralihan antara dunia siang dan dunia malam, upacara dimulai. Mosalaki kembali menghamparkan sesajen di atas batu datar di pinggiran ladang yang berbatasan dengan hutan. Beliau merapalkan mantra dan melihat ke sekeliling. Sesekali Mosalaki memejamkan matanya dan mengarahkan kepala ke langit seperti memohon. Selang beberapa saat kemudian, munculah sebuah bayangan diantara semak-semak dari arah hutan. Bapa petrus terlihat kuyu dan berjalan terhuyung-huyung menghampiri mereka. Seketika Lukas berteriak kencang sambil menangis

“Bapa…. Ampun bapa, Lukas yang salah…”

Bapa Petrus tidak berkata apa-apa karena tidak memiliki tenaga lagi, beliau hanya memeluk Lukas dan Mama Ance erat-erat.

***

Lukas menemukan keceriaannya kembali, keluarganya telah utuh sebagaimana semula. Sejak hari itu, Lukas berjanji dan memperingati kawan-kawannya agar tidak sembarangan memotong, mencabut atau merusak tumbuhan dan segala hal yang terdapat di hutan melainkan kita harus bersama-sama menjaganya, memeliharanya agar tidak punah ataupun rusak karena bagaimanapun juga Manusia dan Tumbuhan serta Alam sekitar memiliki ikatan yang kuat yang tidak kita sadari saling melindungi satu dengan yang lainnya.


*LOMBA MENULIS PERHUTANI
Mungkin Tulisan ini gagal karena keterlambatan saya mengirimnya akan tetapi saya berharap tujuan dan isi tulisan ini bermanfaat. GO GREEN, SAVE OUR EARTH \m/



~Untuk Sumba~

#Maria pankratia

Pada satu titikmu, di Pulau berpadang ini
Aku merasa begitu tak berarti
Kecil, mini, ceni!
Menghayalkan lempengan purnama
Bertengger kemayu di bibir bukit-bukit sabana
Dan bintang-bintang memagarinya seolah Raja
Ada lidah api kekuningan berbaur warna kehi tua
Bercampur rerumputan kering dan sengat surya
Meleburkan diri dalam biru samudera
Melayang bebas diantara gradasi rupawan cakrawala
Hatiku ramai, berisik, tak diam
Mulutku rutin, berdecak, kagum
Kakiku riang, berlari, liar
Tangan merentang, lebar
Puji Tuhan, naikan syukur
Demi Allah, tanah ini pelipur

Dedicate for Humba; 20 Mei 2013,

Budaya Tradisi Sebagai Jati Diri

Usia saya mendekati seperempat abad, ketika saya mulai melihat dunia dari sisi yang disebut Tradisi, Kebudayaan, Sejarah dan Alam. Dulunya, saya belum cukup menyadari bahwa saya sungguh tulus tertarik pada hal ini. Terkadang ragu-ragu saat menguping Ibu yang sedang merapalkan doa dalam bahasa Ibu (Bahasa daerah Ende-Lio, red), di daerah saya hal ini disebut “sua sasa” seperti mendoakan keselamatan jiwa orang-orang yang kita sayangi dalam sebentuk syair yang lumayan panjang dan be-rima. Catat : tanpa teks. Itu alamiah. Dan Ibu saya sendiri mengaku, beliau tidak pernah mempelajari khusus semua mantra-mantra tersebut kecuali selalu menyimak dengan seksama saat Nenek melakukan hal yang sama di masa Ibu beranjak dewasa seperti saya. Hal lain yang membuat saya merasa terganggu adalah membuktikan makanan yang dinamakan sesajen itu sungguh-sungguh menjadi dingin setelah di diletakkan dan didoakan. Jadi ini seperti riset , saat itu saya masih duduk di bangku sekolah dasar dan Kakek meninggal dunia. Saya cukup sedih meskipun belum paham arti kehilangan yang sesungguhnya. Kemudian Ibu melakukan kebiasaan ini selama kurang lebih 40 hari setelah kakek meninggal. Apapun bentuk makanan yang Ibu masak hari itu, istimewa atau biasa saja. Beliau akan menyisihkannya untuk Kakek (Ibu melakukan ini juga saat ada perayaan di rumah atau hari raya tertentu. Bukan hanya untuk Kakek tetapi untuk para leluhur yang telah meninggal baik dari keluarga ayah maupun keluarga Ibu), informasi ini membuat saya penasaran karena sesuai akal sehat anak seusia saya saat itu “Bagaimana cara kakek akan memakannya? Sementara jasadnya telah dilapisi semen dan marmer biru disamping rumah..hm,,,” lagipula porsi yang Ibu sediakan untuk Kakek sungguh tidak masuk akal, nasi dan daging atau sayuran itu dipisah-pisah diletakkan pada piring kecil-kecil kemudian segelas kecil arak. Yah Kakek saya kadang suka menenggak arak sebagai tradisi atau juga karena Kakek menyukainya tapi apakah isi seloki kecil itu tidak akan cukup lama mengalir di tenggorokannya? Apa-apaan Ibu ini. Sampai akhirnya Ibu mengajak saya bersama-sama duduk, memasang sebatang lilin dan bersama-sama mendaraskan doa. Hanya Ibu yang berkata-kata sementara saya terdiam dan mendengarkan Beliau mengucapkan kata demi kata dalam bahasa daerah yang saya pahami sebagai ajakan agar Kakek datang dan menikmati hidangan yang sudah disediakan. Selesai berdoa, Ibu menyuruh saya menunggu disitu selama yang saya bisa.

Kata Ibu,” kalau sudah 30 menit kau raba makanannya. Jika sudah terasa sangat dingin baru boleh kau bereskan, boleh juga kalau kau mau menghabiskan. Berbagilah dengan adikmu.”

Dan saya sungguh menantikan makanan tersebut selama kurang lebih 30 menit sambil terus melirik pada jam dinding dengan perhitungan yang kasar. Setelah merasa yakin 30 menit sudah terlewati saya mendekati makanan itu dan menyentuhnya dengan jari. Luar biasa, dinginnya makanan itu tidak normal sebagaimana suhu di ruangan ini. Ditambah lagi musim dingin tidak sedang berlangsung, darimana rasa dingin itu datang? Saya duduk didepannya sejak tadi, tak ada seorangpun yang menumpukkan es disamping atau dibawah piring-piring tersebut sehingga makanan itu menjadi luar biasa dinginnya. Saya menghampiri Ibu dan menceritakan yang hinggap di kepala saya saat itu. Penjelasan Ibu saya terima dengan akal seorang anak saat itu dan hingga kini saya menyimpannya dengan baik. Terkadang ada hal yang tidak bisa dijelaskan dan harus kamu pahami dari dunia ini.

Kata Ibu, “kalau sudah dingin sekali artinya Kakek sudah datang dan makan makanan itu, orang mati memiliki caranya sendiri untuk menikmati sajian kita.”
Hingga setelah tamat SMU saya harus melanjutkan pendidikkan saya ke jenjang selanjutnya di Pulau Seribu Pura, Bali. Di pulau ini masyarakatnya akan menaruh canang yang dipercaya sebagai sesajen bagi para leluhur dan penjaga tanah ini setiap tiga jam sekali. Lebih sering dari yang Ibu lakukan di rumah. Saya yakin di Nusantara yang luas nan beragam serta kaya raya ini, para penghuninya memilik cara masing-masing untuk menghormati NENEK MOYANG mereka.

Itu jejak awal, saat dimana saya perlahan memahami ketertarikan ini justru menjadi magnet berkala yang terus membawa saya pada pengalaman-pengalaman hidup selanjutnya dan memastikan Siapa saya. Jati diri saya sebagai orang Indonesia yang memiliki Budaya dan Tradisi.

Entah Siapa Nenek Moyang-ku yang pasti bukan pelaut karena Dusun Ayah saya maupun Ibu Saya terletak di pegunungan. Tetapi saya mensyukurinya, sesering mungkin saya ke kampung agar bisa menikmati alam liarnya yang rupawan dan masih jauh dari sentuhan manusia (Kami tinggal di kota kabupaten). Karena topografi yang sudah sering saya jelajahi sejak kecil itu, saya kadang rindu pulang ke kampung dan menjelajahi semua kenangan lama. Karena di tanah orang ini, daerah-daerah perbukitan seperti dalam bayangan saya itu terletak sangat jauh. Pemerintah lebih senang membangun pusat kota pada daratan yang rata dan luas, sehingga mempermudah segala akses. Agar bisa menikmati pegunungan, pepohonan dan rimba raya, lautan dan hujan yang nyata, Matahari, Bulan Bintang yang serupa cermin cahaya, saya harus berjalan sangat jauh. Ada benarnya ungkapan bahwa untuk mendapatkan hasil yang luar biasa, engkau harus melewati proses yang sesuai. Jika tidak kepuasanmu hanya semu belaka.

Saya tidak akan menyalahkan para entrepreneur atau pengusaha real estate yang menjamur dan pelan-pelan menyingkirkan semua hal yang tampak sempurna sebelumnya. Di pikiran mereka, mungkin apa yang mereka lakukan adalah menyempurnakan kemajuan bangsa dan negara ini. Namun bagaimana dengan habitat, bagaimana dengan para penghuni setempat, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat akan tetapi terus didoakan?
Saya tidak akan menyalahkan pemerintah bangsa ini juga, yang sering saya pikir menjadikan nasionalisme sebagai alasan untuk cepat menjadi kaya. Semakin banyak media yang sinis dan menyindir perilaku mereka yang diam-diam menghanyutkan, semakin lihai juga mereka menemukan cara supaya bangsa ini hancur terpuruk. Itu kelakuan dan dosa turunan, dari jaman penguasa yang lalu.

Dan saya juga cukup lapang dada menerima nasib, saat melihat bangsa serumpun mengklaim beberapa harta warisan nenek moyang yang seharusnya menjadi milik negara tercinta ini justru di copy-paste sama persis sebagai kepunyaan mereka. Sakit memang, menangis sendiri pun takkan merubah apa yang sudah terjadi. Malah saat saya berkoar-koar dan memaki, saya akan tampak lebih buruk di mata mereka.
“Kemana saja kau selama ini, tidur? Mending ada yang mau ngaku dan lestarikan, setidaknya MASIH ADA DAN TERPELIHARA.”

Mengapa Nasionalisme selalu muncul saat ada yang mengusik, mengapa Nasionalisme tidak tumbuh secara alamiah dan mendarah daging setiap hari di pikiran dan hati penghuni negeri ini?

Setiap orang memiliki cara masing-masing untuk mewujudkan nasionalismenya, tergantung juga pada latar belakang hidupnya, ketertarikannya, kecintaannya pada bangsa ini. TALENTANYA.

Bermula dari apa yang bisa dia lakukan, hal kecil sekalipun! Sederhana. Pernah sekali waktu karena cukup frustrasi dengan kondisi negeri ini, saya kemudian menulis sebuah puisi prosa yang entahlah hanya rentetan putus asa (Puisi Prosa-nya ada di blog sy). Tetapi saya bukanlah saya, seorang Putri Pertiwi bangsa ini jika saya tidak memiliki harapan dan kebenaran yang saya pikul sendiri. Maka mulailah saya beranjak dari hal yang biasa saja. Seperti menulis puisi tentang Alam Indonesia, menghimbau dan mengajak orang-orang terdekat untuk datang pada Pameran atau Pentas Budaya yang sedang diselenggarakan melalui jejaringan sosial yang marak digunakan belakangan ini. Setidaknya dinding teman-teman saya bukan cuma dipenuhi curhatan dan iklan online shop sebagaimana biasanya. Darimanapun pentas Budaya tersebut berasal, Sumatera, Papua, Kalimantan atau Sulawesi. Itu Indonesia! Titik.

Memprakarsai kegiatan bersama kawan-kawan Komunitas, seperti Seminar Sejarah, Seni dan Budaya juga salah satu cara. Mengadakan kegiatan berkunjung ke Museum Budaya yang bisa diselingi dengan outbound dan bersepeda keliling kampung ubud, sebagaimana marak yang sedang terjadi saat ini. Istilah kerennya “Gowes”. Di Denpasar, saya tergabung dalam Komunitas Pemuda Lintas Agama. Ini seperti organisasi muda mudi yang tergabung dari beberapa Agama yang terdapat di Denpasar. Kami tidak memiliki masa yang mumpuni untuk mengadakan kegiatan luar biasa bahkan didalamnya terdapat adik-adik yang masih duduk di bangku SMU yang kadang-kadang membuat saya iri dengan semangat dan motivasi mereka berpartisipasi dalam setiap kegiatan. Akan tetapi sudah dua tahun kami sukses mengadakan Perayaan Sumpah Pemuda bersama, didalamnya terdapat banyak rangkaian acara. Seperti diskusi dan pentas budaya bersama yang bisa menjaring dan memotivasi kawan-kawan pemuda dan pemudi Indonesia dan di Denpasar khususnya agar terus memperhatikan Budaya Tradisi Bangsa ini.

Batik, telah di sahkan UNESCO sebagai karya dan harta milik Bangsa Indonesia. Mengapa kita menunggu di akui saat kita memiliki kesempatan mengeksplorasi kerajinan tangan warisan nenek moyang kita. Masih ada tenun ikat Nusa tenggara, Ulos dari Batak, Songket dari Sumatera dan masih banyak lagi kerajinan tangan Indonesia yang bisa kita kombinasikan dalam kehidupan keseharian kita.

Memanfaatkan teknologi, juga cara yang bisa dilakukan saat ini. Jika dulu Buku adalah Jendela Dunia maka sekarang Internet adalah Surga dunia. Surga kesekian! Surga dimana bisa kau temukan berbagai macam Ilmu Pengetahuan dan wawasan baru tentang Indonesia-mu. Gambar-gambar yang bahkan telah di posting secara berkala dengan jurnal menarik yang bisa kau baca kapanpun kau mau. Isinya tentang Objek Wisata ini, Tradisi dari daerah ini, dan bermacam-macam hal unik menarik yang tidak akan pernah dapat kau bayangkan sebelumnya. Hebatnya, semua itu di Indonesia. MILIKMU, MILIK KITA SEMUA yang harus dijaga, dipertahankan dari klaim-an bangsa lain. Tidak taukah kau, nenek moyang kita menghasilkan peradaban ini jauh sebelumnya dengan susah payah dan yang kau lakukan adalah MENJAGANYA. Meskipun mendapatkan jauh lebih sulit daripada mempertahankan.

Berbicara dan memikirkan Budaya, berbicara dan memikirkan “siapa saya, siapa kamu,siapa kita?” “ada dimana saya, darimana saya berasal” sederhana sebagaimana pertama kita berjumpa dengan kenalan baru. Hal pertama yang akan ditanyakan adalah identitas pribadi kita, ini berlaku di belahan dunia manapun.

“Hai, siapa namamu?”

“Darimana asalmu? Oh Indonesia, bukankah disana orangnya ramah-ramah? Budayanya kaya dan luar biasa. Ada tari saman, tari pendet, tari reog dan macam-macam. Ada Borobudur, Komodo, Danau Kelimutu, dan Raja Ampat? Ada Pulau Bali yang indah menawan berpasir putih. Bahkan tongkat kayu dan batu jadi tanaman di Indonesia?”

Teringat petikan lagu Rayuan Pulau Kelapa, Pulau Melati nan amat subur sejak dulu kala. Dari pesisir hingga bukit berundak, dari lembah sampai ngarai berderai-derai sungai dan lautan.

Itulah arti seni dan budaya tradisi bagi kita saat ini. Sebuah identitas yang patut dipertahankan dan dibanggakan. Melekat erat seperti organ tubuh lainnya di tubuh dan isi kepala masing-masing kita warga Negara Indonesia.

Bukankah kita akan tersenyum bangga penuh kepuasan saat anak cucu kita beranjak dewasa dan bisa melafalkan bahasa daerahnya masing-masing namun tetap menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam lingkungan pergaulannya. Mereka tidak akan kebingungan menempatkan diri sebagai Anak Indonesia dimana pun mereka berada di jaman yang justru menuntut mereka harus memilih mungkin mesti meninggalkan budaya dan tradisi yang sudah mereka lewati sejak masa kanak-kanak, karena di darah dan tulang mereka telah terpatri nyata Merah Putih. Dan para tetua pun tak perlu merasa terancam bahwa sejarah budaya dan tradisinya akan punah perlahan sebab identitas negeri ini telah aman terjaga dalam genggaman generasi yang tepat.

Kita semua datang dari Budaya dan Tradisi yang sangat primitif, sejak jaman leluhur nenek moyang. Untuk bisa mewujudkan kebudayaan nasional dimana seluruh masyarakat Indonesia memiliki kesadaran sepenuhnya dibutuhkan dukungan dari segala komponen nusantara. Kekayaan-kekayaan kebudayaan daerah merupakan akar dari kekayaan-kekayaan kebudayaan nasional. Sekalipun Indonesia terdiri dari berbagai macam suku dan etnis serta kemajemukan penduduknya tetapi sejak jaman Majapahit telah ditanamkan semangat “Bhineka Tunggal Ika” oleh Patih Gajah Mada yang kemudian misi ini dilanjutkan oleh Presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno pada masa pemerintahannya. Beliau mengajak seluruh raja-raja dari seluruh pelosok Nusantara untuk duduk bersama dan berbicara kemudian mempersatukannya menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) karena “Biar berbeda-beda tetapi kita adalah satu tumpah darah, tanah Indonesia. Satu Bangsa, Bangsa Indonesia. Menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.” Iklan makanan nomor satu di Indonesia pun mengakuinya, betapa luas dan kayanya Indonesia. Beraneka ragam, dari Sabang sampai Merauke dari Mianggas sampai pulau Rote. Itulah mengapa Budaya dan Tradisi HARUS LESTARI :)