Tampilkan postingan dengan label INDONESIA. Tampilkan semua postingan

Kalau Bukan Dilan, Jangan Jadi Orang Ende. Berat! [Bag. III. habis]





Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Ende. Dok. Pribadi

*Catatan cukup penting: Jika tampilan gambar di artikel ini kurang jelas, silakan klik dua kali.

Akhir tahun ini, saya menghabiskan waktu di Ibu Kota, Jakarta. Sebut saja, ini perjalanan menguji kemampuan diri, menakar kualitas, baik secara akademis maupun juga sebagai manusia yang tak pernah luput dari kekurangan.

Saya bertemu banyak orang, yang entah mengapa, mereka adalah orang-orang baik dan memberi kesan dengan caranya masing-masing.

Perjalanan ini berawal dari sebuah antusiasme yang percayalah, saya sendiri tidak tahu datang dari mana sebenarnya.

Pagi itu, saya sedang bermalas-malasan di kasur kos Nana Haibara sebab tak punya kesibukan apa pun. Pengangguran total. Mengecek beberapa notifikasi di Grup What’s App, saya akhirnya menemukan pengumuman Tes CPNS pada beberapa Kementrian di Republik Indonesia tercinta ini dari Grup Bali Blogger Community. Pengumuman itu dibagikan oleh seorang teman Blog yang cukup tersohor di kancah nasional, maka saya pastikan bukan hoax.

Ada pada daftar teratas, lowongan CPNS dari Kementrian BUMN. Saya iseng membuka dan menelusuri kebutuhan formasi yang sesuai dengan latar belakang pendidikan saya, Sarjana Ilmu Komunikasi. Mereka membutuhkan (3) Tiga Analis Publikasi. Cukup menyesakkan tetapi kesempatan ini perlu dicoba. 

Alasan lain, yang membuat saya akhirnya memutuskan mengikuti seluruh proses tes cpns ini, selain untuk mencoba peruntungan dan menakar diri seperti yang saya sebutkan di paragraf awal, saya percaya sistem perekrutan CPNS di rezim ini, tak lagi dibumbui hal-hal berbau Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme sebagaimana di tahun-tahun lawas. Ketika, tidak semua orang bisa memiliki mimpi dan harapan yang sama jika bukan berasal dari keluarga mampu atau memiliki garis keturunan orang penting alias pejabat. Lagipula, syaratnya tak ribet seperti yang sudah-sudah dan yang pernah saya bayangkan. Semuanya bisa dilakukan secara online dari bilik bambu nan sendu.

Saat itu, saya masih berada di Kupang, saya harus ke Ende untuk mengurus kembali KTP dan Kartu Keluarga yang blunder sebelumnya. Jika kamu ingin tahu cerita mirisnya, bisa baca bagian I di sini: Kalau Bukan Dilan, Jangan Jadi Orang Ende. Berat! [Bagian I] dan lanjutan bagian II di sini: Kalau Bukan Dilan, Jangan Jadi Orang Ende. Berat! [Bagian II]

Dari Kupang ke Ende, saya berhutang kebaikan pada beberapa kawan, sebab isi rekening sangat memprihatinkan. Beberapa hal yang patut saya syukuri dan masih membuat saya tercengang hingga saat ini adalah, semuanya berjalan sangat lancar dan tanpa hambatan, bantuan seperti datang dari berbagai penjuru.

E-KTP yang saya nanti-nantikan selama enam tahun, ternyata sudah lama menginap di Kantor Lurah Paupire bersama kartu tanda penduduk milik warga kelurahan yang lain, yang mungkin ketika ke Kantor Dispenduk untuk memeriksa, tidak mendapatkan informasi yang memadai atau dikatakan belum jadi, lalu memutuskan menunggu lagi dan tidak mau membuang-buang waktu mencari yang belum tentu ada di Kantor Kelurahan. Saya dibantu Bibi saya, istri dari Om, adik Ibu saya, yang kebetulan bekerja di Kantor Lurah Paupire (saya tidak menduganya, pernah mendapatkan cerita ini dari Ibu, tetapi kemudian saya lupa). 

KTP AKOHHH...

Kami mencarinya bersama-sama, satu demi satu di antara tumpukan ktp-ktp lain yang sebagian kondisinya mulai mengenaskan, seperti sebagian plastiknya terkelupas, saking lamanya dibiarkan di sana. Beberapa nama di ktp-ktp tersebut saya kenal baik, mereka adalah tetangga, kakak kelas dan adik kandung, anak ketiga dari ibu dan bapak saya. Yassss… hahahahahaha… 

KTP dengan foto dekil saya di zaman semester awal di Undiknas Denpasar tersebut, masih menampilkan status saya sebagai Mahasiswa dengan masa berlaku hanya sampai pada hari ulang tahun saya di tahun ini. HellTheWhat. (Di kemudian hari, ketika saya mengurus Kartu Keluarga di Kantor Dispenduk Kabupaten Ende, saya mengkonsultasikan hal ini. Petugas kemudian meminta saya membaca poin Undang-Undang yang ditempelkan di pintu masuk ruangan, isinya seperti pada gambar di bawah ini).


Lihat Poin 02

Selanjutnya mengurus Kartu Keluarga.

Kartu Keluarga saya, di awal tahun 2018 kemarin, direvisi oleh adik saya demi beberapa urusan. Ketika Kartu Baru tersebut tercetak, nama saya sebagai anak pertama telah hilang. Setelah saya mendatangi lagi Kantor Dispenduk Kabupaten Ende beberapa waktu lalu, ternyata terjadi pendobelan NIK akibat perekaman yang saya lakukan sebanyak dua kali sejak tahun 2012. Maka, mau tak mau, status masih menjadi anak pertama dari kedua orang tua saya harus segera dikembalikan kepada tempatnya.

Nah, pertemuan tak sengaja dengan Bibi saya yang bekerja di Kantor Lurah Paupire tadi, sebenarnya berawal dari kedatangan saya ke kantor untuk meminta tanda tangan Lurah pada formulir pengajuan kartu keluarga yang telah saya lengkapi. Pada akhirnya formulir tersebut tidak digunakan oleh petugas, sebab itu hanya digunakan saat mengurus Kartu Keluarga baru, bukan untuk revisi. Perbincangan tentang KTP muncul secara tidak sengaja, yang kemudian berakhir pada penemuan kartu tanda penduduk saya dan adik saya yang telah lama mendekam di sana.

Saya ingat, saya memasang alarm pukul 05.30 pada pagi hari Jumat 28 September 2018. Bangun lalu berangkat ke Kantor Dispenduk untuk mencatat nama demi mendapatkan nomor antrian teratas, supaya bisa mendapatkan kesempatan tercepat mengubah kartu keluarga tersebut. Saya mendapat nomor antrian (5) Lima. 




Setelah mencatat nama, saya kembali ke rumah untuk tidur lagi, sejam, lalu bangun dan bersiap-siap berangkat lagi ke Kantor Dispenduk. Operasional dimulai Pukul 08.00 pagi, yang yeah birokrasi di mana-mana, hanya judulnya saja jam delapan. Pukul 09 lewat 15 menit baru nomor antrian pertama masuk. Belum lagi, hanya antrian 1-5 yang boleh masuk dan menunggu di dalam ruangan, sisanya silakan menadah panas atau meminta belas kasihan dari ranting dan dedauan pohon mangga di depan ruangan. Saat tiba di dalam ruangan, pendingin ruangan seolah tak berfungsi, hampir semua petugas memasang wajah seperti ingin membunuh. Ha-da-pi dengan senyuman. Demikian.

Sekalian rujakan, enak kali yakh..hihihi

Sialnya, saya tidak memeriksa sebelumnya, bahwa selain nama saya yang harus dimunculkan kembali, status pendidikan akhir saya juga harus diperbaharui. Saya bukan lagi mahasiswi. Saya lupa membawa fotokopi Ijazah. Duh berabe! Petugas Dispenduk yang saat itu membantu, menanyakan kepada saya, apakah akan tetap dicetak tanpa mengubah status pendidikan? Saya tidak diperbolehkan mencetak ulang kartu keluarga hingga tahun depan (2019). Ia menatap saya dengan tajam dan memastikan bahwa saya tidak boleh mengubah pendirian lagi. Dengan sedikit gugup, saya berpikir cepat, karena untuk tes CPNS hanya dibutuhkan nomor kartu keluarga/NIK kepala keluarga, maka saya menjawab dengan tidak masalah, silakan dicetak saja sesuai keterangan yang ada.

Nomor Antrean akohhhh

 Saya pulang ke rumah dengan isi kepala yang penuh, penuh dengan kemungkinan ini dan itu. Saya tidak ingin hanya karena kesalahan yang sepele, tujuan yang cukup besar dan langka untuk terjadi pada saya ini, malah jadi berantakan.

Sore hari, setelah mengajukan cetak ulang kartu keluarga tersebut, saya ke sekolah. Maksud saya, Almamater. SMAK Syuradikara Ende menyelenggarakan Reuni Akbar dalam rangka Ulang Tahun Sekolah yang ke-65. Di tengah keramaian dan basa-basi antara para alumni, saya bertemu dengan K Norman Soludale, salah satu anggota Syuradikara Bali Community. Saat itu, K Norman tengah asik ngobrol bersama kawan-kawan angkatannya.

Saya kemudian dikenalkan kepada dua orang yang paling dekat, salah satunya sungguh tidak asing di ingatan saya. Namanya K Detty Paul. Rupanya, kaka nona adalah Petugas di Kantor Dispenduk yang pagi tadi membantu saya mengurus cetak ulang Kartu Keluarga. Awalnya, kaka nona sempat berkelit bahwa mungkin saya salah orang, barangkali kakaknya ingin mengerjai saya atau bisa jadi tak ingin terbebani (sensitif kan gue hihi). Akan tetapi, saya sulit melupakan wajah orang. Lupa nama, sering. Pada akhirnya kaka nona mengakui dan kami terlibat obrolan panjang.

Pulang dari acara reuni tersebut, saya mengecek isi kertas keterangan pengambilan cetak ulang kartu keluarga yang diberikan petugas siang tadi. Masih tujuh hari lagi, saya baru boleh mengambil hasil cetak ulang. Masih banyak waktu. Karena hari itu, hari Jumat, saya harus menunggu hingga hari Senin, jika ingin membawa fotokopi ijazah untuk mengajukan tambahan perubahan.

Saya menanti Senin dengan berdebar-debar, saya bukan tipe yang bisa memanfaatkan relasi dengan mudahnya, apa lagi baru pernah bertemu dua kali. Tetapi, saya ingin tetap mencobanya, dengan asumsi proses pencetakan ulang belum berlangsung karena setelah hari jumat, dua hari berikutnya bukan hari kerja efektif. Berkas saya pasti masih dalam antrian. Jika pun permohonan tambahan perubahan ini tidak diterima, hal terburuk yang akan saya hadapi adalah amukan petugas dan diusir keluar ruangan. Gak sampai bikin mampus, malu dikit ajah. Gak papalah.

Senin pagi 01 Oktober 2018, pukul 08.00 wita, saya kembali ke kantor Dispenduk. Setelah mengumpulkan keberanian, saya nekat masuk ke dalam ruangan sembari membawa fotokopi ijazah di tangan. Saya mengamati situasi dari bangku depan, mencoba memperhitungkan beberapa hal, menunggu peluang untuk langsung ke meja K Detty. Saya sempat ditanyakan oleh petugas lain yang ada di situ, apakah sudah mengambil nomor antrian? Jika belum, silakan datang lagi besok dengan prosedur yang sama yang telah saya lalui pada hari Jumat kemarin. Tentu saja, itu akan memakan waktu yang sangat lama, padahal urusan saya tersisa menyerahkan fotokopi ijazah terakhir ini.

Suasana pagi hari nan cerah ceria di Kantor Dispenduk Kabupaten Ende, yeah...

Peluang tersebut muncul sekitar lima belas menit kemudian, setelah giliran konsultasi seorang ibu, saya melangkah cepat ke depan meja K Detty. Kami tidak sempat berbasa-basi, entahlah barangkali sudah demikian karakter beliau. Masih tetap profesional, kaka nona menanyakan apa keperluan saya. Saya menjelaskan secara singkat padat dan jelas, sempat K Detty menanyakan berkas-berkas saya yang lain, yang saya jawab dengan menunjukkan kertas keterangan pengambilan yang ia berikan pada hari Jumat yang lalu. Tak butuh waktu lama, ia mengecek beberapa hal, meminta fotokopi ijazah terakhir saya dan selesai. Saya dipersilakan datang mengambil kartu keluarga yang telah direvisi, sesuai jadwal pengambilan yang telah diinformasikan sebelumnya. 

Dengan demikian proses melamar PNS Kementrian BUMN sesuai rencana saya, bisa dimulai.

Berat bukan jadi orang Ende, yang di tahun 2018-2019 ini, kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipilnya masih memakai gaya konvensional dalam melayani masyarakat banyak. Padahal, boleh dikatakan, lembaga ini adalah jantung dari kehidupan masyarakat sipil. Hari-hari ini, bagaimana kau bisa hidup tanpa indentitas dan dokumen-dokumen pendukung? Bagaimana eksistensi dan kelancaran urusanmu dapat terjamin dari kantor dengan ruang tunggunya seperti LAPAK PASAR INPRES MBONGAWANI?! S E R I U S !!!

***

Ikuti terus cerita perjalanan akhir tahun saya di Blog ini! Saya berniat menyicil cerita-cerita saya, pelan-pelan dari sekarang….

Doakan yah~

Melihat Indonesia yang Adil di #FlashBloggingKupang




*Tulisan ini bernilai LIMA BELAS LEMBAR UANG SERATUS RIBU RUPIAH dan SEBUAH PIAGAM PENGHARGAAN sebagai Kompensasi dari Gelar "TERBAIK 1" Sesi Kompetisi Menulis di Acara #FlashBloggingKupang #MenujuIndonesiaMaju - Aston Hotel Kupang, 20 Juli 2018


Adalah sebuah kebetulan yang menyenangkan, saat saya kembali ke Kupang untuk mengikuti tes lanjutan Beasiswa Bahasa Inggris, sebuah kegiatan dari  Direktorat Kemitraan Komunikasi (Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik, Kemkominfo) yang bekerja sama dengan Dinas Kominfo Provinsi Nusa Tenggara Timur, juga diadakan di kota ini. Tepat tiga hari setelah tes tersebut selesai dilaksanakan.

Saya pikir, ini kesempatan yang baik untuk bergabung pada acara #flashbloggingkupang #menujuindonesiamaju sebelum menentukan jadwal kembali ke Ende. Maka dari itu, ketika saya mendapatkan pengumuman kegiatan yang dibagikan kawan-kawan di beberapa grup, saya memutuskan untuk mendaftar.


Poster Kegiatan #FlashBloggingKupang #MenujuIndonesiaMaju



#flashbloggingkupang #menujuindoensiamaju merupakan sebuah acara yang mengajak generasi muda Indonesia yang senang menulis di blog untuk berkumpul bersama dan saling berbagi. Demikian ungkap Ibu Niken Widiastuti selaku Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik, Kemkominfo, pada sambutan yang beliau berikan.

Lebih lanjut, Ibu Niken menyampaikan, sebagaimana yang kita ketahui bersama, bahwa saat ini arus informasi begitu deras terjadi. Baik yang berisi konten positif, maupun juga konten negatif. Blogger dapat mengambil peranan penting dalam deseminasi informasi dengan menyebarkan kebaikan seperti etika penulisan dan penyebaran informasi yang baik di dunia digital.

Ke depannya, Ibu Niken berharap, para blogger memiliki kontribusi lebih dalam menyebarkan informasi positif dan mendukung kemajuan Indonesia tak hanya di bidang teknologi saja.

Nah, di acara ini, saya menemukan satu hal menarik yang patut saya bagikan kepada kawan-kawan. Jadi, acara #flashbloggingkupang terdiri atas beberapa sesi yang dibawakan oleh Pemateri yang berbeda.

Salah satu sesi yang cukup menancap dalam hati saya, ugh, soalnya saya sampai menitikkan air mata haru pada laki-laki bertubuh ceking dan baik hati itu. Yap, siapa lagi kalau bukan Presiden kita tertjinta, Bapak Ir. Joko Widodo. Sesi ini dibawakan oleh Bapak Andoko Arta, Tim Komunikasi Presiden, “Sudut Istana.”

Padahal sejujurnya, belakangan, saya agak susah terharu dan berderai air mata, saking jenuhnya melihat hal yang sama di hidup ini #eh.

Di tengah sesi ini, Bapak Andoko, menayangkan sebuah video yang tautannya bisa kawan-kawan tonton di sini: SATU HARGA, SATU INDONESIA



Saya kutip cerita Bapak Joko Widodo yang tertulis pada tautan tersebut:

Bertahun-tahun lamanya, warga daerah arah hulu Sungai Mahakam di Kalimantan membeli bahan bakar minyak dengan harga berkali-kali lipat dari harga BBM di kota besar. Sebagaimana yang dialami warga di sebagian besar Papua, satu liter bensin di punggung Kalimantan ini pernah mencapai Rp45.000. 

Masalahnya di distribusi BBM yang tidak mudah karena medan yang tak ramah. Tapi apa pun taruhannya, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia harus kita wujudkan. Daerah yang terpencil, daerah terdepan, daerah terluar, tetaplah wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kini, warga di wilayah terpencil di sekitar hulu Sungai Mahakam menikmati harga BBM yang sama dengan kota-kota lain di Indonesia.

Dan inilah perjuangan mendistribusikan BBM dari Samarinda ke Long Apari di pelosok Kalimantan Timur, dengan kapal dan perahu yang menyusuri sungai berair deras sejauh ratusan kilometer.

Ketika menonton video ini, hati saya haru biru, saya lalu teringat dua perjalanan yang saya lakukan ke Sumba pada tahun 2016 bersama kawan-kawan GAMASTIM BALI, ceritanya bisa kalian baca di sini: MAIWA LA HUMBA, MARI MEMBANGUN YANG BAIK dan ke Fatule’u beberapa bulan lalu bersama kawan-kawan Komunitas Buku Bagi NTT, ceritanya bisa kalian baca di sini: MENGHIDUPI LITERASI, SUSAH-SUSAH GAMPANG


Saya pikir, ini hal yang menarik bahwa di tahun 2018 ini, masih ada masyarakat di beberapa daerah di Indonesia yang tidak bisa mengalami kehidupan nyaman dan sejahtera sebagaimana saudara-saudaranya di kota, atau meskipun daerah terpencil, tetapi sudah mendapatkan perhatian dari Pemerintah. Baik Pemerintah Pusat, maupun juga Pemerintah Daerah setempat. Jalanan masih buruk, tak ada listrik, tak ada air bersih dan jauh dari pusat teknologi.

Video ini memacu semangat saya untuk mengunggah tulisan ini. Selain sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras Pemerintah di masa Bapak Presiden Ir. Joko Widodo, sekaligus memohon perhatian kepada Beliau (semoga beliau memiliki kesempatan untuk membaca, akan baik jika Panitia berkenan meneruskannya).

Harapan saya, Bapak Jokowi memiliki kesempatan yang lain atau mendelegasikan tim terkait untuk meninjau kerja Pemerintah Provinsi maupun juga Kabupaten di daerah-daerah pelosok di Nusa Tenggara Timur. 

Bagaimanapun juga, salah satu fokus Pembangunan Bapak Jokowi adalah Infrastruktur, mengutip apa yang diungkapkan oleh Bapak Maxi Manafe selaku Moderator pada #flashbloggingkupang hari ini, "Jika ingin Indonesia maju, harus membangun Nusa Tenggara Timur. Kemajuan NTT, juga merupakan kemajuan Indonesia."

Dua cerita yang saya sertakan melalui tautan pada tulisan ini, hanyalah segelintir dari sekian banyaknya pekerjaan yang belum dilaksanakan secara maksimal di Provinsi ini.

Dengan itu, bukan hanya warga wilayah terpencil di sekitar Hulu Sungai Mahakam seperti Long Bagun, Ulu Riam dan Long Apari, tetapi juga, kaka-adik, bapa-mama, nona-nyong di Amfoang, Timor atau Umbu dan Rambu di Kambata Mbapa Mbuhang, Sumba, memiliki kesempatan yang sama menikmati Indonesia yang Satu dan Indonesia yang Adil. Bukan hanya Satu Harga, Satu Indonesia. Tetapi juga, Satu Jalan, Satu Indonesia.


SALAM INDONESIA RAYA!!! 


Yuhuuu, dapat payung :) gara-gara jempol sekseh di twitter


Yeah jadi yang TERBAIK 1 ^^


Kalau Bukan Dilan, Jangan Jadi Orang Ende. Berat! [Bag. II]


Su macam detektif siang itu. 

Berikut kelanjutan kisah KTP saya yang sejauh angan-angan. Kisah sebelumnya bisa cek di sini: Kalau Bukan Dilan, Jangan Jadi Orang Ende. Berat! [Bag.I]

Saya ke kantor Dispenduk lagi hari Jumat 29 Juni lalu, bertemu seorang Ibu yang sangat ramah dan kemudian mengarahkan saya ke Ruang 7 untuk urusan E-KTP. Wah nomor keberuntungan saya ini, semoga yah alamat baiks.

Tiba di sana, saya lalu menyerahkan kertas bukti pengambilan yang lecek lumutan itu dan Kartu Keluarga versi lama. 

Wih saya diomelin, karena itu kartu keluarga zaman bahula, sudah tidak terpakai lagi. Ya iyalah, 2009 hahaha. Oke, saya kasih Kartu Keluarga baru, yang tidak ada nama saya, Petugasnya bingung dan mulai lihat saya atas bawah. 

Oh Come on saya bukan buronan. 

Lalu saya  ditanya lagi, pernah urus surat pindah domisili? Saya merasa tidak pernah mengurus itu, jadi saya jawab tidak. 

Sang Ibu di Ruangan 7 itu, yang demi tuhan, saya kenapa bisa lupa namanya padahal saya sudah sempat bertanya dan saling berjabat tangan, beliau mengajak saya ke ruangan lain, yang di depannya ada tulisan Kartu Keluarga itu (sebelumnya, sempat saya ceritakan di tulisan bagian I). Oh yah Ibu ini berkacamata.

Kami masuk, menuju pojok ruangan dan bertemu dua orang wanita berkerudung, yang satu masih muda, sedang serius di hadapan layar monitor sambil sesekali menimpali obrolan seorang wanita paruh baya yang duduk di sampingnya.

Wanita kedua ini, tengah asik meliuk-liukkan badannya mengikuti irama dari pemutar musik handphone dan terus nyerocos tentang hasil Pilkada Kabupaten Ende yang katanya sangat fenomenal, pas dengan lagu yang sedang mengiringinya bergoyang.

Kamu mau tahu lagu apa yang sedang ia dengarkan? 

GOYANG DUA JARI! YANG BIASA DI APLIKASI SAKTI TIKTOK ITU. 

Makin lama, jarinya ikutan naik, membentuk angka dua sambil tubuhnya tetap bergerak. 

Saya tiba-tiba pusing. Ugh ada apa dengan masya-raqat Ende ini? Mereka suka punya euforia yang sia-sia, mungkin saya dulu juga begitu kah? Duduk nganga di jalan hanya mau ikut rame, gegi mau ikut pawai keliling sampai goyang tidak jelas, sementara Pasangan yang menang tidak kenal kita sama sekali. #Eh Huft…

Sebelum saya, sudah ada seorang laki-laki duduk di depan meja wanita muda itu, tetapi sepertinya dia sedang berusaha menelpon seseorang untuk urusan yang sama, Kartu Keluarga. 

Urusan saya didahulukan, Sang Ibu dari Ruangan 7 menyerahkan dua lembar Kartu Keluarga milik saya untuk diperiksa. 

Ada lima atau enam kali, saya tak sempat menghitung karena mulai pening, wanita muda berkerudung merah muda itu bolak-balik dari komputer yang ada di hadapannya ke komputer yang ada di seberang mejanya. 

Usut punya usut, voila: karena saya pernah melakukan perekaman sebanyak dua kali yaitu pada tahun 2012 di Denpasar dan 2016 di Ende, maka Nomor Induk Kependudukan (NIK) saya terdeteksi ada dua. 

Oleh karena itu, nama saya tidak masuk di Kartu Keluarga baru. Ugh. 

Sabar dulu, ada yang lebih menakjubkan lagi, ternyata oh ternyata, berdasarkan keterangan di sistem, E-KTP saya statusnya sudah “SIAP CETAK” sejak tahun 2012, beberapa bulan setelah perekaman di Gedung Rektorat Unud itu. Oh Anakku…… ENAM TAHUN lamanya pencarian ini. Hadeh kok bisa yah?

Mendadak saya ingin ke Jakarta, bawa serta peralatan lengkap, mungkin mutilasi saja Setya Novanto dan antek-anteknya kah?! SipalomasekiyaBarzulBollock!

Sedangkan perekaman yang saya lakukan pada tahun 2016 di Kantor Camat Ende Tengah, tidak dijelaskan nasibnya bagaimana, saya juga bingung bagaimana analisanya, tetapi karena alasan itu, NIK saya menjadi GANDA, yang berbuntut pada nama saya tidak ada di Kartu Keluarga dan sampai sekarang E-KTP saya belum ada. FIX BLUNDER!

Solusi yang akhirnya berlaku: Sang Ibu dari Ruangan 7 akan mengajukan permohonan Print E-KTP atas nama saya ke “bagian entah,” beliau tidak menjawab pertanyaan saya. 

Ketika saya menanyakan, berapa lama proses pencetakan ini? Jawabannya sungguh menyedihkan: “Ade, saya tidak bisa janji e, kapan ini jadi. Nanti, satu bulan lagi, datang cek ke sini. Datang saja dan cek, siapa tahu sudah ada.” 

OmowahaiGad. Adakah yang bisa menjamin bahwa ketika saya datang sebulan lagi, E-KTP itu minimal bisa di-cek alias jelas juntrungannya, udah sampai di mana dia? Duh!

Ternyata angka 7 di depan ruangan tersebut, tidak mempan sama sekali. T.T

Alhasil, yep, kertas baru lagi wkwkwkw… dengan sebagian kolom yang dikosongkan. Ya Tuhan, butuh kerja keras dan loyalitas benar yah, menguras segala-galanya.


Oh yah, untuk Kartu Keluarganya, saya hanya perlu membawa KK asli yang versi baru untuk selanjutnya dikeluarkan KK pengganti, yang jelas tertera nama saya nantinya di sana. 

Masalah berikutnya adalah: lembar asli Kartu Keluarga dimaksud, masih ada di Denpasar sekarang, dibawa serta adik saya sejak bulan Januari lalu untuk urusannya itu.

Kembali lagi, yah mungkin sudah nasib saya, bahwa ketika saya memutuskan pulang ke NTT, saya sudah harus siap jika SEBAGIAN BESAR WAKTU SAYA DIHABISKAN UNTUK MENUNGGU.

Menunggu di tengah ketidakpastian, kapan E-KTP jadi?

Menunggu lembar asli KK dikirim dari Denpasar.

Sementara saya harus segera kembali ke Kupang. Arghhhhh.

Trus, trus… ini aku kudu ngera emba lagi?! Akan ada berapa bagian lagi untuk curhat panjang lebar kali tinggi bagi luas ini?

Njlimet Kabeh!


Tenang, Nanti Tuhan Tolong!


Yuk Intip Aksi Lipooz Kenalkan HipHop di Bali



*Diunggah di website Musiklik.com pada 20 Desember 2016. Website tersebut untuk sementara sedang beristirahat dengan tidak tenang. Hiks T.T


Untuk orang-orang awam, ia bukan sosok luar biasa. Untuk kalangan tertentu, Lipooz menghunus mata dan hati, juga pikiran. Kekuatannya terletak pada rima yang berirama dari mulutnya seiring tempo dan musik yang membisik.

Lipooz atau lengkapnya Philipus R.I. Ngadut (RI itu bukan Republik Indonesia meskipun dia cinta mati dengan NKRI) adalah seorang pria asal Ruteng – Flores yang memilih menekuni Hiphop sejak tahun 2002 di Surabaya hingga kini berdomisili di Denpasar, Bali.

Musik merupakan pilihan untuk berkomunikasi dengan diri sendiri dan orang lain. "Rap mampu bercerita tentang sesuatu secara detail karena panjangnya durasi lirik pada rap jika dibandingkan dengan genre musik lain yang liriknya cuma sepenggal dan diulang-ulang," ungkapnya saat ditemui Musiklik.com, (16/12).

Sampai dengan saat ini Lipooz sudah mengeluarkan dua album hip hop, Words = Power (2005), One Man Army (2007), juga belasan single track, baik solo maupun juga berkolaborasi dengan rapper-rapper dari berbagai kota di Indonesia. Tema yang sering diangkat dalam lagu-lagu Lipooz adalah tentang keseharian, cinta, kampung halaman-kota kelahiran dan self pride menjadi kebanggaan diri bagaimana hebatnya seorang MC memainkan kata-kata.

Pada 2013, Lipooz memutuskan hijrah ke Bali dan bertemu dengan teman-teman pelaku hiphop Bali yang sebelumnya cuma dikenal melalui sosial media. "Saya betah di Bali karena budayanya, keramahan orang-orangnya, alamnya yang luar biasa, serta kebebasan berpikir untuk menerjemahkan seni," ungkap Lipooz, MC-rapper di salah satu klub ternama di Denpasar

Lipooz cukup sering tampil di beberapa tempat di Denpasar untuk mengisi acara-acara tertentu. Bagi Lipooz, teman-teman hiphop di Bali tidak hanya mencakup rap, tetapi juga dance dan breakdance. Masing-masing mereka sudah sangat ahli pada profesinya sehingga ketika diminta untuk bergabung dan perform bersama mereka di acara komunitas Hiphop Bali/Dewata Hiphop, ia mengaku dengan senang hati meluangkan waktu untuk terlibat.

Untuk terus menjaga semangat hiphop, Lipooz tengah sibuk dengan sebuah proyek yang ia beri nama 16BAR.

Tentang itu bisa klik di sini: www.youtube.com/lipooz




Apakah Musiklikers  menyukai musik dengan aliran Hip Hop? Yah, tidak semua orang mengenali genre musik ini. Bukan hanya di Bali, tapi hampir di semua kota di Indonesia, musik Hip Hop adalah musik minoritas, karena masyarakat Indonesia didominasi oleh pendengar musik bernyanyi bukan pendengar musik berbicara (Rap).

Demikian ungkap Lipooz, jadi orang-orang lebih suka musik yang berharmoni dan vokal yang bernada daripada mendengarkan manusia ngomel-ngomel pakai rima dan nada, lanjutnya pada sesi wawancara bersama Musiklik.com (16/12).

Adapun 16BAR adalah sebuah Hip Hop web seri yang digarap Lipooz dengan melibatkan teman-teman rapper di berbagai penjuru Indonesia.

Proyek ini cukup merepresentasikan musik Hip Hop Indonesia saat ini. Alurnya seperti berikut, Lipooz akan menyediakan instrumental hiphop yang kemudian dieksekusi oleh rapper berbeda di setiap episodenya. Instrumen tersebut dibuat dengan alat musik dan perlengkapan seadanya langsung dari ruang kerja sekaligus kamar tinggal Lipooz di Denpasar. Itu kemudian dikirim kepada teman-teman rapper yang berniat mengeksekusi lirik sesuai instrumen.

Proyek ini terbilang masih belia karena baru berjalan empat bulan terakhir. Melalui 16BAR Lipooz sesungguhnya ingin mempromosikan teman-teman yang menggandrungi Hip Hop dan terkendala oleh berbagai macam hal. Proyek ini diharapkan dapat mewadahi musisi hiphop baik di pelosok maupun ibu kota yang memiliki kualitas Rap namun jarang diperhatikan.

 Ke depannya Lipooz berharap dapat menggandeng rapper-rapper Bali dan mengolaborasikan musik tradisional maupun juga bahasa Bali ke dalam Hip Hop yang ia garap.

Apalagi Hip Hop menurut Lipooz merupakan satu-satunya genre musik yang bisa dikombinasikan dengan musik dan budaya apapun, karena Hip Hop sendiri adalah sebuah budaya, bukan terbatas pada musik saja. Thumbs Up!



Penulis : Maria Pankratia
Editor : Luh De Dwi Jayanthi
Foto : Dokumentasi Lipooz
Caption : Lipooz Performance


MUSIK, LIPOOZ, HIP HOP, BALI, RAPPER, INDIE MUSIC, INDONESIA, 16BAR

Kalau Bukan Dilan, Jangan Jadi Orang Ende. Berat! [Bag. I]



*Setelah kesabaran ini terkuras habis, sampai benar-benar kering!


Jika foto yang terlampir kurang jelas, kamu bisa meng-kliknya dua kali untuk melihat lebih jelas. Danke.


Judulnya mungkin hanya mengundang clickbait, akan tetapi sekali lagi, jangan terkecoh judul, baca ini sampai selesai.

Tahun ini, untuk kedua kalinya saya kembali ke Ende untuk menyelesaikan urusan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (E-KTP) yang terkenal menguras waktu, tenaga dan pikiran itu. 

Sebelumnya, di tahun 2012 berdasarkan himbauan Pemerintah dengan Program kerennya tersebut, saya sudah terlibat dalam antrian rekaman segala jenis kebutuhan untuk mendapatkan Kartu Identitas Warga Negara Indonesia ini di Gedung Rektorat Universitas Udayana, Denpasar. 

Tahun 2013, saya kembali ke Ende, untuk mengambil E-KTP di Kantor Camat dari mana saya berasal. KTP tersebut BELUM ADA. Alasannya, belum dikirim dari Pusat. 

Ibu saya, dengan upayanya, membuatkan KTP sementara, yang hingga saat ini masih saya pakai. KTP sementara tersebut akan berakhir pada Hari Ulang Tahun saya tahun depan, 2019.

Tahun 2016, saya kembali, mendatangi kembali Kantor Camat Ende Tengah, menanyakan keberadaan E-KTP saya yang seperti anak hilang, belum menemukan juga siapa pemiliknya. 

Sementara itu, desas-desus Korupsi E-KTP mulai tersebar, saya tentu cemas. Jangan-jangan anak hilang tersebut, benar-benar tak pernah ada, dia hanya pernah dibuahi di Denpasar, lalu keguguran begitu saja dan hilang, tak pernah mengalami kelahiran (ini kenapa saya jadi semacam Ibu-ibu putus asa karena Aborsi tanpa rencana).

26 September 2016, saya diminta datang kembali ke Kantor Camat Ende Tengah di Jl. Melati, saya dianjurkan melakukan perekaman ulang, mulai dari Kornea Mata, Pas Foto (saya ingat, foto saya bagus sekali waktu itu, pakai baju biru berkerah dan rapi dengan latar merah karena saya lahir di tahun ganjil. ugh) dan menyerahkan segala berkas yang dibutuhkan. 

Akhir dari proses tersebut, saya diberikan secarik kertas, sebagai bukti untuk pengambilan hasil jadi E-KTP di Kantor Dinas Kependudukan Kabupaten Ende, satu bulan lagi. 26 Oktober 2016. (Saya memostingnya di Facebook saat itu, berikut fotonya).


Ketika itu, urusan kuliah dan pekerjaan di Denpasar, tidak bisa saya tinggalkan, saya tidak punya waktu sebulan lagi untuk menunggu sampai E-KTP ini jadi, maka dari itu, saya menitipkannya pada Bapak untuk mengambilnya. 

Hal ini sudah saya konsultasikan dengan Pegawai di Kantor Camat, dan berdasarkan informasi tersebut, tidak masalah jika bukan Yang Bersangkutan yang mengambil, selama bukti pengambilan tersebut dibawa serta. 

Oke Fix, saya kembali ke Denpasar dan menyerahkan sepenuhnya urusan tersebut kepada Bapak.

27 Oktober 2016, saya menelpon ke rumah, menanyakan kepada Bapak, sudah sempatkah bersilaturahmi ke DISPENDUK? Beliau menjawab: “Sudah Ine, tetapi mereka bilang, KTPnya belum ada. Tunggu satu bulan lagi.” 

Demikian terjadi, satu bulan sekali Bapak ke DISPENDUK membawa serta kertas bukti sampai HARI INI, 26 Juni 2018. Setelah 1 Tahun, 8 Bulan. Kurang 4 bulan lagi, DUA TAHUN! 

Kertas bukti tersebut, akhirnya lecek seperti gambar di bawah ini, dan E-KTP yang tersayang hanya sejauh angan-angan.



Siang ini, saya ke Kantor DISPENDUK. Saya menemukan ada banyak sekali orang yang mengantri dan hiruk-pikuk ke kiri dan ke kanan, di luar matahari bersinar cerah, panasnya menembusi segala macam sendi dan sum-sum tulang belakang. Dibikin sup, enak kali yah. Hadeh… 

Kemudian saya teringat, ini 26 Juni 2018, sehari sebelum PILKADA dilakukan serentak di seluru Indonesia. Mariaaaaaa…hahahahaha. Puji Tuhan, saya belum ada niat mengikuti Pesta Rakyat tiputapu ini, jadi bagi saya, ini bukan masalah yang cukup mendesak.

Saya melemparkan pandangan ke sekitar, dan menemukan satu ruangan dengan sebuah Tulisan di depannya “Kartu Keluarga” (Nah, ini cerita lain yang juga konyol, setelah ini, kalian bisa menyimak cerita tersebut). 

Saya punya urusan untuk ini juga, saya menuju ke ruangan ini, dan berhenti tepat di depan pintunya karena ada banyak Kertas Pengumuman yang menempel. Berikut, kertas-kertas Pemberitahuan tersebut:



Perhatikan Pemberitahuan pertama, kesalahan saya yang pertama, SALAH KOSTUM. 

Hahahahaha… Saya pakai kemeja dan celana pendek, sandal pulak. Saya tertawa, saat membaca bagian ini, dan dua orang pemuda plus satu pemudi di samping saya berbicara menggunakan bahasa Ende tentang kekonyolan saya ini. 

Mereka pikir, saya orang asing dari mana datang sehingga tidak mengerti mereka omong apa. Sorry Gaes, aku nantang mata kamu yah, tetapi kamu malah lihat ke tempat lain. Kan kita bisa ngobrol. Wew. 

Kesalahan kedua, yah saya sadari sejak dari rumah, sesiang ini saya berkunjung ke Kantor Pemerintahan untuk mengurus hal semacam ini, saya hanya akan disembur omelan dan berbagai alasan yang justru menyerang balik saya (boomerang keto kone).



Pemberitahuan yang kedua, perhatikan dengan seksama. Saya hampir saja melepas tawa berkepanjangan yang mungkin bisa jadi mengejutkan semua orang yang ada di dalam maupun juga di halaman kantor DISPENDUK ini. 

WHAT THE FUCK kan?! Setelah kau menyiapkan waktu dan tenaga, jauh-jauh datang kembali, memastikan bahwa kau tidak keguguran lagi #eh hahahahahaha kau malah menemukan Pengumuman Sial seperti ini. 

Untuk waktu yang tidak tentu, Hep! Mereka akan mengumumkannya melalui media yang tersedia, jika semua sudah kembali normal. Itu kaya Pacaran, terus pasangan minta break dan gak jelas sampai kapan. Mo cari gebetan lain, ntar dibilang selingkuh. Kan an**ng! Ini sudah semakin ke mana-mana..bah!




Dan Pemberitahuan yang ketiga, hal sial lain yang terjadi pada saya, tepat di poin pertama! 

03 Januari 2018 yang lalu, adik saya mengurus ulang Kartu Keluarga di kantor ini juga. Ia membutuhkan lembar asli dengan tanda tangan basah Kepala Dinas Kependudukan dan Capil Kabupaten Ende demi mengurus satu dan lain hal. 

Karena lembar asli di rumah sudah lama hilang, maka ia harus ke Polres Ende, mengurus surat keterangan kehilangan dan meminta pihak DISPENDUK untuk membuat ulang. 

Ia mengaku bahwa sudah mengikutsertakan lembaran KK yang lama, yang jelas-jelas ada NAMA SAYA tertera di situ sebagai ANAK PERTAMA. And I don’t know what the hell is going on with those people, di lembar Kartu Keluarga baru tersebut TIDAK ADA NAMA SAYA. 




Seketika saya lenyap dan tidak diakui sebagai anak sulung dari kedua orang tua saya. 

ILEGAL DONG GUE? 

E-KTP gak jadi-jadi, sekarang nama juga taka da di KARTU KELUARGA. Terus, aku kudu ngere emba?!!!

Fyuh...


Hari ini, saya membutuhkan satu botol arak dan setidaknya potongan daging babi asap dengan campuran lombok yang banyak, sertakan bijinya sekaligus, biar mabok sepuasnya. 

Sesetia apa pun kamu pada tanah airmu, kamu akan lebih sering dikecewakan, karena begitulah hidup mengajarkanmu kesabaran dan ketegaran. Bakbi sekali! Mbingu betul! Arghhhhhh….