Tampilkan postingan dengan label #MyGreatFloresIsland. Tampilkan semua postingan

Padang Kaca dan Hutan Hujan Tropis di Tiwu Sora




(sebuah upaya menelusuri dan menulis kembali - catatan perjalanan)



Landscape Tiwu Sora - Dok: Eddieson Djea

Ratusan tahun yang lalu, pada lempengan bumi kesekian yang membentang di planet ini, terjadi sebuah pergerakan maha dahsyat sehingga membentuk sebuah genangan maha luas yang kini dikenal oleh penduduk sekitar dan orang-orang yang pernah berkunjung ke sana sebagai Tiwu Sora.

Mereka kemudian menghidupi kehadiran danau tersebut dengan sebuah legenda yang tersebar luas, persis seperti nama danau itu dikenal sekarang, Tiwu Sora.


Legenda Tiwu Sora

Alkisah, hiduplah seorang lelaki bernama Sora yang mengelola ladang di dekat sungai bernama Kali Lado. Suatu ketika, ia menemukan rumpun talas yang ia tanam susah payah di dekat tebing sungai diporak-porandakan oleh binatang yang jejaknya tidak bisa terdeteksi. Ia kemudian memasang perangkap untuk menjebak sang pelaku. Di luar dugaan, kekacauan itu ternyata disebabkan oleh seekor belut raksasa yang entah dari mana datangnya.

Singkat cerita, belut tersebut ia bawa pulang dan diikat di tengah kampung. Bersama keluarga dan orang-orang kampungnya mereka mengadakan perayaan syukur berhari-hari dalam bentuk tarian gawi sodha. Perayaan ini sekaligus menjadi olok-olokan para manusia kepada hewan yang berhasil mereka tangkap. Belut itu ditempatkan di tengah lingkaran, dipajang dan ditertawakan. Tanpa mereka sadari, tindakan ini justru mencelakakan seluruh kampung hingga akhirnya tenggelam dan kampung tersebut menjelma danau.



Gawi Sodha - Dok Pribadi: Dasvitkona

Sebagian penduduk saat itu berusaha melarikan diri di tengah kekacauan. Akan tetapi ada kutukan yang bekerja, siapa yang melarikan diri dan masih berpaling ke belakang, seketika itu juga akan berubah menjadi batu. 

Maka dari itu, tak jauh dari danau, kita akan menemukan sebuah batu berbentuk tubuh seorang wanita yang sedang menggendong bayinya. Konon, batu tersebut satu-satunya yang masih tersisa dari peristiwa yang menenggelamkan kampung Sora itu, dan masih bisa kita temukan hingga hari ini.

Agar tidak kebingungan, saya menyarankan, sebaiknya kalian berkunjung ke sisi lain dari dasvitkonazone, sebelum lanjut membaca isi artikel ini hingga selesai. 

Sebuah legenda telah ditulis ulang untuk dipersembahkan ke hadapan kalian: TIWU SORA


Pengembangan Pariwisata

Kisah yang perlahan menghilang di tengah masyarakat ini, coba dihidupkan kembali oleh Pemerintah Kabupaten Ende melalui Program Pengembangan Pariwisata yang telah dimulai dengan perbaikan jalur infrastruktur dari Nduaria menuju Kotabaru. 

Hal ini disampaikan oleh Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Ende, Marselinus Y. W. Petu bersama wakil Bupati Drs. H. Djafar H. Achmad, MM, pada dialog interaktif dengan Radio Republik Indonesia (RRI) Ende tanggal 10 Oktober 2017 yang lalu, setelah melakukan kunjungan kerja ke Desa Tiwu Sora. 

Kalian bisa main-main ke situs resmi PEMKAB ENDE yang memuat berita lengkap tentang perbincangan ini: DANAU TIWUSORA JADI DESTINASI PARIWISATA BARU

Danau Sora atau Tiwu Sora dalam bahasa Indonesia adalah sebuah danau yang terletak tidak jauh (-/+ 500Meter) dari puncak tertinggi Kabupaten Ende. Danau ini masuk dalam wilayah administrasi Desa Tiwu Sora. Merupakan salah satu desa dari Empat Belas Desa dan Kelurahan yang berada di Kecamatan Kotabaru, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur.


Cerita Masa Kecil

Saya mendengar nama Tiwu Sora sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar, dan selalu diiming-imingi ibu untuk ke sana bersama-sama, suatu saat nanti. Hm....

Saat itu, Ibu saya yang masih merupakan Guru SD aktif yang tengah bersemangat menggali kembali cerita-cerita rakyat yang beredar di masyarakat secara turun temurun. 

Sebagai orang Lio yang leluhurnya ditanam di puncak Kelisoke, dekat dengan Tiwu Sora, Legenda Tiwu Sora barangkali telah menjadi santapan menarik anak-anak di kalangan kami sejak bumi dijadikan *cukup berlebihan saya yah #eh

Sekali waktu, saya diajak ibu untuk menemani beliau mengunjungi salah satu kerabat kami yang diyakini mengetahui dan menghafal dengan baik Legenda Tiwu Sora tersebut. 

Masih lekat di ingatan saya, anak dari kerabat itu, adalah kawan seangkatan saya di Sekolah Menengah Atas. Rumah mereka berada di perkampungan Onekore (dulu sampai sekarang dikenal dengan Kelurahan Onekore). Maka dari itu, ketika ibu sibuk mendengarkan tuturan dari sang kerabat, saya sibuk bermain bersama anaknya hingga kelelahan, dan ibu tiba-tiba sudah mengajak pulang. Saya mendengarkan perbincangan mereka secara sambil lalu sebab asik bermain.

Perbincangan tersebut yang saya pikir sudah lama sekali tersimpan di kepala, dan mulai bercampur dengan memori-memori yang lain. Beberapa minggu yang lalu, saya meminta Ibu menceritakan ulang kepada saya. Sayang sekali, ingatan beliau sudah tidak sebaik dulu. 

Selain itu, menurut beliau, ada kisah lain yang jauh lebih kompleks dan mengandung sejarah yang panjang sehingga memerlukan waktu khusus untuk berkunjung mendengarkan penuturan orang-orang tua (kisah tersebut telah coba ibu tuliskan kembali, 12 halaman panjangnya, saya perlu mengkonfirmasi semuanya kembali tentu saja, semoga ada kesempatan bagi saya untuk melakukan penelusuran dan mempublikasinya suatu saat nanti).


Menulis Ulang

Saya kemudian teringat seorang kawan saya di Facebook, yang adalah seorang Pastor Paroki di sebuah desa yang tak jauh dari Tiwu Sora. 

Pastor tersebut kemudian membantu saya mendapatkan teks Legenda Tiwu Sora dalam bahasa Indonesia, maupun juga dalam bahasa lio, bonus file pdf cerita bersambung Tiwu Sora yang dimuat di Majalah Anak Kunang-kunang sejak Januari-Mei 2018. 

Beliau ternyata adalah seorang Peneliti. Berbekal teks tersebut, saya menuliskannya kembali dengan sedikit tambahan pada bagian tertentu, biar lebih dramatis gitu. Demikian kisah tersebut telah saya unggah juga di blog ini, cerita itu yang saya anjurkan untuk dibaca kawan-kawan sebelum meneruskan membaca tulisan ini. Semoga sudah dilaksanakan yah. *tosss

Tiwu Sora. Dok: Eddieson Djea

Untuk menikmati pemandangan Tiwu Sora yang luar biasa seperti di atas, bukanlah semudah membalikkan telapak tangan. Saya sendiri beberapa kali batal melakukan perjalanan karena berbagai pertimbangan, akan tetapi saya tetap ingin menulisnya, sebab saya pikir ini sangat penting. 

Sebelum semakin lama cerita ini semakin menghilang, dan Tiwu Sora hanya akan didatangi oleh petualang-petualang dan penjelajah-penjelajah dari luar, sementara orang-orang yang menempati pulau ini (termasuk diri saya sendiri) tidak mengenali petak tanah juga keajaiban yang dihadirkan Tuhan di depan matanya. 


Para Penjelajah

Untuk menghadirkan pengalaman berkunjung ke Tiwu Sora, saya melakukan blog walking ke beberapa situs yang muncul di mesin pencarian, dan mewawancarai salah satu pemilik blog tersebut. 

Ternyata, sudah lumayan banyak pengunjung yang mendatangi Tiwu Sora. Baik itu yang berasal dari daratan Flores, maupun para petualang nekat, dari dalam atau pun luar negeri.

Saya juga bertemu beberapa kawan yang pernah berjibaku melewati medan sulit menuju Tiwu Sora, dan meminta mereka menceritakan pengalaman perjalanannya.

Perjalanan menuju Tiwu Sora dapat dijangkau melalui dua jalur, dari Kecamatan Kotabaru yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Sikka, atau dari Desa Deturia yang lebih dekat dengan Kota Ende. 

Berdasarkan pengalaman kawan-kawan, perjalanan sebaiknya dilakukan sepanjang bulan Maret – September. Pada bulan-bulan dimaksud, cuaca sangat mendukung, apa lagi saat bulan Maret ketika musim hujan baru saja selesai, padang rumput yang terhampar di sepanjang perjalanan sedang hijau segar memanjakan mata. 

Padang Sabana menuju Tiwu Sora. Dok: Melinda Suwandi

Selain sabana luas dengan hewan-hewan yang merumput bebas, terdapat air terjun Muru Mera yang mengalir deras di pinggir jalan saat kita melewati Desa Ratenggoji, salah satu desa yang juga akan dilewati dalam perjalanan menuju Tiwu Sora. Dinamakan Muru Mera, karena tebing tempat air mengalir berwarna merah/orange. 



Air Terjun Muru Mera di Desa Ratenggoji. Dok: Eddieson Djea

Ada satu kebiasaan masyarakat setempat yang cukup menarik, kuda dan sapi dilepas bebas di padang rumput, menjelang sore, para gembala akan datang menghampiri, mengumpulkan mereka dengan cara mengocok botol berisi garam sebagai seruan untuk pulang kembali ke kandang.

Sapi-Sapi di Padang sepanjang perjalanan menuju Tiwu Sora. Dok: Melinda Suwandi

Jika kita melakukan perjalanan melalui jalur Deturia, sebuah desa yang juga termasuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Kotabaru, kita akan menghabiskan waktu kurang lebih dua jam dari Kota Ende melewati jalanan yang kondisinya sudah lumayan lebih baik. 

Meskipun di beberapa titik masih berpasir dan berkerikil. Belum lagi tikungan tajam yang menuntut kita harus terus berhati-hati. 

Dari Deturia kita membutuhkan waktu kurang lebih satu setengah jam melewati padang rumput, hutan dan ladang penduduk menuju Danau-Tiwu Sora. Perjalanan ini, sebaiknya ditemani oleh penunjuk jalan (Local Guide) jika tak ingin menghabiskan waktu berputar-putar bagaikan bumi pada porosnya, terjatuh dan tak bisa bangkit lagi kemudian malah kehilangan arah *Alert: Jangan baca pakai nyanyi. Hihi…



Video dok. perjalanan Eddieson Djea. Editing: DaSvitKona

Penunjuk jalan yang adalah penduduk setempat selain membantu mengarahkan ke jalan yang benar menuju Tiwu Sora, juga membantu kita mengidentifikasikan tumbuhan dan hewan/binatang yang akan sangat banyak kita temui sepanjang perjalanan. 

Jika nekat datang pada musim hujan seperti sekarang (November – Februari), sebaiknya berjaga-jaga dengan lintah yang bertebaran di batang-batang kayu. Lintah-lintah tersebut merayap naik dan mengisap darah tanpa kita sadari. 

Kita juga boleh menanyakan apa saja yang berhubungan dengan kebiasaan, adat istiadat di desa Tiwu Sora yang masih menjunjung tinggi tradisi dan warisan para leluhur.

Lintah yang bermunculan dari batang-batang kayu. Dok: Melinda Suwandi

Seperti yang dikisahkan pada Legenda Tiwu Sora, masyarakat Tiwu Sora percaya bahwa leluhur mereka adalah penghuni danau. 

Demikian juga mereka yang masih menjalani hidup di dunia ini, meyakini bahwa setelah masa mereka di dunia ini telah selesai, mereka akan berkumpul bersama sanak saudaranya di Tiwu Sora. 


Padang Kaca dan Hutan Hujan Tropis

Maka dari itu, Tiwu Sora dan lingkungan sekitarnya masih sangat alami serta dipandang memiliki daya magis. Suasana yang mengundang decak kagum sekaligus membuat kita ingin merefleksi diri.

Hamparan air yang begitu luas, bagaikan sebuah padang kaca yang memantulkan baris pepohonan hutan hujan tropis di sekeliling danau. 

Seketika memberikan rasa takjub dan ketenangan, di saat bersamaan membuat kita sebagai manusia merasa kecil tak berarti di hadapan alam semesta dan Sang Pencipta. 

Perjalanan yang jauh nan menantang, akan terbayar lunas saat tiba di pinggir danau dan menyaksikan seluruh alam raya karya bapa ini.

Jika beruntung, air yang jernih tersebut membuat pandangan kita menembus hingga ke dasar danau. Akan nampak susunan kayu-kayu lapuk yang membentuk pola tertentu, menyerupai tiang-tiang rumah, membisu di kedalaman danau. 

Oleh karena itu, ada larangan untuk berenang di Tiwu Sora. Jika ingin memancing, biarkan ikan atau belut yang dengan sendirinya menghampiri mata kail kita. Sesekali bebek hutan terlihat berenang mengitari danau.


Seorang anak sedang memancing ikan/jika beruntung, ada belut juga. dok: Eddieson Djea

Pada umumnya, masyarakat Lio memiliki kepercayaan yang sama. Tentang leluhur yang menghuni tempat tertentu dan akan berakhir di sana ketika maut menjemput. 

Hal ini juga diyakini masyarakat yang tinggal di perkampungan sekitar Danau Kelimutu, kalian bisa membaca cerita pendek yang pernah saya tuliskan sebelumnya di sini: Ketika Bapak Hilang

Cerita tersebut mungkin hanya fiksi belaka, akan tetapi sebagian dari isi cerita saya ambil dari kisah-kisah yang berkembang di masyarakat kami, orang Lio. (bukan kebetulan, jika letak kampung bapak saya tepat di kaki Gunung/Danau Kelimutu yang melegenda itu).

Kita kembali lagi ke Tiwu Sora, yang tadi itu intermezo. Saya memang suka mengait-ngaitkan segala hal.

Dari pengalaman perjalanan seorang kawan saya yang jauh-jauh datang dari Jakarta, setiap orang yang pertama kali datang ke Tiwu Sora dan memasuki wilayah ini, akan diberikan sebuah rangkaian bunga rumput. Bunga rumput tersebut kemudian dipakaikan pada leher oleh sang penunjuk jalan sebagai simbol penerimaan dan selamat  datang. Rangkaian bunga rumput itu, nantinya harus dilemparkan ke tengah danau ketika telah tiba di sana. Demikian, apa yang berasal dari alam, haruslah dikembalikan ke alam.

Dok: Melinda Suwandi pada Perjalanannya ke Tiwu Sora

Memutuskan berpetualang ke Tiwu sora, artinya menyiapkan diri untuk menginap di sana. Sebaiknya bermalam di perkampungan, karena belum ada lokasi perkemahan yang dianjurkan. 

(Beberapa kawan yang pernah ke sana, akhirnya memutuskan berkemah tetapi tidak tepat di pinggir danau, melainkan di tengah hutan akibat kemalaman di jalan). 

Medan yang sangat sulit,tidak memungkinkan kita untuk langsung minggat begitu saja sepulang dari danau. 

Kesempatan ini tentu saja mesti dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menghabiskan waktu bertemu masyarakat setempat, mengalami keseharian mereka secara langsung, mempelajari adat dan kebiasaan serta mencoba kopi di ketinggian Tiwu Sora yang tak kalah enak dengan kopi-kopi lain di daratan Flores.


Harapan

Semoga Pemerintah Kabupaten Ende melihat potensi ini dengan bijak. Sehingga apabila Pariwisata Tiwu Sora dikembangkan, pertimbangan-pertimbangan akan kondisi alam, sumber daya masyarakat desa, maupun juga hasil bumi serta kekhasan hidup orang-orang Tiwu Sora menjadi perhatian utama. 

Juga tentu saja tidak lupa, edukasi terhadap wisatawan yang akan datang berkunjung ke Tiwu Sora. Jangan sampai kemajuan di sisi tertentu, malah menimbulkan kemunduran di sisi yang lain. 

Jika Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia kita masih bisa diberdayakan, investor hanyalah pihak yang ikut menyempurnakan, bukan pemilik lahan atau penentu keseluruhan pembangunan.

Sementara itu, saya masih menentukan HARI BAIK untuk berkunjung dengan BENAR ke Tiwu Sora. Nantikan sekuelnya yah! SEGERA!



Salam Literasi #Eh




***



Biar keren seperti penulis-penulis beken, tidak lupa saya sertakan ucapan terima kasih di sini kepada:

Pater Rukhe A. Woda, SVD atas teks cerita rakyat Tiwu Sora dalam bahasa Indonesia dan bahasa Lio oleh Aron Mbete, juga salinan Cerita Bersambung dengan judul yang sama dari Majalah Kunang-Kunang Edisi Januari-Mei 2018 (majalah anak-anak yang mengisi ruang masa kecil saya dengan kesan yang cukup mendalam).

Yohanes Baptista Juang Wutun, atas kesediannya membaca Tiwu Sora yang telah saya tulis ulang dan memberi masukan sehingga lebih siap ketika tiba di hadapan pembaca.

Eddieson Djea dan Andy Biantoro untuk pengalaman perjalanannya ke Desa Deturia, Lepembusu Kelisoke dan Tiwu Sora serta dokumentasi foto maupun juga videonya.

Mba Melinda Suwandi yang sangat Mencintai Flores, untuk obrolan hangat dan foto-fotonya - Yuk Nyasar di Flores

Om Armin Bell, untuk rumah yang nyaman dan kopi yang selalu benar

LG Corner, Ruteng

Serta seluruh pihak yang sudah membantu saya dalam menyelesaikan 2000++ karakter ini.

-Du’a Ngga’e Mbana Sama-

Berikut, sebuah sentuhan akhir dari Kakak Luis Thomas Ire dan kawan-kawan yang bisa menemani waktu santai kalian sembari membaca ulang tulisan ini dan menyesap kopi sesuai takaran masing-masing. *Peringatan: Tulisan ini tidak cukup dibaca hanya sekali!













TIWU SORA



(Sebuah Legenda)
Ditulis ulang oleh: Maria Pankratia



Agar tetap waras. Ilustrasi: Oan Wutun


Dahulu kala, di sebuah desa hiduplah seorang laki-laki paruh baya bernama Sora. 

Sora dan keluarganya hidup berkecukupan. Semua harta yang ia peroleh, selain karena Sora rajin bekerja, Sora juga memilik tanah garapan yang sangat luas. 

Jika dibandingkan dengan tanah milik warga sekampung, tanah garapan warisan leluhur Sora adalah yang terluas.

Sora memilik sebidang tanah kosong yang letaknya cukup jauh dari ladang yang lama. Tanah kosong itu, bersisihan dengan sebuah aliran sungai yang mengalir. 

Penduduk setempat menyebutnya dengan Kali Lado. Meski tidak begitu besar, sungai itu berlimpahan udang, belut, kepiting dan ikan. 

Sora kerap kali menghabiskan waktunya di Kali Lado. Pagi hari sebelum bekerja, juga ketika senja tiba setelah ia bekerja. 

Sora akan membersihkan badan atau sekedar mencuci muka dan kakinya di Kali Lado. Sesekali ia menaruh jaring penangkap sebelum mulai bekerja, kemudian diambil saat sore hari, sebelum kembali ke rumah. 

Pada musim hujan, kepiting dan udang besar akan sangat banyak terperangkap di jaring yang ia pasang.

Sebagaimana kebiasaan membuka lahan baru, pepohonan harus ditebang dan semak harus dibersihkan kemudian dibakar. 

Oleh karena itu, waktu yang tepat untuk membuka lahan baru, adalah pada penghujung musim kemarau. Saat tumbuhan dan semak sangat kering sehingga mudah dibakar. 

Kemudian, hanya menunggu musim hujan tiba, bibit tanaman pun siap disemai. Jagung, ubi, palawija, kacang-kacangan, dan padi ladang. Sora juga menanam talas di dekat tebing sungai.

Tanaman tumbuh subur di lahan baru itu. Menjelang bulan ketiga, semua bibit yang ditanam nampak mulai bertumbuh besar. 

Padi mulai berbuah, jagung tumbuh tinggi dan berbuah besar, demikian pula dengan kacang-kacangan, ubi dan palawija. 

Sora sekeluarga pun lebih sering menghabiskan waktu di ladang, mengawasi tanaman-tanaman mereka. 

Tak ada hama yang menghampiri tahun ini, juga hewan-hewan seperti babi hutan, burung nuri dan burung beo yang suka merusak tanaman. 

Setiap hari, Sora bersama keluarganya menikmati hasil panen dari ladang mereka. Untuk hasil yang berlimpah itu, Sora dan keluarganya senantiasa mengucap syukur kepada alam semesta.

Sayang, semuanya tidak berjalan mulus seperti harapan Sora. 

Suatu ketika, seperti biasa, Sora dan keluarganya saling berbagi tugas. Istri dan anak-anak Sora bertugas untuk memetik jagung dan kacang. Sora sendiri menuju tebing sungai untuk memeriksa rumpun-rumpun talas yang telah ia tanam. 

Betapa terkejutnya ia, ketika menemukan rumpun-rumpun talas yang mulai berisi menjadi berantakan, tercabut hingga ke akar-akarnya. Ia menduga ada babi hutan atau hewan lain yang merusak talas-talas tersebut. 

Sora segera memeriksa sekeliling lahan dengan cermat, tetapi tak tampak jejak babi hutan atau hewan lainnya di sekitar rumpun talas. Sora menjadi begitu geram. 

Namun, ia berusaha tetap tenang dan menahan amarahnya sebab senja telah tiba, dan hari akan beranjak gelap. Ia dan keluarganya harus kembali ke rumah. Sora memutuskan akan kembali besok dan mencari tahu penyebabnya.

Sepanjang malam ia berpikir keras. Dalam hatinya ia bertanya-tanya, mungkinkah yang merusak rumpun-rumpun talasnya itu adalah tikus, tupai, atau seperti yang ia duga sebelumnya, babi hutan?

Akan tetapi jika memang hewan-hewan itu yang merusak tanamannya, mengapa tak ada satu jejak pun di sana?

Keesokan harinya, pagi-pagi benar, Sora berjalan kaki menuju ladangnya. 

Sesampainya di ladang, Sora menghampiri rumpun talas di tebing sungai itu. Tampak umbi dan akar-akar talas raib tak tersisa. 

Dengan teliti, ia perhatikan tiap sudut ladang. Semakin lama ia perhatikan, ia menemukan sebuah tanda, yang entah apa tetapi cukup mencurigakan. 

Sora kemudian memutuskan untuk beristirahat sembari memikirkan ide yang tepat untuk menangkap sang pelaku.

Ketika beristirahat, muncul sebuah gagasan, ia memutuskan untuk membuat perangkap besar di sekitar rumpun talas. 

Ia yakin jika dugaannya benar, besok pagi, ia sudah akan menangkap si pelaku yang merusak ladangnya, hidup-hidup. 

Siang itu juga, Sora mulai mengerjakan perangkap. Ia meletakkan perangkap yang ia buat di sekitar rumpun talas yang memiliki tanda khusus, yang ia temukan pagi tadi. 

Sore hari tiba, pekerjaan memasang perangkap telah selesai, Sora merasa puas dan kembali ke rumahnya. Ia berharap malam ini tak akan panjang sebab besok adalah hari yang ia nanti-nantikan.

Hari yang Sora nanti-nantikan tiba. Pagi-pagi buta, meski udara masih begitu dingin, Sora sudah beranjak dari rumah menuju ladang. Istri dan anaknya ia sarankan menyusul kemudian. 

Sora tiba di kebun saat matahari mulai bersinar. Sebelum menuju rumpun talas, terlebih dahulu ia memeriksa tanaman yang lain. Padi, palawija dan kacang masih utuh. 

Sora beranjak menuju rumpun talas, ia berjalan perlahan sambil terus memperhatikan setiap perangkap yang ia pasang. Tak ada hewan apa pun yang terjerat. Akan tetapi ada satu perangkap yang rusak. 

Sora yakin ada yang sempat berjibaku semalaman dengan jerat tersebut hingga akhirnya dapat lepas kembali. Di sekitar perangkap yang rusak itu, terdapat lendir yang sangat licin. Ketika Sora menyentuhnya, terasa lengket di tangan.

Sebagai seorang petani berpengalaman, Sora tentu belum putus asa, ia semakin yakin, sebentar lagi ia akan menemukan si pelaku. 

Sora memperbaiki perangkap yang rusak itu sehingga jadi lebih kokoh. Kali ini, ia menambahkan beberapa perangkap lain yang sama besar di sekitarnya, sehingga kemungkinan si pelaku tertangkap akan lebih besar. 

Tak lupa, ia tambahkan dedak padi dan umbi talas besar yang masih tersisa dari panen sebelumnya. 

Setelah merasa cukup dengan pekerjaan hari itu di rumpun talas, Sora bergabung dengan istri dan anak-anaknya untuk mengerjakan bagian ladang yang lain.

Daun-daun pohon kelapa yang mengering harus diturunkan, semak-semak yang mulai tumbuh lagi di antara tanaman harus dibersihkan. Mereka sekeluarga kembali ke kampung saat senja mengembang di ufuk barat.

Di rumah, semalaman Sora tak dapat memejamkan mata, bolak-balik di tempat tidur memikirkan makhluk apa yang akan ia temukan di perangkap nanti. 

Seperti hari sebelumnya, pagi-pagi benar Sora kembali ke rumpun talas di tebing sungai. Kali ini ia berangkat sendiri, tanpa istri dan anak-anaknya. Dari kejauhan, ia dapat memastikan sesuatu telah terjebak dalam perangkapnya. Ia kemudian berlari sambil berteriak, “Gena dowa!”

Sungguh tak dinyana, di dalam perangkap tersebut, sesuatu yang besar dan licin tengah bergerak buas hendak membebaskan diri dari cengkraman jerat yang menjebaknya semalaman. 

Sora terperanjat menatap seekor belut besar dan ganas, bermandikan lendir di sekujur tubuhnya, meronta ingin melepaskan diri dari perangkap. 

Sora tak habis pikir, bagaimana mungkin ada belut yang besarnya hampir seukuran paha orang dewasa. Dan bagaimana bisa, belut itu terjebak ke dalam perangkapnya?

Setelah menenangkan diri cukup lama di tepi sungai, Sora kembali ke tempat perangkap berisi belut tadi. Ia mengeluarkan tali dan gelang kawat yang telah ia persiapkan dari rumah. 

Sora membuka pintu perangkap, kemudian mengalungkan gelang kawat pada tubuh sang belut melalui kepalanya. Tubuh belut itu diikatnya kuat-kuat dengan tali hingga belut tersebut tidak dapat bergerak. 

Setelah merasa aman dan siap, Sora mengisi belut tersebut ke dalam keranjang dan memikulnya kembali ke kampung. Belut itu luar biasa berat. 

Susah payah Sora memikulnya pulang. Di sepanjang perjalanan, Sora dibuat khawatir sebab si belut terus saja meronta hendak membebaskan diri.

Ketika tiba di kampung, di halaman Sa’o Ria, belut itu tidak tampak lemas, masih tetap segar. Sora  mengikat si belut pada sebuah pohon di halaman rumah adat mereka. Dengan begitu ia dapat memamerkan hasil tangkapannya kepada semua orang. 

Berita tentang Sora dan tangkapan belut raksasanya, tersebar begitu cepat. Tak butuh waktu lama, warga kampung berhamburan keluar rumah, berdatangan dari segala penjuru dan mengerubungi Sora untuk melihat belut besar itu. Meski telah diikat kuat-kuat, belut itu terus bergerak liar, meronta-ronta.

Berita tentang Sora dan belut raksasa tersebar semakin luas. Semakin banyak orang yang berdatangan hendak melihat belut yang tak berdaya itu. Penduduk dari kampung tetangga pun tak mau ketinggalan, menyaksikan keanehan yang terjadi di kampung Sora. 

Berbeda dengan para pria dan beberapa anak yang cukup berani mendekat, bahkan mengelus si belut. Tak sedikit kaum wanita yang berteriak ketakutan bercampur jijik melihat makhluk besar berlendir tergantung di pohon.

Malam itu, bulan bersinar temaram di atas kampung, Sora mengundang keluarga besarnya datang ke rumah. Beberapa lelaki dewasa duduk melingkar di halaman rumah. 

Di bawah sinar rembulan, mereka serius membicarakan kejadian aneh hari itu. Sementara kaum wanita, menanti dengan was-was sembari menjerang air panas untuk menyiapkan minuman. 

Dikelilingi lingkaran manusia, Sora bercerita tentang awal mula hingga akhirnya ia berhasil menangkap dan membawa pulang belut besar ke kampung mereka. 

Di tengah perbincangan, seseorang di antara mereka tiba-tiba menanyakan, apa tindakan selanjutnya terhadap belut itu? Apakah mereka harus membunuhnya atau dibiarkan begitu saja? 

Beberapa orang mengusulkan untuk membunuhnya. Beberapa yang lain, hendak melepaskannya. 

Di tengah perdebatan, muncul sebuah usulan agar tidak membunuhnya atau melepaskannya. Sebaliknya, mereka akan mengadakan sebuah pesta yang meriah dengan makanan, minuman, moke, dan tabuhan musik serta gawi sodha selama tujuh hari tujuh malam sebagai perayaan syukur. 

Ada beberapa orang tidak setuju dengan usul tersebut. Namun, setelah berembuk cukup lama, akhirnya diputuskan perayaan syukur tetap dilaksanakan.

Upacara pun dipersiapkan, kerbau, sapi, babi, kambing, ayam disembelih. Beras berkilo-kilo ditanak, minuman keras didatangkan dari tempat penyulingan terbaik. Alat musik dibunyikan, orang-orang mulai bersukaria. 

Semua orang di kampung diajak untuk memeriahkan perayaan syukur tersebut. Warga desa tetangga juga ikut hadir. Ata sodha terbaik, diundang khusus dari tempat yang jauh. 

Belut besar itu telah dipindahkan, masih dalam kondisi terikat, si belut diletakkan di tengah-tengah  lingkaran orang-orang yang sedang gawi sembari menenggak moke dan menyantap nake wawi.

Hari beranjak petang, kegelapan meliputi kampung. Obor-obor dinyalakan, mereka terus menari, bersukaria hingga pagi tiba. 

Beberapa orang yang mulai kelelahan, terlihat beristirahat. Sementara sebagian yang lain, yang masih bersemangat dan telah dipengaruhi minuman keras, tetap meneruskan tarian mereka. 

Mereka bertandak ria, memekik, tertawa dan berteriak sepuasnya. Demikian perayaan berlangsung sepanjang dua hari dua malam.

Memasuki hari ketiga, dari arah timur, matahari bergerak naik, orang-orang masih terus menari. Para pemuda dan pemudi saling bertukar selendang, melempar senyum menggoda satu sama lain. 

Mereka menari mengitari belut besar yang sedang terikat itu, seakan mengolok-olok kemalangannya yang hanya bisa menonton keriuhan di sekitarnya. 

Makanan dan minuman terus disuguhkan, semua orang tak terkecuali anak-anak, mabuk minum minuman keras. Menjelang sore, langit tiba-tiba berubah mendung. Di kejauhan, awan hitam menggantung pertanda akan turun hujan lebat.

Rintik-rintik hujan mulai jatuh, pakaian yang dikenakan mulai basah oleh air hujan yang bercampur keringat. Orang-orang yang menari tidak peduli, mereka terus menari, menenggak moke dan memekik kegirangan. Melihat itu, Sora pun berteriak,  ia bertanya kepada mereka, 

“Apakah kalian semua sudah lelah?”

Orang-orang itu menjawab serentak, “Kami belum lelah. Kami mau gawi, gawi dan gawi! Tuangkan kami moke dan berikan kami ruja ra, pesta ini tidak boleh berhenti!”

Demikian pesta terus berlanjut sesuai dengan permintaan khalayak ramai. Beberapa kali, Sora kembali menanyakan hal yang sama dan di setiap pertanyaan itu pula, Sora mendapatkan jawaban yang tidak berubah, mereka hanya ingin bersenang-senang, menari dan mabuk sepuasnya.

Hujan semakin lebat, guntur dan kilat bersahut-sahutan, angin bertiup kencang, orang-orang tetap menari dan memekik gembira. 

Perlahan air merayap naik pada pergelangan kaki. Sora juga mulai kehilangan keseimbangan karena terlalu banyak menenggak arak. Melihat air yang mulai tergenang Sora mengganti pertanyaannya, 

“Oiii, sudah sampai di mana airnya?”

“Ooo, baru sampai di pergelangan kaki,” teriak mereka serentak.

Sora menanggapinya dengan teriakan lagi, “Menarilah terus, kita gawi ma’e du’u!”

Hujan terus turun, lebat. Tak ada yang peduli, semua telah mabuk. Seperti orang yang kerasukan, mereka terus menari. 

Untuk yang kedua kalinya, Sora bertanya lagi,

”Deki emba dowa?”

Mereka menjawab, “Sudah sampai di lutut.”

“Apakah kalian mau berhenti?” tanya Sora lagi.

“Tandak terus, jangan berhenti!” jawab mereka dengan semangat yang tak berkurang sedikit pun.

Arak dan daging terus diedarkan. Tak peduli wanita maupun pria, semua mabuk sempoyongan. Sora bertanya lagi, yang ketiga kalinya, 

“Oiii semua yang menari, air sudah sampai di mana?”

Semua riuh menjawab, “Sudah di pinggang, menari terus!”

Hujan yang lebat, menyebabkan kampung kecil itu mulai tergenang. Banjir melanda, masuk hingga ke rumah-rumah dan tempat mereka sedang berpesta pora. Namun, orang-orang tersebut sama sekali tidak peduli. 

Karena mabuk berat, tak ada seorang pun yang menyadari bahwa hujan yang semakin lebat dan air yang mulai tinggi, membuat belut besar yang mereka kelilingi menjadi lebih leluasa untuk membebaskan diri. Dengan beberapa sentakan, tali-tali yang mengikatnya mulai longgar, terlepas begitu saja. 

Belut raksasa itu pun mulai berenang bebas di antara orang-orang yang menari. Sesekali ia meloncat ke permukaan, ia turut bergembira, seolah-olah memberi semangat kepada semua yang sedang menari agar jangan berhenti berpesta.

Sementara itu, orang-orang tua yang sejak awal tidak menyukai tindakan Sora terhadap belut besar yang ia jerat, dan keputusannya untuk mengadakan perayaan syukur tak masuk akal itu, mulai geram. 

Mereka mencium gelagat yang aneh. Cuaca semakin buruk. Banjir semakin besar. Sebentar lagi, kampung pasti akan tenggelam karena banjir.

Para orang tua mulai berteriak marah, mereka yakin para Dewa di tempat tertinggi sedang sangat murka akibat ulah Sora dan keluarganya, sehingga mendatangkan hujan yang lebat dan kampung kini dilanda banjir. 

Mereka memutuskan untuk mengambil sumpah dan memisahkan diri dari kelakuan orang-orang yang sedang berpesta pora itu. 

Dengan sendok bambu, mereka membuat garis sebagai tanda pemisah antara tanah yang sedang mereka pijak, dengan tanah tempat Sora dan orang-orang sedang menari. Mereka kemudian merapalkan sebuah mantra kutukan:

”Kami soke sa dowa kao ina, kami da gha, miu da gharu. Du’a Ngga’e pango no’o nia-nia, nggiu no’o iju-iju. Demi kora no’o bere soli mbebho  melo, gena du’a ebe eo sala ria leko bewa. Re’e mbana leka du’a ebe eo sala leko. Rembu tu leka ebe eo gebo lemo. Ebe ina sama ngere meto eo gebo goe.”

Yang artinya: “Kami menandai dengan sendok ini, kami ke sini, kamu ke sana. Dewa perhatikanlah wajah, batang hidung, sosok orang-orang itu. Jika bencana tanah longsor datang dan menghancurkan jagat raya, sasarilah mereka yang bersalah. Biarkan kemalangan menimpa orang yang bersalah. Hancurlah mereka yang nista. Mereka ibarat ulat yang busuk dan najis!”

Ada sebagian penduduk yang tidak ikut terlibat dalam perayaan, yang mulai berubah menjadi malapetaka tersebut. Kesadaran mereka masih penuh, sebab tidak ikut serta menenggak minuman keras, mereka hanya menonton orang-orang yang menari dan mabuk. 

Mereka kemudian berusaha untuk melarikan diri, saat banjir telah mencapai lutut. Akan tetapi, kutukan sudah mulai bekerja. Siapa yang melarikan diri dan masih berpaling ke belakang, seketika itu juga akan berubah menjadi batu. Di tengah kepanikan, beberapa dari mereka lupa mengindahkan kutukan tersebut, dan berubah menjadi batu.

Hujan terus turun dengan lebatnya, hari sudah malam dan kegelapan meliputi seluruh kampung. Tak ada lagi obor yang bisa dinyalakan, tak ada lagi cahaya apa pun. Banjir sebentar lagi akan mencapai tiang rumah. Meskipun demikian, orang-orang masih terus menari. 

Di tengah kesadaran yang telah menurun, Sora bertanya lagi, 

“Sampai di mana air naik?”

Mereka menjawab, “Sudah di pinggang, sedikit lagi naik ke perut. Ooooii ada yang sudah di dada hahahaha….” Demikian salah satu dari mereka berteriak sembari tertawa terbahak-bahak.

Sora yang mabuk menyuruh mereka untuk tetap menari, 

“Kalian sebaiknya menari terus, arak dan daging masih banyak, mari kita hangatkan tubuh dan makan daging sepuasnya. Pestaaaa….”

Semua orang bersorak membabi buta, meneriakkan arak dan nama Sora.

Orang-orang itu tidak tampak lelah sama sekali. Mereka seperti dikuasai kekuatan lain yang membuat mereka semakin liar dan tak terkendalikan. 

Mereka masih bertahan, berdiri melingkar dan menari. Tidak ada lagi yang memperhatikan belut besar, yang kini terus berenang, mengitari mereka. Sora berteriak lagi, 

“Sudah sampai di mana air naik?”

Mereka menjawab, “Sudah sampai di leher.”

Sebagian dari mereka sudah mulai kesulitan bernafas. Tetapi Sora menyuruh mereka untuk terus bergerak, menari dan bersukaria, 

“Teruslah menari, jangan berhenti!”

Semua orang telah kehilangan kesadarannya, mabuk arak bergelas-gelas dan daging yang tak terhitung banyaknya, yang terus diedarkan sejak dua hari yang lalu tanpa henti. 

Malam makin pekat, dari kejauhan guntur bergemuruh, kilat menyambar dan air yang turun dari langit tiada putusnya. Genangan air semakin tinggi, menutupi atap-atap rumah yang perlahan tenggelam beserta seluruh isinya. 

Kepala Sora masih menyembul di antara kepala orang-orang yang bergandengan tangan sejak hari pertama membentuk lingkaran dan menari.

Di saat-saat seperti itu, Sora masih sempat berteriak menanyakan hal yang sama, 

“A...i..r su...da....h sa...m...pa.....i di.... ma......na?”

Ini adalah suara terakhir yang terdengar dari Sora. Tak ada suara lain yang menyahutinya lagi, memberikan jawaban dan pekikan yang membakar semangat untuk terus menari seperti yang terjadi sebelumnya.

Sora dan keluarganya, orang-orang di kampung mereka, rumah beserta seluruh isinya, Sa’o Ria dan halaman luas, tempat mereka menari mengelilingi belut yang malang, serta warisan leluhur yang tertinggal, musnah tenggelam. 

Tak ada satu pun yang selamat, termasuk warga desa tetangga yang ikut memeriahkan perayaan Sora itu. 

Belut besar yang sejak tadi, tidak lagi menjadi pusat perhatian mereka, kini berenang ke sana dan ke mari menikmati tempat tinggal barunya. 

Si belut telah selamat dari jerat dan ancaman kematian, ia diselamatkan oleh keserakahan manusia.

Malam kian larut, dari langit, air masih terus tumpah, kilat menyambar dan guntur bergemuruh, genangan semakin tinggi tak menyisakan apa pun, kampung Sora menghilang menjelma Tiwu Sora.

-Tamat-

Tiwu Sora dalam bahasa setempat atau Danau Sora dalam bahasa Indonesia, terletak di sebuah desa, yang juga bernama Desa Tiwu Sora, Kecamatan Kotabaru, Kabupaten Ende, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Hingga kini, masyarakat setempat menaruh kepercayaan bahwa belut-belut yang terdapat di Tiwu Sora adalah orang-orang Kampung Sora yang tenggelam ketika perayaan syukur tersebut. Jika tiba di Tiwu Sora dan air sedang jernih, kita akan melihat tumpukan kayu yang membentuk pola tertentu, seperti tiang-tiang rumah. Tak jauh dari danau, ada sebuah batu yang menyerupai seorang ibu sedang menggendong anaknya. Konon, batu tersebut adalah salah satu yang tertinggal akibat kutukan, seperti yang diceritakan.


Keterangan:
Tiwu                : Danau
Gena Dowa     : Sudah Kena (Tertangkap)
Sa’o Ria           : Rumah Besar, Rumah Adat
Gawi                : Tandak
Sodha              : Syair lagu dalam bahasa adat yang dinyanyikan secara akapela
Ata Sodha       : Penyair yang membawakan syair lagu dalam bahasa adat secara akapela
Moke               : Arak
Nake Wawi     : Daging Babi
Ruja ra            : bagian tertentu dari daging hewan yang diolah bersama darah hewan dengan perasan jeruk limau, cuka, garam dan lombok serta bumbu lainnya.
Gawi ma’e du’u           : Jangan berhenti tandak!
Deki emba dowa         : Sudah sampai di mana?