Tampilkan postingan dengan label Sumba. Tampilkan semua postingan

2016; A Golden Year




365 hari yang lalu, saya tidak memiliki resolusi apa pun untuk 365 hari berikutnya. Saya masih tetap hidup, sehat dan waras saja sudah merupakan sebuah keuntungan. 2015 dan 2014 adalah tahun yang cukup luluh lantak sebagaimana kemudi kapal yang dibajak sehingga nakhodanya tidak memiliki kendali penuh untuk menentukan ke mana menuju. Namun, pada akhirnya, saya menemukan titik balik. Benar adanya, seseorang yang kembali bangkit dari kejatuhan, kekuatannya berkali lipat.

Sekuat tenaga saya menemukan diri saya kembali dan bertanya sesering mungkin “mau apa aku dengan hidupku ini?” iyah persis lirik lagunya Nosstress, itu padanan refleksi yang klop! Refleksi singkat akhir tahun lalu itu, saya temukan kembali di sini

Memulai langkah di 1 Januari 2016 tanpa persiapan apa pun! Kabur, meraba-raba.
Resign dari pekerjaan yang menjadi sumber hidup dan eksistensi, terjun ke lapangan tanpa visi sebagai mahasiswi KKN lalu PKL. Masih saja percaya diri mengkoordinasi Persiapan Misa Pra-IYD2 Keuskupan Denpasar, bersedia jadi Fasilitator Kelompok tanpa pengalaman untuk Kelas Inspirasi Bali 03, terlibat lagi di Denpasar Film Festival. Menyanggupi hadir di Pelatihan Menulis Kompas (lagi), nyasar di Ubud Writers and Readers Festival ke-13 dan Citizen Journalism Day kerja sama Balebengong dan Bali Blogger Community, serta menjadi Juara Regional Maluku dan Nusa Tenggara Blog Competition oleh Government Public Relations. Berani-beraninya menyanggupi jadi auditor untuk sebuah project yang jauh dari bayangan dan dari kamar tidur yang nyaman. Situasi tersebut cukup ngeri-ngeri sedap. Belum pernah saya begitu takut tetapi juga penasaran, antusias diikuti rendah diri yang kalap. Lampung, selama delapan hari merubah sudut pandang saya hampir 75% tentang hidup. Di tahun ini juga, untuk pertama kalinya, saya berani mengirimkan karya saya ke media dan dimuat!

Tahun 2016 saya juga mengalami banyak kepiluan. Saya memang gemar menangis. Bukan hanya dalam situasi sedih atau terharu tetapi juga saat bahagia. Akan tetapi, menangis karena ditinggal pergi untuk selamanya oleh tokoh-tokoh yang menginspirasi hidup saya selama beberapa tahun ini, itu memilukan. Terguguh dan lama. Tidak pernah sekalipun saya meluangkan waktu untuk berpikir bahwa bumi dan manusia terus bertambah tua. Di suatu masa, kita harus menerima kenyataan bahwa jiwa dan pikiran memang tidak pernah mati namun raga pada hakekatnya tidak abadi. Kita harus siap menghadapi kehilangan demi kehilangan. Untuk Ama Petu, Om Boni dan Bapak Agustinus Prajitno, Hormat setinggi-tingginya!

Tahun 2016 saya juga ditinggal nikah oleh sahabat-sahabat terbaik saya. Hebat mereka, mampu mengambil keputusan serumit itu hahaha. Sementara saya masih berkubang, terjebak dalam kecemasan “Bagaimana saya dapat berbagi seluruh pikiran saya seumur hidup hanya dengan satu orang laki-laki saja? Berbagi tubuh saja, saya tak rela. Mana puas kalo cuma sama satu orang?” #Eh wkwkwkkw…

Pada tahun ini pula, saya merasakan dampak arus informasi yang begitu deras akibat kemajuan teknologi yang membabi buta. Segalanya jadi canggih termasuk manusianya. Banyak tontonan dan pengetahuan menarik yang menyenangkan tetapi juga peristiwa yang sulit dilupakan untuk beberapa tahun ke depan. Begitu lah dunia dan Indonesia sejak dulu. Yang selalu keren di sebelah sini sementara terpuruk di sebelah sana. Tidak ada yang betul-betul sempurna emang!

Tahun 2016 saya sapa dengan tahun emas bagi saya. A golden year. Sebab di tahun ini, saya memikul banyak berkat dan rejeki. Saya bepergian ke berbagai tempat dan bertemu macam-macam pribadi. Semua mereka adalah orang-orang HEBAT, PENTING dan MEMILIKI ANDIL bagi dunia yang mereka tinggali. Saya bangga bisa mengenal kalian semua. Tidak dapat saya sebutkan satu per satu, tetapi saya berharap ketika membaca ini, kalian tahu bahwa ANDA-KAMU-KAU-DIRIMU-SAMPEAN-ENGKO yang saya maksudkan!

BALI!

Jakarta-Soekarno Hatta-Lampung-Metro-Tulang Bawang-Raden Inten II

Benoa-Bima-Sape-Sumba Timur-Waingapu-Kambata Mapa Mbuhang-Lumbung-Kadahang-Sumba Tengah-Anakalang-Katikuloku-Sumba Barat-Waikabubak-Sumba Barat Daya-Kodi-Labuan Bajo-Watulangkas-Ruteng-Bajawa-Langa-Mataloko-Ende-Paupire-Detusoko-Nita-Ledalero-Maumere-Lokaria-Wairhubing-Magepanda.

SEMUANYA! Kalian pasti sudah mulai lupa tetapi jejak kalian seperti materai permanen yang basah dan lengket lalu mengering tak bisa luntur atau pun terangkat bahkan dikorek paksa sekalipun.

2016 adalah tahun yang luar biasa bagi saya yang kesadaran afektifnya sangat ngotot dan terjaga selama 24J/7H. Perlahan-lahan semuanya digenapi. Khususnya perihal “Melakukan apa yang sungguh-sungguh ingin saya lakukan.” (Bertemu banyak orang, menjalin relasi dan persahabatan//Tjipok basah sekali untuk Ibuk Semesta Ambara BegituSaja dan Tante George Yustina Liarian Eto, berbagi dan saling memberi dari yang sederhana sampai yang luar biasa. Menulis banyak cerita. Terlalu amat sangat banyak sekali. Mendapatkan beberapa pencapaian yang cukup membanggakan. Menghasilkan sejarah).

Lalu, hm “Menemukan laki-laki yang benar-benar ingin saya cintai” AHAI!

Kemarin, ketika sedang bingung hendak menulis apa untuk refleksi akhir tahun ini, (Sebagian orang mungkin merasa ini tidak penting dan sangat alay lebay TETAPI tidak bagi saya!) saya buka kembali postingan saya di Instagram sejak awal tahun. Foto-foto dan narasi yang membuat saya merasa betapa saya sangat diberkati, segalanya masih utuh tersimpan, lengkap, baik gambar maupun juga cerita serta kesan yang masih bisa saya rasakan ketika saya melihat dan membayangkannya.

***


Descartes bilang: Cogito Ergo Sum//Saya berpikir maka saya ada
Pramoedya bilang: Orang boleh pandai setinggi langit tetapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.
Pacar saya bilang: Hanya yang menang, yang meninggalkan jejak, Enu!
Dan saya bilang: Jika kamu berpikir dan menuliskannya, kamu akan meninggalkan jejak. Tentu dengan sendirinya kamu memberi pengaruh. :)

Hidup, sejatinya untuk mati tanpa alpa untuk memaknainya lalu meninggalkan jejakmu! Jejak saya! Jejak kita! Live Your Life! In this great future, you can’t forget your past, so write it down!

Epang Gawan, Terima Kasih banyak untuk semua yang sudah memberi dan berbagi dari kekurangan maupun juga kelebihannya (dan saya tidak pernah lupa hutang-hutang saya hihihi… tenang saja). Ama Pu Benjer, Jah Bless kita semua di Tahun yang Baru!

Resolusi tahun berikutnya? Hahaha hm.. Hajiar saja!

2017 dalam genggaman!

*Semoga ada golden-golden year selanjutnya


 Thankis buat Ge' untuk tangkapan keren ini ^^








Puisi di Santarang Edisi Oktober 2016



Oleh #MariaPankratia



Menunggu Ibu Mati

Bertahun-tahun lalu, kegemaran Ibu adalah membikin aku panik
Jika Ibu harus mandi tengah malam, selalu ada cerita yang mengikuti
bahwa ia akan segera mati
Jika Ibu sedang tak enak hati dan mengklaim dirinya sendiri frustrasi,
selalu ada cerita yang mengikuti bahwa ia akan segera mati
Jika Ibu sedang gelisah atau bingung, selalu ada cerita yang
mengikuti bahwa ia lebih baik mati saja
Ibu memiliki cita-cita untuk mati muda sehingga dapat memantau
kesedihanku akan kehilangan dia
Namun, hingga kini, Ibu tak kunjung mati
Maka, ketika Ibu mengulang lagi cerita-cerita yang bagiku selalu
sama saja
Aku tak lagi cemas, aku memilih menyumbat kupingku dengan suara
erangan birahiku sendiri
Sebab, aku bukan cuma bosan melainkan juga menunggu kematian
yang sesungguhnya mendatangi Ibu
Atau, sebaiknya aku mati lebih dulu?

Ende, 2016


Harus Pulang

Di kotaku, laut seperti tumpah
Sebab punggung-punggung bukit yang menjulang menumpuknya
begitu rupa
Seolah atap-atap kediaman dinaungi biru samudera
Di kampungku, sumber-sumber mata air bergejolak keluar dari cerukceruk pegunungan
Seumpama orgasme yang melesak kasar dan tak kunjung usai
Dan kamu masih khawatir bertanya ―untuk apa kamu pulang, Mar?

Ende, 2016


Menara Jiwa

Jika aku harus kembali
Rumah adalah tempat lulus uji
Atas genangan air mata dan gulungan benang tawa yang entah kapan
selesai
Pulang tidak pernah menjadi pilihan
Karena rumah bukan tujuan atau pun pesinggahan
Rumah adalah menara kekekalan
Di mana sukma hidup; menjalar menjelma kerinduan
Rindu yang tak kunjung selesai

Sumba, 2016

J E R A T



Sebuah Cerpen #MariaPankratia

*Santarang Edisi Mei 2016


Yang melihat dengan nyata, mendengar dua kali...

Kalimat itu keluar dari mulut atasannya, si lelaki Italia. Ia teringat ungkapan masa kecil, juga ayahnya yang senantiasa menyemangati ia bernyanyi sebelum Sekolah Minggu dimulai.

 “Rambu, yang semangat nyanyi e. Karena bernyanyi sama dengan kita berdoa dua kali.”

Dalam ruangan dengan suhu dingin yang menerpa hampir ke sebagian tubuhnya, hanya ada mereka berdua, sang atasan berkepala hampir saja licin dengan aksen Italia yang kental namun memiliki kemampuan bahasa indonesia cukup baik, dan dirinya, seorang gadis yang sedari tadi tergugu pelan. Sang atasan kembali berbicara,

“Dina, maaf sebelumnya, apakah ada masalah yang sungguh membuat kamu sangat terintimidasi sehingga kamu sampai seperti ini? Bapak tidak akan paham duduk persoalannya jika kamu terus saja menangis.”

Gadis itu sama sekali tidak menjawab pertanyaan. Sang atasan terdiam menatapnya yang terus saja menangis. Hanya ada teriakan koki di dapur lantai bawah kepada para pelayan,

“Out Table 35.”


***

Kejadian itu seperti mimpi. Atau kilat ketika hujan. Ringkas. Cepat namun berbekas.
Pukul 07.00 pagi ia telah menyalakan lampu  store. Belum ada karyawan lain yang datang kecuali karyawan dapur yang mendapat jatah piket pagi. Mereka harus menyiapkan makan siang para karyawan, juga bahan mentah yang harus diiris, dipotong atau dibersihkan dari bungkusannya sehingga tidak repot ketika memasak orderan membludak siang nanti. Aroma berbagai macam bahan makanan kebutuhan dapur khusus makanan Italia, seperti  anchovies, arthicoke, wine  dan yang lainnya, menguar dari dalam gudang berbaur dengan wangi makanan yang menyeberang dari dapur di sampingnya.

Ia akan berganti pakaian seperti biasa sebelum memulai aktivitas mengangkat, memindahkan, menghitung, dan segala hal yang menjadikannya pantas digaji karena berada di tempat ini. Ditutup dan dikuncinya pintu  store. Kemudian ia mengecek jendela yang belum sempat ia buka; masih tertutup rapat seraya menghindari CCTV agar lekuk tubuhnya tidak tampak pada tampilan layar di ruang utama.

Tak ada ruang khusus untuk berganti pakaian, hanya disediakan loker bagi para karyawan di lorong menuju lantai dua yang adalah kantor operasional restoran. Bukan menjadi masalah baginya harus bertukar pakaian di gudang penyimpanan, selama ia dapat melakukannya dengan nyaman dan aman.

Sudah sebelas bulan ia menghabiskan waktu di restoran Italia itu, menikmati rejeki Tuhan melalui perantaraan seorang lelaki Italia yang mewujudkan mimpinya dalam dunia kuliner. Bisnis makanan sedang sangat menjanjikan. Tak ada yang cukup istimewa hingga detik ini kecuali banyak pengetahuan baru yang ia dapatkan.

Begitulah yang lumrah terjadi saat kita memulai hal yang sebelumnya tidak pernah kita lakukan. Selain ilmu, tentu saja ada kawan baru dan lawan baru. Sebagian besar pekerja di restoran adalah rekan sekampungnya dari Timur. Mereka memang datang ke kota itu khusus untuk mencari nafkah. Berbeda dengannya. Ia ibarat seseorang yang sambil menyelam minum air. Pagi bekerja dan sore kuliah. Eksistensi dan cita-cita yang membara memang membutuhkan lebih banyak pengorbanan.

Sudah sebelas bulan juga ia berkenalan dan bergaul dengan  pekerja pekerja  lain yang sebagian besar adalah orang dari tanah ini. Tanah di mana ia mengais rejeki dan ilmu. Mereka adalah orang baik. Sangat baik, hingga pada suatu senja yang abu-abu, hari yang selalu sama, saat ia memanfaatkan salah satu sudut gudang tempat ia bersemayam untuk berganti pakaian. Ada seseorang di sana. Menatapnya penuh bisa. 

Lelaki itu selalu baik padanya. Saban hari ia menanyakan kabarnya meski hanya dijawab dengan senyuman singkat atau anggukan pelan karena rasa malu yang bercampur tidak peduli. Lelaki yang selalu ia sadari memperhatikannya diam-diam. Tatapannya aneh.

Meskipun perasaan aneh itu kadang merayap sesekali, tetap saja ia tidak peduli. Mungkin lelaki itu hanya iseng sebagaimana Komang atau Iluh yang selalu suka bercanda padanya dan reaksinya selalu sama. Diam, tersenyum seperlunya dan lalu menjauh. Tak acuh.Saat itu tersisa sepotong kutang yang menutupi kedua puting cokelatnya. Tubuhnya memberikan isyarat kaku, membeku. 

Lelaki itu berdiri di hadapannya seolah sudah lama menanti. Terkejut tak terkira, diraihnya segala yang ada disekitarnya. Botol  wine, galon saus, bahkan krat  soft  drink. Dipukulnya sekuat tenaga lelaki itu bak orang kesetanan. Penuh marah tanpa akal. Setelah kesadarannya kembali ia menemukan kedua tangannya yang telah bersimbah darah. Kutangnya masih utuh menempel dan menutupi lekuk payudaranya, sementara seragam kerja dan kemeja yang hendak ia ganti telah berserakan. Ia terduduk lemas dan menangis.

Senja itu cepat berubah menjadi gelap yang panjang. Kekacauan terjadi dan kembali ia tak sadarkan diri. Semua orang yang ada di restoran seketika ramai semacam kondangan atau pasar malam lebih tepatnya. 

Kasak-kusuk dan bisik busuk berlompatan dari mulut yang satu ke mulut yang lain.Komentar-komentar tentang keterbelakangannya menyebar begitu cepat. Sejak awal ia bekerja semua selalu mengatakan hal yang sama bahwa ia perempuan yang aneh. Karena ia selalu muncul tanpa suara atau sebuah pertanda. Sementara jenazah lelaki itu terkapar, kaku dan kehilangan segalanya. Lelaki itu mati.


***

“Bapak masih menunggu cerita darimu, Dina. Cerita yang benar dan lengkap.”
Suara tangisannya kian keras. Ditatapnya kedua bola mata lelaki Italia itu, berharap seluruh rentetan kejadian yang sesungguhnya melintas pada bola matanya sehingga tidak perlu lagi pertanyaan berhamburan memenuhi isi ruangan.
***
Ayahnya seorang yang rendah hati. Mengantarkannya ke sekolah dan menjemputnya kembali saat hari mulai tinggi. Sekolah tempat ia belajar merupakan satu-satunya Sekolah Dasar yang menampung murid-murid dari lima dusun yang ada disekitarnya. Dusun tempat ia dan ayah tinggal adalah yag paling jauh jaraknya. Membutuhkan waktu tiga puluh menit untuk tiba di sekolah tepat bel tanda masuk berbunyi.

Dalam rumahnya tersisa ia dan ayah, ibunya telah lama pergi menuju  Prai Marapu. Ketika ibu pergi, belum ada bangunan gereja dengan salib terpancang di bubungan. Dulu, saat ibu masih hidup dan segar bugar, ia selalu diajak menyajikan makanan dan berdoa di pohon-pohon besar dan rindang sebagaimana kepercayaan para  Marapu. Ibu meninggal karena menderita tumor yang sangat parah di bagian kiri selangkangannya. 

Beberapa tahun setelah kepergian ibu, ia dikenalkan kepada seorang lelaki yang kemudian diketahuinya bernama Pastor Ansel. Pastor Ansel yang membaptis ia dan ayahnya menjadi Katolik. Pastor Ansel yang baik hati yang selalu membacakan cerita Alkitab yang luar biasa, bukan hanya saat Sekolah Minggu, kapan saja ia boleh mampir ke paroki tempat Pastor Ansel tinggal.

Sebagai  ana humba  yang berbakti, ia tidak ingin melewatkan pengabdiannya pada sang ayah. Sepulang sekolah, ia selalu membantunya mencari kayu bakar barang seikat dua ikat. Atau memungut pinang dari hutan di dekat kampung agar ayah tak kekurangan cemilan yang bisa menenteramkan mulut dan hatinya. Padahal ayah tidak pernah menyuruhnya melakukan itu. Ia senang karena mampu melakukan semuanya dengan tangan kecilnya. Kala senja tiba, ia akan duduk di samping ayah. Mereka akan saling menggoda sementara liur ayah yang memerah akibat  happa  muncrat dan mengotori dinding-dinding rumah. Saat itu ia akan tertawa tergelak menyaksikan tingkah ayah yang lucu.

Di suatu siang yang hangat, ketika ayah sama sekali belum muncul menjemputnya ia mulai resah. Kawan-kawannya telah kembali ke rumah sejak tadi, dijemput orang tua mereka, ada juga yang pulang berjalan sendiri karena lokasi dusun yang tidak begitu jauh dari sekolah tempat mereka belajar.Karena ayah tak kunjung datang, ia memutuskan untuk berjalan saja pelan-pelan, mungkin ayah juga sedang dalam perjalanan. Mereka pasti akan berpapasan di tengah jalan. Harapannya sia-sia, ayah tak juga muncul hingga ia tiba di rumah.

Ketika ia menginjakkan kaki di halaman, terdengar suara teriakan. Suara ayah. Secepat mungkin ia menerobos masuk. Ada dua pria yang sedang bergumul, salah satu pria ia kenali sebagai ayahnya dan pria yang lain adalah pamannya. Adik ibunya, Umbu Herman. Naluri ingin membela dan menyelamatkan ayahnya muncul begitu saja, ia mengambil sebilah bambu yang tergeletak di ruang tamu. Bilah bambu yang akan dipakai ayah merenovasi dinding-dinding rumah mereka. Ia belum pernah tahu bahwa kemarahan dapat mendatangkan kejutan yang luar biasa. Sekuat tenaga ia mengayunkan bambu tanpa mengenali wajah siapa yang akan mendapatkan sasaran pukulan bambu tersebut. 

Darah akibat luka sayatan bambu mengalir deras, usus ayahnya menggelambir dari perutnya yang hitam karena terpanggang matahari sehari-hari. Seketika rumahnya diselimuti diam yang aneh, dingin mengitari sekujur tubuhnya. Matanya seolah bernanah, padangannya kabur dan semuanya hitam. Gadis sepuluh tahun menghabisi ayahnya dengan sebilah bambu. Sejak siang itu, siang di mana ayahnya mati lemas karena perbuatannya, tak pernah ada satu kata pun yang dapat keluar dari mulutnya. Kedua lempeng bibirnya seperti disulam rapat, menyatu. Gagu.

Apa yang terjadi selanjutnya selalu berusaha ia hilangkan dari isi kepalanya. Pastor Ansel yang murah hati mengirim ia jauh ke sebuah kota. Ia diperkenalkan pada kehidupan biara yang syahdu dan tertib demi ketenangan dan perbaikan psikisnya. Pastor Ansel yakin suatu saat ia akan kembali menjadi gadis riang. Gadis yang adalah anak ayahnya. 

Dengan alasan usia serta hubungan darah dan penjelasan pamannya, ia dibebaskan dari tuduhan pembunuhan. Ia disekolahkan dengan baik. Akan tetapi seumur hidupnya ia tidak pernah terbebas dari beban rasa bersalah yang selalu membuat nafasnya tersengal dan dadanya seperti dihantam palu godam. Suster dari biara tempat ia tinggal dengan telaten dan sabar membantunya lari dari kenangan yang terus saja menghantui. 

Kenangan itu berhasil terlupakan untuk saat tertentu namun tersimpan rapi di sudut entah, kemudian akan muncul kembali di saat-saat tertentu dengan atau tanpa sepengetahuannya.
Saat ia merindukan sang ayah, rasa bersalah itu datang bersamanya. Mereka beriringan seperti pengantin menuju pelaminan. Tak ada tangis yang lebih menyayat dari pada tangisan anak yang menghabisi nyawa ayahnya sendiri. 

Dan untuk segala yang sudah ia lewati, ia pungut dan satukan perlahan puing-puing tersebut sebagai harapan. Ayahnya selalu mendambakan sebuah pigura menghiasi ruang tamu mereka. Pigura bergambar ayah dan anaknya yang bertoga. Seorang tukang kayu yang mampu menyekolahkan anaknya hingga sarjana akan menjadi sebuah kebanggaan tak terkira. Ia memutuskan untuk keluar dari biara tempat ia tinggal, mencari pekerjaan dan mendaftar kuliah. Suster yang mengasuhnya begitu sedih saat membiarkannya pergi namun sudah saatnya ia dibiarkan mengambil langkah sendiri. Menentukan pilihan bagi hidupnya.


***

Ruangan itu kini menjadi lebih dingin, sesekali lelaki Italia tersebut menghela nafasnya. Matanya memandang sejurus kepada gadis di depannya. Disodorinya selembar kertas dan sebuah pena.

“Baiklah, Bapak akan memberimu waktu untuk menuliskan segalanya. Karena kamu tidak ingin bertemu polisi, karena kamu juga tidak mampu melarikan diri, Bapak akan tetap di sini, menunggumu menceritakan semuanya.”

Sejak hari di mana ia menghabisi ayahnya, gadis itu memilih untuk menjadi bisu. Sejak siang itu, siang di mana ia begitu mati ketakutan bahwa ia akan kehilangan ayahnya. Ia memilih untuk tidak bicara selamanya. 

Segala yang terjadi padanya selama ini mendekam, mengendap dan berkembang biak di kepala dan hatinya seperti tangisnya yang kini menjelma sungai tak berujung. Bahkan samudera pun tak akan sanggup lagi menampung alirannya. Jeratan yang begitu erat mematikan. Kekal.


Keterangan:

Prai Marapu: Surga Marapu.

Ana Humba: Anak Sumba.

Marapu: sebuah agama atau kepercayaan lokal yang dianut oleh masyarakat di Pulau Sumba. Lebih dari setengah penduduk Sumba memeluk agama ini. Agama ini memiliki kepercayaan pemujaan kepada nenek moyang dan leluhur. Pemeluk agama Marapu percaya bahwa kehidupan di dunia ini hanya sementara dan bahwa setelah akhir zaman mereka akan hidup kekal di dunia roh, yaitu di surga Marapu yang dikenal sebagai Prai Marapu.

Happa: Sirih Pinang.


Maiwa La Humba, Mari Membangun Yang Baik



*Tulisan ini ikut serta dalam "Blog Competition oleh Goverment Public Relations" dengan tema "Memotret Pembangungan Indonesia" dan mendapatkan Predikat "Juara Regional Maluku/Nusa Tenggara"



                       Siswa/i Kelas 1 SDN Lumbung saat diajak bernyanyi bersama
*FOTO: DOKUMEN PRIBADI

“….Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tetapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada negaramu…”

Ungkapan Presiden Amerika, John F. Kennedy sangat tepat menggambarkan kegiatan yang dilakukan oleh Gabungan Mahasiswa Sumba Timur (GAMASTIM) di Bali beberapa waktu lalu di kampung halaman mereka. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 30-31 Agustus 2016 di SDN Lumbung, Desa Maidang, Kecamatan Kambata Mapa Mbuhang.

Saya selaku simpatisan yang diajak bergabung pada kegiatan ini merasa kagum dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya. Hari-hari ini semakin banyak anak muda yang mulai sadar akan kepedulian dan peranan besar mereka dalam proses pembangunan bangsa ini.

1000 buku dari Bali untuk Sumba Timur adalah program yang digagas oleh Gabungan Mahasiswa Sumba Timur di Bali. Program ini dirancang karena munculnya kesadaran bahwa masih banyak anak sekolah yang hanya membawa satu lembar buku untuk semua mata pelajaran, ada pula yang harus rela membagi pensil dengan adiknya agar bisa menulis, belum lagi alas kaki yang hanya cukup menggunakan sendal atau tidak sama sekali. Hal ini ditemukan saat tim survei GAMASTIM mendatangi lokasi tujuan setahun lalu.

Dinamakan 1000 buku dari Bali untuk Sumba Timur sebab para pelaku kegiatan merupakan mahasiswa/i yang berasal dari Sumba Timur yang saat ini berdomisili di Bali demi melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Akan tetapi mereka tidak sendirian.

Melalui promosi di media sosial dan pembicaraan dari mulut ke mulut, banyak orang dengan caranya masing-masing memberikan bantuan. Antara lain, para pekerja asal Sumba Timur di Bali, para simpatisan GAMASTIM dan Himpunan Keluarga Matawai Amahu Sumba Timur (HIKMAST), serta pihak donatur yang peduli akan pendidikan di daerah pedalaman Sumba Timur.

SDN Lumbung yang berdiri sejak 01 agustus 1960, memiliki 4 kelas dengan bangunan yang sudah semestinya direnovasi. Dua kelas baru sudah dibangun beberapa waktu lalu namun belum bisa digunakan karena masih menunggu proses serah terima dari Dinas PPO.Total siswa/i di SDN Lumbung adalah 73 orang, 44 laki-laki dan 29 perempuan.

Akan tetapi karena jumlah ruang kelas hanya 4, maka kegiatan belajar mengajar untuk kelas I dan kelas III terjadi dalam 1 kelas, kelas II dan IV di dalam satu kelas, sedangkan untuk kelas  V dan VI masing-masing dalam satu kelas. Kegiatan belajar mengajar di SDN Lumbung ini didukung oleh dua orang guru PNS, satu orang guru SM3T dan lima orang guru honor.

Lumbung adalah salah satu dusun yang termasuk dalam wilayah administrasi Desa Maidang. Kehidupannya masih begitu jauh dari peradaban modern. Para Penduduknya bercocok tanam dan berternak. Selain keindahan alam yang luar biasa dan sumber air yang mencukupi, tidak ada hal lain yang bisa ditemukan di sini.

Listrik belum ada, jalan masih setapak, fasilitas pendidikan dan kesehatan yang serba terbatas. Lumbung belum mendapat perhatian yang serius dari Pemerintah karena mungkin belum ada sumber daya yang bisa dikembanbangkan untuk menambah pundi-pundi APBD.

Terkadang kita harus peka, pikiran bahwa mengeluh dan menuntut melulu justru tidak akan mendatangkan perubahan. Apabila ada yang bisa ditangani oleh kita sendiri, kita tidak harus menanti pemerintah untuk mewujudkannya. Bukankah pemerintah memiliki banyak sekali “urusan” untuk diselesaikan?

Buku, pensil, pena dan penghapus dikumpulkan di Denpasar lalu dipaketkan ke Sumba Timur dan ditempatkan di salah satu rumah anggota GAMASTIM. Beberapa hari sebelum kegiatan, kawan-kawan yang terlibat di GAMASTIM yang sedang berada di Sumba Timur untuk berlibur dan siap menjadi relawan kegiatan ini, berkumpul untuk mengadakan persiapan. Persiapan dimulai dari rapat teknis, memilah buku, pensil, pena, penghapus agar setiap anak mendapatkan jumlah yang sama.


Sebagaimana jalanan di Nusa Tenggara yang selalu membelah bukit, mengulari lembah, begitu pula perjalanan ke Pelosok Utara Sumba Timur. Perjalanan dengan kendaraan dari Waingapu ke desa yang terletak di Kecamatan Kambata Mapa Mbuhang ini memakan waktu kurang lebih dua jam dan hanya bisa mencapai rumah Kepala Desa Maidang. Selanjutnya harus mengandalkan kaki dan fisik sambil memikul beban yang menjadi tanggung jawab masing-masing.

Jumlah relawan yang memutuskan berangkat adalah lima belas orang (8 orang laki-laki dan 7 orang perempuan). Sementara barang yang diputuskan untuk dibawa adalah 9 dus buku tulis dan pena (berat bervariasi sebab jumlah buku seluruhnya ada 1400 buku setebal 30-50 lembar) yang akan dibagikan kepada siswa/i.




*FOTO: DOKUMEN PRIBADI

Lalu ada 2 karung beras masing-masing 20kg dan 10kg, tiga ekor ayam, satu dus kopi, dua dus air mineral, 2 dus Mi Instan, minyak goreng dan perlengkapan memasak untuk kebutuhan para relawan selama dua hari serta 1 karung bibit jati putih yang akan ditanam sebagai kenang-kenangan. Semuanya dibagikan sesuai kemampuan para relawan untuk memikul, tentu saja tidak ketinggalan ransel perlengkapan masing-masing.

Rute yang ditempuh untuk berjalan sebenarnya tidak begitu jauh, hanya 3 KM. Untuk kondisi jalanan lurus bagi manusia hanya membutuhkan 15-20 menit untuk melewatinya. Namun, lintasan yang ditempuh kali ini berbeda. Relawan harus melalui dua turunan, dua kali (sungai) besar dengan arus air cukup deras, dua tanjakan, Padang Sabana bebatuan karang, pegunungan tandus, hutan dan ladang sambil memikul beban bawaan.

Dibutuhkan waktu dua jam berjalan dengan sesekali beristirahat untuk tiba di lokasi tujuan. Hari sudah gelap ketika para relawan tiba di SDN Lumbung yang juga dijadikan tempat menginap.Tak ada listrik, tak ada sinyal, tak ada kompor gas kecuali tungku api yang menanti, yang terdengar hanya deras arus air di kejauhan, bising jangkrik, derak kayu api yang terbakar di halaman sekolah, suara manusia, serta langit hitam ditaburi bintang-bintang.



*FOTO: DOKUMEN PRIBADI

Jika kita datang membawa sesuatu ke satu tempat yang bagi kita dapat menimbulkan  perubahan, sebaiknya kita mempertimbangkan kebutuhan masyarakat setempat. Apakah hal tersebut memberikan dampak bagi mereka atau sesungguhnya tanpa kehadiran kita pun mereka tetap baik-baik saja. Sementara, kita merasa sudah melakukan sesuatu yang tepat dan luar biasa.

Yang dibutuhkan itu pemberdayaan, menyadarkan mereka untuk berpikir tentang hal-hal dalam hidup ini. Jika kita memberikan bantuan barang, mereka boleh jadi menerima lalu mengharapkan kita akan datang untuk melakukannya lagi, padahal kondisi mereka masih akan tetap sama seperti sebelumnya.

Anak-anak SDN Lumbung sangat jauh berbeda dengan anak-anak sekolah yang berada di kota. Mereka tidak pernah bersinggungan dengan gemerlap teknologi seperti televisi, gadget, dan lain-lain. Belum lagi, perasaan minder karena jarang mengalami interaksi dengan orang baru. Membutuhkan kesabaran ekstra, intensitas yang getol agar bisa saling menyesuaikan, juga kreativitas untuk mengajak anak-anak SDN Lumbung bermain dan belajar.

Oleh bapak kepala sekolah dan para guru, para relawan diberikan kebebasan selama satu hari penuh untuk melaksanakan kegiatan apa saja bersama adik-adik. Sesuai jumlah relawan maka diadakan pembagian, dua orang relawan untuk setiap kelas, tiga orang yang tersisa mendapat tugas lain.

Satu orang untuk beredar ke mana-mana sebagai time keeper dan memantau kegiatan _saya kebagian tugas ini karena keterbatasan saya dalam berbahasa, saya bukan orang asli Sumba Timur_, satu orang mengambil gambar untuk dokumentasi dan satu orang lagi tetap pada tanggung jawab selaku fasilitator yang mengontrol keseluruhan kegiatan.

Siswa/i SDN Lumbung sebagian besar, khususnya kelas I sampai III masih menggunakan bahasa daerah Sumba Timur sebagai sarana berkomunikasi setiap hari. Hanya beberapa siswa/i yang dapat menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Kemampuan menulis dan membaca pun belum merata, kelas empat dan lima bahkan masih membaca terbata-bata.

Hari Rabu, 31 Agustus 2016, Pukul 7.00 pagi beberapa siswa/i sudah muncul. Berseragam merah-putih seadanya, ada yang bersepatu, ada juga yang mengenakan sendal bahkan tidak samasekali. Rumah mereka umumnya jauh dari sekolah, ada yang harus melewati dua bukit sekaligus dan menyebrangi sungai. Seluruh siswa/i SDN Lumbung yang berjumlah 73 orang itu, hadir pada kegiatan ini.

Berbagai macam kegiatan dilaksanakan, antara lain kegiatan belajar-mengajar dan kuis tanya jawab seputar pengetahuan umum, bermain, bercerita tentang cita-cita dan makan siang bersama. Pihak sekolah, tanpa sepengetahuan para relawan, mengorbankan satu ekor kambing untuk dimakan bersama. Di penghujung kegiatan barulah para relawan membagikan buku tulis, pensil, penghapus dan pena yang sudah dibawa pada hari sebelumnya.



*FOTO: DOKUMEN PRIBADI

Kesan para Guru disampaikan penuh haru, mungkin di zaman ini, kedatangan mahasiswa/i dari kota seperti Denpasar untuk melakukan kegiatan berbagi seperti ini dipandang sebagai hal yang sungguh luar biasa bagi mereka. Seharusnya mereka tahu, saat ini terdapat sebuah trend yaitu meracuni orang lain untuk kecanduan berbagi melalui hal-hal sederhana semacam ini. Saya pribadi berharap, kegiatan ini dapat menginspirasi anak-anak muda lain khususnya di Sumba Timur untuk melakukan hal yang sama atau bahkan lebih.

Ada banyak kesulitan yang dihadapi semenjak kegiatan ini dimulai. Dari keterbatasan komunikasi karena lokasi yang dituju tidak memiliki kekuatan sinyal yang memadahi dan medan yang ditempuh sangat tidak biasa bagi beberapa relawan yang belum pernah melakukan perjalanan menantang.Namun semuanya dilakukan dengan senang hati dan penuh tanggung jawab serta semangat yang menggebu-gebu. Kegiatan ini menjadi stimulus untuk melanjutkan survei pada sekolah-sekolah berikutnya.

Sumba mungkin begitu indah sebagai destinasi wisata, namun ada banyak hal memprihatinkan yang selalu luput dari perhatian. Bagaimana kita begitu ngotot mempromosikan Sumba ke dunia luar sementara Sumber Daya Manusia-nya masih belum siap menghadapi kejutan-kejutan yang akan datang.

Baik para relawan maupun para guru di SDN Lumbung berharap agar program ini terus diadakan. Selanjutnya, penanganan dari persiapan hingga pelaksanaan harus ditingkatkan dan dikemas lebih baik. Sadar akan masih banyaknya kekurangan pada kegiatan ini, para relawan bertekad untuk terus belajar dan melanjutkan program ini.

Saya selaku simpatisan kegiatan yang terlibat langsung mengucapkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya sudah diajak dan disertakan. Salam Pahadang Mahamu, Mari Membangun Yang Baik.


Keterangan:

Maiwa La Humba: Mari Kembali ke Sumba
Pahadang Mahamu: Membangun Yang Baik







FOTO: DOKUMEN PRIBADI






Terima Kasih, Semesta! Pengumuman Pemenang bisa dilihat di sini