Tampilkan postingan dengan label Community. Tampilkan semua postingan

Menghidupi Literasi: Susah-Susah Gampang



Dalam rangka kegiatan hari ketiga Gathering Nasional Buku Bagi NTT – 15 April 2018 nanti, kami mengadakan survei ke lokasi Taman Baca Masyarakat (TBM) yang akan menjadi tujuan kunjungan para Relawan Komunitas Buku Bagi NTT.

TBM tersebut bernama Lopo Belajar Suku Adat Elan, Boy, Tuname Nenomana, berlokasi di Desa Poto, Kecamatan Fatule'u Barat, Kabupaten Kupang.

Dari Kupang, kami berangkat berempat, saya, dua Relawan BBNTT Regional Kupang, Tri dan Neno serta salah satu teman kantor Tri, Mesakh. Kami menggunakan dua motor dan membawa serta satu dos buku untuk adik-adik di Lopo Belajar. Berangkat pukul 11.00 WITA dan sempat nyasar selama kurang lebih lima belas menit karena salah arah hohoho, untung insting bekerja baik sehingga bertanya ulang-ulang pada warga yang lewat. Jalanan menuju Fatule’u barat ini beragam, seperti pulau-pulau di Indonesia. Ada pulau besar, lalu menyusul teluk dan lautan kemudian pulau kecil lalu pulau besar lagi hahaha…






Sekitar tiga puluh menit sebelum tiba ke tempat tujuan, kami bertemu dengan KALI YANG PERTAMA (Kali BUKAN sungai). Kami belum tahu, ada berapa KALI yang harus kami lewati untuk tiba di Desa Poto, berdasarkan info dari kakaknya Neno, ada kurang lebih SEPULUH dengan volume arus yang berbeda-beda. Pada perjalanan berangkat ini, hari masih cerah, memang terlihat awan hitam di kejauhan tetapi kami pikir hujan masih akan tiba nanti malam.

Memasuki Desa setelah KALI yang pertama, kami kehilangan sinyal dan sudah tidak nampak tiang-tiang listrik di sepanjang jalan. Kami mengambil kesimpulan, memang tidak ada sinyal dan listrik di sini, maka kami berjalan sembari tetap bertanya karena kami sendiri belum tahu tujuan kami di mana. Ternyata ada DUA LAGI KALI yang harus kami lewati. KALI YANG KETIGA, airnya mengalir deras di atas jembatan beton yang entah kapan dibangun. Setelah KALI yang ketiga ini, kami bertemu seorang ibu dan pemuda yang sedang mengaso di pinggir kali, kami bertanya lagi. Tempat tujuan kami sudah dekat.

Kali yang KEDUA


Kurang lebih sepuluh menit kemudian, kami sudah menemukan Kantor Desa Poto dan Lopo Belajar tujuan kami yang berada tepat di sebelahnya. Ada mama-mama yang sedang duduk di situ, kami bertanya lagi. Dari mama-mama ini, kami diarahkan ke rumah Bapak Simon Seffi yang mengelola Lopo Belajar tersebut. Rumahnya tidak jauh, tepat di jalan masuk samping Kantor Desa, berhadapan dengan Puskemas Desa Poto.


Kantor Desa Poto


Tiba di rumah Bapak Simon, beliau ternyata sedang keluar. Kami menunggu sembari melemaskan tubuh dan pikiran dari medan perjalanan yang luar biasa hasoy. Saya mencuri lihat koleksi buku Bapak Guru Simon yang kebetulan sedang berbaris rapi pada rak di depan kamar kosnya. Canggih! Tidak lama kemudian, Pak Simon muncul. Kami saling berjabat tangan, memperkenalkan diri lalu mulai ngobrol. Perlahan keluar, pisang goreng, pisang rebus, ikan goreng hasil pancingan Pak Simon dari laut terdekat dan tentu saja sambal kemangi serta kopi.




Koleksi buku Bapak Simon Seffi


Bapak Guru Simon adalah seorang Guru Matematika asal Amfoang yang ditugaskan di Desa Poto sejak tahun 2015. Jarak Amfoang ke Poto sendiri, kurang lebih masih 80 KM lagi. Bermula dari beliau menemukan fakta bahwa banyak sekali siswa/I di Sekolah Menengah Atas di Desa Poto belum bisa membaca, menulis dan menghitung dengan baik. Beliau kemudian mengadakan riset kecil-kecilan dengan instrumen yang sederhana dan menemukan kenyataan bahwa metode pembelajaran yang diterapkan Guru-Guru hampir di seluruh sekolah di Kecamatan Fatule’u Barat, baik SD, SMP maupun juga SMA , semuanya sama. Menggunakan kekerasan dan hukuman. Kekerasan dan hukuman ini, menimbulkan rasa tidak aman dan nyaman kepada siswa/I yang menyebabkan  siswa/I hanya melakukan apa yang diperintahkan Guru. Mereka bersekolah untuk menyenangkan Guru, bukan untuk mendapat ilmu. Belum lagi, tidak ada kegiatan belajar pendukung setelah waktu di sekolah telah selesai, mereka harus membantu orang tuanya bekerja di ladang atau di sawah.



Bapak Guru Simon bekerja sama dengan salah satu tetua adat setempat, membuka sebuah Lopo Belajar yang kemudian diberi nama sesuai dengan nama suku besar setempat. Lopo Belajar Suku Adat Elan, Boy, Tuname Nenomane yang berlokasi di halaman rumah Bapak Tetua Adat. Kurang lebih ada 20 anak yang diasuh oleh Bapak Guru Simon, sebagian besar sudah duduk di kelas lima dan enam. Saat pertama bergabung, anak-anak ini samasekali masih kesulitan membaca. Melalui metode belajar kreatif, anak-anak perlahan termotivasi dan bisa lancar membaca. Kami tidak sempat bertemu anak-anak tersebut, karena di hari Minggu, Lopo Belajar tutup.

Meskipun tutup di hari Minggu, kami tetap mampir melihat-lihat dan mengambil beberapa gambar sebagai dokumentasi. Selain itu, sangat nikmat berjalan kaki dari rumah Bapak Guru Simon ke Lopo Belajar di siang hari tanpa ada suara bising di sana-sini.


Lopo Belajar Suku Adat Elan, Boy, Tuname Nenomana




Salah satu hal menggembirakan pada cerita perjalanan ini adalah, mendapat sebuah suguhan menarik dari Bapak Guru Simon Seffi yang ternyata sudah sempat membukukan hasil penelitian beliau tentang kekeliruan metode pembelajaran serta solusi yang bisa beliau tawarkan. Buku tersebut telah dicetak sebanyak dua kali, saat ini beliau tengah berusaha mencari donatur yang mau membantu mencetaknya lagi karena sudah tidak ada stok yang tersisa. Masih ada satu buku saja yang menjadi arsip beliau. Saya sudah sempat membacanya, luar biasa bermanfaat. Harapan saya, Komunitas Buku Bagi NTT bisa membantu memperbanyak buku ini dan membaginya secara gratis ke seluruh Taman Baca di Nusa Tenggara Timur. Judul bukunya: Bermain dengan Sentuhan Personal – Agar Siswa Bisa Baca Tulis Sejak Kelas Satu SD.

Buku Hasil Penelitian Bapak Guru Simon Seffi

Dalam perjalanan mengasuh anak-anak di Lopo Belajar serta mensosialisasikan metode belajar yang sudah beliau kembangkan dalam bentuk buku, Bapak Guru Simon Seffi tentu juga menghadapi berbagai penolakan dan kecurigaan yang terkadang melemahkan posisi beliau. Beliau pernah mengadakan audiensi dengan Dinas terkait bahkan Bupati Kabupaten Kupang, akan tetapi hingga saat ini, belum ada langkah konkrit yang diambil demi mengatasi permasalahan ini. Para Guru Senior, melihat sepak terjang beliau sebagai bentuk mempermalukan mereka atau sok pintar yang sebaiknya diabaikan saja. Sangat khas NTT!

Jika tidak mengingat waktu dan perjalanan pulang yang masih panjang serta awan hitam yang berarak di langit, kami mungkin tidak beranjak sedikitpun dari kediaman Bapak Guru Simon. Sebagaimana perjumpaan-perjumpaan sebelumnya, ini adalah perjumpaan luar biasa yang kesekian. Di sebuah Desa di tengah belantara dan pegunungan, ada sosok gemilang yang bertahan dan mencoba peruntungan hidupnya dengan cara yang begitu mulia. Saya seperti di-charge penuh kembali batereinya.



Nasib pakai timer :D




Pukul 16.00 WITA lewat sedikit, kami mohon pamit kembali ke Kupang. Kami sungguh tidak tahu apa yang menanti kami di perjalalan pulang ini hahaha.. Jika pada perjalanan berangkat, kami selalu berhati-hati dan baik-baik saja, maka di perjalanan pulang ini, kami agak ceroboh dan menyedihkan wkwkwkw.

Motor yang ditumpangi saya dan Neno, nyungsep di KALI YANG PERTAMA harus kami lewati, sebelumnya adalah KALI YANG KETIGA pada saat kami datang, yang di mana saya harus turun jika tidak ingin basah kuyup. Kali ini, saking nekatnya dan keasikan ngobrol, Neno menerjang air begitu saja dan alhasil, kami terjebak.

Di tengah perjalanan menuju KALI YANG KEDUA, gerimis mulai turun perlahan yang kemudian menjadi sangat deras. Kami berhasil melewati KALI YANG KEDUA tanpa ada rintangan yang berarti. Dan beberapa meter sebelum mencapai KALI YANG KETIGA, saya melihat ada aliran cokelat yang begitu pekat dari kejauhan. Banjir besar datang dari hulu, jalan terputus dan kami tidak bisa lewat, rupanya sudah ada beberapa orang yang duduk lemas lebih dulu di pinggiran kali bersama kendaraan mereka. Waktu menunjukkan pukul 16.45, pupus sudah harapan kami untuk tiba lebih cepat di Kupang, sementara besok ada audiensi berkaitan dengan Gathering Nasional BBNTT juga yang harus saya hadiri.



Alternatif pertama adalah, menunggu air surut dan kami menyebrang. Sekitar dua jam kami harus menunggu, bisa jadi lebih dari itu. Alternatif kedua, kembali ke rumah Bapak Guru Simon dan menginap, tetapi bagaimana dengan Tri dan Mesakh yang besok pagi-pagi harus bekerja. Lalu, tanpa kami duga, alternatif ketiga itu muncul. Pasukan Profesional Pemuda Fatule’u, Para Pengangkut Motor tangguh dengan biaya yang tidak disangka-sangka, sangat murah. 30.000/motor. Motor diangkut dan kami boleh memilih nyebrang sendiri atau digendong ke sebelah. Alamak! Yang laki-laki memilih yang kedua, saya dan Tri meskipun kami perempuan, kami juga tetap memilih yang kedua. Masih ada sisi lain dari KALI yang cukup dangkal dan bisa kami sebrangi.





Saya menikmati proses memindahkan motor ini dengan hikmat. Sejak awal, ketika mereka mulai turun ke sungai satu per satu untuk mengecek kedalaman air dan deras arus. Lalu, mencari alat bantu berupa kayu yang cukup keras untuk menopang motor sehingga motor tetap stabil saat dipikul dan tidak terasa terlalu berat saat melintasi arus air yang deras. Tips agar kayu tidak ikut berputar dengan roda motor saat dipikul adalah, gigi motor dimasukkan dulu agar roda tetap diam dan kayu bisa menopang kuat, tidak bergerak. Sebuah pengalaman yang cukup ekstrim dan fenomenal tentu saja. Ketika kami berjalan ke sisi lain sungai untuk menyebrang ke sebelah sementara motor telah tiba lebih dulu, kami sungguh tidak menyangka bahwa akhirnya kami bisa kembali ke Kupang hari itu juga.

Video lengkap tentang aksi heroik ini, bisa dilihat di Instagram saya: @maria_pankratia

Setelah selebrasi yang cukup heboh dan alay, hahaha ditonton oleh warga masyarakat yang sedang nongkrong di pinggiran sungai -rupanya ini menjadi hiburan tersendiri bagi mereka di kala senja hahahaa- kami melanjutkan perjalanan ke Kupang. Di tengah perjalanan, kami diterpa hujan yang lumayan deras sehingga harus dua kali berhenti dan berteduh. Pukul 20.00 WITA lebih atau kurang sedikit, saya lupa, kami akhirnya tiba di Kupang dengan kondisi masih utuh.



Di akhir cerita perjalanan ini, saya hanya mau bilang, Tempat yang kami kunjungi ini hanya dua jam dari Kota Kupang. Tak ada jembatan, tak ada listrik, tak ada sinyal hape kecuali tenaga surya yang tentu saja mengandalkan matahari –belakangan kami dikasitahu oleh isteri Bapak Guru Simon tentang TS ini- Di musim penghujan, mustahil ada nyala lampu neon berpendar. Tetapi orang-orang di tempat ini tetap hidup dan bertahan bahkan sangat kuat dan tegar. Mereka dapat dibilang menjadi sangat profesional saat dibutuhkan seperti di situasi sore kemarin. Lalu, orang-orang seperti saya, kau dan dia masih saja mengeluh ketika siang terlalu panas atau hujan terlampau sering, cemas karena telkomsel terus kirim sms kuota data anda tersisa 498KB saja, kesal karena ditanya kapan kawin #eh nikah #HapaSih hahaha...

Jika demikian, pantas saja kalau banyak orang mudah mati saat ini.

Demikian laporan #BBNTTGATHERINGPREPARATION dari kunjungan ke Lopo Belajar Suku Adat Elan, Boy, Tuname Nenomana, Desa Poto, Kecamatan Fatule'u Barat, Kabupaten Kupang di hari Minggu, 11 Maret 2018.


Salam Literasi,
Maria Pankratia – Relawan Buku Bagi NTT

PS. Semua dokumentasi dalam perjalanan ini berasal dari Handphone saya dan Tri. ^^






#BreakTheSilence Seminar; How to Use Your Voice Wisely



Have you ever heard of Facebook Global Digital Challenge (FGDC)?

The great campaign from the largest social media platform, Facebook

This social networking platform invites students around the world to show the public that social media can be a positive media that provides many advantages if used wisely.

One of Indonesia College is selected to participate in this joint venture program with EdVenture Partners is Undiknas University, Denpasar. Five of Undiknas students who passed the selection at the registration stage are selected as program participant , the participants are; Sean Conti from Business Management Study, Deviyanti Putri and Upayana Wiguna from Accounting Study, Faculty of Economics and Business. There is Pipin Carolina from the Law Science Study, Faculty of Law and Maria Pankratia from the Communication Science Study, Faculty of Social and Political Sciences.

This activity begins with a selection phase since January 2017 and will end with submission of activity reports by June 2017. Participants are required to submit essays explaining their motivation to engage in this activity.

All five were selected after going through a tight selection process from the EdVenture Partners. In February 2017, this team began to work. Together, with Luh Putu Mahyuni, Ph. D., CA, as the Director of Academic/Dean of Economics and Business Faculty and Ida Nyoman Basmantra, MPD as the Team Manager who is also the Head of International Office, Undiknas Denpasar. The team discussed the major themes, what should be raised in this campaign.

Seeing the situation of the Nation and the State of Indonesia which began to be attacked various kinds of radicalism issues, in the end an idea about #BreakTheSilence emerged. A campaign targeting the silence majority, people who have had enough insight and understand the situation but prefer to be silence.

As there is a phrase that says, "In a war situation, when you are impartial to anyone, you are actually supporting the ruling party." This campaign seeks to invite more people to care and determine the attitude so that no more narrow-minded people that take this opportunity to destroy everything that has been painfully built by the predecessors.
Following up on this idea, several concept activities are designed. There are visits to the orphanage, photo competition and video storytelling, making video testimonials and social experiment and film production.

There is also a Seminar titled "Pluralism in Relation to Social Media." The seminar was held on May 29, 2017, attended by 234 Students of Undiknas Denpasar and involving 30 people as committee to working together and organize the activities.

The #BreakTheSilence seminar discusses "How to interpret Diversity and speak wisely through the existing Social Media so that it has a great impact on the whole world."
Present as Speakers, there is Dea Rangga, celebgram; Yoga Arsana and Sugi Suartanaya , the Youtubers; And Anton Muhajir, Editor, Journalist and Blogger. the four speakers and the Facebook Team Global Digital Challenge share experiences and suggestions about how to use social media in the midst of the current excessive information flow.

Through this seminar, it is expected that more and more students are inspired to use the internet and social media wisely; also not negligent to forward this good message to the people they meet in their neighborhood. It's time to be, care and use your opinion wisely! More details about this campaign, #BreakTheSilence Team, Undiknas Denpasar, can be seen at:

Facebook Page: Break The Silence
Instagram: @undiknasfgdc_
Twitter: @BreakUrSilence
Channel Youtube: Undiknas FGDC


Do not forget to Follow and Subscribe the above accounts. Thanks. Regards, Bhineka Tunggal Ika. Break The Silence by Breaking Your Silence!




2016; A Golden Year




365 hari yang lalu, saya tidak memiliki resolusi apa pun untuk 365 hari berikutnya. Saya masih tetap hidup, sehat dan waras saja sudah merupakan sebuah keuntungan. 2015 dan 2014 adalah tahun yang cukup luluh lantak sebagaimana kemudi kapal yang dibajak sehingga nakhodanya tidak memiliki kendali penuh untuk menentukan ke mana menuju. Namun, pada akhirnya, saya menemukan titik balik. Benar adanya, seseorang yang kembali bangkit dari kejatuhan, kekuatannya berkali lipat.

Sekuat tenaga saya menemukan diri saya kembali dan bertanya sesering mungkin “mau apa aku dengan hidupku ini?” iyah persis lirik lagunya Nosstress, itu padanan refleksi yang klop! Refleksi singkat akhir tahun lalu itu, saya temukan kembali di sini

Memulai langkah di 1 Januari 2016 tanpa persiapan apa pun! Kabur, meraba-raba.
Resign dari pekerjaan yang menjadi sumber hidup dan eksistensi, terjun ke lapangan tanpa visi sebagai mahasiswi KKN lalu PKL. Masih saja percaya diri mengkoordinasi Persiapan Misa Pra-IYD2 Keuskupan Denpasar, bersedia jadi Fasilitator Kelompok tanpa pengalaman untuk Kelas Inspirasi Bali 03, terlibat lagi di Denpasar Film Festival. Menyanggupi hadir di Pelatihan Menulis Kompas (lagi), nyasar di Ubud Writers and Readers Festival ke-13 dan Citizen Journalism Day kerja sama Balebengong dan Bali Blogger Community, serta menjadi Juara Regional Maluku dan Nusa Tenggara Blog Competition oleh Government Public Relations. Berani-beraninya menyanggupi jadi auditor untuk sebuah project yang jauh dari bayangan dan dari kamar tidur yang nyaman. Situasi tersebut cukup ngeri-ngeri sedap. Belum pernah saya begitu takut tetapi juga penasaran, antusias diikuti rendah diri yang kalap. Lampung, selama delapan hari merubah sudut pandang saya hampir 75% tentang hidup. Di tahun ini juga, untuk pertama kalinya, saya berani mengirimkan karya saya ke media dan dimuat!

Tahun 2016 saya juga mengalami banyak kepiluan. Saya memang gemar menangis. Bukan hanya dalam situasi sedih atau terharu tetapi juga saat bahagia. Akan tetapi, menangis karena ditinggal pergi untuk selamanya oleh tokoh-tokoh yang menginspirasi hidup saya selama beberapa tahun ini, itu memilukan. Terguguh dan lama. Tidak pernah sekalipun saya meluangkan waktu untuk berpikir bahwa bumi dan manusia terus bertambah tua. Di suatu masa, kita harus menerima kenyataan bahwa jiwa dan pikiran memang tidak pernah mati namun raga pada hakekatnya tidak abadi. Kita harus siap menghadapi kehilangan demi kehilangan. Untuk Ama Petu, Om Boni dan Bapak Agustinus Prajitno, Hormat setinggi-tingginya!

Tahun 2016 saya juga ditinggal nikah oleh sahabat-sahabat terbaik saya. Hebat mereka, mampu mengambil keputusan serumit itu hahaha. Sementara saya masih berkubang, terjebak dalam kecemasan “Bagaimana saya dapat berbagi seluruh pikiran saya seumur hidup hanya dengan satu orang laki-laki saja? Berbagi tubuh saja, saya tak rela. Mana puas kalo cuma sama satu orang?” #Eh wkwkwkkw…

Pada tahun ini pula, saya merasakan dampak arus informasi yang begitu deras akibat kemajuan teknologi yang membabi buta. Segalanya jadi canggih termasuk manusianya. Banyak tontonan dan pengetahuan menarik yang menyenangkan tetapi juga peristiwa yang sulit dilupakan untuk beberapa tahun ke depan. Begitu lah dunia dan Indonesia sejak dulu. Yang selalu keren di sebelah sini sementara terpuruk di sebelah sana. Tidak ada yang betul-betul sempurna emang!

Tahun 2016 saya sapa dengan tahun emas bagi saya. A golden year. Sebab di tahun ini, saya memikul banyak berkat dan rejeki. Saya bepergian ke berbagai tempat dan bertemu macam-macam pribadi. Semua mereka adalah orang-orang HEBAT, PENTING dan MEMILIKI ANDIL bagi dunia yang mereka tinggali. Saya bangga bisa mengenal kalian semua. Tidak dapat saya sebutkan satu per satu, tetapi saya berharap ketika membaca ini, kalian tahu bahwa ANDA-KAMU-KAU-DIRIMU-SAMPEAN-ENGKO yang saya maksudkan!

BALI!

Jakarta-Soekarno Hatta-Lampung-Metro-Tulang Bawang-Raden Inten II

Benoa-Bima-Sape-Sumba Timur-Waingapu-Kambata Mapa Mbuhang-Lumbung-Kadahang-Sumba Tengah-Anakalang-Katikuloku-Sumba Barat-Waikabubak-Sumba Barat Daya-Kodi-Labuan Bajo-Watulangkas-Ruteng-Bajawa-Langa-Mataloko-Ende-Paupire-Detusoko-Nita-Ledalero-Maumere-Lokaria-Wairhubing-Magepanda.

SEMUANYA! Kalian pasti sudah mulai lupa tetapi jejak kalian seperti materai permanen yang basah dan lengket lalu mengering tak bisa luntur atau pun terangkat bahkan dikorek paksa sekalipun.

2016 adalah tahun yang luar biasa bagi saya yang kesadaran afektifnya sangat ngotot dan terjaga selama 24J/7H. Perlahan-lahan semuanya digenapi. Khususnya perihal “Melakukan apa yang sungguh-sungguh ingin saya lakukan.” (Bertemu banyak orang, menjalin relasi dan persahabatan//Tjipok basah sekali untuk Ibuk Semesta Ambara BegituSaja dan Tante George Yustina Liarian Eto, berbagi dan saling memberi dari yang sederhana sampai yang luar biasa. Menulis banyak cerita. Terlalu amat sangat banyak sekali. Mendapatkan beberapa pencapaian yang cukup membanggakan. Menghasilkan sejarah).

Lalu, hm “Menemukan laki-laki yang benar-benar ingin saya cintai” AHAI!

Kemarin, ketika sedang bingung hendak menulis apa untuk refleksi akhir tahun ini, (Sebagian orang mungkin merasa ini tidak penting dan sangat alay lebay TETAPI tidak bagi saya!) saya buka kembali postingan saya di Instagram sejak awal tahun. Foto-foto dan narasi yang membuat saya merasa betapa saya sangat diberkati, segalanya masih utuh tersimpan, lengkap, baik gambar maupun juga cerita serta kesan yang masih bisa saya rasakan ketika saya melihat dan membayangkannya.

***


Descartes bilang: Cogito Ergo Sum//Saya berpikir maka saya ada
Pramoedya bilang: Orang boleh pandai setinggi langit tetapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.
Pacar saya bilang: Hanya yang menang, yang meninggalkan jejak, Enu!
Dan saya bilang: Jika kamu berpikir dan menuliskannya, kamu akan meninggalkan jejak. Tentu dengan sendirinya kamu memberi pengaruh. :)

Hidup, sejatinya untuk mati tanpa alpa untuk memaknainya lalu meninggalkan jejakmu! Jejak saya! Jejak kita! Live Your Life! In this great future, you can’t forget your past, so write it down!

Epang Gawan, Terima Kasih banyak untuk semua yang sudah memberi dan berbagi dari kekurangan maupun juga kelebihannya (dan saya tidak pernah lupa hutang-hutang saya hihihi… tenang saja). Ama Pu Benjer, Jah Bless kita semua di Tahun yang Baru!

Resolusi tahun berikutnya? Hahaha hm.. Hajiar saja!

2017 dalam genggaman!

*Semoga ada golden-golden year selanjutnya


 Thankis buat Ge' untuk tangkapan keren ini ^^








PANITIA PELAKSANA PELATIHAN DASAR ORGANISASI DAN KEPEMIMPINAN (PDOK) OMK PAROKI ROH KUDUS KATEDRAL DENPASAR

I. Latar Belakang
Generasi muda, generasi penerus masa depan adalah realitas yang dapat diterima oleh semua pihak. Landasan pijak pernyataan ini terletak pada kenyataan bahwa kaum muda selalu penuh dengan semangat, kreasi dan idealisme serta visi dan misi ke depan. Di sisi lain, kaum muda merupakan generasi penentu dari sebuah perkembangan dan pertumbuhan peradaban Bangsa. Kenyataan ini tidak membebaskan kaum muda yang berkecimpung dalam kehidupan menggereja, dikarenakan kaum muda adalah Tulang Punggung Gereja.

Bertolak dari kenyataan ini, amatlah disayangkan jika kaum muda yang penuh semangat dan kreasi itu harus berkembang sendirian tanpa bimbingan. Tidak itu saja, adalah kekeliruan jika visi, misi dan idealisme yang dimiliki oleh kaum muda akhirnya harus berkembang ke arah yang salah karena diarahkan secara tidak benar. Pada sebuah kegiatan Training for Trainer (TFT) di Keuskupan Denpasar beberapa bulan yang lalu, terdapat sebuah materi menarik yaitu Analisa Tantangan dan Peluang OMK di Paroki masing-masing. Di Paroki Katedral Orang Muda masih mengalami krisis jati diri dan rasa enggan bergabung dalam sebuah wadah kebersamaan bahkan untuk kelompok organisasi seperti OMK yang samasekali tidak memiliki syarat tertentu untuk bergabung dan memberatkan anggota dengan berbagai macam tanggung jawab serta tidak mendatangkan penghasilan. Apakah karena tidak memberikan penghasilan maka banyak Orang Muda Katolik sekarang memutar haluan sehingga lebih sibuk dengan hal-hal duniawi? Salah satu langkah bijak yang terpikir sebagai Rencana Tindak Lanjut dari TFT tersebut dan juga merupakan Program Kerja Kepengurusan OMK PRKKD 2011 – 2013 adalah dengan mengadakan Program Pelatihan Dasar Organisasi dan Kepemimpinan OMK RPKKD (PDOK). Dimana kaum muda dibekali dengan keahlian dan kapabilitas yang memadai dalam sebuah sistem baik secara pribadi maupun kelompok.

Secara spesifik, OMK Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar termasuk dalam kaum muda yang masih dan harus membutuhkan banyak bimbingan, pelatihan dan arahan. Teristimewa dalam berorganisasi, masih ditemukan banyak kendala yang merupakan kesulitan bersama. Hal yang perlu mendapat perhatian juga adalah kesadaran bahwa organisasi OMK khususnya OMK Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar bukanlah milik orang perorangan. Sebaliknya, organisasi OMK adalah milik semua muda-mudi Katolik yang terhitung sebagai umat Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar. Pada titik ini, masalah kurangnya partisipasi dan kesadaran berorganisasi dalam lingkup gereja, lemahnya kaderisasi dan ketidaksiapan pribadi untuk memimpin, telah menjadi dilema bagi OMK Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar dalam berorganisasi.

Menanggapi masalah yang ada dalam organisasi OMK Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar ini, maka Pengurus melalui Panitia yang sudah dibentuk merasa perlu mengadakan suatu kegiatan pelatihan yang berkesinambungan untuk para kaum muda. Pada pelatihan tingkat dasar ini diharapkan ketahanan egoisme diri dapat diruntuhkan sekaligus dibentuklah karakter pribadi dan kelompok untuk beroganisasi. Dengan demikian, OMK Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar dapat selangkah lebih maju yaitu memiliki tipikal dan karakter berorganisasi, selalu mengkaderkan anggota-anggotanya dan pada tingkat yang lebih tinggi, akan membangun komitmen berorganisasi.


II. Tema
Dasar Pemikiran di atas mendorong panitia pelaksana untuk merumuskan arah pelatihan dasar organisasi dan kepemimpinan ini dengan tema: “Kaderisasi Kepempimpinan OMK Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar Dalam Berorganisasi”. Dengan tema ini, kegiatan pelatihan tersebut diarahkan untuk membentuk karakter pribadi dan kelompok dalam berorganisasi dan pada akhirnya dapat menciptakan kaum muda yang mampu berorganisasi dan merasa memiliki organisasi itu, yakni OMK.

III. Tujuan Kegiatan
1. Membentuk karakter pribadi dan kelompok dalam organisasi kaum muda Katolik.
2. Mempelajari disiplin kerja dan waktu dalam sebuah sistem organisasi kaum muda Katolik .
3. Menambah pengetahuan Omk dalam manajemen keuangan dan teknik penggalian dana pada setiap kegiatan.
4. Sebagai proses kaderisasi dalam organisasi kaum muda Katolik.
5. Membentuk karakter Pemimpin pada setiap pribadi kaum muda Katolik.

IV. Bentuk Kegiatan
1. Seminar
2. Diskusi
3. Outbound
4. Renungan

V. Peserta Kegiatan
- Kaum Muda Katolik khususnya OMK yang tersebar di wilayah dalam lingkungan Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar.

VI. Pelaksana Kegiatan
- OMK Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar

VII. Waktu Pelaksanaan Kegiatan
- Tanggal : 11 – 13 Oktober 2013

VIII. Tempat Pelaksanaan Kegiatan :
- The Sila’s Agrotourism, Bedugul

IX. Sumber Dana
- Diambil dari Dewan Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar
- Kas OMK Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar

X. Panitia Pelaksana (-)

XI. Anggaran Dana (-)

XII. Penutup
Kegiatan pelatihan dasar organisasi dan kepemimpinan ini, dalam target jangka pendek akan menjawab dilema dalam diri OMK Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar. Di sisi lain untuk suatu tujuan jangka panjang, pelatihan ini menjadi semacam langkah awal dalam mempersiapkan para Kaum Muda menjadi seorang Pemimpin di kemudian hari. Pada akhirnya, kegiatan ini diharapkan dapat menjawab arah Pastoral Gereja Lokal yaitu menuju Gereja yang transformatif dan memancarkan wajah Kristus melalui semangat Orang Muda.
Dalam proses mencapai ke arah ini, tidaklah keliru jika Panitia tetap mengharapkan segala usul dan saran yang membangun demi keberhasilan kegiatan ini, terutama demi lahirnya Pemimpin-pemimpin Muda bagi Organisasi Gereja.







Katedral FC.

Tidak sedikit orang yang mengenal dan mengagumi sekelompok anak muda yang tergabung dalam Katedral FC., team sepak bola OMK PRKKD yang dahulunya terbentuk karena kesamaan hobi dan tingginya intensitas berkumpul sehingga terbersit ide untuk membuat wadah baru demi menuangkan semangat serta kreativitas dalam mempermainkan si kulit bundar di lapangan hijau. Sebelumnya OMK PRKKD memiliki program kerja Kompetisi Futsal antar wilayah yang selalu diadakan setiap tahun menjelang hari raya natal. Melalui kegiatan ini maka terjaringlah orang-orang muda berkemampuan mumpuni dalam bidang sepak bola bahkan ada yang sudah memiliki prestasi seperti Rexand dan Vital yang sudah sering berkecimpung di dunia sepak bola baik tingkat Propinsi maupun Nasional. Rexand yang adalah salah satu squad andalan PERSEDEN U-21 juga merupakan Koordinator Sie Minat dan Bakat khusus Olahraga Sepak Bola di kepengurusan OMK PRKKD. Sementara Vital Ximenes yang juga striker handal untuk Team Sepak Bola Katedral adalah salah satu Pemain Pra Pon Bali untuk Futsal tingkat Nasional tahun 2012 kemarin. Selain itu ada juga pemain muda berprestasi lainnya yang sudah malang melintang dalam olahraga bergengsi ini serta ikut berpartisipasi dalam memajukan sepak bola OMK PRKKD seperti Vian, Apri, Yunus, Mario, Doni, Harvy, Polce, dibantu kawan-kawan lain yang juga selalu hadir memperkuat team Katedral yaitu Matt, Nando, Fame, Babe, Acen, Iwan, Ego, Stef, John, dan lainnya yang senantiasa mendukung setiap sepak terjang Katedral FC. Team ini dulunya dilatih oleh Kakak Sales Djema, dibantu Mas Bagus Chandra Gunawan selaku Manager team. Saat ini posisi pelatih sementara tidak ada dan Mas Bagus terkadang dibantu oleh K’Micky atau kawan-kawan lainnya yang memiliki perhatian sangat besar untuk perkembangan Sepak Bola OMK PRKKD. Daftar Prestasi yang sudah berhasil diraih oleh Team Sepak Bola Katedral, adalah sebagai berikut :

Turnamen Futsal St. Albert Cup KMK UNUD : JUARA I TAHUN 2009, 2011, 2012
Turnamen Sepak Bola OMK Se-Bali 2010 JUARA III
Turnamen Sepak Bola FX CUP I 2010 JUARA III
Turnamen Sepak Bola FX CUP II 2012 JUARA I
Turnamen Futsal GKI CUP : JUARA I TAHUN 2012, 2013
Turnamen Futsal TIDAR CUP 2013 JUARA I
Turnamen Futsal St. Peter Cup Monang Maning 2013 JUARA III


Kesuksesan ini tidak lantas membuat kawan-kawan OMK PRKKD tinggi hati, melainkan terus berusaha melatih kreativitas dan mengadakan kegiatan bermanfaat demi mengembangkan bakat dan kemampuan kawan-kawan salah satunya dengan menyediakan wadah kebersamaan serta memupuk rasa sportifitas melalui Kompetisi Futsal Se-Bali yang rencananya akan dilaksanakan pada bulan November 2013 di Denpasar. Melalui media ini juga kami secara resmi memohon dukungan dan kerjasama dari berbagai pihak baik moril maupun materil agar kegiatan ini dapat berjalan lancar dan sukses. Untuk informasi selanjutnya mengenai kegiatan ini bisa menghubungi : Ketua Panitia Saudara John Menori (082145927859), atau HUMAS Saudari Maria Pankratia (08970849263). Maju Terus Sepak Bola Indonesia. Salam :)

OMK PRKKD ; LAPORAN KEGIATAN 2013

I. PENDIDIKANPOLITIK OMK SE-REGIO NUSRA
Pada tanggal 7 – 10 Mei 2013 telah berlangsungKegiatan Training Of Trainer ; Pendidikan Politik untuk Pendamping OMK Se-RegioNusra bertempat di Aula Seruni Weetabula – Keuskupan Weetabula Sumba Barat Dayadengan tema “Berikan kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar(Matius 22:21)” kegiatan ini diikuti oleh Utusan Komisi Kepemudaan KeuskupanSe-Regio Nusra dengan jumlah peserta 41 orang dan di fasilitasi oleh 3 orangteam Komisi Kepemudaan KWI.

Dalam kegiatan ini Peserta dibekali dengan berbagaimateri yang berhubungan dengan Politik secara umum maupun Politik Indonesiakhususnya dan bagaimana Orang Muda Katolik harus mulai berani terjun langsungdalam Politik Praktis. Semua materi itu pada akhirnya menyadarkan para pesertabahwa fenomena yang dihadapi di keuskupan se-regio nusra adalah rendahnyapemahaman politik di kalangan OMK se-regio nusra, yang berdampak pada minimnyapartisipasi OMK dalam kehidupan sosial politik.
Peserta pertemuan menyadari bahwa Politik merupakanpanggilan bagi semua orang katolik termasuk OMK. Dan bila politik dilakukandengan benar akan memberikan dampak kepada kesejahteraan bagi semua orangsesuai dengan Ajaran Sosial Gereja (ASG).

Mengingat pentingnya hal tersebut maka peserta TOTmerekomendasikan agar Perlu dilakukan Pendidikan Politik Dan Kaderisasi YangTerencana, Berjenjang Dan Berkelanjutan Bagi OMK. Para peserta juga menghimbauagar gereja se-regio nusra berperan aktif dalam mendampingi OMK demi kemajuanpemahaman politik OMK dan pendampingan bagi mereka yang terlibat aktif dalampolitik praktis di wilayah regio Nusra. Maria Pankratia~Peserta Perwakilan OMKKeuskupan Denpasar

II. PELATIHAN BAGI PARA PENDAMPING OMK SE-BALI

Pada tanggal 12 – 14 Juli 2013 juga telahberlangsung Kegiatan Training For Trainers ; Pelatihan Bagi Para Pendamping OMKSe-Keuskupan Denpasar (Khusus Pulau Bali) bertempat di Wisma Keuskupan Denpasardengan tema “Pendamping OMK Sahabat Seperjalanan OMK dalam Memancarkan WajahKristus” kegiatan ini diikuti oleh Utusan setiap Paroki yang terdiri dariPembina maupun Pengurus OMK baik dari Dekenat Bali Barat maupun Dekenat BaliTimur.

Selama proses pelatihan ini, Peserta diajak memahamidan menganalisa Tantangan dan Kekuatan serta Peluang yang dimiliki OMK sebagaisebuah Komunitas. Peserta dibagikan kedalam beberapa kelompok kemudian salingmembagikan pengalaman selama menjadi Pembina maupun Pengurus di Parokimasing-masing. Pelatihan ini memberikan manfaat yang luar biasa karena setiappeserta pada akhirnya menemukan masalah yang dihadapi baik dari OMK secarapribadi maupun OMK secara komunitas. Peserta di ajak memikirkan solusi danrencana tindak lanjut sebagai langkah konkrit kedepannya.

Paroki Katedral sendiri mengutus tiga orang Pesertayaitu Bapak Thomas Bili selaku Sie Kepemudaan DPP Paroki Roh Kudus KatedralDenpasar, Maria Pankratia Mete Seda selaku Wakil Ketua OMK PRKKD dan AgustineBernadine Riberu selaku Sekretaris OMK PRKKD. Kegiatan ini di fasilitasi olehKWI bekerjasama dengan Komisi Kepemudaan Keuskupan Denpasar. Diharapkankegiatan seperti ini dapat dilakukan sesering mungkin demi menunjang kemajuanOMK sehingga menjadi lebih Tangguh,Tanggap dan Terlibat dalam memancarkan wajahKristus. Salam Semangat OMK!

III. Pertemuan Pembina OMK Se-KeuskupanDenpasar oleh Ditjen Bimas Katolik Kementrian Agama Republik Indonesia diMataram

REKOMENDASI PERTEMUAN PEMBINA ORANG MUDA KATOLIKKEUSKUPAN DENPASAR TANGGAL 15 - 18 JULI 2013 DI MATARAM

Setelahmengikuti dan mencermati seluruh proses Pertemuan Pembina Orang Muda KatolikKeuskupan Denpasar di Mataram dari tanggal 15 sampai dengan 18 Juli 2013 dengantema “Dengan Pertemuan Pembinaan Para Pembina OMK, Kita Tingkatkan Peran SertaOrang Muda Katolik Bagi Gereja dan Masyarakat”, kami, peserta pertemuan,menemukan garis-garis besar semangat karya pastoral Gereja, peluang dantantangan pembinaan Orang Muda Katolik, dengan ini kami menyampaikan beberaparekomendasi untuk menjadi perhatian berbagai pihak terkait, khususnyaDirektorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik, yaitu:

1. ArahKarya Pastoral Pembinaan Orang Muda Katolik :
- PembinaanOrang Muda Katolik merupakan salah satu langkah strategis untuk menyiapkangenerasi penentudan penerus Gereja Katolik, bangsa dan Negara di masa sekarangdan pada masa yang akan datang. Oleh sebab itu, orang muda Katolik hendaknyadisiapkan untuk memahami fungsi dan peran kerasulan awam baik dalam kehidupanmenggereja maupun kehidupan bermasyarakat, bangsa dan Negara demi mewujudkanOrang Muda Katolik yang 100% Katolik dan 100% Indonesia. Untuk itu, diperlukanpembinaan Pembina Orang Muda Katolik berupa pelaksanaan kegiatan, pemberian bantuanpelaksanaan kegiatan dan pemberian bantuan sarana pendukung peningkatanpemahaman tugas pastoral Gereja, agar memahami dengan sungguh-sungguh arah umumkarya pastoral Gereja dan arah karya pastoral pembinaan Orang Muda Katolik.
- Perlupenyusunan materi-materi pokok arah karya pastoral pembinaan Orang Muda Katolikseperti modul/kurikulum pembinaan OrangMuda Katolik sebagai acuan bersama dalam pelaksanaan pembinaan Orang MudaKatolik.
- PembinaanOrang Muda Katolik hendaknya dilaksanakan secara sistematis, kontinyu, terpadudan berkesinambungan dengan memperhatikan tingkatan usia Orang Muda Katolik.
2. Managemen Pengelolaan Pembinaan OrangMuda Katolik:
Diperlukanpedoman tata kelola (Juklak dan Juknis) pembinaan Orang Muda Katolik yang dapatdijadikan pegangan bagi setiap Pembina Orang Muda Katolik agar pembinaan OrangMuda Katolik dapat terlaksana secara sistematis, terus-menerus,berkesinambungan dan tepat sasaran dan tepat guna.

3. Kemitraan Pemerintah dengan Gereja
Kerjasama dan koordinasi yang baik antara pemerintah dalam hal ini DirektoratJenderal Bimbingan Masyarakat Katolik Kementerian Agama RI dengan Gerejakhususnya dalam bidang karya pastoral Orang Muda Katolik yang sudah terjalinselama ini dapat diteruskan dan ditingkatkan baik kuantitas maupun kualitasnyadi masa-masa yang akan datang.

Demikianlahrekomendasi ini dibuat untuk menjadi bahan pengambilan kebijakan DirektoratJenderal Bimbingan Masyarakat Katolik.


IV. Bali Summer Camp
Satulagi acara menarik yg kami ikuti adalah 'Bali Summer Camp' (BSC). BSC adalahsuatu kegiatan camping rohani yang diselenggarakan oleh Badan PelayananKeuskupan Pembaruan Karismatik Katolik di Bedugul pada tanggal 31 Juni - 2 Meiyang lalu. Acara ini juga diikuti oleh rekan OMK dari berbagai paroki di KesukupanDenpasar. OMK PRKKD mengirim 6 perwakilannya untuk berpartisipasi. Ini adalahyang ke-3 kalinya BSC diselenggarakan dengan mengusung tema ' Agent of Change'.Sesuai dengan tema yang diangkat, jelas sekali acara ini bertujuan untukmemotivasi para peserta untuk menjadi Agen Perubahan. Melalui sharing dandiskusi, serta games yg menarik dan sangat 'anak muda' para peserta belajaruntuk saling berbagi,saling mengenal satu sama lain dan bersyukur untuk segalayg kita punya. Untuk semakin memahami bagaimana hubungan kita dengan Tuhan,Keluarga, dan Teman. Ada juga sharing pengalaman iman yg sangat inspiratif dariKak Leonardus Kamilis, seorang anak muda yg sudah berhasil menjadi 'AgenPerubahan' untuk dirinya sendiri dan orang2 disekitarnya melalui pertolonganYesus Kristus. Melalui acara ini, kami menjadi termotivasi untuk bisa membawaperubahan di lingkungan kami, terutama untuk gereja. Semoga apa yg kamidapatkan dari acara tersebut bisa kami aplikasikan di kehidupan menggereja dansemakin tangguh,tanggap,terlibat.

V. EKARISTI KAUM MUDA DAN MALAM PENTAS SENI 17 AGUSTUS 2013
Dalam semarak HUT NKRI ke-68 telah diselenggarakan Ekaristi Kaum Muda dan Pentas Seni Kemerdekaan untuk OMK Sekota Denpasar oleh OMK FX. KUTA. Acara yang dilangsungka pada Malam Minggu 17 Agustus 2013 di Pelataran Parkir Gereja FX Kuta ini berlangsung meriah, dihadiri beberapa Paroki antara lain OMK MBSB NUSADUA, OMK DON BOSCO BABAKAN, OMK ST.YOSEP KEPUNDUNG, OMK PRKKD dan OMK FX.KUTA selaku tuan rumah. Pada tahun berikutnya diharapkan kegiatan seperti ini bisa berlangsung kembali dan melibatkan lebih banyak OMK dari Paroki lainnya. Semangat OMK Keuskupan Denpasar Tangguh, Tanggap, Terlibat \m/

Membahana di Borneo #OMK \m/

Part IV. Gawai Padi dan Nyora

22 Oktober 2012
Pukul 6 Pagi di Beduai sudah terang benderang, Vera mengajak saya berbelanja di seberang jembatan yang termasuk dalam wilayah Muara Illai. Ada sebuah warung yang menjual kebutuhan seperti Sembako dll. Jika di lihat-lihat Beduai sudah lumayan maju, tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya oleh kawan-kawan yang sudah paranoid karena keseringan nonton Ethnic Runaway di salah satu stasiun televise nasional. Bapak pemilik warung sangat ramah dan mengajak saya bercerita tentang Pulau Bali. Di Muara Illai ini ada seorang Polisi yang berasal dari Karangasem, namanya Pak Made. Wahhh….. kebetulan lagi saudara? :)
Kelar belanja, kami kembali ke rumah untuk bersiap ke sungai. Mandi pagi. Sungai surut pagi ini, jadi kami harus berjalan agak lebih ke dalam untuk berendam. Hutan terlihat hijau segar dan pantulan sinar matahari menembusi dedaunan serta ranting yang mulai mengering. Saya suka pagi! Ada seorang gadis Tanjung Ungan yang sedang mencuci sendirian. Kami pun bergabung bersama dia dan mulai mandi. Selesai mandi kami kembali ke Rumah untuk Sarapan pagi dan menunggu jemputan menuju Gereja. Sepertinya saya telat lagi hari ini. Karena motor yang tersedia cuma satu, kami akhirnya memutuskan boncengan bertiga. Tidak baik. Hahahaha, sampai kemudian Pak Made yang Polisi itu lewat dan menawarkan tumpangan. Dengan senang hati, pak. Di atas motor, kami ngobrol lumayan banyak baik tentang Bali maupun Beduai. Bali dan Beduai. Diawali huruf B dan diakhiri huruf I. ah saya lebay. Hahahaha…
Tiba di Gereja acara Wawanrasa telah dimulai oleh Romo Gaspar. Wawanrasa ini bertujuan memperkenalkan kepada peserta IYD Keuskupan Denpasar bagaimana Agama Katolik berkembang di Pulau Kalimantan dan berintulkurasi dengan kebudayaan Dayak, khususnya Dayak Golik. Dayak Golik berasal dari Sungkung (sekarang masuk wilayah kecamatan Entikong bagian dalam, yang berbatasan langsung dengan serawak Malaysia). Dahulu kala Bangsa Portugis saat pertama kali menginjakan kaki di Kalimantan percaya bahwa Tanah Kalimantan memang telah menjadi tanah pilihan Tuhan dan akan menjadi suku bangsa yang menganut Agama Kristen sepenuhnya karena beberapa Tradisi, Adat Istiadat yang begitu persis dengan Tata cara orang Katolik. Salah satu yang mencolok adalah Tanda salib yang menjadi tanda kemenangan, sejak jaman dahulu para dukun di Kalimantan selalu menggunakan tanda seperti tanda salib ini sebelum mengobati orang yang sakit. Lalu ada kebiasaan menyembuhkan orang sakit dengan memingitnya dalam rumah selama tiga hari tiga malam dengan meletakan daun sabang di depan pintu sebagai symbol bahwa rumah tersebut tidak bisa menerima tamu dalam waktu tiga hari kedepan, sampai tiga hari kemudian orang yang sakit tersebut sehat kembali. Mengingatkan kita akan peristiwa dalam Kitab Suci saat Bangsa Israel akan melarikan diri dari Mesir dan masih banyak hal lain yang menunjukkan keterkaitan antara Agama Katolik dan Tradisi suku Dayak itu sendiri, akan saya tuliskan pada postingan berikutnya (^^)
Siang ini kami semua telah dijanjikan untuk berjalan-jalan ke ladang, mengikuti Tradisi Gawai Anak Padi atau Mendoakan ladang yang baru saja di buka dan di Tanami. Saya patut mengacungkan jempol untuk Masyarakat Kalimantan, karena mereka meletakkan Tuhan begitu tinggi dalam setiap aktivitas dan kerja keras mereka. Di tempat lain sekalipun yang begitu mayoritas, belum tentu masyarakatnya akan melakukan hal seperti ini. Karena daerah yang akan melakukan Gawai Anak Padi pada hari ini hanya Pemodis dan Muara Illai, maka kami dibagi dalam kedua kelompok. Kemudian kedua kelompok itu masing-masing akan di pecah lagi sesuai jumlah ladang yang akan di kunjungi. Satu kelompok akan mendatangi empat sampai tujuh ladang dan letaknya saling berjauhan. Itu artinya kami akan masuk keluar hutan, menyebrangi sungai, melewati hutan karet dan tanaman jarak, rerumputan yang diselingi kelapa sawit serta wangi durian menusuk. Pengalaman ini selalu saya temukan kembali dalam mimpi-mimpi saya semenjak saya kembali dari Beduai. Kicau burungnya yang berbeda, nama dan bentuk buah yang beraneka serta panasnya yang luar biasa menyengat. Gelap hutan yang beradu desiran angin dan percikan air sungai dingin menyegarkan. Betapa Kayanya Indonesia, di hadiahkan Tuhan cuma-cuma. Selama perjalanan ini kami di jamu oleh Tuan Ladang dengan berbagai macam makanan dan yang pasti Tuak tak ketinggalan. Saya begitu bersemangat dan kalap. Hahahaha. Selesai bergawai padi, Kami dikumpulkan di Balai Adat . Kelompok kami melewati empat ladang saja karena letaknya yang sangat berjauhan sehingga waktu seharian tidak cukup. Disana telah menanti Nyora Mini, alias makan bersama dengan segenap makanan rumah yang telah disediakan oleh Masyarakat setempat. Silahkan memilih, ada ayam goreng, opor ayam, ayam bakar, sayuran, jajanan bermacam-macam, tetapi kenapa saya lebih memilih menghabiskan tuak sampai sempoyongan. Serius, saya kekenyangan dan pening. Kami bergembira, menari dan tertawa hingga waktu menjelang sore. Kami harus ke gereja, karena pukul 5 sebentar lagi tiba. Misa penutup dan Maxi Nyora akan berlangsung malam ini karena besok kami akan bertolak ke Sanggau. Seperti ada sesuatu yang mengiris dada saat itu, jika saja saya bisa lebih lama disini. Tidak lama waktu istirahat yang saya miliki setibanya di rumah, kami langsung ke Sungai dan mandi lalu berangkat ke Gereja. Kepala saya sakit sekali.
Gereja Salib Suci Beduai, senja itu ramai total. Seluruh umat sepertinya berkumpul disini. Misa penutup dipimpin oleh Romo Patris selaku pastor paroki beserta konselebran Rm. Eman, Rm. Robert, Rm. Yomi dan Rm. Gaspar yang terlihat oleng dan ngantuk diatas altar. Hahahaha… ah ini tidak akan terulang. Misa berlangsung khidmat dan lagi-lagi Emon dan kawan-kawan mempersembahkan suguhan nyanyian, tarian dan musik yang begitu kreativ dan menyengat telinga. Saya tidak peduli seberapa banyak mata memandang ketika saya berlari dan memilih berdiri tepat di hadapan para pemain musik demi menyaksikan perpaduan yang menggetarkan ini. Drum, simbal, bambu, Gong, …… dan Lelaki Dayak yang sedang membawa Mandau melompat gemulai menghunjukan persembahan kedepan altar. Mata ini, telinga ini akan menjadi lebih peka saat kembali nanti.
Selepas misa, kami semua berkumpul di Aula Paroki SSB. Kami akan Mengikuti NYORA. Tradisi Makan bersama masyarakat Beduai. Tidak ada prasmanan ………………………..(ambil dari FB). Pada malam ini juga kami mempersembahkan Tarian dan Lagu Janger yang sudah kami siapkan sejak sebulan lalu untuk Teman-teman OMK dan Masyarakat Beduai. Riuh tepuk tangan dan sorak gembira mereka adalah apreasiasi yang melegahkan yang dibalas ucapan Terima Kasih kami karena telah menerima, melayani dan mau mengenang kami di Beduai. Malam panjang itu serasa tak ingin di akhiri. Saling memberikan kenang-kenangan, souvenir, dan kesan pesan yang disertai air mata ketidakikhlasan bahwasannya kami sungguh hanya memiliki dua hari berharga di tempat ini dengan segala cerita dan peristiwa menyenangkan tak terlupakan. Malam itu saya terduduk di toilet rumah dengan perasaan kacau balau. Bukan karena ingin membuang hajat tetapi saya terduduk karena pening kepala tak lekas pergi dan tanpa saya sadari saya menangis. Menangisi waktu, yang kadang leluasa memberi segalanya terjadi kemudian mengambilnya dengan sigap tepat ketika semuanya baru saja di mulai. Saya akan merindukan tempat ini sambil bersamaan dengan itu membencinya karena tidak semudah yang saya bayangkan akan kembali lagi ke Beduai.

Membahana di Borneo #OMK \m/

PART III. Welcome to BEDUAI

21 Oktober 2012
Pagi sendu di Batang Tarang, belum banyak aktivitas terjadi. Mario sempat merekam moment saat kawan-kawan masih terbuai mimpi karena kelelahan. Ada yang mulai terjaga dan terburu-buru mencari kamar kecil. Dan saya, termenung menatap sejurus pada langit dan alam sekitarnya. Masih mendung dan lembab, rerumputan segar hijau. Pastor paroki datang dan menyarankan kami untuk membersihkan diri karena sarapan pagi akan disiapkan. Dibelakang sana ada sungai jika kalian ingin mandi. Waow, SUNGAI! Hm… tapi akibat hujan semalam, sungai tersebut Nampak sangat kecokelatan serupa lumpur, selera berendam saya pun hilang apalagi semua peralatan dan perlengkapan saya masih berada di bagasi Damri yang mogok. Saya pun lebih memilih menjelajahi tepian sungai yang juga ditanami jagung. Dekat dengan sungai tersebut terdapat sebuah Gua Maria yang sedikit tidak terurus. Saat itu saya pergi bersama Galih (OMK Mataram), kami berdiam di Gua kurang lebih sangat lama (hahahaha…) tentu saja untuk menyapa dan berngobrol ria dengan Ibunda Maria Tercinta. Dan kesimpulan akhirnya, Kami tidak jadi mandi melainkan cuci muka serta menyikat gigi dengan Aqua saja lalu bergabung bersama kawan-kawan dari Purwekerto untuk Sarapan pagi. Dan sejak semalam saya tidak menemukan cabe atau sambal disini. Ada apa yah???? Makanan terasa dua kali lebih manis ditambah rupa saya yang memang sudah aduhaii belum mandi seharian. Huahahahha…
Khabar baik datang bersama dengan kehadiran Wina, Damri pengganti yang akan membawa kami ke Beduai sudah tiba. Kami boleh mengambil bagasi masing-masing dan menaiki Damri penyelamat tersebut. Semua siap, anggota lengkap, doa pengantar perjalanan sudah terungkap dari Rm. Eman sebagai pemimpin dan kami pun kepakan sayap alias terbang melaju menuju Beduai melewati ribuan batang-batang pohon kelapa sawit, tanah rawa, ladang yang dibakar sebelumnya untuk dipakai menanam lagi dan banyak pemandangan lainnya.

Fenomena Kursi Plastik
Ini adalah lelucon paling menarik selama perjalanan menuju Beduai. Terdapat beberapa kawan yang berdesak-desakan dan harus berdiri dalam Damri karena kekurangan tempat duduk termasuk saya. Sekitar 30 menit kami bertahan dan masih berusaha bertahan ketika tiba-tiba pak supir berhenti dan bertanya : berapa orang yang berdiri. Yang pasti ada 4 orang lah, karena kapasitas Damri ini untuk 40 orang penumpang dewasa. Kami berhenti di sebuah RM. Padang (saya lupa di daerah mana tepatnya) kemudian sang kernet turun dan mengambil susunan kursi plastik berjumlah 4 buah kemudian dinaikan ke atas Damri. Diletakanlah kursi tersebut pada lorong antara kursi penumpang dan luar biasa ukuran lorong tersebut cukup untuk empat kursi yang kami jejali. Dan fenomena ini tercatat lagi dalam sejarah perjalanan kami, pertama kalinya dalam hidup saya duduk diatas kursi plastik di dalam Damri di Pulau Kalimantan. Hahahaha, salah satu video rekaman Mario berhasil menjadikan moment ini sangat lucu karena ada Uskup Mgr. Heldy Ardiansyah (OMK St. Yosep Kepundung) yang membawakan Khotbah Kasih itu Sabar melalui Kursi Plastik titisan Tuhan. Huahahahaha….

Beduai~Dari sebuah cerita menjadi sebuah kenangan semata

Pancung Bulu Muda*
Jam menunjukkan pukul 11 siang Waktu Beduai tentu saja, Damri kami tiba dan berhenti tepat di depan Paroki Salib Suci Beduai. Tak terhingga banyaknya mereka yang menanti, tak terkira harubiru hati ini. Sebegini hebatnyakah kami sehingga dinanti semalaman sampai seharian ini? Ataukah tulus hati merpati memang menghuni hati orang-orang Beduai. Kami digiring santai menuju pelataran gereja dan di sambut dengan sebuah acara yang diberi label “Pancung Bulu Muda”
Acara ini antara lain diawali dengan pengalungan bunga kepada tiga perwakilan kontingen yaitu Ketua Rombongan diwakili Rm. Yomi, Peserta Laki-laki diwakili Frans dan peserta perempuan diwakili Lisa. Dilanjutkan dengan sapaan dan doa dalam bahasa daerah setempat yang dilakukan oleh seorang tetua adat. Kemudian percikan air dengan menggunakan daun Sabang sebagai symbol penerimaan dan kami semua dipersilahkan meminum Tuak yang telah disediakan dalam bulu muda (bambu muda yang berbentuk kecil yang biasa digunakan untuk membuat seruling bambu tapi yang ini jauh lebih kecil) masing-masing kami mendapatkan satu. Aduhai, betapa saya suka tradisi ini. Hahahahaha…. Setelah itu salah satu perwakilan dari kontingen kami yaitu Romo Yomi yang didaulat untuk memancung bulu muda alias memotong sebuah bambu hijau panjang yang masih dipasang melintang di hadapan kami lalu menginjak telur di atas piring berisi air hingga pecah. Filosofinya : bambu tersebut adalah pembatas antara kami dan masyarakat setempat karena kami adalah pendatang. Saat bambu tersebut di potong, maka hilanglah pembatas antara kami. Kami semua tidak lebih, tidak kurang adalah sama sekarang. Keluarga besar.

Misa Pembukaan dan Perkenalan*
Acara dilanjutkan dengan Misa Pembukaan. Di iringi tarian dayak kami dibawa masuk ke dalam gereja. Dan astaganaga Indonesia, KAYA BETUL! Saya mungkin selama ini hanya membolakbalik lembaran dua ribuan dengan rasa penasaran. Seperti apa tarian dayak itu? Dan sekarang, dari pantulan mata saya melambai-lambai tangan para penari dengan gemulai yang membahana sampai-sampai senyum saya tak putus memberi luapan kegembiraan. Petugas Liturgi adalah kawan-kawan OMK Salib Suci Beduai. Yang saya sukai dari Pasukan Koor anak-anak Beduai ini adalah, Kreativitas bermusik yang heboh. Bayangkan saat Gong dipadukan drum dan bambu lalu keyboard. Kaya dan mahal hasilnya, teman! Khotbah Romo Gaspar selaku pemimpin misa hari itu membawa kami pada refleksi yang dalam. Allah memberikan diriNya kepadamu dalam Yesus dan Yesus telah melakukan segala sesuatu diluar pikiran manusia. Kita adalah cerminan kehadiran Tuhan untuk menebus dan menyelamatkan dunia ini. Tuhan memberikan banyak, memberikan dunia, gereja dan masyarakat ini kedalam kiprahmu, di dalam hatimu dan Tuhan mengharapkan banyak kepadamu. Amin Romo.
Selesai Misa Pembukaan, acara perkenalan. Perkenalan pertama datang dari Pastor Paroki setempat. Adalah Romo Patrisius Dua Witi, CP selaku Pastor Paroki Salib Suci Beduai dan Romo Gaspar Lengary, CP sebagai Pastor Pembantu. Paroki beduai terdiri dari 22 Stasi yang tersebar di sepanjang Kecamatan Beduai. Lokasi Live in kami akan dibagi kedalam tiga wilayah yang tersebar di sepanjang jalan raya propinsi yaitu Stasi Pemodis, Stasi Tanjung Ungan dan Stasi Muara Illai. Hanya membutuhkan waktu satu jam dari Beduai menuju Serawak-Malaysia dan dua jam menuju pusat pemerintahan di Kabupaten Sanggau.
Berikut adalah perkenalan dari Peserta IYD Kontingen Keuskupan Denpasar. Dengan wajah penuh kantuk dan dekil karena belum mandi sejak kemarin kami mencoba tebal muka dan maju satu persatu untuk memperkenalkan diri. Gila, sampai didepan langsung hilang seketika kantuk ini. Manusianya segini banyak sampai menyempil diluar karena terlalu penuh didalam gereja. Tuhan maha besar.
Selesai upacara di gereja kami di undang ke Ruang Pembinaan atau Aula Paroki SSB. Disini kami akan tau siapa orang tua angkat kami selama di Beduai. Tetapi sebelum dibagikan rumah, kami di ajak bersenda gurau dahulu dengan kawan-kawan OMK SSB. Pada kesempatan ini kami dikenalkan dengan lagu paling keren selama di Beduai “…Adil Katalino Bacuramin Ka' Saruga. Basengat Ka' Jubata... lagu ini diciptakan oleh Wakil Bupati Kabupaten Sanggau yang juga adalah Ketua Panitia Lokal IYD 2012. Keren kan??? Hehehehe… setelah performance dari kawan-kawan SSB, kami diminta unjuk gigi juga. Dengan kekuatan tersisa kami pun tak mau kalah. Lagu Kasih Yesus dengan gerakannya yang nyentrik serta Jingle OMK Keuskupan Denpasar kami nyanyikan. Setelah ramah-tamah selesai, saatnya kami dibagikan rumah 

Keluarga saya di Tanjung Ungan*
Namanya Vera, anak dari Bapak Andreas dan Ibu Samina ini menjadi Wali saya saat menerima saya sebagai anak angkat di Aula Paroki SSB. Putri ketiga dari Empat bersaudara ini menamatkan SMUnya dua tahun lalu, sangat pandai membawa diri, dan tentu saja menarik. Saya dibawa pulang ke rumahya saat itu juga setelah nama saya dipanggil dan Vera ditunjuk sebagai wali saya. Rumah Vera terletak di stasi Tanjung Ungan. Sekitar 15KM dari Gereja SSB, itu artinya kami harus menggunakan kendaraan. Diboncengi teman Vera yang bernama Eva Karena Vera diboncengi Pacarnya, kami menuju Rumah Vera. Tiba di Rumah, sudah menanti sekeluarga. Ada Bapak Andreas, Mama Samina dan Saudara perempuan dari Bapak Andreas ada pula keponakan Bapa Andreas yang datang dari kampung karena ada sedikit urusan. Saya di dudukan di antara mereka, sementara Vera membawa masuk tas pakaian saya ke dalam kamar yang akan saya tempati. Rumah panggung kayu ini sederhana dan nyaman. Saya langsung betah! Gak tau malu, hahahaha. Duduk lesehan dihadapan makanan yang beraneka ragam dan belum pernah saya lihat itu memang sedikit ajaib karena saya terkenal lapar mata. Okeh ada Lemang yaitu beras ketan putih yang di bakar didalam irisan bambu (seperti bahan gedek bambunya), kalau dikasih santan namanya akan sedikit berbeda menjadi bangkak. Ada bangkak bujang dan bangkak solong. Ada pisang goreng, ada teh hangat dan ada TUAK atau ARAK BERAS tak tanggung-tanggung disuguhkan dua botol sekalian. Dipersilahkan menuangkan duluan, saya yang sudah sering minum karena tradisi di Flores juga kurang lebih sama malah menuangkannya segelas penuh yang akhirnya ditertawakan pacar Vera. “Sanggup habiskan?” Tanyanya. “Harusnya dikit-dikit biar gak pusing..” Hm.. gitu yah. Saya bagikan dengannya kemudian dengan wajah bersemu merah. Ketahuan doyan. Huahahaha. Banyak bercerita dengan Bapak, Mama dan Saudara perempuan Bapak juga Fajar (Pacar Vera) sebelum kejadian ini berlangsung. Jadi keponakan Bapak yang tadi ikut duduk bersama, tiba-tiba hendak pamit karena ada urusan lagi. Dia kemudian menyentuh semua makanan yang ada lalu menaruh tangannya di dada dan permisi pergi. Melihat kebingungan saya, Saudara Perempuan Bapak langsung menjelaskan. Itu tadi namanya Pulopas atau Cempalek. Tradisi pamit terhadapa makanan yang ada agar saat di jalan tidak mendapatkan celaka. Dahulu, jika tradisi ini tidak dijalankan maka saat di jalan setan akan merasa Pusam artinya dia boleh mengisap darahmu karena kamu sudah berlaku kurang ajar terhadap orang tua dan makanan. Waow…. Pelajaran : Jangan tinggalkan makanan saat masih terhampar di atas meja begitu saja, makanan tersebut akan merasa malang dan ditinggalkan serta tidak dibutuhkan lagi. Mungkin saja dia akan bekerjasama dengan setan-setan sekitar untuk memberimu pelajaran. Alam memiliki caranya sendiri. Hahahaha… Filosofi saya berlebihan.

Suasana kekeluargaan dan keramahan ini harus saya tinggalkan karena Vera sudah menyiapkan makan siang. Meski dengan perut yang kekenyangan, saya tetap harus menghargai Vera yang sudah menyiapkan semuanya untuk saya. Kami makan bertiga dengan tetangga Vera yang membantunya masak namanya aster, tak ada lagi waktu istirahat karena kegiatan berikutnya menanti. Selesai makan, saya istirahat sejenak lalu bersama Vera menyebrangi jalan menuju sungai. Mandi!
Pengalaman pertama mandi di sungai adalah saya sedikit ragu karena airnya yang kecokelatan dan hanya memakai sarung. Dalam nama Yesus, Aman! Hahahaha… air yang sejuk dan suasana hutan yang tenang justru menghilangkan kekhawatiran saya yang tadi sangat kuat mengganggu. Ritual mandi berlangsung lancar dan persiapan menuju gereja. Tiba di Gereja, doa akan segera di mulai. Doa Taize ini dipimpin oleh Romo Gaspar. Dikemas menjadi sebuah doa dengan perenungan yang dalam tentang refleksi perjalanan hidup sebagai Orang Muda Katolik. Selama satu setengah jam kami dibawa kedalam suasana yang khidmat. Selesai berdoa, Romo Gaspar menyampaikan susunan acara untuk hari berikutnya dan diharapkan para peserta tetap disiplin menjalankan kegiatan sesuai jadwal yang telah dibagikan. Kami dipersilahkan kembali ke Rumah masing-masing untuk beristirahat dan menyiapkan diri menyambut hari besok.
Saya dan Vera tidak langsung ke rumah karena di undang makan malam oleh Kakak Sepupu Vera Kak Yanto Yang adalah Pegawai Kementrian Agama Kabupaten Sanggau dan saat ini tengah bertugas mengajar di SMP Beduai. Kak Yanto adalah teman berdiskusi yang hangat, setelah melewati perbincangan yang panjang saya akhirnya tau kalau beliau dulunya adalah kawan sekelas Rm. Kadek (Paroki St. Immaculata Mataram) di Seminari Tinggi Duta Wacana Malang. Ini Kebetulan yang macam apalagi saya bingung, yang pasti saking senangnya saya tidak berhenti nyerocos. Hahahaha. Kami melewati makan malam yang menyenangkan dengan daging babi kampung (istilah orang sana,tak ada lemak sedikitpun) yang lezat tentu saja. Di Beduai, masyarakatnya suka mengkonsumsi Rebung (pucuk bambu), sawi ladang yang lebih sempit daunnya dan terasa sedikit masam saat di tumis, tunas jagung yang masih sangat muda ditumis campur dengan timun ladang (buahnya sedikit berbeda, lebih kecil) lalu ada pucuk daun singkong yang direbus bersamaan dengan batangnya kemudian di luruh sendiri saat akan di makan. Pengetahuan kuliner baru ini membuat saya merasa lebih kaya lagi sebagai orang Indonesia. Selesai makan malam, karena waktu sudah sangat larut saya dan Vera pun pamit kembali ke Rumah dan tak lupa berterima kasih atas makan malam yang enak dan obrolannya yang sengit :)