Tampilkan postingan dengan label Music. Tampilkan semua postingan

South Africa National Anthem~

Barangkali ini yang namanya kekuatan dari sebuah lagu kebangsaan.

Pertama kali saya mendengar lagu ini karena menonton "Invictus" ; film drama biografi tahun 2009 berdasarkan peristiwa di Afrika Selatan sebelum dan selama Piala Dunia Rugby tahun 1995, diselenggarakan di negara itu setelah pembubaran apartheid. Film ini disutradarai oleh Clint Eastwood dan dikenal karena pemeran-pemerannya yang merupakan aktor-aktor bintang Amerika Serikat: Morgan Freeman, Matt Damon, dan masih banyak lagi. Cerita ini diadaptasi dari buku Playing the Enemy: Nelson Mandela and the Game That Changed a Nation karya John Carlin.
Sebuah film yang pada awalnya saya tonton hanya karena ada si Morgan Freeman (berperan sebagai Nelson Mandela), beliau salah satu aktor favorit saya dan juga karena film ini direkomendasi oleh kawan saya Almarhum Shanti Djemarut. Selera filmnya bagus :D

Sebelumnya saya berpikir ini sebuah lagu gereja karena aransemennya yang seperti sebuah hymne, apalagi dinyanyikan oleh Overtune secara acapela (pengisi soundtrack "Invictus"). Sampai pada adegan Matt Damon dan team rugby africa berada di lapangan dan menyanyikannya sebelum pertandingan final piala dunia rugby melawan New Zealand sebagai National Anthem of Africa, baru saya ngeh. Hm... Lagu ini memiliki spirit luar biasa dan iya saya menangis di akhir lagu (seperti biasa).

Fakta yang saya baca tentang lagu ini :

Struktur
Fakta bahwa ada modulasi di lagu ini dan berakhir pada kunci yang berbeda, bagian ini ada kemiripan dengan lagu kebangsaan Italia, sehingga membuat komposisinya tidak biasa. Lirik lagu ini menggunakan lima bahasa yang paling banyak digunakan di Afrika dari sebelas bahasa resmi Afrika Selatan - Xhosa (bait pertama,dua baris pertama), Zulu (bait pertama, dua baris terakhir), Sesotho (bait kedua), Afrikaans (bait ketiga), dan Inggris (bait akhir).

Sejarah
Lagu ini sebenarnya dua lagu yang digabungkan.
'Nkosi Sikelel' iAfrika 'disusun oleh guru sekolah Methodist bernama Enoch Sontonga pada tahun 1897. Lagu ini pertama kali dinyanyikan sebagai himne gereja (berarti dugaan saya tidaklah keliru ^^), tetapi kemudian menjadi sebuah lagu yang mendukung tindakan pembangkangan politik terhadap pemerintahan *apartheid (*cek wikipedia)
'Die Stem' adalah puisi yang ditulis oleh CJ Langenhoven pada tahun 1918 dan pengatur musik oleh Pendeta Marthinus Lourens de Villiers pada tahun 1921. 'Die Stem van Suid-Afrika' adalah lagu nasional Afrika bersamaan dengan ' God Save The King '/' God Save The Queen 'antara tahun 1938 dan 1957, ketika itu menjadi lagu kebangsaan tunggal hingga tahun 1994.

Pemerintah Afrika Selatan mengadopsi kedua lagu tersebut sebagai lagu kebangsaan pada tahun 1994, ketika tampil di upacara pelantikan Nelson Mandela.
Pada tahun 1997, pemerintah kemudian merembukan dua lagu tersebut,'Nkosi Sikelel' iAfrika dan 'Die Stem van Suid-Afrika untuk dijadikan lagu kebangsaan dengan tambahan lirik berbahasa Inggris pada empat baris terakhir dari bait pertama lagu 'Die Stem van Suid-Afrika', dengan perubahan yang dibuat untuk mencerminkan harapan masyarakat Afrika Selatan pasca-apartheid. (Sumber : Wikipedia)



Patrimonial

Telapak kaki kering dan pecah
Buku jari menggelembung
Tungkai kaki mulai reyot
Uban ramai tak beraturan
Urat tubuh tersembul, menonjol kaku
Legam kulit terpanggang matahari
Aroma khas tembakau menguar
Pada bibirnya merah "happa" masih basah
Bersamaan dengan pupil mata yang rapuh

Sendiri, di sudut sabana, Ia menatap samudera
Mengenang para tetua dan ceritanya...


****

This poem was inspired by Old man from Sumbanese And Sweet Lullaby - A Folks song; one of the best remix by Deep Forest
The language sung here is one of the native languages of the Solomon Islands called Baegu (Baeggu). Please note that this song is usually miscredited with Enya. Lastly, the woman singing is a native of the Solomon Islands. Her name is Afunakwa.

[Lyrics in Baegu]
 Sasi sasi'e ko ta ta'aro
Ko hai he hange bora'e kiko liono
Itam wa orena korai lo 'aila
Elai tandera sa'e tamate'o 'ae
Sasi sasi'e ko ta ta'aro
Ko hai he hange bora'e kiko liono
Tamatau wa ne'i nita se'a wa 'ula
Elai tandera sa'e tamate'o 'ae
[Lyrics in English]
Little child, little child be calm
Even though you still weep
Your father has left us
Protect the elderly, protect the orphan.
Little child, little child be calm
Even though you still weep
Your father has gone to the afterlife
Protect the elderly, protect the orphan.

***

There were a few changes I made from the original. A few examples is the word for 'boy' which can also mean 'child'. The same way in English where the masculine is used as the default case, i.e; 'to each "his" own'. The word for 'head of the living' implies a wise man, a person of great importance like a shaman, priest, ruler, etc. Lastly, the word for 'afterlife' can also mean a place of the dead, heaven, or spirit world.










Untukmu ; NOTES \m/

Beneran yah, nulis tuh butuh dooping, nulis juga butuh mood booster. Seperti sekarang, mood boosternya suara polos kaka tuteh dan petikan gitar kaka noel. Hahahahaha… suara polos e ncim… tapi tulisan ini saya buat bukan karena mau cari muka orang ende bilang tapi lebih kepada emosi yang tak terbendung seperti kata ka noel di awal VCD-nya notes. Karena semua keinginan berkarya sudah tidak terbendung lagi… tapi serius ini tulus, dengan sebatang dunhill berasap saya mau persembahkan ini buat Tokoh Inspirasi NTT terbaru, yang baru saya nobatkan K’Tuteh Pharmantara.

Ini orang sudah tidak tau saya harus sebut dia apa e, Strong and Independent Woman seperti biasa kayanya su tidak pantas lagi. Lebih daripada itu saya memiliki keterbatasan bahasa. Hahaha, jago nulis, jago jalan-jalan, jago nyanyi, jago main gitar, jago ngomong, jago siaran, jago memotivasi, jago memimpin, jago berkreasi dan jago yang lain-lain. Beberapa kali ketemu tanpa kami sadari karena memang belum saling kenal, pertemuan pertama karena waktu itu masih duduk di kelas satu SMA dan pengen belajar Internet. Sejam masih 7ribuan di Warnet rumah Jl. Irian Jaya dan pertemuan2 tak terduga selanjutnya trus akhirnya bisa Kopdar di Nasi Gandul Tuban lalu percakapan mengalir deras tak terbendung. Arghhhhhhhhhhhhh…. Kangen suasana itu lagi bersama Umbu nababan dan Om Bisot juga disana (Member Flobamora Comm. Chapter Sumba dan Jakarta) hahahaha…

Dan sekarang VCD notes nangkring di kamar, sambil mengalun pula kemudian beberapa novel yang belum sempat saya baca karena saking maruknya saya ingin melalap segala bacaan mesti ngantri dulu. Wah Orang Ende tidak jauh beda kok dengan Orang-orang Indonesia lainnya. Bener dah sederhananya begini, tanggalkan segala latar belakang suku, budaya maupun agama. Manusia itu ditentukan dari Bagaimana Pribadi dan kemampuannya! Dan semua anak manusia dengan tau dan mau memiliki tanggung jawab serta keterampilannya mengasah segala yang dia punya. Buat Notes, saya tidak mau berkata muluk dulu akan tetapi dengan telah melakukan yang PALING BISA DILAKUKAN seperti yang telah dikerjakan sudah dimanakah levelnya? _Saya merasa jauh tertinggal benar, Iri akan tetapi terangsang berkompetisi_

Dari semua lagu satu conclusion : Easy listening

Lagu Untukmu – asik, teman saya pertama dengar yang notabene penyanyi juga langsung pengen bikin cover-nya. Hahaha
Lagu Cinta-Cinta - hm… itu musiknya mengingatkan saya pada lagu-lagunya siapa yah jaman 90-an dulu, ada pokoknya
Lagu Falling In Love – seru gokil, bikin pengen ada juga dalam video klipnya. Wkwkkwwk
Lagu Jangan Salahkan Aku – Deuh, itu gua banget dah seturut pengalaman yang ada. Curcol!!!
Lagu Dewi – intro awalnya buat saya teringat instrument2 dayak seperti bunyi petikan sape mana liriknya yang bikin syahdu merinding dan ada bagian tertentu mengingatkan saya pada lagu-lagunya BIP dulu. Uwhhhh……

Dan lagu-lagu lainnya yang saya yakin bakal setia temani saya sejak saat ini.

Go K’T, you are really Big Girl!!! Muachhhh. #K’Noel, bener-bener pencinta Jimi Hendrik yah kayanya. AjibSip dah… \m/

E-Nya

Kalau mendengar suara dan lagu-lagu Enya, pasti yang terbayang adalah suasana puitis, romantis, dan kadang tragis. Namun penggemar terbukti mampu 'menangkap', buktinya sampai saat ini seluruh albumnya telah sukses terjual hingga 65 juta kopi. Saya mulai suka sejak duduk di bangku SMU, waktu itu baru satu lagunya yank berbekas sekali "ONLY TIME"......

Mungkin setelah di Denpasar aksesnya lebih gampang jadi deh saya ngejer cari tau mengenai penyanyi yang satu ini. Tidak banyak yang tau soal Enya karena Genre musicnya terkesan langka, orank Irlandia memang punya Good Taste so selaiin Celtic Woman dan beberapa pemusic classic lainnya adalah Enya yang betul2 mengangkat tipikal Music Irlandia yang terkesan purba tapi keren.

Kalo lagi dengar lagu ENYA, bawaannya bayangin ditengah padang rumput hijau yang luas atau diatas puncak gunung tertinggi atau didaerah bersalju atau ditengah hutan tropis lebat atau dipinggir pantai sambil menantikan matahari pagi(Sunrise)/matahari terbenam(Sunset)atau juga mungkin di tepi Kolam / sungai duduk dibawah rindang pohon diatasnya terpampang terang bulan, sepi, temaram, mendayu2 dan lembut...hm....

Perasaan Jauh....yang Purbaaa.........

Makanya saya betah mendengarkan suara ENYA dari Pagi sampe ketemu pagi lagi....

Beberapa LAgunya yang Z benar2 Suka,,

Caribbean Blue, Only Time, Only If,Orinoco Flow, Om Namo Bhaganvate, dan buanyak lagi...

Albumnya dijual hanya ditempat tertentu dan smua original yang saya akui belum bisa saya jangkau tapi suatu saat pasti saya mampu membelinya karena saya sudah tergoda menampung video2 klipnya yank bercitarasa tinggi itu.(ampun....Keren soale)

[Setelah terakhir 'beraksi' tahun 2000 silam, penyanyi bernama asli Eithne Patricia Ni Bhraonain ini kabarnya siap merilis album berisi 12 lagu baru yang diberi judul Amarantine. Rencananya, album tersebut bakal dirilis tanggal 22 November 2005 dan menampilkan Enya yang bernyanyi dalam bahasa Inggris, Galia, Latin, Wales, dan Spanyol.

"Saat berada didalam studio, kesuksesan di masa lalu sama sekali tidak menjamin album berikutnya bakal sukses. Untuk mengatasi tekanan itu, saat rekaman aku tidak memfokuskan diri untuk tampil komersial melainkan berusaha menangkap esensi 12 lagu yang menurutku terbaik," tutur wanita kelahiran 1961 ini.

Album terakhirnya yang berjudul A Day Without The Rain berhasil mencatatkan diri sebagai album paling laris keempat di AS saat dirilis 2001 silam, yang selain terjual sebanyak 13 juta kopi diseluruh dunia juga membawanya meraih piala Grammy.

Dikenal lewat ciri musiknya yang bernuansa klasik dan suara yang tidak ada duanya, Enya tercatat telah dua kali menghantarkan lagunya Only Time dan May It Be menjadi lagu tema film layar lebar. Bahkan di album yang terakhir, ia menciptakan bahasa Elf fiktif supaya nuansa filmnya The Lord of The Rings : The Fellowship of the Rings semakin terasa]

Thus...about E-Nya...mungkin ada juga yang pernah mendengar tentang dia dan menyukai dia serta tertarik dengan jenis musiknya mari kita berbagi...

Keep Listening The music (E-Nya)