Sebuah Cerpen #MariaPankratia
(Ini cerpen lama yang saya edit dan kirimkan ke Santarang. Lalu diedit kembali oleh Pemred Jurnal Santarang yang ngeri-ngeri sedap itu, maka jadi lah seperti ini. Ada kemungkinan cerita ini akan saya revisi lagi pada bagian akhirnya. Hihi)
*Santarang Edisi Agustus 2016
Lukas melepas celana yang basah
setelah sekian lama terendam air sungai.
Hampir lima jam Ia menghabiskan waktu untuk bermain bersama kawan-kawan sejak
pulang sekolah. Dan kini yang terjadi, Ia mulai menggigil kedinginan dengan
jemari yang mulai pucat keriput karena terendam air. Bergegas Ia mendekati
tungku yang sedang menyala membara, perasaan hangat menjalar seketika. Beberapa
saat kemudian, Mama telah berada di sampingnya sambil memperbaiki letak kayu
bakar supaya tetap menyala mekar.
“Dari mana saja kau? Jam begini baru pulang?”
Lukas menyeringai. Dalam temaram dapur, seringai itu nampak menyebalkan. Hal
itu membuat Mama bingung dan kesal sehingga menghardiknya.
“Pergi pake baju sudah sana! Besok kau tidak bisa sekolah, kau lihat memang.”
Lukas yang sudah kembali pulih dari rasa dingin lekas bangkit dan berlari ke dalam
kamar untuk berpakaian. Di luar, rintik hujan mulai menggerogoti atap ilalang
rumah yang perlahan meranggas akibat terlalap musim yang tak pernah pasti.
***
Lukas adalah anak tunggal dari Bapak Petrus dan Mama Ance. Kelakuannya yang “aduhai”
mestilah ditoleransi karena usianya yang baru mendekati tujuh. Bapak Petrus
sekeluarga menempati sebuah rumah sederhana beratap alang-alang di Desa Pemo, sekian
langkah dari Danau Kelimutu. Di sekitar danau bertaburan hutan pinus dan
pepohonan yang namanya sulit disebut.
Danau
Kelimutu merupakan danau yang indah, bahkan sudah terkenal ke seluruh penjuru Dunia.
Air danau Kelimutu memiliki tiga warna berbeda, ceruk-ceruknya dalam mengandung
belerang yang berasal dari letusan gunung berapi sejak berpuluh-puluh tahun
yang lalu. Ada banyak legenda yang melatarbelakangi fenomena Danau Kelimutu. Bapak
Petrus, Ayah Lukas, merupakan salah seorang pencerita yang handal. Pernah
sekali waktu, Lukas dan kawan-kawannya menghabiskan malam yang panjang
mendengarkan sebuah legenda tentang seorang suami yang nekat melompat ke dalam danau
demi menemukan isterinya yang telah meninggal dunia. Masyarakat setempat percaya
bahwa manusia yang telah meninggal dunia tempatnya ada di dalam danau tersebut.
Danau berwarna hitam (tiwu ata bupu) adalah tempat bagi orang-orang tua, danau
berwarna hijau (tiwu ko’o fai nuwa muri) adalah tempat bagi muda-mudi dan danau
berwarna merah (tiwu ata polo) adalah tempat bagi mereka yang selama hidupnya
melakukan hal-hal yang menyimpang seperti penenung, penyihir dan sebagainya.
Dalam bahasa setempat “Polo Wera” atau
“suanggi.”
Semalaman mereka dibuat bergidik membayangkan kejadian yang sebenarnya, mata
mereka benderang karena takut bermimpi yang bukan-bukan. Tentu saja hal ini
menimbulkan geli bagi bapak petrus dan mama ance yang akhirnya bekerja extra untuk merayu anak-anak itu tidur.
Kawan-kawan Lukas memilih menginap saja di rumah Lukas ketimbang pulang dan
mengambil resiko bertemu sesuatu di jalanan pada malam gelap buta.
***
Hari ini Lukas bersemangat, sekolahnya akan mengadakan panen jeruk. Semua siswa
diajak bersama-sama memanen jeruk di kebun belakang sekolah setelah jam
istirahat pertama. Itu artinya kegiatan belajar-mengajar hanya diadakan
setengah hari. Lukas dan kawan-kawan dapat menghabiskan jeruk semampu mereka
hingga puas dan sakit perut. Bapak Petrus juga akan memanen jeruk di kebun
mereka yang berdekatan dengan Danau Kelimutu. Sejak pagi beliau sudah berangkat
seorang diri. Hasil panen akan dijual saat rega
atau hari pasar nanti. Lukas berniat
membantu bapak setelah pulang sekolah.
“Mama, sa pi sekolah dulu” Lukas berteriak pamit pada mamanya
Di luar telah menunggu Ebit dan Anis, sahabat-sahabat Lukas.
“Ho, mbana si..mawe-mawe…” (*Iya,
pergilah. Pelan-pelan)
Mama Ance membalas salam Lukas
dari dalam rumah.
Pada saat rumah begitu senyap, seisi kampung sibuk barkelompok di kebun. Hanya
keretak kayu bakar yang mengisi suara-suara siang dan mama ance pun tenggelam
dalam kesibukan menyiapkan makan siang bagi suaminya di ladang. Siang nanti
setelah Lukas pulang dari sekolah, mama ance akan mengajak putranya
mengantarkan makan siang sekaligus membantu sang suami memanen hasil jeruk
mereka.
***
“Mama….”
Jika suara Lukas terdengar membahana didepan rumah, itu tanda sekolah telah
usai. Lukas tidak pernah membolos, Ia sangat senang bersekolah, bahkan saat
kondisi tubuh melemah dan tak memungkinkan atau cuaca tak bagus dan jalanan
berbahaya karena diaspal bagus. Lukas tetap akan berangkat ke sekolah dan
menantikan jam-jam ketika Ia bersama kawan-kawan dapat duduk manis mendengarkan
sang guru berkisah tentang dunia.
“He, kau su pulang?”
“Iya. Jadi ke kebun tidak kita?”
“Jadi le, kita makan di kebun saja e? Kau su lapar?”
“Belum. OKE BOS”
sambil berucap demikian, Lukas
mengangkat ibujarinya tinggi-tinggi. Melihat tingkah anaknya, mama ance hanya
bisa tertawa.
***
Hari beranjak siang dan kabut perlahan turun di antara ranting-ranting pinus
yang bercabang liar. Sejauh mata memandang hanyalah warna putih yang
menyelimuti dan rasa dingin yang menusuk. Mama Ance mengencangkan sarungnya
sehingga lebih mudah berjalan. Di depannya, Lukas dengan lincah berloncatan
melewati semak belukar. Cuaca di pegunungan memang selalu tidak menentu, di
siang hari sekalipun yang semestinya panas terik, kabut justru melebat dengan
pongahnya.
Lukas mempercepat langkahnya, Ia tak sabar ingin berjumpa bapak. Beberapa saat
kemudian, mereka telah tiba di tujuan. Kebun tampak lengang. Dari pondok tempat
bapak biasa beristirahat, tampak asap membumbung. Sepertinya beliau sedang
membakar sesuatu, entah ubi, kentang atau sejenisnya. Lukas bergegas menuju
pondok sambil berteriak memanggil.
“Bapa.. bapa.. kami ra’i do” (*Bapa, bapa,
kami sudah datang)
Tidak ada sahutan dari dalam pondok maupun dari sekitaran kebun. Mama Ance
masih berdiri, sesekali mengamati palawija yang ditanam di samping pondok. Mama
Ance seperti merasakan diam yang aneh. Firasat buruk menghampirinya. Mama Ance
menyusul Lukas ke pondok. Di dalam pondok tidak tampak seorang pun kecuali
tungku api yang masih menyala terang dengan onggokan ubi jalar yang sepertinya
hendak dibakar. Kain sarung bapak tergeletak begitu saja di bale-bale. Mama
Ance keluar dan mulai berkeliling menyusuri kebun. Diikutinya jejak sepasang
kaki yang diduga adalah kaki suaminya. Jejak kaki itu berakhir di semak-semak
yang ditumbuhi rerumputan dan semak belukar. Tiba-tiba mama ance menyadari Ia
telah sampai pada batas hutan. Hutan hujan yang gulita meskipun hari tengah
siang, hutan yang banyak menyimpan cerita dan mitos. Hutan yang dipercaya oleh
masyarakat setempat sungguh keramat. Ada dunia lain di sana yang tidak boleh
disentuh, jika tak ingin membahayakan diri sendiri. Mama Ance pucat pasi
sementara Lukas mulai menangis, takut kehilangan bapaknya. Mama Ance lalu
memeluk Lukas dan berkata,
“Mai si, kita walo ro. Kita nosi ebe gheta nua” (*Ayo, kita pulang saja dulu. Kita beritahu orang-orang di kampung)
Tergesa mama ance dan lukas menyusuri jalan pulang. Tidak terasa lagi onak dan
duri yang menggores kulit sepanjang perjalanan. Pikiran keduanya hanya terfokus
pada satu pertanyaan, “Di mana bapak?”
***
Om Thomas sedang berkelakar ria dengan beberapa penduduk yang lain di bale-bale
depan rumah, ketika Ia melihat dua sosok yang berjalan tergesa-gesa mendatanginya.
Setelah dekat barulah disadari, mereka adalah saudari dan keponakannya. Lukas
tampak menangis tersedu dan Ibunya begitu pucat pasi seperti ketakutan. Mama
Ance menghampiri om thomas segera dan tanpa menunggu ditanya lagi beliau
langsung memberitahu
“Petrus… Petrus ata polo sono” (Petrus,
petrus disembunyikan suanggi)
Om thomas membelalak terkejut, sebagian yang juga ikut mendengarkan bergumam
kaget. Setelah sedikit hilang keterkejutannya, om thomas pun bertanya
“Leka emba? Kau mbe’o leka sai me?” (*Di
mana? Dari siapa kamu tahu bahwa dia disembunyikan?)
“gheta uma” (*Di kebun)
Saat mengucapkan kalimat ini mama ance tidak dapat menahan air matanya lagi. Ia
menangis histeris. Om thomas pun langsung mengerti setelah mendengarkan kalimat
penunjuk keterangan tempat tersebut. Semua orang kampung tahu jika kebun bapak
petrus dan mama ance berbatasan langsung dengan hutan keramat. Beberapa kali
mereka selalu diperingati agar memperhatikan hari di mana mereka berkebun
karena saat-saat tertentu bisa sangat berbahaya. Hal itu lumrah terjadi karena
maklhuk-makhluk tak kasat mata tersebut sangat sensitif terhadap perubahan alam
maupun lingkungan di sekitar mereka. Untuk menandakan hal itu mereka akan
melakukan hal-hal yang kadang tidak masuk akal bagi manusia.
Om Thomas kemudian menghimbau kepada warga yang ada di situ agar mengajak warga
lainnya khususnya kaum laki-laki untuk bersama-sama mencari bapak petrus
sebelum hari beranjak malam. Para pria berkumpul di rumah om thomas. Setelah
mengadakan sedikit diskusi dan mengatur strategi, mereka pun berangkat menuju
kebun bapak petrus. Lukas merengek-rengek pada pamannya agar dia ikut mencari.
Om Thomas tidak dapat melihat kesedihan di mata bocah itu. Karena sangat
menyayangi keponakannya, ia pun mengijinkan Lukas untuk turut serta mencari.
Para warga menyisir seluruh kebun hingga jarak 200 meter setelahnya. Ketika
mencapai batas hutan keramat, langkah mereka terhenti. Tidak sembarangan orang
dapat masuk ke sana tanpa persiapan terlebih dahulu. Segala tumbuhan dan
makhluk yang ada di dalamnya begitu purba dan terjaga sejak lama, seperti
bahasa alam yang tidak bisa dijelaskan. Beberapa warga menanyakan pendapat om thomas.
“Bagaimana ni? Kita tidak mungkin masuk ke sana tanpa persiapan”
Om Thomas terdiam, beliau tampak berpikir keras dan akhirnya memutuskan.
“Baik, kita pulang saja dulu. Kita lapor Mosalaki. Semoga Beliau bisa kasih
petunjuk”
Mosalaki adalah sebutan bagi
pemimpin atau tetua adat di kampung itu.
Rombongan kembali ke kampung dan langsung menuju Sa’o Ria atau Rumah Besar,
tempat Mosalaki berdiam. Terjadi perbincangan serius antara para lelaki dan
Mosalaki. Pada akhirnya diputuskan akan diadakan upacara “Pati Ka Ata Mata” atau “dhera” atau Upacara memberi makan/sesajen
bagi para leluhur. Dengan cara ini Mosalaki yakin para leluhur akan memberikan
petunjuk atau jalan keluar atas peristiwa yang tengah menimpa warga desanya.
Upacara akan diadakan keesokan hari.
***
Bulan tampak kesiangan diatas pucuk menara Sa’o Ria. Lukas telah terjaga sejak
tadi. Ia memilih duduk terpaku di sudut rumah sambil menunggu pamannya
terbangun untuk meminta Mosalaki melaksanakan upacara. Lukas mulai frustrasi
karena tidak bertemu bapak lebih dari sehari.
“Hei Lukas, kau sudah bangun?”
Om Thomas tiba-tiba sudah duduk
di sampingnya sembari memeluk Lukas erat-erat.
“Tenang, kita pasti menemukan bapa”
“Hari ini juga? Bisa?”
“Semoga saja”
Lukas tertunduk lesu mendengar jawaban pamannya yang tidak pasti. Ini akan
menjadi hari yang panjang baginya.
Pukul 10.00 pagi, mama ance telah bergabung bersama lukas, om thomas dan
beberapa warga yang berdatangan. Mama Ance membawa dua ekor ayam kampung
masing-masing berwarna hitam dan merah. Juga ada beras merah, telur ayam
kampung, sirih pinang, kapur sirih dan sebotol Moke. Sementara itu, Mosalaki
telah mempersiapkan beberapa perlengkapan untuk upacara tersebut. Setelah
melewati sesi konsultasi yang panjang dan rumit antara Mama Ance, Om Thomas dan
Mosalaki, upacara pun dilaksanakan. Mama Ance Terlebih dahulu memasak bahan
makanan yang tadi telah dibawa. Berasnya harus ditanak di dalam bambu sesuai
tradisi masyarakat Lio.
Pukul 12.00 siang semua kebutuhan upacara, termasuk makanan, telah lengkap.
Mosalaki menghamparkan semua sesajen di atas sebidang batu datar di depan Sa’o
Ria. Kemudian, sambil merapalkan mantra, beliau meminta semua warga yang ada
disekitarnya turut serta berdoa agar diberikan petunjuk oleh leluhur dan
semesta. Selesai upacara dilakukan, petunjuk tidak otomatis didapatkan.
Mosalaki harus menunggu waktu semalam lagi untuk didatangi leluhur yang
dipercaya akan memberitahukan langkah selanjutnya.
***
Pagi-pagi sekali, Om Thomas, Lukas dan Mama Ance serta beberapa keluarga dekat
mereka telah mendatangi Sa’o Ria. Berharap Mosalaki telah mendapatkan petunjuk.
Mosalaki dengan luka lesu kebesarannya duduk berhadapan dengan Mama Ance, Lukas
dan Om Thomas. Beliau kemudian berbicara.
“Ada kesalahan kecil yang sudah keluarga ini lakukan sehingga leluhur menjadi
marah dan memerintahkan makhluk-mahkluk itu menyembunyikan Petrus. Beberapa
hari yang lalu, Lukas dan teman-temannya ada pigi bermain di sungai.
Apakah benar?”
Mama Ance dan Om Thomas beralih melihat Lukas. Lukas mengangguk mengiyakan.
Kemudian Mosalaki berbicara lagi.
“Nah, kalian tidak hati-hati. Kalian mengambil paksa beberapa tanaman yang
seharusnya tidak boleh kalian ambil di hutan. Leluhur tidak memberitahukan
tanaman apa itu namun karena kelakuan kalian, kehidupan makhluk di sana menjadi
terganggu, karena itu mereka marah sekali. Mereka menyandera bapamu supaya kamu
dan teman-temanmu menyadari kesalahan kalian dan berjanji tidak akan
melakukannya lagi.”
Lukas terdiam. Ia tiba-tiba teringat beberapa hari yang lalu saat menghabiskan
waktu bermain di sungai bersama kawan-kawan. Mereka mematahkan beberapa ranting
pepohonan yang mereka sendiri tidak ketahui namanya. Pohon itu memiliki daun
yang lebar dan batang yang alot sehingga dapat dipakai sebagai perahu-perahuan
di sungai. Mereka mematahkannya dengan paksa sampai terlepas ranting dari
pohonnya. Tanpa mereka sadari, pohon itu adalah tempat tinggal beberapa makhluk
penjaga hutan. Pohon itu sudah seperti rumah bagi para makhluk tersebut
sehingga saat ada orang lain yang tiba-tiba mengusiknya, mereka menjadi sangat
marah. Mosalaki kembali berbicara.
“Untuk menebus kesalahan kalian, dan agar bapamu bisa kembali lagi, kalian
harus mengadakan upacara sekali lagi di perbatasan hutan. Sesajennya masih sama
seperti kemarin. Kita akan melakukan itu sore ini pukul enam di kebun kalian.
Semoga saja bapamu akan dikembalikan dan masih dalam kondisi baik-baik saja.”
Mama Ance menarik nafas panjang, Om Thomas menyampaikan terima kasih yang
mendalam kemudian pamit untuk segera menyiapkan perlengkapan upacara.
***
Sore beranjak remang, dengan dibantu cahaya dari obor bambu rombongan, yang
terdiri atas Mosalaki, Om Thomas, Mama Ance, Lukas dan keluarga terdekat, menuju
ladang di kaki Danau Kelimutu. Dari kejauhan, Danau Kelimutu seperti tembok
alam raksasa. Matahari sebentar lagi menghilang dan bintang mulai menyembul di
langit. Bulan merangkak perlahan dengan cahayanya yang hangat. Tepat pukul enam
sore, waktu yang dipercaya sebagai momen peralihan antara dunia siang dan dunia
malam, upacara dimulai. Mosalaki kembali menghamparkan sesajen di atas batu
datar di pinggiran ladang yang berbatasan dengan hutan. Beliau merapalkan
mantra dan melihat ke sekeliling. Sesekali Mosalaki memejamkan matanya dan
mengarahkan kepala ke langit seperti memohon. Selang beberapa saat kemudian,
munculah sebuah bayangan diantara semak-semak dari arah hutan. Bapa petrus
terlihat kuyu dan berjalan terhuyung-huyung menghampiri mereka. Seketika Lukas
berteriak kencang sambil menangis
“Bapa…. Ampun bapa, Lukas yang salah…”
Bapa Petrus tidak berkata apa-apa karena tidak memiliki tenaga lagi. Beliau
hanya memeluk Lukas dan Mama Ance erat-erat.
***
Lukas menemukan keceriaannya kembali, keluarganya telah utuh seperti semula.
Sejak hari itu, Lukas berjanji untuk memperingati kawan-kawannya agar tidak
sembarangan memotong, mencabut atau merusak tumbuhan dan segala hal yang
terdapat di hutan.