Tampilkan postingan dengan label Bali. Tampilkan semua postingan

Yuk Intip Aksi Lipooz Kenalkan HipHop di Bali



*Diunggah di website Musiklik.com pada 20 Desember 2016. Website tersebut untuk sementara sedang beristirahat dengan tidak tenang. Hiks T.T


Untuk orang-orang awam, ia bukan sosok luar biasa. Untuk kalangan tertentu, Lipooz menghunus mata dan hati, juga pikiran. Kekuatannya terletak pada rima yang berirama dari mulutnya seiring tempo dan musik yang membisik.

Lipooz atau lengkapnya Philipus R.I. Ngadut (RI itu bukan Republik Indonesia meskipun dia cinta mati dengan NKRI) adalah seorang pria asal Ruteng – Flores yang memilih menekuni Hiphop sejak tahun 2002 di Surabaya hingga kini berdomisili di Denpasar, Bali.

Musik merupakan pilihan untuk berkomunikasi dengan diri sendiri dan orang lain. "Rap mampu bercerita tentang sesuatu secara detail karena panjangnya durasi lirik pada rap jika dibandingkan dengan genre musik lain yang liriknya cuma sepenggal dan diulang-ulang," ungkapnya saat ditemui Musiklik.com, (16/12).

Sampai dengan saat ini Lipooz sudah mengeluarkan dua album hip hop, Words = Power (2005), One Man Army (2007), juga belasan single track, baik solo maupun juga berkolaborasi dengan rapper-rapper dari berbagai kota di Indonesia. Tema yang sering diangkat dalam lagu-lagu Lipooz adalah tentang keseharian, cinta, kampung halaman-kota kelahiran dan self pride menjadi kebanggaan diri bagaimana hebatnya seorang MC memainkan kata-kata.

Pada 2013, Lipooz memutuskan hijrah ke Bali dan bertemu dengan teman-teman pelaku hiphop Bali yang sebelumnya cuma dikenal melalui sosial media. "Saya betah di Bali karena budayanya, keramahan orang-orangnya, alamnya yang luar biasa, serta kebebasan berpikir untuk menerjemahkan seni," ungkap Lipooz, MC-rapper di salah satu klub ternama di Denpasar

Lipooz cukup sering tampil di beberapa tempat di Denpasar untuk mengisi acara-acara tertentu. Bagi Lipooz, teman-teman hiphop di Bali tidak hanya mencakup rap, tetapi juga dance dan breakdance. Masing-masing mereka sudah sangat ahli pada profesinya sehingga ketika diminta untuk bergabung dan perform bersama mereka di acara komunitas Hiphop Bali/Dewata Hiphop, ia mengaku dengan senang hati meluangkan waktu untuk terlibat.

Untuk terus menjaga semangat hiphop, Lipooz tengah sibuk dengan sebuah proyek yang ia beri nama 16BAR.

Tentang itu bisa klik di sini: www.youtube.com/lipooz




Apakah Musiklikers  menyukai musik dengan aliran Hip Hop? Yah, tidak semua orang mengenali genre musik ini. Bukan hanya di Bali, tapi hampir di semua kota di Indonesia, musik Hip Hop adalah musik minoritas, karena masyarakat Indonesia didominasi oleh pendengar musik bernyanyi bukan pendengar musik berbicara (Rap).

Demikian ungkap Lipooz, jadi orang-orang lebih suka musik yang berharmoni dan vokal yang bernada daripada mendengarkan manusia ngomel-ngomel pakai rima dan nada, lanjutnya pada sesi wawancara bersama Musiklik.com (16/12).

Adapun 16BAR adalah sebuah Hip Hop web seri yang digarap Lipooz dengan melibatkan teman-teman rapper di berbagai penjuru Indonesia.

Proyek ini cukup merepresentasikan musik Hip Hop Indonesia saat ini. Alurnya seperti berikut, Lipooz akan menyediakan instrumental hiphop yang kemudian dieksekusi oleh rapper berbeda di setiap episodenya. Instrumen tersebut dibuat dengan alat musik dan perlengkapan seadanya langsung dari ruang kerja sekaligus kamar tinggal Lipooz di Denpasar. Itu kemudian dikirim kepada teman-teman rapper yang berniat mengeksekusi lirik sesuai instrumen.

Proyek ini terbilang masih belia karena baru berjalan empat bulan terakhir. Melalui 16BAR Lipooz sesungguhnya ingin mempromosikan teman-teman yang menggandrungi Hip Hop dan terkendala oleh berbagai macam hal. Proyek ini diharapkan dapat mewadahi musisi hiphop baik di pelosok maupun ibu kota yang memiliki kualitas Rap namun jarang diperhatikan.

 Ke depannya Lipooz berharap dapat menggandeng rapper-rapper Bali dan mengolaborasikan musik tradisional maupun juga bahasa Bali ke dalam Hip Hop yang ia garap.

Apalagi Hip Hop menurut Lipooz merupakan satu-satunya genre musik yang bisa dikombinasikan dengan musik dan budaya apapun, karena Hip Hop sendiri adalah sebuah budaya, bukan terbatas pada musik saja. Thumbs Up!



Penulis : Maria Pankratia
Editor : Luh De Dwi Jayanthi
Foto : Dokumentasi Lipooz
Caption : Lipooz Performance


MUSIK, LIPOOZ, HIP HOP, BALI, RAPPER, INDIE MUSIC, INDONESIA, 16BAR

#BreakTheSilence Seminar; How to Use Your Voice Wisely



Have you ever heard of Facebook Global Digital Challenge (FGDC)?

The great campaign from the largest social media platform, Facebook

This social networking platform invites students around the world to show the public that social media can be a positive media that provides many advantages if used wisely.

One of Indonesia College is selected to participate in this joint venture program with EdVenture Partners is Undiknas University, Denpasar. Five of Undiknas students who passed the selection at the registration stage are selected as program participant , the participants are; Sean Conti from Business Management Study, Deviyanti Putri and Upayana Wiguna from Accounting Study, Faculty of Economics and Business. There is Pipin Carolina from the Law Science Study, Faculty of Law and Maria Pankratia from the Communication Science Study, Faculty of Social and Political Sciences.

This activity begins with a selection phase since January 2017 and will end with submission of activity reports by June 2017. Participants are required to submit essays explaining their motivation to engage in this activity.

All five were selected after going through a tight selection process from the EdVenture Partners. In February 2017, this team began to work. Together, with Luh Putu Mahyuni, Ph. D., CA, as the Director of Academic/Dean of Economics and Business Faculty and Ida Nyoman Basmantra, MPD as the Team Manager who is also the Head of International Office, Undiknas Denpasar. The team discussed the major themes, what should be raised in this campaign.

Seeing the situation of the Nation and the State of Indonesia which began to be attacked various kinds of radicalism issues, in the end an idea about #BreakTheSilence emerged. A campaign targeting the silence majority, people who have had enough insight and understand the situation but prefer to be silence.

As there is a phrase that says, "In a war situation, when you are impartial to anyone, you are actually supporting the ruling party." This campaign seeks to invite more people to care and determine the attitude so that no more narrow-minded people that take this opportunity to destroy everything that has been painfully built by the predecessors.
Following up on this idea, several concept activities are designed. There are visits to the orphanage, photo competition and video storytelling, making video testimonials and social experiment and film production.

There is also a Seminar titled "Pluralism in Relation to Social Media." The seminar was held on May 29, 2017, attended by 234 Students of Undiknas Denpasar and involving 30 people as committee to working together and organize the activities.

The #BreakTheSilence seminar discusses "How to interpret Diversity and speak wisely through the existing Social Media so that it has a great impact on the whole world."
Present as Speakers, there is Dea Rangga, celebgram; Yoga Arsana and Sugi Suartanaya , the Youtubers; And Anton Muhajir, Editor, Journalist and Blogger. the four speakers and the Facebook Team Global Digital Challenge share experiences and suggestions about how to use social media in the midst of the current excessive information flow.

Through this seminar, it is expected that more and more students are inspired to use the internet and social media wisely; also not negligent to forward this good message to the people they meet in their neighborhood. It's time to be, care and use your opinion wisely! More details about this campaign, #BreakTheSilence Team, Undiknas Denpasar, can be seen at:

Facebook Page: Break The Silence
Instagram: @undiknasfgdc_
Twitter: @BreakUrSilence
Channel Youtube: Undiknas FGDC


Do not forget to Follow and Subscribe the above accounts. Thanks. Regards, Bhineka Tunggal Ika. Break The Silence by Breaking Your Silence!




2016; A Golden Year




365 hari yang lalu, saya tidak memiliki resolusi apa pun untuk 365 hari berikutnya. Saya masih tetap hidup, sehat dan waras saja sudah merupakan sebuah keuntungan. 2015 dan 2014 adalah tahun yang cukup luluh lantak sebagaimana kemudi kapal yang dibajak sehingga nakhodanya tidak memiliki kendali penuh untuk menentukan ke mana menuju. Namun, pada akhirnya, saya menemukan titik balik. Benar adanya, seseorang yang kembali bangkit dari kejatuhan, kekuatannya berkali lipat.

Sekuat tenaga saya menemukan diri saya kembali dan bertanya sesering mungkin “mau apa aku dengan hidupku ini?” iyah persis lirik lagunya Nosstress, itu padanan refleksi yang klop! Refleksi singkat akhir tahun lalu itu, saya temukan kembali di sini

Memulai langkah di 1 Januari 2016 tanpa persiapan apa pun! Kabur, meraba-raba.
Resign dari pekerjaan yang menjadi sumber hidup dan eksistensi, terjun ke lapangan tanpa visi sebagai mahasiswi KKN lalu PKL. Masih saja percaya diri mengkoordinasi Persiapan Misa Pra-IYD2 Keuskupan Denpasar, bersedia jadi Fasilitator Kelompok tanpa pengalaman untuk Kelas Inspirasi Bali 03, terlibat lagi di Denpasar Film Festival. Menyanggupi hadir di Pelatihan Menulis Kompas (lagi), nyasar di Ubud Writers and Readers Festival ke-13 dan Citizen Journalism Day kerja sama Balebengong dan Bali Blogger Community, serta menjadi Juara Regional Maluku dan Nusa Tenggara Blog Competition oleh Government Public Relations. Berani-beraninya menyanggupi jadi auditor untuk sebuah project yang jauh dari bayangan dan dari kamar tidur yang nyaman. Situasi tersebut cukup ngeri-ngeri sedap. Belum pernah saya begitu takut tetapi juga penasaran, antusias diikuti rendah diri yang kalap. Lampung, selama delapan hari merubah sudut pandang saya hampir 75% tentang hidup. Di tahun ini juga, untuk pertama kalinya, saya berani mengirimkan karya saya ke media dan dimuat!

Tahun 2016 saya juga mengalami banyak kepiluan. Saya memang gemar menangis. Bukan hanya dalam situasi sedih atau terharu tetapi juga saat bahagia. Akan tetapi, menangis karena ditinggal pergi untuk selamanya oleh tokoh-tokoh yang menginspirasi hidup saya selama beberapa tahun ini, itu memilukan. Terguguh dan lama. Tidak pernah sekalipun saya meluangkan waktu untuk berpikir bahwa bumi dan manusia terus bertambah tua. Di suatu masa, kita harus menerima kenyataan bahwa jiwa dan pikiran memang tidak pernah mati namun raga pada hakekatnya tidak abadi. Kita harus siap menghadapi kehilangan demi kehilangan. Untuk Ama Petu, Om Boni dan Bapak Agustinus Prajitno, Hormat setinggi-tingginya!

Tahun 2016 saya juga ditinggal nikah oleh sahabat-sahabat terbaik saya. Hebat mereka, mampu mengambil keputusan serumit itu hahaha. Sementara saya masih berkubang, terjebak dalam kecemasan “Bagaimana saya dapat berbagi seluruh pikiran saya seumur hidup hanya dengan satu orang laki-laki saja? Berbagi tubuh saja, saya tak rela. Mana puas kalo cuma sama satu orang?” #Eh wkwkwkkw…

Pada tahun ini pula, saya merasakan dampak arus informasi yang begitu deras akibat kemajuan teknologi yang membabi buta. Segalanya jadi canggih termasuk manusianya. Banyak tontonan dan pengetahuan menarik yang menyenangkan tetapi juga peristiwa yang sulit dilupakan untuk beberapa tahun ke depan. Begitu lah dunia dan Indonesia sejak dulu. Yang selalu keren di sebelah sini sementara terpuruk di sebelah sana. Tidak ada yang betul-betul sempurna emang!

Tahun 2016 saya sapa dengan tahun emas bagi saya. A golden year. Sebab di tahun ini, saya memikul banyak berkat dan rejeki. Saya bepergian ke berbagai tempat dan bertemu macam-macam pribadi. Semua mereka adalah orang-orang HEBAT, PENTING dan MEMILIKI ANDIL bagi dunia yang mereka tinggali. Saya bangga bisa mengenal kalian semua. Tidak dapat saya sebutkan satu per satu, tetapi saya berharap ketika membaca ini, kalian tahu bahwa ANDA-KAMU-KAU-DIRIMU-SAMPEAN-ENGKO yang saya maksudkan!

BALI!

Jakarta-Soekarno Hatta-Lampung-Metro-Tulang Bawang-Raden Inten II

Benoa-Bima-Sape-Sumba Timur-Waingapu-Kambata Mapa Mbuhang-Lumbung-Kadahang-Sumba Tengah-Anakalang-Katikuloku-Sumba Barat-Waikabubak-Sumba Barat Daya-Kodi-Labuan Bajo-Watulangkas-Ruteng-Bajawa-Langa-Mataloko-Ende-Paupire-Detusoko-Nita-Ledalero-Maumere-Lokaria-Wairhubing-Magepanda.

SEMUANYA! Kalian pasti sudah mulai lupa tetapi jejak kalian seperti materai permanen yang basah dan lengket lalu mengering tak bisa luntur atau pun terangkat bahkan dikorek paksa sekalipun.

2016 adalah tahun yang luar biasa bagi saya yang kesadaran afektifnya sangat ngotot dan terjaga selama 24J/7H. Perlahan-lahan semuanya digenapi. Khususnya perihal “Melakukan apa yang sungguh-sungguh ingin saya lakukan.” (Bertemu banyak orang, menjalin relasi dan persahabatan//Tjipok basah sekali untuk Ibuk Semesta Ambara BegituSaja dan Tante George Yustina Liarian Eto, berbagi dan saling memberi dari yang sederhana sampai yang luar biasa. Menulis banyak cerita. Terlalu amat sangat banyak sekali. Mendapatkan beberapa pencapaian yang cukup membanggakan. Menghasilkan sejarah).

Lalu, hm “Menemukan laki-laki yang benar-benar ingin saya cintai” AHAI!

Kemarin, ketika sedang bingung hendak menulis apa untuk refleksi akhir tahun ini, (Sebagian orang mungkin merasa ini tidak penting dan sangat alay lebay TETAPI tidak bagi saya!) saya buka kembali postingan saya di Instagram sejak awal tahun. Foto-foto dan narasi yang membuat saya merasa betapa saya sangat diberkati, segalanya masih utuh tersimpan, lengkap, baik gambar maupun juga cerita serta kesan yang masih bisa saya rasakan ketika saya melihat dan membayangkannya.

***


Descartes bilang: Cogito Ergo Sum//Saya berpikir maka saya ada
Pramoedya bilang: Orang boleh pandai setinggi langit tetapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.
Pacar saya bilang: Hanya yang menang, yang meninggalkan jejak, Enu!
Dan saya bilang: Jika kamu berpikir dan menuliskannya, kamu akan meninggalkan jejak. Tentu dengan sendirinya kamu memberi pengaruh. :)

Hidup, sejatinya untuk mati tanpa alpa untuk memaknainya lalu meninggalkan jejakmu! Jejak saya! Jejak kita! Live Your Life! In this great future, you can’t forget your past, so write it down!

Epang Gawan, Terima Kasih banyak untuk semua yang sudah memberi dan berbagi dari kekurangan maupun juga kelebihannya (dan saya tidak pernah lupa hutang-hutang saya hihihi… tenang saja). Ama Pu Benjer, Jah Bless kita semua di Tahun yang Baru!

Resolusi tahun berikutnya? Hahaha hm.. Hajiar saja!

2017 dalam genggaman!

*Semoga ada golden-golden year selanjutnya


 Thankis buat Ge' untuk tangkapan keren ini ^^








Rok Untuk Lanny

Sebuah Cerpen #MariaPankratia


*Bali Post Edisi Minggu Pon, 4 Desember 2016



Barangkali ia hanya galau sebab rok di lemari sudah terlampau membosankan. Ia gemar memakai rok selebar dan sepanjang gorden. Kegemarannya tidak memiliki alasan, karena ia selalu begitu.
Hari ini, untuk ketiga kalinya ia bertemu lagi dengan rok yang sama. Masih di barisan yang itu-itu juga. Busana Wanita Dewasa. Diam, menanti dihampiri, coraknya hitam-putih. Panjang, menyiratkan jenjang, memancing. Kekaguman itu berubah, serupa imajinasi yang menumpuk setiap  mereka (ia dan rok itu) bertemu. Ia yakin, lepas ini, frustrasi bakal bersarang lebih lama dari biasanya. Pada kali yang kedua, sebelum ini, ia melihat rok panjang itu, rok dengan gambar bunga liar berbahan halus. Ia butuh dua minggu agar berkemas dari risau yang begitu rusuh di kepala.
Jika kemudian mungkin ada yang bertanya, kapan ia bertemu dengan rok itu untuk pertama kalinya? Ia akan kebingungan sebab ia merasa yakin ia dan rok tersebut memiliki ikatan sejak entah.
***
Pertanyaan ini muncul di kepala ketika ia memutuskan untuk menghampiri lagi deretan rok di barisan busana wanita di sebuah pusat perbelanjaan terkemuka kota ini.
“Kok nggak ada diskon yah? Apa belum kali yah?”
Ia mengitarinya sebanyak tiga kali, semacam ritual menghatur mukjizat. Seolah-olah akan ada seorang Bankir atau Pengusaha Kaya berbaik hati datang menawarkan niat membelikannya.
“Kamu suka rok ini? Jadi pacar saya yah, kamu bisa dapatkan satu, bonus pulang bersama saya”
Ia mengandaikan mereka paham, ia hanya selalu mengandalkan kaki dengan pecahan pada telapaknya yang kian melebar setiap hari untuk beranjak ke mana-mana. Setelah mulai lelah memandangi, ia keluar kembali ke pelataran pusat perbelanjaan itu. Ia duduk termenung di tangga, berharap akan ada ide segar muncul seketika.
Sepuluh menit berlalu, ia masuk lagi. Datang dan mengitari. Ia sadar sebuah tatapan serius mengawasinya sejak tadi. Tatapan  itu sekarang menghampirinya bersama mulut dan gerak tubuh yang lain.
“Mau dicoba dulu mungkin?” tawar sang pramuniaga
Ia tersenyum kemudian berusaha mengelak
“Oh, saya cuma mau lihat-lihat kok”
Sang pramuniaga mengangguk mengerti lalu perlahan menjauh.
Ia memutuskan keluar lagi. Duduk lagi, menatap kosong di kejauhan. Rokoknya ia keluarkan, tarikan pertama begitu dalam hingga membuatnya terbatuk. Seorang security muncul menggantikan petugas sebelumnya. Security itu berdiri tepat di belakangnya. Ia sama sekali tak terganggu, konsentrasinya tetap pada rok. Bara pada rokok hampir selesai dan pilihan itu muncul. Ia harus masuk lagi dan melakukan sesuatu.
Ia kembali ke tempat rok terpajang, pelan-pelan ia mengeluarkan lighter dari dalam tas rajutannya. Sambil menatap rok panjang tersebut dengan ekspresi yang campur aduk, ia menghunuskan api perlahan. Kurang sedetik lagi, nyala api itu menghampiri kuncup bunga liar di ujung rok, tiba-tiba sebuah hantaman mendarat tepat pada punggung kepalanya. Saking giatnya ia merencanakan api, ia alpa pada sang pramuniaga dan security yang sejak tadi memasang kode-kode. Tubuhnya diseret ke ruangan belakang, tempat kantor berada.
***
Mereka menyundutnya dengan sengatan minyak angin, tepat di bawah lubang hidung. Ia terbangun dan berteriak kalap, memasang wajah ketakutan sekaligus memohon ampun. Kemudian mereka meninggalkannya sendirian. Lima menit kemudian seorang laki-laki berkacamata lebar masuk dan menarik kursi, mereka duduk berhadapan. Saling memandang cukup lama. Lalu laki-laki itu mulai bertanya,
“Saya harus panggil anda, Mas atau Mbak?”
“Mbak aja”
“Oke, dengan mbak siapa, saya bicara?”
“Lanny”
“Mbak lanny, mbak sadar apa yang baru saja mbak lakukan?”
Ia tidak menjawab melainkan menunduk, tungkai kakinya gemetar tak karuan. Laki-laki itu melanjutkan.
“Mbak lanny kerja apa?”
“Therapist, Pak”
“Di mana?”
“Legian, Pak”
“Mbak lanny, mbak ini baru saja melanggar Pasal 406 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana(KUHP). Mbak bisa dipenjara lho”
Ia berjengit mendengar kata penjara. Air matanya mulai mengalir.
“Kalau nggak mau dipenjara, mbak harusnya tidak nekat seperti tadi. Jangan nyalakan korek api pada barang jualan saya. Saya bisa rugi besar, kacau tadi semua kalau apinya merambat ke mana-mana”
Ia mengangguk sembari tetap menunduk.
“Mbak lanny, mbak dengerin saya yah”
“Iya, Pak”
“Saya lupa siapa yang ngomong ini, tetapi kalau kita paksa minum air laut, dahaga kita gak bakal hilang. Kita bakal haus terus. Mbak lanny kalau pingin barang dagangan saya, Mbak harus beli, kalau belum bisa beli yo ditahan keinginannya. Ngerti?”
“Ngerti, Pak”
“Mbak lanny masih mau roknya?”
Ia terkejut, kepalanya terangkat seketika, pada matanya ada binar sumringah.
“Masih”
Yang terjadi berikutnya adalah laki-laki itu membuka celananya, menggelontorkan kemaluannya begitu saja di hadapan lanny. Ia abaikan bahwa lanny juga memiliki bentuk vital yang sama. Kedua laki-laki itu tengah terjebak pada situasi yang sulit. Dengan sigap laki-laki itu menarik kepala lanny. Hampir sepuluh menit lanny berjibaku dengan benda tumpul itu di dalam mulutnya. Setelah erangan tanda puas bergema, memantul pada dinding-dinding kantor yang lusuh, lanny diusir keluar. Ia disuruh menunggu di samping meja kasir yang tentu saja sedang bekerja tanpa mengendarai kuda supaya baik jalannya. Kasir tersebut menatapnya acuh tak acuh, menerima panggilan telepon di mejanya beberapa menit kemudian. Ia tekun mengangguk-angguk menyerukan kata yang sama
“Iya bos, baik bos”

Ketika pembicaraan di telepon terputus, sang kasir menarik lanny menuju deretan busana tempat rok panjang incarannya berada. Kasir penurut itu menyuruh lanny memilih rok yang ia idam-idamkan. Ia membantu lanny membungkus. Lanny pulang bersama pecahan kaki yang makin melebar, sepat sperma yang tersisa di mulut dan bungkusan rok cantik bercorak bunga liar di genggamannya. Air matanya berderai, kali ini berlomba-lomba dengan gemuruh jantungnya. Bukankah hidup adalah pengorbanan?



A D A M



Sebuah Cerpen #MariaPankratia


*Bali Post Edisi Minggu Wage, 3 Juli 2016



Remaja lelaki itu selalu bermain di sepanjang gang kecil padat hunian.  Dengan teman-teman yang dapat diajaknya, mereka menghabiskan waktu bersama. Seumuran atau bukan, satu sama lain selalu memanggil dengan nama yang diberikan kedua orang tua mereka. Atau sesekali dengan nama induk semangnya, jika geram hinggap terkadang.

Aku sedang dalam perjalanan pulang. Hari itu aku lesu, polisi tidur yang biasanya kusentuh dengan ujung sepatuku, kubiarkan melata menunggu. Sesekali ia harus diacuhkan sebab terlampau sering ia diberi perhatian melalui deru kendaraan yang melambat. Adam, nama anak itu, ia menyapaku dengan genit. Sudah beberapa hari ini ia bertingkah aneh bila bertemu.

“Hai, Mba”

Tak kupedulikan panggilannya. Namun ia kukuh mencoba lagi.

“Mba, capek yah?”

Aku berbalik dan membentaknya,

“IYA, KENAPA?”

Ia ngeloyor pergi, kabur membawa amarahku. Tiba di kos, lesu itu menghilang. Segelas air putih membuatku terduduk kebingungan.

***

Kantor tengah dilanda kekacauan selama seminggu. Penjualan produk kami menurun drastis dan seperti biasa, ini adalah musim yang tepat untuk mendapatkan serangan membabi buta dari bos besar. Sepanjang hari kami akan berhadapan dengan wajahnya yang seram menakutkan, lalu racauannya yang tak kunjung mendekati garis finish. Supervisorku terus membobardir dengan berbagai macam masukan, gagasan, ide, inovasi yang dengan sendirinya akan berbalik, bukan hanya kepada dirinya sebagai pencetus tetapi juga kami yang hanyalah kaki tangan penerus perintah dan himbauan.

Setiap hari aku kembali dengan wajah yang kuyu dan merusak suasana hati siapa saja yang kutemui di jalan, termasuk Adam. Hari ini ia menggodaku lagi.

“Mba, mba cakep”

Sunyi

“Ih Mbanya sombong deh.”

Aku mematung, memperhatikannya. Nama Adam ternyata cukup tepat baginya, tinggi semampai, hitam manis dengan bibir yang melankolis. Jenis rambutnya adalah jenis yang dapat diapakan saja ketika air bertemu dengan pomade, dan matanya wahai semacam pantulan bulan bintang di malam takbiran. Kulemparkan sebuah pertanyaan padanya,

“Kelas berapa kau?”

“Dua SMP hihi, ih Mbanya ngomong”

Suaranya merdu, serak dan basah. Aku tersentak dan berjalan menjauhinya. Kawan-kawannya menyoraki Adam dengan riuh.

Kuhempaskan tubuhku di kamar dan bayangan wajah Adam melintas. Anak itu nikmat.

***

Hari ini kantor hanya buka setengah hari, akan diadakan meeting internal. Aku tentu saja tidak masuk dalam jajaran manusia yang harus hadir pada pertemuan semacam itu. Aku dan teman-temanku dipulangkan lebih awal.

Sepanjang perjalanan playlist memperdengarkan suara chrisye, aku gandrung pada pria bersuara sengau. Menurutku ia cukup seksi, bukan karena suaranya tetapi kecerdasan menghadirkan lirik pada setiap lagunya. Tiba-tiba Adam muncul.

“Hai Mba, tumben cepat pulang”

Aku terdiam karena kali ini Adam sendirian. Kulepaskan headseat dari telingaku dan mengajaknya bicara.

“kenapa kalo cepat pulang?”

“hm gak apa-apa” jawabnya

“kamu kenapa jam segini sudah main?” tanyaku lagi

“kan udah pulang sekolah” jawabnya

“ya udah, sama dong” aku berlalu menyudahi pertanyaanku

Tiba di kos, aku membaringkan badanku, menutup mata dan menarik nafas panjang. Pintu kos-ku diketuk. Ketika kubuka pintunya, kepala Adam nongol. Aku sedikit terkejut tetapi hatiku berdesir. Dari balik punggungnya ia mengeluarkan sebuah bungkusan Es Kelapa Muda.

 “Buat Mbanya hihi”

kemudian ia berlari, kencang sekali, sampai terdengar derapnya di lantai satu dari kamarku di lantai dua.

Siang itu aku menyesap Es Kelapa muda pemberian Adam sembari mendengarkan “Kala Cinta Menggoda” milik Chrisye. Senyum terkulum, serasa manis es kelapa muda ini berlomba-lomba dengan wajah Adam di pelupuk mataku.

***

Seminggu kemudian, kantor dinyatakan collaps. Perusahaan harus memotong sebagian tenaga karyawan yang dianggap tidak begitu produktif. Aku salah satunya. Kabar tersebut tersiar dengan gesit, aku bahkan belum sempat membayangkan kekalutan jika harus mengangkat kaki dari pekerjaan ini. Dua puluh tujuh tahun, sendirian, tanpa tujuan hidup; bisa bertahan sampai masa ini dengan makanan dan tidur secukupnya adalah karunia.

Dengan langkah gontai aku menyusuri jalan pulang. Air mata merembes perlahan dari pelupuk mata hingga ujung lubang hidungku. Barangkali pemandangan yang sungguh menggembirakan bagi para pejalan kaki yang lainnya, mereka akan membahas ini saat tiba di tujuan masing-masing.

Sore itu, aku menemukan Adam menanti di depan kos. Dengan tingginya yang hanya sepundak, ia berusaha memperhatikan dua biji mataku. Dalam kamar yang kusam dan sumuk tanpa kipas angin kecuali angin yang nyosor dari lubang jendela, ia menyeka air mata yang berlinangan di pipiku dengan kedua tangkup tangannya yang hitam dan hanya mampu menutup sebagian pipi. Ketika bibir Adam menyentuh bibirku dan melumatnya dengan gairah, aku tak lagi sungkan. Kami menghabiskan waktu yang lama untuk meredakan kesedihan melalui persenggamaan yang dahsyat.

Ini adalah pengalaman pertama bagi kami berdua. Adam begitu lihai. Ketika kepalanya telah bersandar di ujung putingku dan kami tengah membiarkan lelah memudar, barulah ia bercerita bahwa ia dapat sepandai itu karena menonton video yang tersimpan di handphone ayahnya. Ayah Adam seorang guru, begitu yang aku ketahui, sebab setiap pagi kami berpapasan ketika akan berangkat bekerja. Sementara Ibu Adam adalah seorang Ibu Rumah Tangga. Sering kami terlibat perbincangan hambar ketika ada gossip panas seputaran gang. Aku yakin, aku adalah salah satu bintang hangat pada percakapan ibu-ibu saban hari karena Adam ternyata mengenalku dengan sungguh baik.

Katanya “Mba itu sering dibicarain, ibu-ibu itu bilang; ih cakep-cakep belum kawin.”

Aku tersenyum mendengarkan Adam bercerita. Ia kembali ke rumahnya setelah kami melakukannya sekali lagi.

***

Sepanjang dua bulan aku menganggur, mengandalkan tabungan yang cukup membeli siomay atau bajigur. Untuk menahan rasa laparku, Adam sering muncul membawa nasi dan lauk dari meja makan di rumahnya. Kami makan bersama di kamar lalu bersenggama lagi hingga tertidur. Saat petang merayap, Adam kembali ke rumahnya dan menjawab kebingungan teman-temannya sebab ia sulit diajak bermain lagi sekarang.

Hingga suatu hari, Adam tak muncul di depan pintu kamarku, melainkan ibunya. Aku dikatai dan dicaci maki seperti binatang. Dilempari banyak perkakas dan barang. Pemilik kosku hadir sebagai pengamat yang lalu mengetuk palu bahwa aku sebaiknya pindah dan mencari tempat kos yang lain, para Ibu bergunjing sembari memincingkan mata mereka terhadapku. Seolah aku perempuan sampah paling hina.


Dua minggu kemudian, ketika aku sedang menumpang di kamar kos teman. Aku terjatuh di kamar mandi. Janin milikku dan Adam luruh, tak kuat menahan frustrasi dan kekacauan dalam tubuh. Susah payah aku pertahankan bayi ini sejak diusir oleh Ibu Adam, ia akhirnya pergi juga meninggalkanku, sama seperti Adam.


-----





Komisi Perlu Usaha _Usaha untuk Move On_



Kamu tahu, hidup berjalan cepat dan setiap hari kamu berhutang terhadap waktu tentang kejadian-kejadian yang kemudian menimbulkan sejarah bahwa kamu pernah ada di sebuah titik yang disebut PENGALAMAN.

Kecepatan waktu dan momen yang berubah seketika menyulitkan saya melanjutkan tulisan tentang masa-masa di KPU Buleleng. Bayangkan, setelah lewat hampir dua bulan, saya akhirnya bisa membayar hutang menulis ini.

Tentang KPU Buleleng...

Hari pertama masuk ke kantor ini, saya merasakan kelelahan hahaha bukan gugup. kenapa? karena sudah semalaman saya belum tidur dan sudah menempuh jarak 78 Kilometer Denpasar-Buleleng dengan berkendara sepeda motor bersama Krisna. Kesan pertama dari Kantor ini adalah berantakan. Yah khas Kantor Pemerintahan dan saya memakluminya karena memang seperti itu lah yang sering saya temukan, entah dengan pengalaman kalian yah.

Kami disambut dengan baik dan ramah, tidak ada yang istimewa. Laporan dilakukan kepada Bapak Sekertaris dan kami langsung dilemparkan ke Sub bagian Teknis Pemilu dan Hubungan Partisipasi Masyarakat yang Kepala Sub Bagiannya memiliki cacat permanen sejak lahir yaitu kebaikan yang tiada tara. Hari pertama selain ngobrol ngalor ngidul sebagai awal perkenalan, kami diberikan dua Jurnal Penelitian tentang Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah di Kabupaten Buleleng. Jurnal itu yang kemudian membantu saya menyelesaikan Laporan PKL, akan tetapi sampai hari ini, saya belum tuntas membacanya. Hahaha...

Ada lima Komisioner-Satu Sekertaris-Empat Kepala Sub Bagian dan Dua Puluh Lima Staff Kesekertariatan ditambah dengan dua Mahasiswa/i PKL seperti kami berdua. Ini yang menjadikan Kantor KPU tidak jauh beda seperti taman bermain hahahaha terkadang Pekerjaan bukan menjadi sesuatu yang memberatkan meskipun kesibukannya yang luar bisa mengerikan akibat Tahapan Pemilukada 2017 yang telah dimulai.

Yah satu minggu setelah kami menginjakan kaki di KPU Buleleng, Tahapan Pembentukan Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) dan Panitia Pemungutan Suara (PPS) Pilkada Buleleng 2017 dimulai. Saya ditempatkan di Kecamatan Busungbiu, salah satu Kecamatan di Kabupaten Buleleng. Pekerjaan ini membawa saya menemui banyak orang baru khususnya Aparat Desa dan Kecamatan, melihat sudut pandang mereka tentang Pemerintahan dan Politik Indonesia saat ini. Tidak disangka saya juga bertemu seorang Camat yang bertugas di Kecamatan Seririt saat menemani salah satu Komisioner yang sedang memonitoring proses pendaftaran PPK&PPS. Bapak Camat ini pernah menetap di Ende cukup lama bahkan sampai menikahi salah satu Wanita Ende yang saat ini menjadi isterinya. Kemudian tanpa disengaja, saat saya mendampingi Komisioner lainnya dalam Seleksi Wawancara PPK&PPS di Desa Tista, Kepala Desanya malah berteman akrab saat kuliah dengan salah satu Anggota Dewan Pengurus Paroki Katedral Denpasar. Karena saya, mereka akhirnya bisa saling berhubungan lagi melalui telepon.

Banyak sekali Pengetahuan dan Pelajaran hidup yang saya dapatkan selama menjalani Praktek Kerja Lapangan di KPU Buleleng. Karena pekerjaan ini juga, saya bisa menjelajahi sebagian kecil pelosok Kabupaten Buleleng yang luar biasa indah. Alam liar dan Sumber Dayanya yang tidak terkira. Ingin sekali saya membahasnya secara rinci di sini, akan tetapi hal tersebut akan menghabiskan banyak kalimat panjang dan proses mengetik-mengedit berhari-hari. Yang pasti di tempat ini, saya menemukan Keluarga Baru yang di penghujung hari dengan rela tak rela melepaskan saya kembali ke Denpasar.

***

Ketua KPU Buleleng yang juga merangkap Divisi Hukum dan Pengawasan, Bapak Gede Suardana, S.Pd., M.Si. Bapak ini lebih cocok membangun Kantor berita dari pada menjadi Anggota Komisioner hahahahah... Maklum mantan Wartawan. Setiap hari beliau selalu mengingatkan saya untuk membikin berita, apa saja kejadian di KPU Buleleng, masyarakat harus tahu. Orang baik yang kadang membingungkan tetapi tetap gigih menjalani tanggung jawabnya.

Komisioner Divisi Hubungan Masyarakat, Data Informasi dan Hubungan Antar Lembaga, DRH. I Made Seriyasa, Pioner saya selama melaksanakan tugas di Kecamatan Busungbiu. Khalem, tak neko-neko, khas orang tua yang bicaranya memutar tetapi sarat akan pengalaman. Pria yang akrab dipanggil Pak Dokter karena beliau sesungguhnya adalah Dokter Hewan ini memiliki kharisma ke-bapak-an yang selalu membuat kita merasa tak sungkan.

Komisioner Divisi Teknis Penyelenggara, Nyoman Cakra Budaya, SP. Dulunya, saya sentimen sekali sama beliau. Pendapat saya beliau ini sengak, songong lah pokoknya. Lalu, ketika Seleksi Wawancara PPK&PPS dilaksanakan, saya dipasangkan dengan beliau ke Kecamatan Busungbiu. Pria asal Desa Umejero yang asri dan indah ini ternyata orang yang ramah, keranjingan bercanda dan baik hati. Melalui beliau, saya diingatkan kembali "Do not judge the people by his cover"

Komisioner Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Pengembangan SDM, Gede Sutrawan, S.Sn. Pria dengan tinggi badan yang minimalis tetapi dengan kecepatan berpikir maksimum. Berhadapan dengan beliau, kamu harus memiliki kekuatan membaca peluang. Salah-salah, bel berbunyi-KO, game over, mending nurut aja. hahahahaha... Beliau salah satu pekerja keras, inovatif, dan disiplin dalam bekerja.

Komisioner Divisi Umum, Rumah Tangga & Organisasi, Perencanaan, Keuangan & Logistik, Luh Putu Sri Widyastini, ST. Ibu Putu, begitu beliau sering disapa. Gayanya tak neko-neko, jika bicara tanpa tedeng aling-aling tetapi juga sebenarnya memiliki perasaan sensitif yang tidak kentara. Ramah, Sporti dan suka sekali bercanda.

Ada satu Sekertaris dan empat Kasubag di KPU Buleleng. Bapak I Putu Aswina selaku Sekertaris. Kepala sub bagian Teknis Pemilu dan Hupmas, I Made Ardana, S.Kom. Kepala sub bagian umum, Ketut Aryawan, S.STP, MM. Kepala sub bagian Program dan Data, Ketut Suwitahirawan, S.Kom. Kepala sub bagian Hukum, Gede Kurniawan S.STP.
Mereka semua orang-orang yang bertanggung jawab saat bekerja _dan juga orang-orang gila saat tidak bekerja_ hahahahhaa.... saya melewati lebih banyak waktu menyenangkan dengan mereka, bagaimana saya bisa move on akibat ini? Saya berusaha sibuk berhari-hari setelah meninggalkan kantor KPU Buleleng. T.T

Lalu ada Mbok Ike di Sub bagian Teknis Pemilu dan Hupmas, Mbok-mbok judes tetapi cuma di wajah. Aselinya baik banget. Teman se-kakinya Mbok Widia, dari Divisi Keuangan yang senang banget ngajak keluar cari makan. Kalau mau rasain kuliner enak di Buleleng, maka mereka berdua adalah pilihan yang tepat sebagai navigator.

Gede Wisu, Serbabisa makanya saya bingung apa jabatan sebetulnya. Awal bertemu, saya sudah bisa membaca kelakukan orang ini hahaha kocak tetapi selalu berusaha tampak cool. Kulkas kalik yah. Saya menangis lho ketika pamitan sama Wisu. He is talented Balinese Men. Baaiiikkkk banget #eh

Bayu, Manusia cerdas satu ini selalu bikin iri karena selalu jadi andalan. Ia tahu segala menyangkut Undang-Undang Pemilu dan Peraturan Komisi Pemilihan Umum. Jika kamu ingin tahu, siapa orang dengan kepala paling sibuk di KPU Buleleng selain para Komisioner dan Kasubag nah Bayu adalah yang pertama setelah mereka.

Wirawan, He is My Best Men. Hm, do'i suka bercanda awalnya, usil banget tetapi mungkin karena tampang saya memang buliable yah selanjutnya kita malah jadi sering curhat-curhatan. Klop banget pokoknya.

Trus ada Geng Cewek-cewek, Dayu-yang kalau makan gak bisa diganggu gugat makanannya karena kastanya beda. Gila, kalau saja saya gak dikasitahu, mungkin sudah berapa banyak kesialan yang terjadi gara-gara ngerjain Dayu. wkwkwkwkw Lalu, ada Prima Megayanthi-Ini cewek pertama kali masuk kerja di KPU Buleleng bikin iri soalnya cakep banget, untung gue cewek juga. Hm #apasih hahaha kita sohib banget, sampai akhirnya balik ke Denpasar barengan karena rumah Prima di Denpasar. Saat itu ia balik untuk jengukin orang tuanya. Terakhir, Nindia-Paling kecil, paling cerewet dan polos. Kadang bingung kalau dengar Nindia ngomong, wkwkwkwkw ngawur banget tetapi itu yang bikin kita seru kalau lagi ngumpul.

Yang lainnya, ada Alit, Agus, Sofyan, Pak Agung, Mbok Ani, Winda, Priti,Tedja, Regen, Fata, Nova, Pak Dewa Cintiarta, Pak Yadnya, Pak Dilla, Komang, Nyoman Raken-Satpam Fenomenal, Pak Made-Satpam baik hati sering kasih tebengan pulang kalo lembur.
yang semuanya memberi kesan dan terkadang rindu berat ingin balik ke KPU Buleleng.

Terima Kasih untuk kebersamaan kita selama 49 Hari, saya yakin bahwa kita semua saling mencintai satu sama lain dengan cara kita masing-masing.

Berikut adalah WA terakhir saya sebelum saya keluar dari Group Resmi KPU Buleleng di tanggal 20 Juli 2016:

Selamat Pagi Teman-teman KPUD BULELENG yang saya banggakan.
Saya pamit yah, Terima Kasih untuk 49Hari kebersamaan. Baik dalam pekerjaan, dalam kecemasan, dalam tertawa maupun dalam segala hal yang ditindak dan dipikir #halah hahahaha
Mohon maaf sekali karena lebih banyak aib yang saya ciptakan bersama kalian ketimbang hal baik untuk dikenang :)

Semoga kita semua tetap sehat dan senang. Kalau ada sumur di Ladang, mari kita mandi rame-rame #eh hahahaha

Sampai ketemu lagi, JANGAN LUPA BAHAGIA \m/ #tjipoksatusatu :-*


***

Foto-foto kegiatan saya selama Praktek Kerja Lapangan sudah pernah saya posting di Instagram dan Facebook maka hanya satu foto yang hm yah melewati seleksi cukup rumit yang akhirnya saya pasangkan pada tulisan ini.







Benar-benar pilihan yang sulit bukan? Hahahaha....


***

Sedih itu seperti ini; ketika kamu datang tidak membawa apa-apa dan saat pulang, kamu harus menampung genangan pada kantong mata-mu. Berlaku seperti semula, tanpa kenangan-jejak malu atau pun dendam, kecemasan akan rindu bahkan usaha untuk melawan lupa. Rindu dan Lupa, dua hal berbeda. Dirindukan-merindukan. Dilupakan-melupakan. Yang membikin mereka sama adalah siksaan untuk menjalaninya.

Semoga Sukses di tempat masing-masing-