Tampilkan postingan dengan label OMK. Tampilkan semua postingan

PANITIA PELAKSANA PELATIHAN DASAR ORGANISASI DAN KEPEMIMPINAN (PDOK) OMK PAROKI ROH KUDUS KATEDRAL DENPASAR

I. Latar Belakang
Generasi muda, generasi penerus masa depan adalah realitas yang dapat diterima oleh semua pihak. Landasan pijak pernyataan ini terletak pada kenyataan bahwa kaum muda selalu penuh dengan semangat, kreasi dan idealisme serta visi dan misi ke depan. Di sisi lain, kaum muda merupakan generasi penentu dari sebuah perkembangan dan pertumbuhan peradaban Bangsa. Kenyataan ini tidak membebaskan kaum muda yang berkecimpung dalam kehidupan menggereja, dikarenakan kaum muda adalah Tulang Punggung Gereja.

Bertolak dari kenyataan ini, amatlah disayangkan jika kaum muda yang penuh semangat dan kreasi itu harus berkembang sendirian tanpa bimbingan. Tidak itu saja, adalah kekeliruan jika visi, misi dan idealisme yang dimiliki oleh kaum muda akhirnya harus berkembang ke arah yang salah karena diarahkan secara tidak benar. Pada sebuah kegiatan Training for Trainer (TFT) di Keuskupan Denpasar beberapa bulan yang lalu, terdapat sebuah materi menarik yaitu Analisa Tantangan dan Peluang OMK di Paroki masing-masing. Di Paroki Katedral Orang Muda masih mengalami krisis jati diri dan rasa enggan bergabung dalam sebuah wadah kebersamaan bahkan untuk kelompok organisasi seperti OMK yang samasekali tidak memiliki syarat tertentu untuk bergabung dan memberatkan anggota dengan berbagai macam tanggung jawab serta tidak mendatangkan penghasilan. Apakah karena tidak memberikan penghasilan maka banyak Orang Muda Katolik sekarang memutar haluan sehingga lebih sibuk dengan hal-hal duniawi? Salah satu langkah bijak yang terpikir sebagai Rencana Tindak Lanjut dari TFT tersebut dan juga merupakan Program Kerja Kepengurusan OMK PRKKD 2011 – 2013 adalah dengan mengadakan Program Pelatihan Dasar Organisasi dan Kepemimpinan OMK RPKKD (PDOK). Dimana kaum muda dibekali dengan keahlian dan kapabilitas yang memadai dalam sebuah sistem baik secara pribadi maupun kelompok.

Secara spesifik, OMK Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar termasuk dalam kaum muda yang masih dan harus membutuhkan banyak bimbingan, pelatihan dan arahan. Teristimewa dalam berorganisasi, masih ditemukan banyak kendala yang merupakan kesulitan bersama. Hal yang perlu mendapat perhatian juga adalah kesadaran bahwa organisasi OMK khususnya OMK Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar bukanlah milik orang perorangan. Sebaliknya, organisasi OMK adalah milik semua muda-mudi Katolik yang terhitung sebagai umat Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar. Pada titik ini, masalah kurangnya partisipasi dan kesadaran berorganisasi dalam lingkup gereja, lemahnya kaderisasi dan ketidaksiapan pribadi untuk memimpin, telah menjadi dilema bagi OMK Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar dalam berorganisasi.

Menanggapi masalah yang ada dalam organisasi OMK Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar ini, maka Pengurus melalui Panitia yang sudah dibentuk merasa perlu mengadakan suatu kegiatan pelatihan yang berkesinambungan untuk para kaum muda. Pada pelatihan tingkat dasar ini diharapkan ketahanan egoisme diri dapat diruntuhkan sekaligus dibentuklah karakter pribadi dan kelompok untuk beroganisasi. Dengan demikian, OMK Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar dapat selangkah lebih maju yaitu memiliki tipikal dan karakter berorganisasi, selalu mengkaderkan anggota-anggotanya dan pada tingkat yang lebih tinggi, akan membangun komitmen berorganisasi.


II. Tema
Dasar Pemikiran di atas mendorong panitia pelaksana untuk merumuskan arah pelatihan dasar organisasi dan kepemimpinan ini dengan tema: “Kaderisasi Kepempimpinan OMK Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar Dalam Berorganisasi”. Dengan tema ini, kegiatan pelatihan tersebut diarahkan untuk membentuk karakter pribadi dan kelompok dalam berorganisasi dan pada akhirnya dapat menciptakan kaum muda yang mampu berorganisasi dan merasa memiliki organisasi itu, yakni OMK.

III. Tujuan Kegiatan
1. Membentuk karakter pribadi dan kelompok dalam organisasi kaum muda Katolik.
2. Mempelajari disiplin kerja dan waktu dalam sebuah sistem organisasi kaum muda Katolik .
3. Menambah pengetahuan Omk dalam manajemen keuangan dan teknik penggalian dana pada setiap kegiatan.
4. Sebagai proses kaderisasi dalam organisasi kaum muda Katolik.
5. Membentuk karakter Pemimpin pada setiap pribadi kaum muda Katolik.

IV. Bentuk Kegiatan
1. Seminar
2. Diskusi
3. Outbound
4. Renungan

V. Peserta Kegiatan
- Kaum Muda Katolik khususnya OMK yang tersebar di wilayah dalam lingkungan Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar.

VI. Pelaksana Kegiatan
- OMK Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar

VII. Waktu Pelaksanaan Kegiatan
- Tanggal : 11 – 13 Oktober 2013

VIII. Tempat Pelaksanaan Kegiatan :
- The Sila’s Agrotourism, Bedugul

IX. Sumber Dana
- Diambil dari Dewan Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar
- Kas OMK Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar

X. Panitia Pelaksana (-)

XI. Anggaran Dana (-)

XII. Penutup
Kegiatan pelatihan dasar organisasi dan kepemimpinan ini, dalam target jangka pendek akan menjawab dilema dalam diri OMK Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar. Di sisi lain untuk suatu tujuan jangka panjang, pelatihan ini menjadi semacam langkah awal dalam mempersiapkan para Kaum Muda menjadi seorang Pemimpin di kemudian hari. Pada akhirnya, kegiatan ini diharapkan dapat menjawab arah Pastoral Gereja Lokal yaitu menuju Gereja yang transformatif dan memancarkan wajah Kristus melalui semangat Orang Muda.
Dalam proses mencapai ke arah ini, tidaklah keliru jika Panitia tetap mengharapkan segala usul dan saran yang membangun demi keberhasilan kegiatan ini, terutama demi lahirnya Pemimpin-pemimpin Muda bagi Organisasi Gereja.







Katedral FC.

Tidak sedikit orang yang mengenal dan mengagumi sekelompok anak muda yang tergabung dalam Katedral FC., team sepak bola OMK PRKKD yang dahulunya terbentuk karena kesamaan hobi dan tingginya intensitas berkumpul sehingga terbersit ide untuk membuat wadah baru demi menuangkan semangat serta kreativitas dalam mempermainkan si kulit bundar di lapangan hijau. Sebelumnya OMK PRKKD memiliki program kerja Kompetisi Futsal antar wilayah yang selalu diadakan setiap tahun menjelang hari raya natal. Melalui kegiatan ini maka terjaringlah orang-orang muda berkemampuan mumpuni dalam bidang sepak bola bahkan ada yang sudah memiliki prestasi seperti Rexand dan Vital yang sudah sering berkecimpung di dunia sepak bola baik tingkat Propinsi maupun Nasional. Rexand yang adalah salah satu squad andalan PERSEDEN U-21 juga merupakan Koordinator Sie Minat dan Bakat khusus Olahraga Sepak Bola di kepengurusan OMK PRKKD. Sementara Vital Ximenes yang juga striker handal untuk Team Sepak Bola Katedral adalah salah satu Pemain Pra Pon Bali untuk Futsal tingkat Nasional tahun 2012 kemarin. Selain itu ada juga pemain muda berprestasi lainnya yang sudah malang melintang dalam olahraga bergengsi ini serta ikut berpartisipasi dalam memajukan sepak bola OMK PRKKD seperti Vian, Apri, Yunus, Mario, Doni, Harvy, Polce, dibantu kawan-kawan lain yang juga selalu hadir memperkuat team Katedral yaitu Matt, Nando, Fame, Babe, Acen, Iwan, Ego, Stef, John, dan lainnya yang senantiasa mendukung setiap sepak terjang Katedral FC. Team ini dulunya dilatih oleh Kakak Sales Djema, dibantu Mas Bagus Chandra Gunawan selaku Manager team. Saat ini posisi pelatih sementara tidak ada dan Mas Bagus terkadang dibantu oleh K’Micky atau kawan-kawan lainnya yang memiliki perhatian sangat besar untuk perkembangan Sepak Bola OMK PRKKD. Daftar Prestasi yang sudah berhasil diraih oleh Team Sepak Bola Katedral, adalah sebagai berikut :

Turnamen Futsal St. Albert Cup KMK UNUD : JUARA I TAHUN 2009, 2011, 2012
Turnamen Sepak Bola OMK Se-Bali 2010 JUARA III
Turnamen Sepak Bola FX CUP I 2010 JUARA III
Turnamen Sepak Bola FX CUP II 2012 JUARA I
Turnamen Futsal GKI CUP : JUARA I TAHUN 2012, 2013
Turnamen Futsal TIDAR CUP 2013 JUARA I
Turnamen Futsal St. Peter Cup Monang Maning 2013 JUARA III


Kesuksesan ini tidak lantas membuat kawan-kawan OMK PRKKD tinggi hati, melainkan terus berusaha melatih kreativitas dan mengadakan kegiatan bermanfaat demi mengembangkan bakat dan kemampuan kawan-kawan salah satunya dengan menyediakan wadah kebersamaan serta memupuk rasa sportifitas melalui Kompetisi Futsal Se-Bali yang rencananya akan dilaksanakan pada bulan November 2013 di Denpasar. Melalui media ini juga kami secara resmi memohon dukungan dan kerjasama dari berbagai pihak baik moril maupun materil agar kegiatan ini dapat berjalan lancar dan sukses. Untuk informasi selanjutnya mengenai kegiatan ini bisa menghubungi : Ketua Panitia Saudara John Menori (082145927859), atau HUMAS Saudari Maria Pankratia (08970849263). Maju Terus Sepak Bola Indonesia. Salam :)

OMK PRKKD ; LAPORAN KEGIATAN 2013

I. PENDIDIKANPOLITIK OMK SE-REGIO NUSRA
Pada tanggal 7 – 10 Mei 2013 telah berlangsungKegiatan Training Of Trainer ; Pendidikan Politik untuk Pendamping OMK Se-RegioNusra bertempat di Aula Seruni Weetabula – Keuskupan Weetabula Sumba Barat Dayadengan tema “Berikan kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada kaisar(Matius 22:21)” kegiatan ini diikuti oleh Utusan Komisi Kepemudaan KeuskupanSe-Regio Nusra dengan jumlah peserta 41 orang dan di fasilitasi oleh 3 orangteam Komisi Kepemudaan KWI.

Dalam kegiatan ini Peserta dibekali dengan berbagaimateri yang berhubungan dengan Politik secara umum maupun Politik Indonesiakhususnya dan bagaimana Orang Muda Katolik harus mulai berani terjun langsungdalam Politik Praktis. Semua materi itu pada akhirnya menyadarkan para pesertabahwa fenomena yang dihadapi di keuskupan se-regio nusra adalah rendahnyapemahaman politik di kalangan OMK se-regio nusra, yang berdampak pada minimnyapartisipasi OMK dalam kehidupan sosial politik.
Peserta pertemuan menyadari bahwa Politik merupakanpanggilan bagi semua orang katolik termasuk OMK. Dan bila politik dilakukandengan benar akan memberikan dampak kepada kesejahteraan bagi semua orangsesuai dengan Ajaran Sosial Gereja (ASG).

Mengingat pentingnya hal tersebut maka peserta TOTmerekomendasikan agar Perlu dilakukan Pendidikan Politik Dan Kaderisasi YangTerencana, Berjenjang Dan Berkelanjutan Bagi OMK. Para peserta juga menghimbauagar gereja se-regio nusra berperan aktif dalam mendampingi OMK demi kemajuanpemahaman politik OMK dan pendampingan bagi mereka yang terlibat aktif dalampolitik praktis di wilayah regio Nusra. Maria Pankratia~Peserta Perwakilan OMKKeuskupan Denpasar

II. PELATIHAN BAGI PARA PENDAMPING OMK SE-BALI

Pada tanggal 12 – 14 Juli 2013 juga telahberlangsung Kegiatan Training For Trainers ; Pelatihan Bagi Para Pendamping OMKSe-Keuskupan Denpasar (Khusus Pulau Bali) bertempat di Wisma Keuskupan Denpasardengan tema “Pendamping OMK Sahabat Seperjalanan OMK dalam Memancarkan WajahKristus” kegiatan ini diikuti oleh Utusan setiap Paroki yang terdiri dariPembina maupun Pengurus OMK baik dari Dekenat Bali Barat maupun Dekenat BaliTimur.

Selama proses pelatihan ini, Peserta diajak memahamidan menganalisa Tantangan dan Kekuatan serta Peluang yang dimiliki OMK sebagaisebuah Komunitas. Peserta dibagikan kedalam beberapa kelompok kemudian salingmembagikan pengalaman selama menjadi Pembina maupun Pengurus di Parokimasing-masing. Pelatihan ini memberikan manfaat yang luar biasa karena setiappeserta pada akhirnya menemukan masalah yang dihadapi baik dari OMK secarapribadi maupun OMK secara komunitas. Peserta di ajak memikirkan solusi danrencana tindak lanjut sebagai langkah konkrit kedepannya.

Paroki Katedral sendiri mengutus tiga orang Pesertayaitu Bapak Thomas Bili selaku Sie Kepemudaan DPP Paroki Roh Kudus KatedralDenpasar, Maria Pankratia Mete Seda selaku Wakil Ketua OMK PRKKD dan AgustineBernadine Riberu selaku Sekretaris OMK PRKKD. Kegiatan ini di fasilitasi olehKWI bekerjasama dengan Komisi Kepemudaan Keuskupan Denpasar. Diharapkankegiatan seperti ini dapat dilakukan sesering mungkin demi menunjang kemajuanOMK sehingga menjadi lebih Tangguh,Tanggap dan Terlibat dalam memancarkan wajahKristus. Salam Semangat OMK!

III. Pertemuan Pembina OMK Se-KeuskupanDenpasar oleh Ditjen Bimas Katolik Kementrian Agama Republik Indonesia diMataram

REKOMENDASI PERTEMUAN PEMBINA ORANG MUDA KATOLIKKEUSKUPAN DENPASAR TANGGAL 15 - 18 JULI 2013 DI MATARAM

Setelahmengikuti dan mencermati seluruh proses Pertemuan Pembina Orang Muda KatolikKeuskupan Denpasar di Mataram dari tanggal 15 sampai dengan 18 Juli 2013 dengantema “Dengan Pertemuan Pembinaan Para Pembina OMK, Kita Tingkatkan Peran SertaOrang Muda Katolik Bagi Gereja dan Masyarakat”, kami, peserta pertemuan,menemukan garis-garis besar semangat karya pastoral Gereja, peluang dantantangan pembinaan Orang Muda Katolik, dengan ini kami menyampaikan beberaparekomendasi untuk menjadi perhatian berbagai pihak terkait, khususnyaDirektorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik, yaitu:

1. ArahKarya Pastoral Pembinaan Orang Muda Katolik :
- PembinaanOrang Muda Katolik merupakan salah satu langkah strategis untuk menyiapkangenerasi penentudan penerus Gereja Katolik, bangsa dan Negara di masa sekarangdan pada masa yang akan datang. Oleh sebab itu, orang muda Katolik hendaknyadisiapkan untuk memahami fungsi dan peran kerasulan awam baik dalam kehidupanmenggereja maupun kehidupan bermasyarakat, bangsa dan Negara demi mewujudkanOrang Muda Katolik yang 100% Katolik dan 100% Indonesia. Untuk itu, diperlukanpembinaan Pembina Orang Muda Katolik berupa pelaksanaan kegiatan, pemberian bantuanpelaksanaan kegiatan dan pemberian bantuan sarana pendukung peningkatanpemahaman tugas pastoral Gereja, agar memahami dengan sungguh-sungguh arah umumkarya pastoral Gereja dan arah karya pastoral pembinaan Orang Muda Katolik.
- Perlupenyusunan materi-materi pokok arah karya pastoral pembinaan Orang Muda Katolikseperti modul/kurikulum pembinaan OrangMuda Katolik sebagai acuan bersama dalam pelaksanaan pembinaan Orang MudaKatolik.
- PembinaanOrang Muda Katolik hendaknya dilaksanakan secara sistematis, kontinyu, terpadudan berkesinambungan dengan memperhatikan tingkatan usia Orang Muda Katolik.
2. Managemen Pengelolaan Pembinaan OrangMuda Katolik:
Diperlukanpedoman tata kelola (Juklak dan Juknis) pembinaan Orang Muda Katolik yang dapatdijadikan pegangan bagi setiap Pembina Orang Muda Katolik agar pembinaan OrangMuda Katolik dapat terlaksana secara sistematis, terus-menerus,berkesinambungan dan tepat sasaran dan tepat guna.

3. Kemitraan Pemerintah dengan Gereja
Kerjasama dan koordinasi yang baik antara pemerintah dalam hal ini DirektoratJenderal Bimbingan Masyarakat Katolik Kementerian Agama RI dengan Gerejakhususnya dalam bidang karya pastoral Orang Muda Katolik yang sudah terjalinselama ini dapat diteruskan dan ditingkatkan baik kuantitas maupun kualitasnyadi masa-masa yang akan datang.

Demikianlahrekomendasi ini dibuat untuk menjadi bahan pengambilan kebijakan DirektoratJenderal Bimbingan Masyarakat Katolik.


IV. Bali Summer Camp
Satulagi acara menarik yg kami ikuti adalah 'Bali Summer Camp' (BSC). BSC adalahsuatu kegiatan camping rohani yang diselenggarakan oleh Badan PelayananKeuskupan Pembaruan Karismatik Katolik di Bedugul pada tanggal 31 Juni - 2 Meiyang lalu. Acara ini juga diikuti oleh rekan OMK dari berbagai paroki di KesukupanDenpasar. OMK PRKKD mengirim 6 perwakilannya untuk berpartisipasi. Ini adalahyang ke-3 kalinya BSC diselenggarakan dengan mengusung tema ' Agent of Change'.Sesuai dengan tema yang diangkat, jelas sekali acara ini bertujuan untukmemotivasi para peserta untuk menjadi Agen Perubahan. Melalui sharing dandiskusi, serta games yg menarik dan sangat 'anak muda' para peserta belajaruntuk saling berbagi,saling mengenal satu sama lain dan bersyukur untuk segalayg kita punya. Untuk semakin memahami bagaimana hubungan kita dengan Tuhan,Keluarga, dan Teman. Ada juga sharing pengalaman iman yg sangat inspiratif dariKak Leonardus Kamilis, seorang anak muda yg sudah berhasil menjadi 'AgenPerubahan' untuk dirinya sendiri dan orang2 disekitarnya melalui pertolonganYesus Kristus. Melalui acara ini, kami menjadi termotivasi untuk bisa membawaperubahan di lingkungan kami, terutama untuk gereja. Semoga apa yg kamidapatkan dari acara tersebut bisa kami aplikasikan di kehidupan menggereja dansemakin tangguh,tanggap,terlibat.

V. EKARISTI KAUM MUDA DAN MALAM PENTAS SENI 17 AGUSTUS 2013
Dalam semarak HUT NKRI ke-68 telah diselenggarakan Ekaristi Kaum Muda dan Pentas Seni Kemerdekaan untuk OMK Sekota Denpasar oleh OMK FX. KUTA. Acara yang dilangsungka pada Malam Minggu 17 Agustus 2013 di Pelataran Parkir Gereja FX Kuta ini berlangsung meriah, dihadiri beberapa Paroki antara lain OMK MBSB NUSADUA, OMK DON BOSCO BABAKAN, OMK ST.YOSEP KEPUNDUNG, OMK PRKKD dan OMK FX.KUTA selaku tuan rumah. Pada tahun berikutnya diharapkan kegiatan seperti ini bisa berlangsung kembali dan melibatkan lebih banyak OMK dari Paroki lainnya. Semangat OMK Keuskupan Denpasar Tangguh, Tanggap, Terlibat \m/

Orang Baik Berakhir di Bulan Baik

31 Mei 2013 : Subuh itu saya nyenyak sekali, sampai akhirnya hape yang selalu stabil disamping saya bergetar dan menampilkan nomor baru di layar, hm.. siapa lagi orang iseng nih. Tapi naluri saya menyuruh untuk menerima saja panggilan tersebut. Dan suara lelah Kak Salesh dari seberang tiba-tiba memenuhi lubang telinga saya. Detik berikutnya saya terduduk lemas. Sesenggukan.

Sampai detik ini, saya percaya Kak Yeris sudah di surga. Mengenal orang ini sekian tahun, tidak ada cacat cela sedikitpun yang saya temukan baik dari sikap, perbuatan, karakteristik, maupun fisik. Lelaki hitam manis dengan wajah dan senyuman yang selalu manis serta sikap yang senantiasa rendah hati. Tak banyak bicara kecuali koleksi ketawa dan mungkin karena hal ini juga kita selalu menaruh hormat kepada Beliau. Kepedulian dan kasihnya tak pernah setengah-setengah (kaya Iklan Kopi yah, hehe) kepada orang-orang terdekatnya, hal ini yang membuat kawan-kawan selalu membahas dan merindukan Beliau ditengah obrolan maupun kegiatan Orang Muda Katolik khususnya di Katedral Denpasar. Tak ada posisi penting yang pernah beliau jalankan di OMK PRKKD, tak ada peristiwa mahadahsyat yang menimbulkan kesan tak terlupakan namun sosok Kak Yeris sudah melekat, erat, menyatu dan meninggalkan duka yang mendalam ketika akhirnya Beliau harus mendahului kita semua menuju Bapa di Surga. Yang tidak pernah bisa saya lupakan, beliau selalu menyelipkan pesan penting di setiap comment Facebooknya : Basez, tetap semangat yah menggerakan kawan-kawan dan adik-adik OMK di Denpasar. Apapun tantangan dan masalah pasti ada penyelesaian dan harus selesaikan dengan cara yang baik. Tuhan memberkati.

Ah yah, saya temukan Inbox terakhirnya berikut ini :
• Conversation started April 3
3:27pm
Oi Daniel : basis,ni kak yeris..
kalo ada info2 tentang berita duka dr keluarga tmn2 omk,tlg sy di info kan jg..jgn hanya tmn yg laen aja yg di info,jgn krn kt sdh berkeluarga trus dilupakan..sy pernah jd bagian dr omk ktdrl dps..trimakasi
6:19pm
Maria Pankratia : Waduh kakak, saya tidak punya kakak punya nomor lagi (hape yg lama hilang beserta nomornya) dan kebetulan info kematian Bapak Matius kemarin saya di info sehari sebelum penguburan jadi mendadak semuanya. maaf kak. minta no hape dl.
• April 4
6:56am
Oi Daniel : 081 338 464 850. kalo ada berita2 penting ttg tmn2 tlg di infokan ya..makasi basis
• April 4
5:39pm
Maria Pankratia : ok kak...

Kenapa selalu orang baik yang cepat mendahului kita menemui Bapa di Surga? Apakah supaya mereka lebih fokus dan berkonsentrasi mendoakan kita orang-orang yang tidak baik di bumi ini (@.@) #Kak Yeris,kenapa harus Kakak?! (T.T)

Untuk salah satu Orang Sumba Baik Hati dari Sekian yang saya kenal, saya Persembahkan ini. Rest In peace Kakaks (T.T)

Foto ini saya Capture waktu beliau bertugas sebagai Sie Properti Kasar Kepanitiaan TABLO OMK PRKKD 2010 *Basez, kamu dokumentasi tuh coba bawa camera kah supaya foto kita lagi kerja. Kasihan Iwan mau narsis tidak bisa. hahahaha.

Membahana di Borneo #OMK \m/

Part IV. Gawai Padi dan Nyora

22 Oktober 2012
Pukul 6 Pagi di Beduai sudah terang benderang, Vera mengajak saya berbelanja di seberang jembatan yang termasuk dalam wilayah Muara Illai. Ada sebuah warung yang menjual kebutuhan seperti Sembako dll. Jika di lihat-lihat Beduai sudah lumayan maju, tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya oleh kawan-kawan yang sudah paranoid karena keseringan nonton Ethnic Runaway di salah satu stasiun televise nasional. Bapak pemilik warung sangat ramah dan mengajak saya bercerita tentang Pulau Bali. Di Muara Illai ini ada seorang Polisi yang berasal dari Karangasem, namanya Pak Made. Wahhh….. kebetulan lagi saudara? :)
Kelar belanja, kami kembali ke rumah untuk bersiap ke sungai. Mandi pagi. Sungai surut pagi ini, jadi kami harus berjalan agak lebih ke dalam untuk berendam. Hutan terlihat hijau segar dan pantulan sinar matahari menembusi dedaunan serta ranting yang mulai mengering. Saya suka pagi! Ada seorang gadis Tanjung Ungan yang sedang mencuci sendirian. Kami pun bergabung bersama dia dan mulai mandi. Selesai mandi kami kembali ke Rumah untuk Sarapan pagi dan menunggu jemputan menuju Gereja. Sepertinya saya telat lagi hari ini. Karena motor yang tersedia cuma satu, kami akhirnya memutuskan boncengan bertiga. Tidak baik. Hahahaha, sampai kemudian Pak Made yang Polisi itu lewat dan menawarkan tumpangan. Dengan senang hati, pak. Di atas motor, kami ngobrol lumayan banyak baik tentang Bali maupun Beduai. Bali dan Beduai. Diawali huruf B dan diakhiri huruf I. ah saya lebay. Hahahaha…
Tiba di Gereja acara Wawanrasa telah dimulai oleh Romo Gaspar. Wawanrasa ini bertujuan memperkenalkan kepada peserta IYD Keuskupan Denpasar bagaimana Agama Katolik berkembang di Pulau Kalimantan dan berintulkurasi dengan kebudayaan Dayak, khususnya Dayak Golik. Dayak Golik berasal dari Sungkung (sekarang masuk wilayah kecamatan Entikong bagian dalam, yang berbatasan langsung dengan serawak Malaysia). Dahulu kala Bangsa Portugis saat pertama kali menginjakan kaki di Kalimantan percaya bahwa Tanah Kalimantan memang telah menjadi tanah pilihan Tuhan dan akan menjadi suku bangsa yang menganut Agama Kristen sepenuhnya karena beberapa Tradisi, Adat Istiadat yang begitu persis dengan Tata cara orang Katolik. Salah satu yang mencolok adalah Tanda salib yang menjadi tanda kemenangan, sejak jaman dahulu para dukun di Kalimantan selalu menggunakan tanda seperti tanda salib ini sebelum mengobati orang yang sakit. Lalu ada kebiasaan menyembuhkan orang sakit dengan memingitnya dalam rumah selama tiga hari tiga malam dengan meletakan daun sabang di depan pintu sebagai symbol bahwa rumah tersebut tidak bisa menerima tamu dalam waktu tiga hari kedepan, sampai tiga hari kemudian orang yang sakit tersebut sehat kembali. Mengingatkan kita akan peristiwa dalam Kitab Suci saat Bangsa Israel akan melarikan diri dari Mesir dan masih banyak hal lain yang menunjukkan keterkaitan antara Agama Katolik dan Tradisi suku Dayak itu sendiri, akan saya tuliskan pada postingan berikutnya (^^)
Siang ini kami semua telah dijanjikan untuk berjalan-jalan ke ladang, mengikuti Tradisi Gawai Anak Padi atau Mendoakan ladang yang baru saja di buka dan di Tanami. Saya patut mengacungkan jempol untuk Masyarakat Kalimantan, karena mereka meletakkan Tuhan begitu tinggi dalam setiap aktivitas dan kerja keras mereka. Di tempat lain sekalipun yang begitu mayoritas, belum tentu masyarakatnya akan melakukan hal seperti ini. Karena daerah yang akan melakukan Gawai Anak Padi pada hari ini hanya Pemodis dan Muara Illai, maka kami dibagi dalam kedua kelompok. Kemudian kedua kelompok itu masing-masing akan di pecah lagi sesuai jumlah ladang yang akan di kunjungi. Satu kelompok akan mendatangi empat sampai tujuh ladang dan letaknya saling berjauhan. Itu artinya kami akan masuk keluar hutan, menyebrangi sungai, melewati hutan karet dan tanaman jarak, rerumputan yang diselingi kelapa sawit serta wangi durian menusuk. Pengalaman ini selalu saya temukan kembali dalam mimpi-mimpi saya semenjak saya kembali dari Beduai. Kicau burungnya yang berbeda, nama dan bentuk buah yang beraneka serta panasnya yang luar biasa menyengat. Gelap hutan yang beradu desiran angin dan percikan air sungai dingin menyegarkan. Betapa Kayanya Indonesia, di hadiahkan Tuhan cuma-cuma. Selama perjalanan ini kami di jamu oleh Tuan Ladang dengan berbagai macam makanan dan yang pasti Tuak tak ketinggalan. Saya begitu bersemangat dan kalap. Hahahaha. Selesai bergawai padi, Kami dikumpulkan di Balai Adat . Kelompok kami melewati empat ladang saja karena letaknya yang sangat berjauhan sehingga waktu seharian tidak cukup. Disana telah menanti Nyora Mini, alias makan bersama dengan segenap makanan rumah yang telah disediakan oleh Masyarakat setempat. Silahkan memilih, ada ayam goreng, opor ayam, ayam bakar, sayuran, jajanan bermacam-macam, tetapi kenapa saya lebih memilih menghabiskan tuak sampai sempoyongan. Serius, saya kekenyangan dan pening. Kami bergembira, menari dan tertawa hingga waktu menjelang sore. Kami harus ke gereja, karena pukul 5 sebentar lagi tiba. Misa penutup dan Maxi Nyora akan berlangsung malam ini karena besok kami akan bertolak ke Sanggau. Seperti ada sesuatu yang mengiris dada saat itu, jika saja saya bisa lebih lama disini. Tidak lama waktu istirahat yang saya miliki setibanya di rumah, kami langsung ke Sungai dan mandi lalu berangkat ke Gereja. Kepala saya sakit sekali.
Gereja Salib Suci Beduai, senja itu ramai total. Seluruh umat sepertinya berkumpul disini. Misa penutup dipimpin oleh Romo Patris selaku pastor paroki beserta konselebran Rm. Eman, Rm. Robert, Rm. Yomi dan Rm. Gaspar yang terlihat oleng dan ngantuk diatas altar. Hahahaha… ah ini tidak akan terulang. Misa berlangsung khidmat dan lagi-lagi Emon dan kawan-kawan mempersembahkan suguhan nyanyian, tarian dan musik yang begitu kreativ dan menyengat telinga. Saya tidak peduli seberapa banyak mata memandang ketika saya berlari dan memilih berdiri tepat di hadapan para pemain musik demi menyaksikan perpaduan yang menggetarkan ini. Drum, simbal, bambu, Gong, …… dan Lelaki Dayak yang sedang membawa Mandau melompat gemulai menghunjukan persembahan kedepan altar. Mata ini, telinga ini akan menjadi lebih peka saat kembali nanti.
Selepas misa, kami semua berkumpul di Aula Paroki SSB. Kami akan Mengikuti NYORA. Tradisi Makan bersama masyarakat Beduai. Tidak ada prasmanan ………………………..(ambil dari FB). Pada malam ini juga kami mempersembahkan Tarian dan Lagu Janger yang sudah kami siapkan sejak sebulan lalu untuk Teman-teman OMK dan Masyarakat Beduai. Riuh tepuk tangan dan sorak gembira mereka adalah apreasiasi yang melegahkan yang dibalas ucapan Terima Kasih kami karena telah menerima, melayani dan mau mengenang kami di Beduai. Malam panjang itu serasa tak ingin di akhiri. Saling memberikan kenang-kenangan, souvenir, dan kesan pesan yang disertai air mata ketidakikhlasan bahwasannya kami sungguh hanya memiliki dua hari berharga di tempat ini dengan segala cerita dan peristiwa menyenangkan tak terlupakan. Malam itu saya terduduk di toilet rumah dengan perasaan kacau balau. Bukan karena ingin membuang hajat tetapi saya terduduk karena pening kepala tak lekas pergi dan tanpa saya sadari saya menangis. Menangisi waktu, yang kadang leluasa memberi segalanya terjadi kemudian mengambilnya dengan sigap tepat ketika semuanya baru saja di mulai. Saya akan merindukan tempat ini sambil bersamaan dengan itu membencinya karena tidak semudah yang saya bayangkan akan kembali lagi ke Beduai.

Membahana di Borneo #OMK \m/

PART III. Welcome to BEDUAI

21 Oktober 2012
Pagi sendu di Batang Tarang, belum banyak aktivitas terjadi. Mario sempat merekam moment saat kawan-kawan masih terbuai mimpi karena kelelahan. Ada yang mulai terjaga dan terburu-buru mencari kamar kecil. Dan saya, termenung menatap sejurus pada langit dan alam sekitarnya. Masih mendung dan lembab, rerumputan segar hijau. Pastor paroki datang dan menyarankan kami untuk membersihkan diri karena sarapan pagi akan disiapkan. Dibelakang sana ada sungai jika kalian ingin mandi. Waow, SUNGAI! Hm… tapi akibat hujan semalam, sungai tersebut Nampak sangat kecokelatan serupa lumpur, selera berendam saya pun hilang apalagi semua peralatan dan perlengkapan saya masih berada di bagasi Damri yang mogok. Saya pun lebih memilih menjelajahi tepian sungai yang juga ditanami jagung. Dekat dengan sungai tersebut terdapat sebuah Gua Maria yang sedikit tidak terurus. Saat itu saya pergi bersama Galih (OMK Mataram), kami berdiam di Gua kurang lebih sangat lama (hahahaha…) tentu saja untuk menyapa dan berngobrol ria dengan Ibunda Maria Tercinta. Dan kesimpulan akhirnya, Kami tidak jadi mandi melainkan cuci muka serta menyikat gigi dengan Aqua saja lalu bergabung bersama kawan-kawan dari Purwekerto untuk Sarapan pagi. Dan sejak semalam saya tidak menemukan cabe atau sambal disini. Ada apa yah???? Makanan terasa dua kali lebih manis ditambah rupa saya yang memang sudah aduhaii belum mandi seharian. Huahahahha…
Khabar baik datang bersama dengan kehadiran Wina, Damri pengganti yang akan membawa kami ke Beduai sudah tiba. Kami boleh mengambil bagasi masing-masing dan menaiki Damri penyelamat tersebut. Semua siap, anggota lengkap, doa pengantar perjalanan sudah terungkap dari Rm. Eman sebagai pemimpin dan kami pun kepakan sayap alias terbang melaju menuju Beduai melewati ribuan batang-batang pohon kelapa sawit, tanah rawa, ladang yang dibakar sebelumnya untuk dipakai menanam lagi dan banyak pemandangan lainnya.

Fenomena Kursi Plastik
Ini adalah lelucon paling menarik selama perjalanan menuju Beduai. Terdapat beberapa kawan yang berdesak-desakan dan harus berdiri dalam Damri karena kekurangan tempat duduk termasuk saya. Sekitar 30 menit kami bertahan dan masih berusaha bertahan ketika tiba-tiba pak supir berhenti dan bertanya : berapa orang yang berdiri. Yang pasti ada 4 orang lah, karena kapasitas Damri ini untuk 40 orang penumpang dewasa. Kami berhenti di sebuah RM. Padang (saya lupa di daerah mana tepatnya) kemudian sang kernet turun dan mengambil susunan kursi plastik berjumlah 4 buah kemudian dinaikan ke atas Damri. Diletakanlah kursi tersebut pada lorong antara kursi penumpang dan luar biasa ukuran lorong tersebut cukup untuk empat kursi yang kami jejali. Dan fenomena ini tercatat lagi dalam sejarah perjalanan kami, pertama kalinya dalam hidup saya duduk diatas kursi plastik di dalam Damri di Pulau Kalimantan. Hahahaha, salah satu video rekaman Mario berhasil menjadikan moment ini sangat lucu karena ada Uskup Mgr. Heldy Ardiansyah (OMK St. Yosep Kepundung) yang membawakan Khotbah Kasih itu Sabar melalui Kursi Plastik titisan Tuhan. Huahahahaha….

Beduai~Dari sebuah cerita menjadi sebuah kenangan semata

Pancung Bulu Muda*
Jam menunjukkan pukul 11 siang Waktu Beduai tentu saja, Damri kami tiba dan berhenti tepat di depan Paroki Salib Suci Beduai. Tak terhingga banyaknya mereka yang menanti, tak terkira harubiru hati ini. Sebegini hebatnyakah kami sehingga dinanti semalaman sampai seharian ini? Ataukah tulus hati merpati memang menghuni hati orang-orang Beduai. Kami digiring santai menuju pelataran gereja dan di sambut dengan sebuah acara yang diberi label “Pancung Bulu Muda”
Acara ini antara lain diawali dengan pengalungan bunga kepada tiga perwakilan kontingen yaitu Ketua Rombongan diwakili Rm. Yomi, Peserta Laki-laki diwakili Frans dan peserta perempuan diwakili Lisa. Dilanjutkan dengan sapaan dan doa dalam bahasa daerah setempat yang dilakukan oleh seorang tetua adat. Kemudian percikan air dengan menggunakan daun Sabang sebagai symbol penerimaan dan kami semua dipersilahkan meminum Tuak yang telah disediakan dalam bulu muda (bambu muda yang berbentuk kecil yang biasa digunakan untuk membuat seruling bambu tapi yang ini jauh lebih kecil) masing-masing kami mendapatkan satu. Aduhai, betapa saya suka tradisi ini. Hahahahaha…. Setelah itu salah satu perwakilan dari kontingen kami yaitu Romo Yomi yang didaulat untuk memancung bulu muda alias memotong sebuah bambu hijau panjang yang masih dipasang melintang di hadapan kami lalu menginjak telur di atas piring berisi air hingga pecah. Filosofinya : bambu tersebut adalah pembatas antara kami dan masyarakat setempat karena kami adalah pendatang. Saat bambu tersebut di potong, maka hilanglah pembatas antara kami. Kami semua tidak lebih, tidak kurang adalah sama sekarang. Keluarga besar.

Misa Pembukaan dan Perkenalan*
Acara dilanjutkan dengan Misa Pembukaan. Di iringi tarian dayak kami dibawa masuk ke dalam gereja. Dan astaganaga Indonesia, KAYA BETUL! Saya mungkin selama ini hanya membolakbalik lembaran dua ribuan dengan rasa penasaran. Seperti apa tarian dayak itu? Dan sekarang, dari pantulan mata saya melambai-lambai tangan para penari dengan gemulai yang membahana sampai-sampai senyum saya tak putus memberi luapan kegembiraan. Petugas Liturgi adalah kawan-kawan OMK Salib Suci Beduai. Yang saya sukai dari Pasukan Koor anak-anak Beduai ini adalah, Kreativitas bermusik yang heboh. Bayangkan saat Gong dipadukan drum dan bambu lalu keyboard. Kaya dan mahal hasilnya, teman! Khotbah Romo Gaspar selaku pemimpin misa hari itu membawa kami pada refleksi yang dalam. Allah memberikan diriNya kepadamu dalam Yesus dan Yesus telah melakukan segala sesuatu diluar pikiran manusia. Kita adalah cerminan kehadiran Tuhan untuk menebus dan menyelamatkan dunia ini. Tuhan memberikan banyak, memberikan dunia, gereja dan masyarakat ini kedalam kiprahmu, di dalam hatimu dan Tuhan mengharapkan banyak kepadamu. Amin Romo.
Selesai Misa Pembukaan, acara perkenalan. Perkenalan pertama datang dari Pastor Paroki setempat. Adalah Romo Patrisius Dua Witi, CP selaku Pastor Paroki Salib Suci Beduai dan Romo Gaspar Lengary, CP sebagai Pastor Pembantu. Paroki beduai terdiri dari 22 Stasi yang tersebar di sepanjang Kecamatan Beduai. Lokasi Live in kami akan dibagi kedalam tiga wilayah yang tersebar di sepanjang jalan raya propinsi yaitu Stasi Pemodis, Stasi Tanjung Ungan dan Stasi Muara Illai. Hanya membutuhkan waktu satu jam dari Beduai menuju Serawak-Malaysia dan dua jam menuju pusat pemerintahan di Kabupaten Sanggau.
Berikut adalah perkenalan dari Peserta IYD Kontingen Keuskupan Denpasar. Dengan wajah penuh kantuk dan dekil karena belum mandi sejak kemarin kami mencoba tebal muka dan maju satu persatu untuk memperkenalkan diri. Gila, sampai didepan langsung hilang seketika kantuk ini. Manusianya segini banyak sampai menyempil diluar karena terlalu penuh didalam gereja. Tuhan maha besar.
Selesai upacara di gereja kami di undang ke Ruang Pembinaan atau Aula Paroki SSB. Disini kami akan tau siapa orang tua angkat kami selama di Beduai. Tetapi sebelum dibagikan rumah, kami di ajak bersenda gurau dahulu dengan kawan-kawan OMK SSB. Pada kesempatan ini kami dikenalkan dengan lagu paling keren selama di Beduai “…Adil Katalino Bacuramin Ka' Saruga. Basengat Ka' Jubata... lagu ini diciptakan oleh Wakil Bupati Kabupaten Sanggau yang juga adalah Ketua Panitia Lokal IYD 2012. Keren kan??? Hehehehe… setelah performance dari kawan-kawan SSB, kami diminta unjuk gigi juga. Dengan kekuatan tersisa kami pun tak mau kalah. Lagu Kasih Yesus dengan gerakannya yang nyentrik serta Jingle OMK Keuskupan Denpasar kami nyanyikan. Setelah ramah-tamah selesai, saatnya kami dibagikan rumah 

Keluarga saya di Tanjung Ungan*
Namanya Vera, anak dari Bapak Andreas dan Ibu Samina ini menjadi Wali saya saat menerima saya sebagai anak angkat di Aula Paroki SSB. Putri ketiga dari Empat bersaudara ini menamatkan SMUnya dua tahun lalu, sangat pandai membawa diri, dan tentu saja menarik. Saya dibawa pulang ke rumahya saat itu juga setelah nama saya dipanggil dan Vera ditunjuk sebagai wali saya. Rumah Vera terletak di stasi Tanjung Ungan. Sekitar 15KM dari Gereja SSB, itu artinya kami harus menggunakan kendaraan. Diboncengi teman Vera yang bernama Eva Karena Vera diboncengi Pacarnya, kami menuju Rumah Vera. Tiba di Rumah, sudah menanti sekeluarga. Ada Bapak Andreas, Mama Samina dan Saudara perempuan dari Bapak Andreas ada pula keponakan Bapa Andreas yang datang dari kampung karena ada sedikit urusan. Saya di dudukan di antara mereka, sementara Vera membawa masuk tas pakaian saya ke dalam kamar yang akan saya tempati. Rumah panggung kayu ini sederhana dan nyaman. Saya langsung betah! Gak tau malu, hahahaha. Duduk lesehan dihadapan makanan yang beraneka ragam dan belum pernah saya lihat itu memang sedikit ajaib karena saya terkenal lapar mata. Okeh ada Lemang yaitu beras ketan putih yang di bakar didalam irisan bambu (seperti bahan gedek bambunya), kalau dikasih santan namanya akan sedikit berbeda menjadi bangkak. Ada bangkak bujang dan bangkak solong. Ada pisang goreng, ada teh hangat dan ada TUAK atau ARAK BERAS tak tanggung-tanggung disuguhkan dua botol sekalian. Dipersilahkan menuangkan duluan, saya yang sudah sering minum karena tradisi di Flores juga kurang lebih sama malah menuangkannya segelas penuh yang akhirnya ditertawakan pacar Vera. “Sanggup habiskan?” Tanyanya. “Harusnya dikit-dikit biar gak pusing..” Hm.. gitu yah. Saya bagikan dengannya kemudian dengan wajah bersemu merah. Ketahuan doyan. Huahahaha. Banyak bercerita dengan Bapak, Mama dan Saudara perempuan Bapak juga Fajar (Pacar Vera) sebelum kejadian ini berlangsung. Jadi keponakan Bapak yang tadi ikut duduk bersama, tiba-tiba hendak pamit karena ada urusan lagi. Dia kemudian menyentuh semua makanan yang ada lalu menaruh tangannya di dada dan permisi pergi. Melihat kebingungan saya, Saudara Perempuan Bapak langsung menjelaskan. Itu tadi namanya Pulopas atau Cempalek. Tradisi pamit terhadapa makanan yang ada agar saat di jalan tidak mendapatkan celaka. Dahulu, jika tradisi ini tidak dijalankan maka saat di jalan setan akan merasa Pusam artinya dia boleh mengisap darahmu karena kamu sudah berlaku kurang ajar terhadap orang tua dan makanan. Waow…. Pelajaran : Jangan tinggalkan makanan saat masih terhampar di atas meja begitu saja, makanan tersebut akan merasa malang dan ditinggalkan serta tidak dibutuhkan lagi. Mungkin saja dia akan bekerjasama dengan setan-setan sekitar untuk memberimu pelajaran. Alam memiliki caranya sendiri. Hahahaha… Filosofi saya berlebihan.

Suasana kekeluargaan dan keramahan ini harus saya tinggalkan karena Vera sudah menyiapkan makan siang. Meski dengan perut yang kekenyangan, saya tetap harus menghargai Vera yang sudah menyiapkan semuanya untuk saya. Kami makan bertiga dengan tetangga Vera yang membantunya masak namanya aster, tak ada lagi waktu istirahat karena kegiatan berikutnya menanti. Selesai makan, saya istirahat sejenak lalu bersama Vera menyebrangi jalan menuju sungai. Mandi!
Pengalaman pertama mandi di sungai adalah saya sedikit ragu karena airnya yang kecokelatan dan hanya memakai sarung. Dalam nama Yesus, Aman! Hahahaha… air yang sejuk dan suasana hutan yang tenang justru menghilangkan kekhawatiran saya yang tadi sangat kuat mengganggu. Ritual mandi berlangsung lancar dan persiapan menuju gereja. Tiba di Gereja, doa akan segera di mulai. Doa Taize ini dipimpin oleh Romo Gaspar. Dikemas menjadi sebuah doa dengan perenungan yang dalam tentang refleksi perjalanan hidup sebagai Orang Muda Katolik. Selama satu setengah jam kami dibawa kedalam suasana yang khidmat. Selesai berdoa, Romo Gaspar menyampaikan susunan acara untuk hari berikutnya dan diharapkan para peserta tetap disiplin menjalankan kegiatan sesuai jadwal yang telah dibagikan. Kami dipersilahkan kembali ke Rumah masing-masing untuk beristirahat dan menyiapkan diri menyambut hari besok.
Saya dan Vera tidak langsung ke rumah karena di undang makan malam oleh Kakak Sepupu Vera Kak Yanto Yang adalah Pegawai Kementrian Agama Kabupaten Sanggau dan saat ini tengah bertugas mengajar di SMP Beduai. Kak Yanto adalah teman berdiskusi yang hangat, setelah melewati perbincangan yang panjang saya akhirnya tau kalau beliau dulunya adalah kawan sekelas Rm. Kadek (Paroki St. Immaculata Mataram) di Seminari Tinggi Duta Wacana Malang. Ini Kebetulan yang macam apalagi saya bingung, yang pasti saking senangnya saya tidak berhenti nyerocos. Hahahaha. Kami melewati makan malam yang menyenangkan dengan daging babi kampung (istilah orang sana,tak ada lemak sedikitpun) yang lezat tentu saja. Di Beduai, masyarakatnya suka mengkonsumsi Rebung (pucuk bambu), sawi ladang yang lebih sempit daunnya dan terasa sedikit masam saat di tumis, tunas jagung yang masih sangat muda ditumis campur dengan timun ladang (buahnya sedikit berbeda, lebih kecil) lalu ada pucuk daun singkong yang direbus bersamaan dengan batangnya kemudian di luruh sendiri saat akan di makan. Pengetahuan kuliner baru ini membuat saya merasa lebih kaya lagi sebagai orang Indonesia. Selesai makan malam, karena waktu sudah sangat larut saya dan Vera pun pamit kembali ke Rumah dan tak lupa berterima kasih atas makan malam yang enak dan obrolannya yang sengit :)

Membahana di Borneo #OMK \m/

PART II. Hari Keberangkatan :)

Hari telah dimulai lagi, Sabtu yang hangat ketika saya menuju Kos untuk mempersiapkan keberangkatan setelah semalaman menjaga teman saya di RS. Sanglah yang baru saja menyelesaikan operasi usus buntu. Sedikit terburu-buru dan mecoba mengingat kebutuhan yang belum ada, saya kemudian di antar adik saya menuju keuskupan. Tiba di keuskupan, sudah banyak kawan-kawan peserta yang datang sambil menenteng bagasi masing-masing. Sebagai koordinator kontingen saya mesti mengecheck perlengkapan lain seperti barang-barang pameran dan jaket yang belum dibagikan. Beberapa barang masih saya tinggalkan di Kos dan salib IYD masih ditinggalkan di Ruang Sekretariat OMK PRKKD, maka saya harus mengambilnya kembali. Dengan bantuan Andi (Tangeb) dan Rio (kuta) kami mencuri waktu sebentar untuk membawa semua perlengkapan tersebut ke Keuskupan. Jaket telah dibagikan meski dengan sedikit insiden karena adanya perbedaan ukuran dan kekurangan jumlah. Kontingen keuskupan Denpasar berangkat setelah didoakan dan dilepas Bapa Uskup sendiri. Ada tiga mobil yang mengantarkan kami menuju Bandara Ngurah Rai.
Tiba di Bandara, kami berkumpul dahulu tepat di depan pintu masuk untuk membagikan boarding pass dan melaju menuju loket Check In Garuda Airlines. Menggunakan GA470 kami akan berangkat menuju Jakarta terlebih dahulu dan untuk selanjutnya GA 508 akan mengantarkan kami ke Pontianak. Butuh satu jam untuk check in seluruh peserta kemudian menuju Pintu 16 lalu naik ke pesawat. Kami meninggalkan Bali.
Tiba di Jakarta, udara lebih gerah meski matahari tak nampak jelas di ubun-ubun. Keramaian Bandara International Soekarno Hatta membuat orang seperti saya menjadi pening dan jengah, karena saya tidak terlalu menyukai keramaian. Waktu transit kami lumayan lama, kurang lebih lima jam. Bingung harus menghabiskannya dengan melakukan apa, kemudian ada SMS dari kawan lama yang kebetulan menetap di Jakarta dan mengajak ketemu. Namanya Monic, OMK Mataram. Masa menanti itu kami habiskan dengan makan dan ngobrol, seluruh peserta kontingen di jamu oleh K’Hiro dan Romo Komkep di RM. Solaria. Ada yang menarik dari Restaurant ini. Design ruangannya yang unik, seperti campuran ethnic Jawa dan gaya minimalis modern. Ada satu dinding yang dilapisi bungkusan kain bercorak batik. Saat membayangkan tahap pengerjaannya saya hanya bisa berdecak kagum. Pemiliknya memiliki selera yang luar biasa dan sabar mengerjakannya. Pukul 5 sore kami semua kembali ke terminal F melakukan boarding untuk keberangkatan berikutnya. Akan tetapi kami harus menunggu lagi selama dua jam karena pesawat yang kami tumpangi delay. Menghabiskan waktu dengan bercanda, bermain dan bernyanyi bersama adalah salah satu bentuk kebersamaan yang tidak akan kami lupakan. Benarlah, ada hikmah dari setiap peristiwa. Pukul 8 Malam, kami naik ke pesawat udara menuju Pontianak. Ada kegelapan di atas udara saat itu yang justru membuat semangat saya tetap bernyala. Pukul 9 malam waktu indonesia barat kami tiba di Bandara Supadio, Pontianak Kalimantan Barat. Disambut hangat oleh Panitia setempat yang telah lama menunggu dengan berbagai atribut Budaya Kalimantan. Unik! Dan seperti biasa, mata saya jelalatan untuk hal serupa ini. Kami langsung di antar ke Sekretariat Panitia IYD di Pontianak. Kami adalah kontingen terakhir yang tiba di Pontianak. Makan malam disediakan, otot direnggangkan dan bersiap untuk perjalanan berikutnya. Meskipun lelah mulai merajalela kami masih harus menempuh 6jam perjalanan lagi menggunakan Damri menuju Beduai, Paroki dimana kami akan melaksanakan Live In. Luar biasa, ternyata sudah ada dua orang kawan yang langsung dari Paroki Beduai datang menjemput kami. Wina dan Ivo. Sambil menyelesaikan makan malam, Name tag dan Buku Acara untuk peserta dibagikan. Pukul 11 Malam Waktu Pontianak tentu saja, Damri yang memuat kontingen kami meluncur menuju Beduai. Perjalanan berlangsung aman terkendali, diselingi gelak tawa kawan-kawan yang sepertinya belum lelah juga. Dan waow, sungai Kapuas. Mungkin pekat malam tidak dapat menyuguhkan komposisi yang diharapkan mata akan tetapi melihat pantulan cahaya lampu pada pinggiran sungai yang cukup ramai, tak ayal hati bergumam kagum. Panjang dan lebar, selebar jembatan yang kami lewati.
Malam panjang ini pun di mulai di Batang Tara. Sebuah Paroki yang termasuk dalam Keuskupan Sanggau juga. Yang di pagari sebuah bukit dan dihiasi hijau rumput serta dedaunan belaka. Dingin malam yang pekat membuat saya harus keluar dan membuang air terlebih dahulu. Saya dan semua kawan-kawan berpikir ini hanyalah perhentian sementara meskipun pak sopir dan kernetnya sudah mulai ragu dan mengeluh bahwa Mesin tidak bisa di ajak kompromi alias mogok. Kurang lebih satu jam kami berhenti dan mengunyah jagung, pisang, pie susu bekal dari Pontianak sementara kawan-kawan pria bersama pak sopir berusaha memperbaiki kondisi Damri dengan mendorongnya beramai-ramai. Tak ada perubahan yang menjamin. Di Beduai para calon orang tua angkat kami, umat dan Pastor Paroki sudah tak sabar menanti. Berkali-kali handphone Wina berdenging, menyatakan kerisauan yang sangat. Hingga pukul 1 Malam, Damri tetap tidak bisa dijalankan. Gerimis dan tanah basah menemani kami semua, gilaaaa ini pengalaman paling gilaaaa seumur hidup saya. Dini hari WAKTU INDONESIA BARAT, mengalami macet dan mogok bersama kawan-kawan Laskar IYD Keuskupan Denpasar, dalam perjalanan menuju Sanggau yang tentu saja berada di salah satu titik di PULAU KALIMANTAN. Mahallllll Gilaaaaa!!! Dengan apapun semua letih dan kebahagiaan ini tak akan terbayar dan berlaku sekali ini saja seumur hidup \m/
Kami sempat mendaraskan satu peristiwa kontas (Rosario) dipimpin oleh Nona (FX. Kuta), Pak sopir sudah pasrah dan Wina akhirnya menyerah kemudian menyarankan kita untuk menginap saja di Paroki terdekat yang ternyata SANGAT DEKAT dari tempat Damri yang kami tumpangi mogok. Pastor Paroki Batang Tara mempersilahkan kami dengan murah hati bergabung bersama kawan-kawan peserta IYD dari Purwekerto yang ternyata akan mengadakan Live In di Paroki tersebut.
Gelap masih memekat di penghujung malam, sebentar lagi akan tiba pagi. Beberapa teman peserta sudah pulas terlelap karena raga yang tak lagi mampu bertahan, satu dua kawan masih bercerita sambil berbisik-bisik. Saya masih dipijit Frans (Palasari) karena seperti biasa, saya mudah terserang masuk angin apalagi dingin yang sangar ini membuat saya lemas tak bersemangat. Pukul 3 dini hari barulah saya terlelap dan bermimpi sedikit aneh tapi yah sudahlah itu akibat dari kelelahan yang total.

Membahana di Borneo #OMK \m/

PART I. Pra IYD dan Masa Persiapan :)

Saya awali Tulisan Perjalanan ini dengan sebuah Puisi (hobby sekali,hahah)

~CINTA ITU KITA~

Nikmatnya kebersamaan itu mungkin bisa melalui perantara
Makanan, Minuman, Senyum-tawa, Cerita lucu-menggemaskan-bahkan menyeramkan
Mahalnya kebersamaan itu tidak serupa Emas bahkan Baja
Dia abadi, tak lekang waktu bahkan tak hadir karena dipaksakan
Dipastikan Ia mengalir seiring waktu sebagai kasih serupa bunga
Mekar berseri dan wangi bumi menyertai
Tiba waktunya melayu, akan datang kasih lain menyirami
Memupuk dan membiarkannya subur tak terganti
Kebersamaan itu seperti cinta dan kepedulian itu adalah kasih
Cinta kasih itu akan selalu sabar menikmati segala proses
Kemudian tumbuh kekal menjadi KITA

Especially for the First Alumni of Indonesian Youth Day Keuskupan Denpasar. Tare! \m/ #Denpasar, Pada dini hari satu bulan dari Nyora sebelumnya 23.11.12

















Mencintai Indonesia sama sulitnya dengan mencintai YESUS. Dan di Borneo kami belajar menjadi 100% Katolik 100% Indonesia. Salam Semangat OMK Indonesia.

Hampir setahun lamanya saya menantikan kesempatan ini, semenjak awal hanya mendengarkan isu akan di adakan Jumpa Orang Muda Katolik Se-Indonesia. Wah pasti akan seru. JOMK Se-Keuskupan Denpasar saja meninggalkan banyak kesan, bagaimana dengan Se-Indonesia? Maka dengan gencar saya mencari berita, mengumpulkan informasi dan terus berkarya di OMK PRKKD dimana saat ini saya berladang. Dan Puji Tuhan, saya akhirnya terpilih menjadi salah satu peserta dari Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar bersama keenam OMK lainnya.

Indonesian Youth Day (IYD) adalah perjumpaan akbar dimana perwakilan Orang Muda Katolik (OMK) seluruh Indonesia akan bertemu dan berkumpul untuk mempersatukan tujuan sebagai Orang Muda Katolik Indonesia yang memiliki jiwa nasionalisme dan cinta kasih kepada Tuhan dan sesama.
Tema yang di usung pada IYD pertama ini adalah “Berakar dan dibangun dalam Yesus Kristus, Bertumbuh dalam Iman (Kol 2:7)” dengan sub tema “Makin beriman, makin mengindonesia”

Acara ini akan berlangsung kurang lebih 6 hari yaitu dari tanggal 20 – 26 Oktober 2012. Dengan rangkaian sebagai berikut :
Tanggal 20 – 22 Oktober 2012, Peserta akan melakukan Live in atau tinggal dan melakukan interaksi bersama penduduk setempat di tiga Wilayah Keuskupan di Kalimantan Barat yaitu Keuskupan Pontianak, Keuskupan Sintang, dan Keuskupan Sanggau. Para peserta akan dibagikan ke setiap paroki yang terdapat pada wilayah keuskupan tertentu.
Paroki yang menjadi tujuan Live in Keuskupan Denpasar adalah Paroki Salib Suci Beduai masuk dalam wilayah keuskupan Sanggau. Kurang lebih dua jam dari Lokasi Kegiatan IYD di Kabupaten Sanggau dan Kurang lebih satu jam dari Daerah perbatasan dengan Negara tetangga Malaysia.
Tanggal 23 – 26 Oktober 2012, Peserta akan berangkat dari masing-masing Paroki Live in menuju Lokasi Kegiatan dimana seluruh peserta dari seluruh Keuskupan di Indonesia dan satu Keuskupan dari Negara tetangga yaitu Keuskupan Kuching Malaysia, akan melaksanakan perhelatan megah yang merupakan pertama kalinya terjadi di Indonesia oleh Orang Muda Katolik. Akan ada pawai Budaya dan Malam pentas Budaya yang menjadi titik mula dan titik puncak perjumpaan OMK Indonesia.

Banyak kegiatan berkesan yang kami lewati dan sepertinya tidak akan cukup diceritakan. Kegiatan yang mengawali semua rangkaian kegiatan IYD ini adalah Misa Pra-IYD OMK Se-Keuskupan Denpasar di Gereja Roh Kudus Katedral Denpasar. Lagi-lagi kami berperan penting disini sebagai tuan rumah dimana acara diselenggarakan. Luar biasa euforia kawan-kawan OMK. Rupanya kegiatan seperti ini menjadi kerinduan semua rekan muda di Indonesia. Berkumpul, memuji Tuhan, berbagi pengalaman, saling mengenal satu sama lain dan yang pasti merencanakan kegiatan seru sekaligus pelayanan bersama-sama. Setelah misa Pra-IYD, kegiatan berikutnya adalah mempersiapkan diri dari paroki masing-masing. Antara lain menentukan peserta, mengisi formulir, penggalian dana, menempelkan spanduk IYD dan memberikan ujud doa di Gereja agar kegiatan ini berjalan sukses.

















Pada tanggal 7 September 2012 adalah pertemuan awal dimana seluruh peserta IYD Keuskupan Denpasar dikumpulkan, total peserta dari Keuskupan Denpasar adalah 44 orang. 37 OMK, 1 orang Pendamping dari OMK FX Kuta, 3 orang Pendamping dari KOMKEP Keuskupan Denpasar, dan 3 orang Pastor Pendamping. Tidak semua peserta dapat hadir pada pertemuan ini karena ada banyak yang berhalangan, apalagi yang dari Dekenat NTB tentu saja tidak dapat hadir karena jarak yang sangat jauh. Informasi keberangkatan, sosialisasi kegiatan dan berbagai hal yang perlu diketahui peserta menjadi topik utama pertemuan ini. Diputuskan kontingen keuskupan Denpasar akan berangkat pada tanggl 20 Oktober 2012 Pukul 10.00 wita dari Bandara Internasional Ngurah Rai menuju Jakarta, transit selama kurang lebih lima jam dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Pontianak. Pada pertemuan ini juga terbentuk team koordinator IYD Keuskupan Denpasar dimana saya akhirnya terpilih sebagai Koordinator umum. Pengalaman baru akan saya jalani.

Berikut adalah nama ke-44 Laskar Indonesian Youth Day 2012 Keuskupan Denpasar.
1. Yohanes Made Arie Prawira ~ Paroki Roh Kudus Babakan
2. Elisabeth Putri Fernandes ~ Paroki St. Maria Ratu Rosari Gianyar
3. Ancelmus Andi Pratama ~ Paroki St. Theresia Tangeb
4. Heribertus Tri Wibowo ~ Paroki St. Sisilia Klungkung
5. Feliciano Bertolomeus P. Eda ~ Paroki St. Maria & St. Yosef Dompu
6. Markus Aprianus Wado ~ Paroki Sang Penebus Sumbawa
7. Vinsensius Jemy Cheristo ~ Paroki Yohanes Pembaptis Praya
8. Cecilia Cita Galih Utami ~ Paroki St. Maria Immaculata Mataram
9. Klementinus Jehaman ~ Paroki Fransiskus Asisi Amlapura Karangasem
10. Romualdus F. Otto ~ Paroki St. Antonius Ampenan
11. Gregorius Made Ari Hendiarsa ~ Paroki St. Paulus Singaraja
12. Agnes Fajun Suryanti ~ Paroki St. Yohanes Maria Vianey Donggo
13. Christina Ni Luh S. Ningsih ~ Paroki St. Petrus Negara
14. Fransiskus Asisi Andi Nugraha ~ Paroki Hati Kudus Yesus Palasari
15. Fidelis Naif ~ Paroki St. Maria Immaculata Tabanan
16. Rafael Agus Prayudi ~ Paroki St.Paulus Kulibul
17. Aloysius Catur Anang Sridadi ~ Paroki St. Petrus Monang-Maning
18. Atanasius Rato ~ Paroki Maria Bunda Segala Bangsa Nusa Dua
19. Elyzabeth Viny Meti ~ Paroki Maria Bunda Segala Bangsa Nusa Dua
20. Maria Pankratia Mete Seda ~ Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar
21. Lisa Grasella Maria Tamboto ~ Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar
22. Marselinus Johanes Gunggur ~ Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar
23. Michael Irwanto Fame ~ Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar
24. Yuliana Margaretha Barek ~ Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar
25. Agustina Bernadine H. Riberu ~ Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar
26. Chrisanta Ludovika ~ Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar
27. Stefanus Heldy Ardiansyah ~ Paroki St. Yoseph Kepundung
28. Dominggus Made Wirawan ~ Paroki St. Fransiskus Xaverius Kuta
29. Marselinus Syrilus Sole ~ Paroki St. Fransiskus Xaverius Kuta
30. Bonefasius Paor ~ Paroki St. Fransiskus Xaverius Kuta
31. Dominikus Yosefino Mario ~ Paroki St. Fransiskus Xaverius Kuta
32. Yohana Sandeng ~ Paroki St. Fransiskus Xaverius Kuta
33. Franda Rosalina Ndole ~ Paroki St. Fransiskus Xaverius Kuta
34. Veronica Ratna Dewi Kusuma Mastutik Hidayati ~ Paroki St. Fransiskus Xaverius Kuta
35. Ni Putu Feronika Darmayanti ~ Paroki St. Fransiskus Xaverius Kuta
36. Angelia Filipe Desousa ~ Paroki St. Fransiskus Xaverius Kuta
37. Waldetrudis Dahus ~ Paroki St. Fransiskus Xaverius Kuta
38. Beno Ari Soebagiya ~ Pendamping Paroki St. Fransiskus Xaverius Kuta
39. Inge Christina ~ Pendamping Komkep
40. Rm. Sebastianus Yordan Ado, Pr (Rm. Yomi) ~ Pendamping Komkep
41. Hironimus Adil ~ Pendamping Komkep
42. Rm. M. Emanuel Ano, Pr (Rm. Eman) ~ Pendamping Dekenat NTB
43. Rm. Robert Gaga Nae, Pr (Rm. Robert) ~ Pendamping Dekenat Bali Barat
44. Petrus Lingga Prana ~ Pendamping Dekenat Bali Timur

Hal utama yang menjadi tanggung jawab kami adalah “apa yang akan kami bawakan saat malam pentas budaya di Sanggau nanti?” dan selanjutnya persiapan-persiapannya. Seorang kawan saya berkata, IYD itu sebenarnya bukan saat kita berada di Sanggau sis. IYD itu sebenarnya apa yang sedang kita jalani saat ini, proses menuju kesana. Saat kita semua berkumpul, menyatukan ide dan persepsi lalu mengemasnya menjadi satu kesatuan yang akhirnya menentukan siapa kita. Kebersamaan kontingen Keuskupan Denpasar selama kurang lebih satu bulan melalui berbagai latihan yaitu latihan Janger, Jingle, belanja kebutuhan dan perlengkapan acara. Segala macam tantangan, perbedaan pendapat, ditambah kesibukan dan jarak yang menjadi dinamika selama proses ini berlangsung. Apalagi kawan-kawan dari NTB tidak dapat ikut serta mengambil bagian karena lagi-lagi perbedaan pulau BALI dan LOMBOK, SUMBAWA, BIMA tentu saja menjadi rintangan yang sangat besar. Akan tetapi semua itu tidak menjadi penghalang untuk tetap maju dalam satu kesatuan dengan tetap memegang teguh rasa persaudaraan dan saling pengertian.















Sedikit cerita tentang Jingle OMK Keuskupan Denpasar. Jingle ini merupakan gubahan kawan-kawan OMK St. Paulus Mataram yang diikutsertakan pada Lomba Jingle Indonesian Youth Day oleh Panitia Nasional Indonesian Youth Day. Akan tetapi tidak termasuk dalam nominasi Juara namun pesan dan semangat lagu ini sangat luar biasa. Teman-teman yang mungkin belum mengetahuinya bisa membukanya di link sebagai berikut :







Tanggal 13 Oktober 2012, seminggu sebelum waktu keberangkatan, kembali kami dikumpulkan di Keuskupan untuk mengadakan peninjauan akan apa yang sudah kami latih selama kurang lebih satu bulan. Pada kesempatan ini Bapa Uskup Mgr. Silvester San turut ambil bagian menyaksikan Pentas Janger dan Jingle kami, memberi masukan dan nasehat penting selama kami berada disana. Hal penting yang saya ingat dari pesan Bapa Uskup adalah, Menjadi peserta pada kegiatan tingkat nasional seperti ini adalah kesulitan menentukan fokus. Karena saat tiba di lokasi kegiatan kita akan bertemu dengan banyak peserta dari keuskupan lain, lalu lingkungan sosial dan budaya yang berbeda dengan apa yang kita alami sehari-hari. Ini akan sangat menentukan ketetapan hati kita untuk tetap fokus pada acara yang akan kita jalani atau memilih melakukan penjajakan dengan kata lain adalah jalan-jalan dan mengenal alam sekitar. Jangan sampai hal seperti itu mengganggu tujuan utama kalian sebagai Peserta Indonesian Youth Day Keuskupan Denpasar. Saya sempat mengalami ketakutan ini. Hahaha.

Tibalah pada 19 Oktober 2012, peserta kembali dikumpulkan untuk mengikuti sharing dan persiapan. Akhirnya kami bertemu dengan kawan-kawan peserta dari Dekenat NTB sebanyak 7 orang termasuk didalamnya Pastor Pendamping. Hal-hal yang dibahas antara lain mengenai kehidupan sosial masyarakat kalimantan, lingkungan dan kesehatannya maupun tata krama yang harus kami bawa serta saat berada di tanah orang. Pada bagian sharing kami mencoba membahas hal penting yang menjadi kekhawatiran kami bersama tentang kelanjutan dari kegiatan IYD itu sendiri. Sekembalinya dari Sanggau nanti, apa yang akan kami lakukan dengan segala sesuatu yang sudah kami jalani dan kami dapatkan selama waktu satu minggu. Harapan kami peserta dan para pendamping tentunya agar semangat dan kerja keras dari IYD ini akan terus membahana dari sebelum, sedang dan seterusnya setelah IYD ini berlangsung.

(Bersambung~)