Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan

2016; A Golden Year




365 hari yang lalu, saya tidak memiliki resolusi apa pun untuk 365 hari berikutnya. Saya masih tetap hidup, sehat dan waras saja sudah merupakan sebuah keuntungan. 2015 dan 2014 adalah tahun yang cukup luluh lantak sebagaimana kemudi kapal yang dibajak sehingga nakhodanya tidak memiliki kendali penuh untuk menentukan ke mana menuju. Namun, pada akhirnya, saya menemukan titik balik. Benar adanya, seseorang yang kembali bangkit dari kejatuhan, kekuatannya berkali lipat.

Sekuat tenaga saya menemukan diri saya kembali dan bertanya sesering mungkin “mau apa aku dengan hidupku ini?” iyah persis lirik lagunya Nosstress, itu padanan refleksi yang klop! Refleksi singkat akhir tahun lalu itu, saya temukan kembali di sini

Memulai langkah di 1 Januari 2016 tanpa persiapan apa pun! Kabur, meraba-raba.
Resign dari pekerjaan yang menjadi sumber hidup dan eksistensi, terjun ke lapangan tanpa visi sebagai mahasiswi KKN lalu PKL. Masih saja percaya diri mengkoordinasi Persiapan Misa Pra-IYD2 Keuskupan Denpasar, bersedia jadi Fasilitator Kelompok tanpa pengalaman untuk Kelas Inspirasi Bali 03, terlibat lagi di Denpasar Film Festival. Menyanggupi hadir di Pelatihan Menulis Kompas (lagi), nyasar di Ubud Writers and Readers Festival ke-13 dan Citizen Journalism Day kerja sama Balebengong dan Bali Blogger Community, serta menjadi Juara Regional Maluku dan Nusa Tenggara Blog Competition oleh Government Public Relations. Berani-beraninya menyanggupi jadi auditor untuk sebuah project yang jauh dari bayangan dan dari kamar tidur yang nyaman. Situasi tersebut cukup ngeri-ngeri sedap. Belum pernah saya begitu takut tetapi juga penasaran, antusias diikuti rendah diri yang kalap. Lampung, selama delapan hari merubah sudut pandang saya hampir 75% tentang hidup. Di tahun ini juga, untuk pertama kalinya, saya berani mengirimkan karya saya ke media dan dimuat!

Tahun 2016 saya juga mengalami banyak kepiluan. Saya memang gemar menangis. Bukan hanya dalam situasi sedih atau terharu tetapi juga saat bahagia. Akan tetapi, menangis karena ditinggal pergi untuk selamanya oleh tokoh-tokoh yang menginspirasi hidup saya selama beberapa tahun ini, itu memilukan. Terguguh dan lama. Tidak pernah sekalipun saya meluangkan waktu untuk berpikir bahwa bumi dan manusia terus bertambah tua. Di suatu masa, kita harus menerima kenyataan bahwa jiwa dan pikiran memang tidak pernah mati namun raga pada hakekatnya tidak abadi. Kita harus siap menghadapi kehilangan demi kehilangan. Untuk Ama Petu, Om Boni dan Bapak Agustinus Prajitno, Hormat setinggi-tingginya!

Tahun 2016 saya juga ditinggal nikah oleh sahabat-sahabat terbaik saya. Hebat mereka, mampu mengambil keputusan serumit itu hahaha. Sementara saya masih berkubang, terjebak dalam kecemasan “Bagaimana saya dapat berbagi seluruh pikiran saya seumur hidup hanya dengan satu orang laki-laki saja? Berbagi tubuh saja, saya tak rela. Mana puas kalo cuma sama satu orang?” #Eh wkwkwkkw…

Pada tahun ini pula, saya merasakan dampak arus informasi yang begitu deras akibat kemajuan teknologi yang membabi buta. Segalanya jadi canggih termasuk manusianya. Banyak tontonan dan pengetahuan menarik yang menyenangkan tetapi juga peristiwa yang sulit dilupakan untuk beberapa tahun ke depan. Begitu lah dunia dan Indonesia sejak dulu. Yang selalu keren di sebelah sini sementara terpuruk di sebelah sana. Tidak ada yang betul-betul sempurna emang!

Tahun 2016 saya sapa dengan tahun emas bagi saya. A golden year. Sebab di tahun ini, saya memikul banyak berkat dan rejeki. Saya bepergian ke berbagai tempat dan bertemu macam-macam pribadi. Semua mereka adalah orang-orang HEBAT, PENTING dan MEMILIKI ANDIL bagi dunia yang mereka tinggali. Saya bangga bisa mengenal kalian semua. Tidak dapat saya sebutkan satu per satu, tetapi saya berharap ketika membaca ini, kalian tahu bahwa ANDA-KAMU-KAU-DIRIMU-SAMPEAN-ENGKO yang saya maksudkan!

BALI!

Jakarta-Soekarno Hatta-Lampung-Metro-Tulang Bawang-Raden Inten II

Benoa-Bima-Sape-Sumba Timur-Waingapu-Kambata Mapa Mbuhang-Lumbung-Kadahang-Sumba Tengah-Anakalang-Katikuloku-Sumba Barat-Waikabubak-Sumba Barat Daya-Kodi-Labuan Bajo-Watulangkas-Ruteng-Bajawa-Langa-Mataloko-Ende-Paupire-Detusoko-Nita-Ledalero-Maumere-Lokaria-Wairhubing-Magepanda.

SEMUANYA! Kalian pasti sudah mulai lupa tetapi jejak kalian seperti materai permanen yang basah dan lengket lalu mengering tak bisa luntur atau pun terangkat bahkan dikorek paksa sekalipun.

2016 adalah tahun yang luar biasa bagi saya yang kesadaran afektifnya sangat ngotot dan terjaga selama 24J/7H. Perlahan-lahan semuanya digenapi. Khususnya perihal “Melakukan apa yang sungguh-sungguh ingin saya lakukan.” (Bertemu banyak orang, menjalin relasi dan persahabatan//Tjipok basah sekali untuk Ibuk Semesta Ambara BegituSaja dan Tante George Yustina Liarian Eto, berbagi dan saling memberi dari yang sederhana sampai yang luar biasa. Menulis banyak cerita. Terlalu amat sangat banyak sekali. Mendapatkan beberapa pencapaian yang cukup membanggakan. Menghasilkan sejarah).

Lalu, hm “Menemukan laki-laki yang benar-benar ingin saya cintai” AHAI!

Kemarin, ketika sedang bingung hendak menulis apa untuk refleksi akhir tahun ini, (Sebagian orang mungkin merasa ini tidak penting dan sangat alay lebay TETAPI tidak bagi saya!) saya buka kembali postingan saya di Instagram sejak awal tahun. Foto-foto dan narasi yang membuat saya merasa betapa saya sangat diberkati, segalanya masih utuh tersimpan, lengkap, baik gambar maupun juga cerita serta kesan yang masih bisa saya rasakan ketika saya melihat dan membayangkannya.

***


Descartes bilang: Cogito Ergo Sum//Saya berpikir maka saya ada
Pramoedya bilang: Orang boleh pandai setinggi langit tetapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.
Pacar saya bilang: Hanya yang menang, yang meninggalkan jejak, Enu!
Dan saya bilang: Jika kamu berpikir dan menuliskannya, kamu akan meninggalkan jejak. Tentu dengan sendirinya kamu memberi pengaruh. :)

Hidup, sejatinya untuk mati tanpa alpa untuk memaknainya lalu meninggalkan jejakmu! Jejak saya! Jejak kita! Live Your Life! In this great future, you can’t forget your past, so write it down!

Epang Gawan, Terima Kasih banyak untuk semua yang sudah memberi dan berbagi dari kekurangan maupun juga kelebihannya (dan saya tidak pernah lupa hutang-hutang saya hihihi… tenang saja). Ama Pu Benjer, Jah Bless kita semua di Tahun yang Baru!

Resolusi tahun berikutnya? Hahaha hm.. Hajiar saja!

2017 dalam genggaman!

*Semoga ada golden-golden year selanjutnya


 Thankis buat Ge' untuk tangkapan keren ini ^^








Tentang; Joko Pinurbo



*Penyair Favorit Saya :D

Pertemuan saya dan Joko Pinurbo adalah sebuah kebetulan semata, saat itu saya belum teguh bahwa tidak ada yang kebetulan di dunia ini.

Hari itu, Sabtu. Entah tanggal berapa, di tahun 2012. Saya masih bekerja di sebuah Travel Korea yang berkantor di Duty Free Shopping (DFS) Mall Bali Galeria. Sabtu adalah akhir minggu yang berarti kita hanya bekerja setengah hari, yang artinya juga, ada waktu untuk berjalan-jalan sebentar mengunjungi toko buku di gedung sebelah.

Saya memasuki Gramedia Toko Buku, yang ternyata saat itu sedang cuci gudang sepertinya. Banyak buku-buku lama bertebaran di pintu masuk dengan label "Diskon besar-besaran"

Cukup lama saya berkeliling, mengitari buku-buku tersebut. Menggali bagian-bagian tertentu yang menumpuk terlalu tinggi, mencoba menemukan buku yang sekiranya menarik. Lalu, buku ini mencuat di antara keramaian. Saya terpaku pada judul buku ini. Lucu. Saya lihat nama penulisnya, hm asing. Belum pernah dengar. Saya buka beberapa halaman, detik itu juga saya jatuh cinta.



Akan tetapi _saya memang manusia yang agak tidak menyenangkan bagi diri sendiri jika urusan beli-membeli_ tidak saya ambil bukunya. Saya memutuskan pulang saja setelah sempat menelaah beberapa buku lagi. Sepanjang jalan, bait-bait puisi yang saya baca itu menghantui. Pun ketika sudah berada di dalam Sarbagita, lagu yang saya dengarkan dari headphone seakan berirama dengan bait-bait tersebut. Saya coba ingat sekali lagi namanya, Joko Pinurbo. Hm...

Hari Minggu berlalu. Saya beraktivitas dengan baik.

Hari Senin, kembali bekerja. Dalam perjalanan, saya berdiri di dalam Sarbagita karena tidak cukup tempat duduk, para penumpang berdesakan, dan lagi-lagi saya terkenang Joko Pinurbo. Saya memutuskan akan mencari tahu beliau saat tiba di meja kerja nanti, tentu saja melalui internet.

Tiba di Kantor, ini penemuan saya:

Menarik, beliau memiliki satu blog khusus untuk puisi-puisinya. Semuanya adalah puisi yang menggelitik. Pertama kali saya bersinggungan dengan puisi prosa se-luar biasa ini. Tekad saya akhirnya bulat, saya akan membeli buku ini saat pulang kerja.

Namun di tengah kesibukan, saya tiba-tiba menjadi cemas. Baru sekarang saya menjadi sangat cemas. Bagaimana jika bukunya sudah terjual sejak sabtu sore kemarin . Ketika saya mengurungkan niat saya membeli? Duh kenapa pula tidak saya sembunyikan saja dulu buku itu dibalik tumpukan buku lain.

Kemudian sebuah pesan mampir ke hape saya, dari teman saya, Lieke Ramopolii (yang lebih sering saya sapa Usi).
"Basez, nanti sore ke Gramed MBG yuk, saya mo beli My Stupid Boss yang baru. Lagi ada diskon gede juga katanya di sana."
Hohoho... tentu saja saya ringan jari membalas pesan singkat tersebut dengan "Oke"

Sore harinya kami bertemu di depan Gramedia Toko Buku. Setelah menemani Usi membeli MSB, kami bersama-sama membongkar-bangkir tumpukan buku yang dilelang tersebut. Buku yang saya cari itu lenyap, saya memutar beberapa kali untuk mencarinya. Tak jua berpapasan. Ah, apakah sudah laku? Saya terduduk. Lemas.

Untuk menyenangkan hati, saya mencoba mencari sasaran lain. Mungkin saya akan jatuh cinta kesekian kalinya di tempat ini, meskipun saya sendiri tidak yakin karena saya tidak semudah itu jatuh cinta pada karya orang lain #eh

Sebuah buku kumpulan cerpen Cecep Syamsul Hari "saya tahu, saya akan mati, di laut" berhasil menenangkan hati saya. Sedikit. Langsung saya angkut, namun saya masih saja galau. Saya pergi lagi ke tumpukan yang sama, tempat di mana sabtu kemarin saya menemukan buku tersebut. Di antara buku-buku sastra yang sudah cukup lawas. Lama saya di sana, menanti keajaiban, sebagaimana biasanya sebab saya tak mudah putus harapan. Saya melihat Usi Lieke masih sabar menanti sembari melihat-lihat beberapa buku. Dan yeah saya menemukannya, tepat di samping buku kumpulan cerpen Stefanny Irawan "Tidak Ada Kelinci di Bulan" yang akhirnya saya bawa pulang juga. Hahahaha....

Setelah hari itu, saya ganyang habis isi buku ini. Buku ini menemani saya ke banyak tempat, di banyak situasi, dua puisi saya yang terinspirasi dari puisi-puisi JokPin ada yang langsung saya tuliskan saja di buku ini. Hampir setiap hari saya memosting puisi-puisi beliau di halaman facebook saya. Dahulu sekali, saya memiliki postingan wajib setiap hari. Saya beri judul "Photo of The Day." Foto-foto bercerita yang saya temukan di Google, saya padupadankan dengan puisi-puisi Jokpin. Salah satunya yang ini:

Belakangan saya lebih sering memostingnya bersama foto-foto sendiri. Lebih afdol nampaknya hihihi.


***

Dua atau tiga tahun kemudian, baru saya ketahui bahwa Joko Pinurbo adala seorang Taurus yang hari lahirnya tepat sehari sebelum saya lahir. Beliau juga adalah seorang Mantan Seminari. Hahahaha, Saya memiliki irisan yang sangat hm kentara dengan sebutan SEMINARI. Sementara cita-cita Imam saya masih saja menyala. Wew, coba ada Seminari Perempuan! hah...

***

Beberapa hari sebelum Natal Tahun 2015, saya dikirimkan sebuah buku. Buku kumpulan puisi Joko Pinurbo yang terbit pertama kali, masih dengan cover cetakan pertama. Beserta tanda tangan beliau. Nyata-nyata!

Terima Kasih kepada Mario Ferdinandus Lawi, yang meskipun baik hati namun sampai saat ini tetap saja saya tidak bisa berhenti untuk tidak menyukai dirimu #eh hahahahaha....
Bonus pembatas buku yang adalah boarding pass KPG-MOF atas nama LAWI/MARIO, Mr, yang tulisannya mulai kabur. Wkwkwkwkw.....
Mario mengirimkannya karena ia tahu saya sangat gandrung pada Jokpin!



4Things about this package :1. Mengapa nama penerima dan pengirim ditulis semuanya di bagian depan amplop?! Dannn oh c'mon, kenapa nama penerimanya bukan yang di tempat sewajarnya,pengirimnya pasti berasa superior nih! 2. Teknik membungkus paket yang mengerikan. Untungnya saya terbiasa terima paket dengan isolasi full seluruh amplop. Su ke orang kirim bom kah apa! 3. Jagungnya macam su berumur dan berjamur, harus ada doa pelepasan 'rewos' sebelum dikonsumsi dan terjadi sesuatu!4. Ketemu sesuatu didalam buku yang diduga digunakan pengirim sebagai pembatas buku, ketika melakukan sebuah perjalanan ke kota yang tertera pada boarding pass. Semacam pamer skali ih!Hahahaha,,,, all of above things is just for fun. The best part is, I got Joko Pinurbo special edition with his signature was there from Mario F. Lawi. The Best Enemy in this " Semesta"For your information, he is really bad guy with some sweet sugar and red hot chili peppers!Merry Christmas,L.a.w.i!‪#‎christmastgift‬


***

Di hari Ulang Tahun beliau yang ke-54, hari ini, saya hanya ingin menyampaikan: Meskipun belum pernah bersua (saya harap kita segera bertemu, pak tua) saya selalu merasa JokPin adalah manusia Kampret pertama yang merubah selera berpuisi saya menjadi LEBIH KAMPRET (baca: aneh tetapi menyenangkan!)

Panjang Umur, Serta Mulia. Tak boleh lupa Bahagia \m/


Berikut, salah satu puisi saya yang mengotori buku beliau. Hahahaha....





Salam,
Maria Pankratia yang Wani(TA)urus



Membaca Kejanggalan demi Kejanggalan



(Catatan  kecil  tentang  cerpen  “Janggal”  karya  Maria  Pankratia)

-Sebelum melanjutkan membaca, saya ingin kalian mengetahui bahwa saya sangat berterima kasih dan menantikan hal-hal seperti ini sejak lama. Terima Kasih kepada dia yang dengan telaten membaca, membahas dan mengirimkan ini kepada saya. Salute!-



Ah yah, cerpennya dapat kalian baca pada postingan sebelumnya. Di Blog ini (^^)

Santarang  edisi  September  2015  seperti  biasa  kembali memuat  karya-karya  yang  menarik.  Tiga  cerpen  yang  berhasil  lolos  seleksi  dengan  bangga  dihadirkan  ke  hadapan  pembaca:  “Pengkhianat”  karya  Gusty  Fahik,  “Janggal”  karya  Maria  Pankratia,  dan  “Rumah  Kami”  hasil  alih  bahasa  Mario  F.  Lawi  terhadap  karya  pengarang  Argentina,  Julio  Cortazar.  Dalam  tulisan  ini,  saya  secara  khusus  berusaha  mengulas  “Janggal”  dengan  segenap  keterbatasan  saya  sebagai  pembaca.

“Janggal”  sebagian  besar  memuat  percakapan  panjang  antara  tokoh  pria  dan  wanita  perihal  pernikahan.  Tak  seperti  tokoh  pria  yang  masih  menganut  pandangan  yang  kurang  lebih  sama  dengan  orang  kebanyakan,  tokoh  wanita  malah  sebaliknya,  melihat  pernikahan  seturut  konsepnya  sendiri  yang  janggal:  menikah  jika  ingin  (bukan  jika  siap  seperti  pandangan  tokoh  pria)  dan  bebas  dari  ikatan  di  dalamnya.

“Janggal”  dibagi  dalam  dua  bagian,  memiliki  alur  yang  mengalir  maju  dan  latar  yang  samar-samar  tersirat.  Bagian  pertama  berisi  percakapan  antarkedua  tokoh  tentang  pandangan  perihal  pernikahan  dan  berujung  dengan  kesepakatan  mereka  untuk  menikah.  Percakapan  itu  berlangsung  di  lingkup  latar  yang  sempit:  suatu  senja  yang  dingin.  Latar  luasnya  sulit  ditebak,  mungkin  menjurus  pada  ‘negeri  dengan  kisah  1001  malam’(?)  yang  sedikit  disinggung  pada  bagian  kedua.  Narasi  yang  cukup  panjang  baru  ditemui  di  bagian  kedua,  perihal  kedua  tokoh  yang  pada  akhirnya  menikah.  Bagian  ini  juga  masih  melibatkan  percakapan  menjelang  akhir  cerita,  melanjutkan  pembicaraan  tentang  masalah  pernikahan  yang  sama.  Dari  sedikit  keterangan  tentang  busana  pernikahan  berupa  ‘ragi’  dan  ‘lawo’  (sarung  untuk  lelaki  dan  perempuan  Ende-Lio),  permasalahan  ‘belis  dan  bayaran  air  susu  ibu’,  dan  aksi  ‘mematung  di  depan  altar’,  dapat  diduga  bahwa  latar  pada  bagian  kedua  ini  adalah  suatu  tempat  di  Ende-Lio,  berikut  situasi  masyarakatnya  yang  memegang  teguh  adat  istiadat  dan  ajaran  Katolik.

Seperti  judulnya,  saya  memang  benar-benar  menemukan  hal  yang  janggal  sejak  awal  cerita.  Betapa  tokoh  wanita  dalam  cerpen ini  sungguh-sungguh  janggal,  punya  pemikiran  yang  tak  lazim  tentang  masalah  pernikahan:  “Sebenarnya,  aku  hanya  ingin  menemui  seorang  lelaki  yang  seturutku  memiliki  kualitas  mumpuni.  Kami  akan  melakukan  dengan  hasrat  yang  sadar  dan  penuh  cinta  tanpa  perlu  ada  ikatan.  Cukup  seperti  itu,  saat  itu  dan  kemudian  dia  boleh  pergi.”  Tokoh  wanita  ini  ingin  menjadi  orang  tua  tunggal,  hidup  bahagia  bersama  anaknya  tanpa  perlu  menaruh  peduli  pada  laki-laki  yang  kelak  menghamilinya.  Pemikiran  tersebut  terasa  semakin  tak  lazim  jika  dihubungkan  dengan  latar  cerpen  tersebut.  Bukankah  pemikiran  tokoh  wanita  benar-benar  janggal,  penuh  negasi  terhadap  paham  pernikahan  menurut  adat  istiadat  dan  ajaran  Katolik  yang  monogami  dan  tak  terceraikan?

Menariknya  bahwa  tokoh  pria  tetap  nekat  mengajak  lawan  bicaranya itu   untuk  menikah.  Tidak  menjadi  masalah  jika ia  berseberangan  dengannya  dalam  pandangan  perihal  pernikahan.  Tetapi  bukankah  mereka  sama-sama  saling  mencintai,  (‘telah  lama  bersama,  menyublim  dingin  menjadi  hangat  harapan’)?  Jika  bagian  pertama  dipenuhi  ‘aksi’  tokoh  wanita  dengan  pandangannya  yang  janggal,  maka  bagian  kedua  menjadi  ‘reaksi’  tokoh  pria  dalam  menanggapi  dan  melawan  isi  pemikiran  tokoh  wanita.  Ia  pulang,  menghadap  orang  tuanya,  mengurus  segenap  persiapan,  dan  melangsungkan  pernikahan  dengan  tokoh  wanita  beberapa  hari  berselang  yang  disambut  banyak  orang  dengan  rasa  kurang  percaya.  Tetapi  ia  sendiri  menaruh  percaya  dalam  dirinya,  bahwa  pemikiran  janggal  tokoh  wanita  dapat  dipatahkan  dengan  pemikiran  Pavlov:  “Bagaikan  anjing,  manusia  pun  dapat  dikondisikan  sesuai  dengan  mereka  yang  mengkondisikannya.”  Ia  kemudian  menerjemahkan  pemikiran  Pavlov  tersebut  dalam  kalimatnya  sendiri  kepada  tokoh  wanita  di  ranjang  besi  pada  malam  pertama  mereka:  “Mulailah  membiasakan  diri  memujaku  lebih  dari  apapun  kecuali  Tuhanmu,  mungkin  semua  impianmu  akan  beradaptasi  perlahan.”  Entah  konsep  pemikiran  tokoh  pria  atau  wanita  yang  akan  memenangkan  pertarungan  itu,  entah  mereka  akan tetap  bersama-sama  membangun  rumah  tangga  atau  tokoh  wanita  akan  meninggalkan  tokoh  pria  setelah  ia  mendapatkan  apa  yang  diinginkannya,  tak  dijelaskan  lebih  lanjut.  Cerita  tergesa  ditutup  dengan  akhir  yang  menggantung.  Pembaca  tinggal  memilih,  cerita  itu  akan  berlangsung  ke  arah  mana,  sesuai  tafsir  dan  versi  masing-masing.

            Pada  pembacaan  selanjutnya,  ditemukan  bahwa  kejanggalan  dalam  cerpen  ini  tidak  hanya  berhenti  pada  pemikiran  tokoh  wanita.  Kejanggalan  juga  nyata  dalam  bentuk  cerpen.  Lihat  saja  rangkaian  panjang  percakapan  antarkedua  tokoh.  Setiap  percakapan  diawali  dengan  keterangan  siapa  tokoh  yang  berbicara,  wanita  atau  pria.  Hal  ini  mirip  dengan  perwajahan  kebanyakan  teks  drama,  hanya  saja  dalam  cerpen  ini,  tanda  baca  yang  mengikuti  siapa  tokoh  yang  berbicara,  berupa  tanda  titik,  bukan  tanda  titik  dua.  Kejanggalan  yang  satu  ini  dapat  dilihat  sebagai  kelebihan  dari  cerpen  ini.  “Janggal”  berusaha  menghadirkan  bentuk  yang  berbeda.  Hanya  saja,  jika  bentuk  seperti  ini  tidak  dikembangkan  lebih  lanjut  dan  tetap  dipertahankan  untuk  percakapan  yang  lebih  panjang  lagi,  maka  pembaca  akan  cepat  terjebak  dalam  rasa  bosan.  Berbeda  dengan  drama,  meskipun  kadang  terasa  membosankan  dari  segi  teksnya,  tetapi  akan  berubah  menjadi  begitu  menarik  jika  telah  dipentaskan  di  atas  panggung,  sebab  usaha  aktor/aktris  dalam  mengolah  gesture,  mimik,  intonasi  suara  dan  sederet  keahlian  mereka,  benar-benar  mampu  menghidupkan  suasana  yang  tidak  terdapat  dalam  teks  drama.  Lain  masalahnya  dengan  cerpen  yang  hanya  selesai  dengan  pembacaan,  bukan  pementasan.  Pembaca  harus  membayangkan  sendiri  segala  hal  yang  ada  dalam  cerpen.  Karena  itu,  pembaca  sangat  membutuhkan  bantuan  penulis  untuk  memudahkannya  dalam  membayangkan  segala  hal  tersebut.  Dengan  demikian,  akan  menjadi  semakin  menarik  jika  di  antara  percakapan  panjang  antarkedua  tokoh  dalam  cerpen  ini,  disisipi  narasi-narasi  kecil,  entah  yang  menerangkan  emosi  para  tokoh  dalam  mempertahankan  pemikiran  masing-masing,  entah  aksi-aksi  lainnya  selain  minum  kopi  yang  menyelingi  percakapan,entah  alasan  mendasar  mengapa  pemikiran  tokoh  wanitamenjadi  begitu  janggal,  atau  entah  menjelaskan  latar  yang  masih  samar-samar  sepanjang  tubuh  cerpen.  Tentang  hal  ini  mungkin  dapat  dipelajarimelalui  cerpen  “Seribu  Kunang-Kunang  di  Langit  Manhattan”  karya  Umar  Kayam.

            Tak  sampai  di  situ.  Masih  terdapat  juga  kejanggalan  kecil  yang  tak  boleh  dianggap  sepeleh.  Pembacaan  terhadap  cerpen  ini  sedikit  diganggu  dengan  kehadiran  kata  ‘pria’,  ‘lelaki’,  dan  ‘laki-laki’.  Ketiga  kata  ini  tentu  menjelaskan  hal  yang  sama.  Akan  semakin  menarik  jika  penulis  konsisten  hanya  menggunakan  kata  ‘pria-wanita’  atau  ‘lelaki-perempuan’  saja  tanpa  mencampuradukkan  pasangan  kata  yang  tak  sepadan.

            Demikian  kejanggalan  demi  kejanggalan  yang  berhasil  saya  temukan  dalam  cerpen  “Janggal”  karya  Maria  Pankratia.  Barang  siapa  berhasil  menemukan  kejanggalan  yang  berbeda  dari  yang  sudah  dipaparkan  di  atas,  diharapkan  sesegara   mungkin  disampaikan  kepada  penulisnya.  Mohon  maaf  jika  ada  kata  yang  salah,  dan  saya  sangat  menggarapkan  ‘serangan  balik’  dari  penulis  “Janggal”  untuk  membongkar  segenap  kejanggalan  dalam  cerpen-cerpen  saya.  Sekian.  Salam  sastra.


(Afryantho  Keyn)