Tampilkan postingan dengan label Activity. Tampilkan semua postingan

Melihat Indonesia yang Adil di #FlashBloggingKupang




*Tulisan ini bernilai LIMA BELAS LEMBAR UANG SERATUS RIBU RUPIAH dan SEBUAH PIAGAM PENGHARGAAN sebagai Kompensasi dari Gelar "TERBAIK 1" Sesi Kompetisi Menulis di Acara #FlashBloggingKupang #MenujuIndonesiaMaju - Aston Hotel Kupang, 20 Juli 2018


Adalah sebuah kebetulan yang menyenangkan, saat saya kembali ke Kupang untuk mengikuti tes lanjutan Beasiswa Bahasa Inggris, sebuah kegiatan dari  Direktorat Kemitraan Komunikasi (Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik, Kemkominfo) yang bekerja sama dengan Dinas Kominfo Provinsi Nusa Tenggara Timur, juga diadakan di kota ini. Tepat tiga hari setelah tes tersebut selesai dilaksanakan.

Saya pikir, ini kesempatan yang baik untuk bergabung pada acara #flashbloggingkupang #menujuindonesiamaju sebelum menentukan jadwal kembali ke Ende. Maka dari itu, ketika saya mendapatkan pengumuman kegiatan yang dibagikan kawan-kawan di beberapa grup, saya memutuskan untuk mendaftar.


Poster Kegiatan #FlashBloggingKupang #MenujuIndonesiaMaju



#flashbloggingkupang #menujuindoensiamaju merupakan sebuah acara yang mengajak generasi muda Indonesia yang senang menulis di blog untuk berkumpul bersama dan saling berbagi. Demikian ungkap Ibu Niken Widiastuti selaku Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik, Kemkominfo, pada sambutan yang beliau berikan.

Lebih lanjut, Ibu Niken menyampaikan, sebagaimana yang kita ketahui bersama, bahwa saat ini arus informasi begitu deras terjadi. Baik yang berisi konten positif, maupun juga konten negatif. Blogger dapat mengambil peranan penting dalam deseminasi informasi dengan menyebarkan kebaikan seperti etika penulisan dan penyebaran informasi yang baik di dunia digital.

Ke depannya, Ibu Niken berharap, para blogger memiliki kontribusi lebih dalam menyebarkan informasi positif dan mendukung kemajuan Indonesia tak hanya di bidang teknologi saja.

Nah, di acara ini, saya menemukan satu hal menarik yang patut saya bagikan kepada kawan-kawan. Jadi, acara #flashbloggingkupang terdiri atas beberapa sesi yang dibawakan oleh Pemateri yang berbeda.

Salah satu sesi yang cukup menancap dalam hati saya, ugh, soalnya saya sampai menitikkan air mata haru pada laki-laki bertubuh ceking dan baik hati itu. Yap, siapa lagi kalau bukan Presiden kita tertjinta, Bapak Ir. Joko Widodo. Sesi ini dibawakan oleh Bapak Andoko Arta, Tim Komunikasi Presiden, “Sudut Istana.”

Padahal sejujurnya, belakangan, saya agak susah terharu dan berderai air mata, saking jenuhnya melihat hal yang sama di hidup ini #eh.

Di tengah sesi ini, Bapak Andoko, menayangkan sebuah video yang tautannya bisa kawan-kawan tonton di sini: SATU HARGA, SATU INDONESIA



Saya kutip cerita Bapak Joko Widodo yang tertulis pada tautan tersebut:

Bertahun-tahun lamanya, warga daerah arah hulu Sungai Mahakam di Kalimantan membeli bahan bakar minyak dengan harga berkali-kali lipat dari harga BBM di kota besar. Sebagaimana yang dialami warga di sebagian besar Papua, satu liter bensin di punggung Kalimantan ini pernah mencapai Rp45.000. 

Masalahnya di distribusi BBM yang tidak mudah karena medan yang tak ramah. Tapi apa pun taruhannya, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia harus kita wujudkan. Daerah yang terpencil, daerah terdepan, daerah terluar, tetaplah wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kini, warga di wilayah terpencil di sekitar hulu Sungai Mahakam menikmati harga BBM yang sama dengan kota-kota lain di Indonesia.

Dan inilah perjuangan mendistribusikan BBM dari Samarinda ke Long Apari di pelosok Kalimantan Timur, dengan kapal dan perahu yang menyusuri sungai berair deras sejauh ratusan kilometer.

Ketika menonton video ini, hati saya haru biru, saya lalu teringat dua perjalanan yang saya lakukan ke Sumba pada tahun 2016 bersama kawan-kawan GAMASTIM BALI, ceritanya bisa kalian baca di sini: MAIWA LA HUMBA, MARI MEMBANGUN YANG BAIK dan ke Fatule’u beberapa bulan lalu bersama kawan-kawan Komunitas Buku Bagi NTT, ceritanya bisa kalian baca di sini: MENGHIDUPI LITERASI, SUSAH-SUSAH GAMPANG


Saya pikir, ini hal yang menarik bahwa di tahun 2018 ini, masih ada masyarakat di beberapa daerah di Indonesia yang tidak bisa mengalami kehidupan nyaman dan sejahtera sebagaimana saudara-saudaranya di kota, atau meskipun daerah terpencil, tetapi sudah mendapatkan perhatian dari Pemerintah. Baik Pemerintah Pusat, maupun juga Pemerintah Daerah setempat. Jalanan masih buruk, tak ada listrik, tak ada air bersih dan jauh dari pusat teknologi.

Video ini memacu semangat saya untuk mengunggah tulisan ini. Selain sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras Pemerintah di masa Bapak Presiden Ir. Joko Widodo, sekaligus memohon perhatian kepada Beliau (semoga beliau memiliki kesempatan untuk membaca, akan baik jika Panitia berkenan meneruskannya).

Harapan saya, Bapak Jokowi memiliki kesempatan yang lain atau mendelegasikan tim terkait untuk meninjau kerja Pemerintah Provinsi maupun juga Kabupaten di daerah-daerah pelosok di Nusa Tenggara Timur. 

Bagaimanapun juga, salah satu fokus Pembangunan Bapak Jokowi adalah Infrastruktur, mengutip apa yang diungkapkan oleh Bapak Maxi Manafe selaku Moderator pada #flashbloggingkupang hari ini, "Jika ingin Indonesia maju, harus membangun Nusa Tenggara Timur. Kemajuan NTT, juga merupakan kemajuan Indonesia."

Dua cerita yang saya sertakan melalui tautan pada tulisan ini, hanyalah segelintir dari sekian banyaknya pekerjaan yang belum dilaksanakan secara maksimal di Provinsi ini.

Dengan itu, bukan hanya warga wilayah terpencil di sekitar Hulu Sungai Mahakam seperti Long Bagun, Ulu Riam dan Long Apari, tetapi juga, kaka-adik, bapa-mama, nona-nyong di Amfoang, Timor atau Umbu dan Rambu di Kambata Mbapa Mbuhang, Sumba, memiliki kesempatan yang sama menikmati Indonesia yang Satu dan Indonesia yang Adil. Bukan hanya Satu Harga, Satu Indonesia. Tetapi juga, Satu Jalan, Satu Indonesia.


SALAM INDONESIA RAYA!!! 


Yuhuuu, dapat payung :) gara-gara jempol sekseh di twitter


Yeah jadi yang TERBAIK 1 ^^


Meratapi Kristus di Noemuti



Sore itu, awan hitam menggantung di atas langit Bijeli, nama tempat di mana rumah kami menginap. Pukul 15.00, kami berangkat menuju Gereja Satu Hati, Satu Cinta, Satu Keluarga, Noemuti untuk mengikuti Ibadat Cium Salib dan Perayaan Ekaristi Jumat Agung.

 (Hah? Kenapa? Nama Gerejanya panjang? hahaha Ember, tetapi itu beneran. Serius).

Tiba di gereja, misa baru saja dimulai. Beruntung, kami masih mendapat tempat di dalam gereja, meskipun di bangku paling jauh dari altar. Saya dan salah satu teman saya, menempati satu bangku bersama dua orang bapak dan seorang wanita paruh baya, mungkin dia seumuran saya. Hm…

Beberapa menit sebelum Passio Injil Tuhan dimulai pada Perayaan Jumat Agung yang muram, terdengar guntur yang menggelegar dengan dahsyatnya. Ini terjadi sepanjang bacaan injil yang dinyanyikan tersebut berlangsung di atas altar.

Demikian, supaya genaplah isi Kitab Suci, “ketika Yesus mati di kayu salib, langit seketika menjadi gelap gulita, terjadi gempa bumi yang hebat, Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah, dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit.” (Matius, 27: 51-52)


Yah tidak sehoror isi Kitab Suci juga. Masih dalam taraf yang bisa diterima dan dihadapi.

Hal yang sama terjadi, terdengar dentuman keras dari langit, tepat di atas gereja, hanya sepersekian detik ketika barisan wanita dan Patung Yesus tiba di pintu masuk gereja menuju altar untuk memulai RATAPAN. Setelah Passio selesai, upacara dilanjutkan dengan RATAPAN. Tradisi meratapi kematian Kristus di Hari Jumat Agung setelah Kisah Sengsara selesai dinyanyikan ini, terdapat di beberapa Paroki di Keuskupan Atambua maupun juga Keuskupan Agung Kupang.

Disebut ratapan, sebab syair yang dinyanyikan dalam bahasa Dawan ini berisi tentang kesedihan dan duka yang mendalam akan kematian Kristus. Orang Dawan, sebagaimana juga beberapa suku lain di Nusa Tenggara Timur, memiliki kebiasaan menangis di samping jenazah yang telah meninggal dunia. Tangisan tersebut memiliki nada dan akan terdengar seperti nyanyian yang sedih menyayat hati. Saat menangis itu, kenangan-kenangan yang sudah terjadi di masa hidup Almarhum akan diungkapkan melalui ratapan tersebut.

Ketimbang panik dengan bunyi-bunyi alam dari langit, umat di dalam gereja memilih tetap khusyuk dan tenang. Sepertinya ini fenomena alam yang sudah lumrah terjadi setiap tahunnya di sini.

Ketika ratapan dimulai, seluruh gereja hening, masing-masing sibuk dengan isi di dalam hatinya (bukan kepala, saya yakin begitu). Di luar dugaan, pada ratapan yang memilukan ini, terdapat satu bagian yang dinyanyikan bersama-sama dengan UMAT.

Tidak ada bahasa yang tepat untuk menjelaskan suasana serta perasaan untuk kejadian ini. Jika kau mungkin ingin tahu, apa yang saya lakukan saat itu; saya menutup Novel Cannery Row yang tengah saya baca sejak Passio mencapai pertengahan tadi (karena saya sungguh mulai bosan dengan Kisah Sengsara yang diulang-ulang sejak saya belum mengerti hingga khatam Kitab Suci).

Saya kemudian terdiam, tenggelam bersama ratapan. Tanpa sadar, mata saya basah. Biasanya, untuk hal-hal semacam ini, saya tidak pernah punya cukup alasan untuk hal-hal yang terjadi dengan tubuh saya, apalagi ini berada di luar kendali saya. Menalarnya dengan cara apa pun, saya tak mampu. Maka, saya memilih diam sembari membiarkan pipi, rambut hingga bahu saya kebanjiran.

Saya teringat anjuran Yesus yang dahulu, waktu saya masih kanak-kanak, yang saya nilai sungguh angkuh sekali: “Jang ko menangis saya. Menangis untuk ko, ko pu suami dan ko pu anak-anak.”

(yang single, dikondisikan aja yah :D)

Hingga saat ini, saya masih kepo, sungguhkah Tuhan ada? Benarkah Yesus, PuteraNya?

(24 Jam kemudian, saya tetap menyatakan Percaya bahwa Ia sungguh ada dan Yesus sungguh Puteranya pada Pembaharuan Janji Baptis di Perayaan Ekaristi Sabtu Alleluya).

Saya kadang dijuluki sangat kekanak-kanakan di usia yang sebegini ini, masih saja meragukan Tuhan dan semua sepak terjang Beliau.

Kisahnya tak lekang oleh waktu, meski sampai detik ini, tidak ada satu pun yang bisa memastikan “Apa agama Yesus?”

Yesus hanya menyebarkan sebuah ajaran yang kadang sangat menguras tenaga, waktu dan perasaan: “CINTA KASIH.”

Dan saya, masih terduduk di antara ratusan umat di gereja ini, meratapi kematian laki-laki seksi berambut sebahu, sebab siang kemarin Ia dibiarkan telanjang di tiang gantungan. Ia dengan tegas membalikkan makna tiang penyiksaan tersebut dari simbol keterpurukan, penyiksaan yang hina dina menjadi sebuah tanda kemenangan, yang entah mengapa, hingga saat ini, masih menjadi gerakan sekaligus mantra utama dalam setiap kondisi.


Nikiniki, 31 Maret 2018
Dari sebuah Perayaan Malam Paskah yang melelahkan
Saya memilih untuk belum move on dan mencatat ini pada Jurnal
*Akhir bulan ini, saya cerewet sekali.


Barisan Wanita yang Meratap. Foto: Eko Ninu







#BreakTheSilence Seminar; How to Use Your Voice Wisely



Have you ever heard of Facebook Global Digital Challenge (FGDC)?

The great campaign from the largest social media platform, Facebook

This social networking platform invites students around the world to show the public that social media can be a positive media that provides many advantages if used wisely.

One of Indonesia College is selected to participate in this joint venture program with EdVenture Partners is Undiknas University, Denpasar. Five of Undiknas students who passed the selection at the registration stage are selected as program participant , the participants are; Sean Conti from Business Management Study, Deviyanti Putri and Upayana Wiguna from Accounting Study, Faculty of Economics and Business. There is Pipin Carolina from the Law Science Study, Faculty of Law and Maria Pankratia from the Communication Science Study, Faculty of Social and Political Sciences.

This activity begins with a selection phase since January 2017 and will end with submission of activity reports by June 2017. Participants are required to submit essays explaining their motivation to engage in this activity.

All five were selected after going through a tight selection process from the EdVenture Partners. In February 2017, this team began to work. Together, with Luh Putu Mahyuni, Ph. D., CA, as the Director of Academic/Dean of Economics and Business Faculty and Ida Nyoman Basmantra, MPD as the Team Manager who is also the Head of International Office, Undiknas Denpasar. The team discussed the major themes, what should be raised in this campaign.

Seeing the situation of the Nation and the State of Indonesia which began to be attacked various kinds of radicalism issues, in the end an idea about #BreakTheSilence emerged. A campaign targeting the silence majority, people who have had enough insight and understand the situation but prefer to be silence.

As there is a phrase that says, "In a war situation, when you are impartial to anyone, you are actually supporting the ruling party." This campaign seeks to invite more people to care and determine the attitude so that no more narrow-minded people that take this opportunity to destroy everything that has been painfully built by the predecessors.
Following up on this idea, several concept activities are designed. There are visits to the orphanage, photo competition and video storytelling, making video testimonials and social experiment and film production.

There is also a Seminar titled "Pluralism in Relation to Social Media." The seminar was held on May 29, 2017, attended by 234 Students of Undiknas Denpasar and involving 30 people as committee to working together and organize the activities.

The #BreakTheSilence seminar discusses "How to interpret Diversity and speak wisely through the existing Social Media so that it has a great impact on the whole world."
Present as Speakers, there is Dea Rangga, celebgram; Yoga Arsana and Sugi Suartanaya , the Youtubers; And Anton Muhajir, Editor, Journalist and Blogger. the four speakers and the Facebook Team Global Digital Challenge share experiences and suggestions about how to use social media in the midst of the current excessive information flow.

Through this seminar, it is expected that more and more students are inspired to use the internet and social media wisely; also not negligent to forward this good message to the people they meet in their neighborhood. It's time to be, care and use your opinion wisely! More details about this campaign, #BreakTheSilence Team, Undiknas Denpasar, can be seen at:

Facebook Page: Break The Silence
Instagram: @undiknasfgdc_
Twitter: @BreakUrSilence
Channel Youtube: Undiknas FGDC


Do not forget to Follow and Subscribe the above accounts. Thanks. Regards, Bhineka Tunggal Ika. Break The Silence by Breaking Your Silence!




2016; A Golden Year




365 hari yang lalu, saya tidak memiliki resolusi apa pun untuk 365 hari berikutnya. Saya masih tetap hidup, sehat dan waras saja sudah merupakan sebuah keuntungan. 2015 dan 2014 adalah tahun yang cukup luluh lantak sebagaimana kemudi kapal yang dibajak sehingga nakhodanya tidak memiliki kendali penuh untuk menentukan ke mana menuju. Namun, pada akhirnya, saya menemukan titik balik. Benar adanya, seseorang yang kembali bangkit dari kejatuhan, kekuatannya berkali lipat.

Sekuat tenaga saya menemukan diri saya kembali dan bertanya sesering mungkin “mau apa aku dengan hidupku ini?” iyah persis lirik lagunya Nosstress, itu padanan refleksi yang klop! Refleksi singkat akhir tahun lalu itu, saya temukan kembali di sini

Memulai langkah di 1 Januari 2016 tanpa persiapan apa pun! Kabur, meraba-raba.
Resign dari pekerjaan yang menjadi sumber hidup dan eksistensi, terjun ke lapangan tanpa visi sebagai mahasiswi KKN lalu PKL. Masih saja percaya diri mengkoordinasi Persiapan Misa Pra-IYD2 Keuskupan Denpasar, bersedia jadi Fasilitator Kelompok tanpa pengalaman untuk Kelas Inspirasi Bali 03, terlibat lagi di Denpasar Film Festival. Menyanggupi hadir di Pelatihan Menulis Kompas (lagi), nyasar di Ubud Writers and Readers Festival ke-13 dan Citizen Journalism Day kerja sama Balebengong dan Bali Blogger Community, serta menjadi Juara Regional Maluku dan Nusa Tenggara Blog Competition oleh Government Public Relations. Berani-beraninya menyanggupi jadi auditor untuk sebuah project yang jauh dari bayangan dan dari kamar tidur yang nyaman. Situasi tersebut cukup ngeri-ngeri sedap. Belum pernah saya begitu takut tetapi juga penasaran, antusias diikuti rendah diri yang kalap. Lampung, selama delapan hari merubah sudut pandang saya hampir 75% tentang hidup. Di tahun ini juga, untuk pertama kalinya, saya berani mengirimkan karya saya ke media dan dimuat!

Tahun 2016 saya juga mengalami banyak kepiluan. Saya memang gemar menangis. Bukan hanya dalam situasi sedih atau terharu tetapi juga saat bahagia. Akan tetapi, menangis karena ditinggal pergi untuk selamanya oleh tokoh-tokoh yang menginspirasi hidup saya selama beberapa tahun ini, itu memilukan. Terguguh dan lama. Tidak pernah sekalipun saya meluangkan waktu untuk berpikir bahwa bumi dan manusia terus bertambah tua. Di suatu masa, kita harus menerima kenyataan bahwa jiwa dan pikiran memang tidak pernah mati namun raga pada hakekatnya tidak abadi. Kita harus siap menghadapi kehilangan demi kehilangan. Untuk Ama Petu, Om Boni dan Bapak Agustinus Prajitno, Hormat setinggi-tingginya!

Tahun 2016 saya juga ditinggal nikah oleh sahabat-sahabat terbaik saya. Hebat mereka, mampu mengambil keputusan serumit itu hahaha. Sementara saya masih berkubang, terjebak dalam kecemasan “Bagaimana saya dapat berbagi seluruh pikiran saya seumur hidup hanya dengan satu orang laki-laki saja? Berbagi tubuh saja, saya tak rela. Mana puas kalo cuma sama satu orang?” #Eh wkwkwkkw…

Pada tahun ini pula, saya merasakan dampak arus informasi yang begitu deras akibat kemajuan teknologi yang membabi buta. Segalanya jadi canggih termasuk manusianya. Banyak tontonan dan pengetahuan menarik yang menyenangkan tetapi juga peristiwa yang sulit dilupakan untuk beberapa tahun ke depan. Begitu lah dunia dan Indonesia sejak dulu. Yang selalu keren di sebelah sini sementara terpuruk di sebelah sana. Tidak ada yang betul-betul sempurna emang!

Tahun 2016 saya sapa dengan tahun emas bagi saya. A golden year. Sebab di tahun ini, saya memikul banyak berkat dan rejeki. Saya bepergian ke berbagai tempat dan bertemu macam-macam pribadi. Semua mereka adalah orang-orang HEBAT, PENTING dan MEMILIKI ANDIL bagi dunia yang mereka tinggali. Saya bangga bisa mengenal kalian semua. Tidak dapat saya sebutkan satu per satu, tetapi saya berharap ketika membaca ini, kalian tahu bahwa ANDA-KAMU-KAU-DIRIMU-SAMPEAN-ENGKO yang saya maksudkan!

BALI!

Jakarta-Soekarno Hatta-Lampung-Metro-Tulang Bawang-Raden Inten II

Benoa-Bima-Sape-Sumba Timur-Waingapu-Kambata Mapa Mbuhang-Lumbung-Kadahang-Sumba Tengah-Anakalang-Katikuloku-Sumba Barat-Waikabubak-Sumba Barat Daya-Kodi-Labuan Bajo-Watulangkas-Ruteng-Bajawa-Langa-Mataloko-Ende-Paupire-Detusoko-Nita-Ledalero-Maumere-Lokaria-Wairhubing-Magepanda.

SEMUANYA! Kalian pasti sudah mulai lupa tetapi jejak kalian seperti materai permanen yang basah dan lengket lalu mengering tak bisa luntur atau pun terangkat bahkan dikorek paksa sekalipun.

2016 adalah tahun yang luar biasa bagi saya yang kesadaran afektifnya sangat ngotot dan terjaga selama 24J/7H. Perlahan-lahan semuanya digenapi. Khususnya perihal “Melakukan apa yang sungguh-sungguh ingin saya lakukan.” (Bertemu banyak orang, menjalin relasi dan persahabatan//Tjipok basah sekali untuk Ibuk Semesta Ambara BegituSaja dan Tante George Yustina Liarian Eto, berbagi dan saling memberi dari yang sederhana sampai yang luar biasa. Menulis banyak cerita. Terlalu amat sangat banyak sekali. Mendapatkan beberapa pencapaian yang cukup membanggakan. Menghasilkan sejarah).

Lalu, hm “Menemukan laki-laki yang benar-benar ingin saya cintai” AHAI!

Kemarin, ketika sedang bingung hendak menulis apa untuk refleksi akhir tahun ini, (Sebagian orang mungkin merasa ini tidak penting dan sangat alay lebay TETAPI tidak bagi saya!) saya buka kembali postingan saya di Instagram sejak awal tahun. Foto-foto dan narasi yang membuat saya merasa betapa saya sangat diberkati, segalanya masih utuh tersimpan, lengkap, baik gambar maupun juga cerita serta kesan yang masih bisa saya rasakan ketika saya melihat dan membayangkannya.

***


Descartes bilang: Cogito Ergo Sum//Saya berpikir maka saya ada
Pramoedya bilang: Orang boleh pandai setinggi langit tetapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.
Pacar saya bilang: Hanya yang menang, yang meninggalkan jejak, Enu!
Dan saya bilang: Jika kamu berpikir dan menuliskannya, kamu akan meninggalkan jejak. Tentu dengan sendirinya kamu memberi pengaruh. :)

Hidup, sejatinya untuk mati tanpa alpa untuk memaknainya lalu meninggalkan jejakmu! Jejak saya! Jejak kita! Live Your Life! In this great future, you can’t forget your past, so write it down!

Epang Gawan, Terima Kasih banyak untuk semua yang sudah memberi dan berbagi dari kekurangan maupun juga kelebihannya (dan saya tidak pernah lupa hutang-hutang saya hihihi… tenang saja). Ama Pu Benjer, Jah Bless kita semua di Tahun yang Baru!

Resolusi tahun berikutnya? Hahaha hm.. Hajiar saja!

2017 dalam genggaman!

*Semoga ada golden-golden year selanjutnya


 Thankis buat Ge' untuk tangkapan keren ini ^^








Ini Bukan Jessica dan Sianida, Ini Jualan Manusia



*Balebengong.net terbit 28 Oktober 2016 #CitizenJournalismAward








Mandi pagi saya ini tiba-tiba terputus. Saya jeda karena pertanyaan ini muncul tiba-tiba di kepala. Kenapa saya harus mandi? Kenapa manusia disarankan mandi dua kali sehari? Sejak kapan hal ini berlaku seperti aturan tidak tertulis di dunia? Siapa menganjurkan perihal ini?
Banyak hal yang manusia lakukan di dunia ini tanpa dipikirkan terlebih dahulu hanya karena memang sudah seperti itu yang berlaku dalam kehidupan. Kenapa kita tidak pertanyakan hal-hal yang katanya sederhana itu? Mengapa harus begini, mengapa harus begitu.
Sesekali ada yang bertanya dan akan dijawab sekenanya saja, khususnya oleh para tetua kita: Yah memang sudah harus begitu. Jangan banyak tanya, lakukan saja. Cerewet!
Dalam karyanya Essay Concerning Human Understanding, John Locke mencoba menjawab persoalan dari manakah asal ide dan pengetahuan kita, apa yang mampu kita ketahui, sejauh mana pengetahuan kita memiliki kepastian? Kapan kita dibenarkan berpegang pada pendirian yang didasarkan pada ide kita?
Penelitian semacam ini menjadi penting karena kita akan mengetahui kekuatan dan batas pikiran manusia. Dengan demikian, “pikiran manusia yang sibuk” akan membatasi diri pada pembahasan masalah-masalah yang sebenarnya memang dapat diolah. Dia akan “duduk dengan tenang membiarkan tidak mengerti” hal-hal yang di luar jangkauan kemampuannya.
Begitu banyak hal di sekitar kita yang berpendar seperti cahaya. Saya yakin semuanya penting untuk dipikirkan. Akan tetapi, kebanyakan manusia tidak ingin susah-susah memahaminya karena tidak ingin, bukan tidak mampu. Sebab semua manusia terlahir jenius. Kasarnya, tidak tertarik karena tidak menarik.

Human Trafficking
Seperti Human Trafficking. Kasus yang sedang marak diberitakan ini mungkin sudah menjadi perhatian publik nasional. Namun, nasional di sini tidak berarti semua manusia Indonesia paham dan mau terlibat memikirkannya. Tulisan ini dibikin dengan tujuan menarik perhatian banyak orang sehingga kesadaran dapat muncul. Lalu, makin banyak yang mulai berpikir tentang hal ini. Lebih bagus lagi apabila memutuskan membantu dengan cara masing-masing.
Human Trafficking, pengertiannya yang paling umum, termaktub dalam UU NKRI No. 21 tahun 2007. Di sana tersurat, “Yang dimaksudkan dengan perdagangandalam manusia adalah tindakan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan dengan memanfaatkan posisi rentan, penjeratan uang atau memberi bayaran atau manfaat, sehingga memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain tersebut, baik yang dilakukan di dalam daerah dan di luar daerah maupun antarnegara, untuk tujuan eksploitasi atau mengakibatkan orang tereksploitasi.”
Praktiknya; menemukan manusia dari mana saja yang bisa dikendalikan sebagaimana sapi perah karena seseorang merasa sudah menyerahkan sejumlah uang atau barang sebagai kompensasi. Manusia yang “terbeli” itu dapat diperlakukan sesukanya. Tak jauh beda dengan perbudakan, menurut ngana?
Perlu kita ketahui juga bahwa kebutuhan akan tenaga kerja manusia ini tidak hanya datang dari luar Indonesia seperti Malaysia dan Hongkong. Justru di dalam negeri banyak tenaga kerja seperti pekerja rumah tangga (PRT) dan baby sitteryang didatangkan dari pelosok daerah demi memenuhi permintaan pasar.
Saya pernah menemukan iklan lowongan pekerja rumah tangga di Bali Advertiser. Saya lupa edisi ke berapa pada 2012. Saya pernah memostingnya di Facebook. Iklan itu berisi special request pada baris terakhir “Diprioritaskan yang berasal dari Sumba.” Ini fenomena menarik. Bahwa hari-hari ini, karakter manusia juga menentukan derajat dan kualitas suku atau etnis tertentu sehingga membentuk pasar yang cukup signifikan.
Saya sendiri sangsi, para tenaga kerja yang masih berada di ruang lingkup seputar Indonesia ini apakah mendapatkan hak sesuai  kewajiban yang sudah mereka jalankan atau belum. Di akhir Mei 2016, saya diberi kesempatan mengecap pengalaman ini bersama pengurus Ikatan Keluarga Besar Flores, Paguyuban Flobamora di Bali.
Pada kasus ini, ada 29 orang perempuan yang dicegah keberangkatannya ke Jakarta di Bandara Ngurah Rai, Bali. Beberapa orang yang saya wawancarai berusia masih di bawah 20 tahun. IKB Flobamora Bali dihubungi sejumlah pihak di Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT) baik itu Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) agar membantu membatalkan keberangkatan nona-nona Sumba ini.
Pasalnya pola-pola memberangkatkan tenaga kerja tanpa identitas sering terjadi dan merupakan salah satu modus penjualan manusia (human trafficking). Sebagian besar berangkat dengan dokumen yang baru saja diurus seminggu sebelumnya. Bahkan ada keterangan usia yang tidak sesuai antara KTP, Surat Permandian dan Ijazah. Mereka mengaku akan dipekerjakan sebagai PRT, baby sitter dan merawat orang jompo. Gaji yang dijanjikan pun bervariasi. Tidak semuanya mendapatkan informasi sama dari agen yang merekrut.
Berbagai alasan mereka kemukakan. Sebagian besar mengakui tuntutan kebutuhan ekonomi keluarga menyebabkan mereka harus berangkat ke Jakarta dan bekerja apa saja. Lain lagi dengan alasan beberapa orang anak perempuan yang baru saja lulus SMA. Ketika saya bertanya tentang cita-cita dan keputusan mereka melakukan perjalanan ini. Mereka hanya ingin menabung biaya pendidikan agar bisa bersekolah.
Setelah dua tahun kontrak kerja mereka selesai dan dana sudah cukup, mereka akan kembali ke kampung halaman atau hijrah ke kota lain supaya bisa melanjutkan sekolah. Sesederhana itu rencana yang mereka bangun.
Faktor Pendorong
Beberapa hal yang mendorong hal seperti perdagangan manusia bisa terjadi, saya ilustrasikan seperti berikut:
Bertha ibu dengan empat orang anak di pelosok daerah. Pendidikan terakhirnya Sekolah Dasar. Menikah di usia dini karena sudah telanjur hamil. Setiap hari ia sibuk membantu suami di ladang sebagai petani. Hasil pertanian tidak menentu karena musim tidak pasti serta pengelolaan yang masih sederhana. Bertha sekeluarga pun harus mengikat perut setiap hari. Belum lagi dua anaknya yang paling besar sudah mulai bersekolah.
Suatu ketika, Sius, Sekertaris Desa yang juga teman bermainnya di masa kecil berkunjung ke rumah Bertha. Ia menawarkan pekerjaan di tempat sangat jauh dengan gaji menarik. Pekerjaannya pun tidak terlalu berat, “Kau cuma cuci pakaian, masak, setrika macam yang kau biasa bikin di rumah juga. Itu satu bulan kau sudah dapat sekitar dua juta. Belum lagi tunjangan lain-lain. Nanti saya yang urus kau punya surat-surat. Kau cukup kerja satu atau dua tahun. Kau sudah bisa pulang dan bawa uang banyak. Kerja di luar negeri lagi.”
Sepanjang malam, Bertha tidak dapat memejamkan mata. Ia bahkan membangunkan suaminya dan mengajak berdiskusi. Suaminya sedikit keberatan, mengingat anak-anak mereka akan ditinggalkan ibunya untuk waktu lama. Lagipula, suami Bertha ragu dengan apa yang dikatakan Sius. Malam itu mereka tidur saling memunggungi satu sama lain.
Dua hari kemudian, saat akan beranjak tidur di malam hari, Bertha kembali membahas hal tersebut. Suaminya tetap bersikeras tidak mengizinkan ia pergi. Mereka bertengkar cukup hebat.
Keesokan hari, Bertha mendatangi mertuanya dan mengadu. Kedua mertuanya medengarkan dengan seksama dan merasa Bertha menemukan solusi tepat untuk meningkatkan kondisi perekonomian keluarga. Lalu kenapa anak mereka yang adalah suami Bertha harus melarang Bertha berangkat bekerja?
Suami Bertha dipanggil, diajak berbicara serius. Ia berusaha memaparkan banyak alasan, baik itu anak-anak maupun keraguannya tentang Sius. Alasan tersebut dipatahkan begitu saja oleh kedua orang tuanya. “Anak-anakmu biar kami yang jaga, kasih saja Bertha pergi. Sius itu kita kenal baik. Dia tidak mungkin bikin Bertha luntang-lantung di tanah orang.”
Singkat cerita, Bertha pun berangkat. Hanya membutuhkan waktu satu minggu untuk mengurus dokumen keberangkatan. Bertha begitu total mempercayai Sius. Selama enam bulan setelah keberangkatan, suami dan anak-anaknya tidak pernah menerima kabar berita dari Bertha.
Setahun kemudian, dua petugas Badan Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) mendatangi rumahnya dan memberikan kabar menyesakkan. Bertha dinyatakan meninggal di negeri perantauan akibat sakit yang tidak dapat disembuhkan.
Akan tetapi, banyak pihak yang peduli dan menyangsikan kejadian ini. Banyak kejanggalan sehingga diadakan penyelidikan lebih lanjut. Berita-berita yang menyusul kemudian hanya menjadi mimpi buruk bagi suami dan anak-anaknya serta penyesalan tak berujung bagi kedua mertuanya. Sementara Sius, tetap hidup dengan aman dan tenteram. Ng….salah siapa?
Kesimpulan dari ilustrasi di atas menghasilkan beberapa poin.
Pertama, masih dan akan selalu tentang faktor ekonomi atau kemiskinan. Permasalahan ini sering sekali menjadi masalah utama dalam kasus human trafficking. Tanggung jawab yang besar untuk menopang hidup keluarga, membayar semua pengeluaran dan pendidikan anak, saudara, dan lainnya sering menjadi pemicu mencari pekerjaan di luar negeri yang tidak jelas kepastiannya.
Kedua, keinginan untuk menjadi kaya dalam waktu yang singkat.
Ketiga, faktor budaya seperti: peran perempuan untuk mencari nafkah, memang sudah kodratnya perempuan mengurus rumah dan hanya membantu untu mencari nafkah tambahan, namun tanggung jawab atas keberlangsungan hidup keluarganya menjadi alasan untuk berimigrasi.
Selain itu juga, peran anak dalam sebuah keluarga, kepatuhan anak terhadap orang tua serta rasa tanggung jawab untuk membayar hutang yang keluarganya miliki, memberikan motivasi tersendiri bagi mereka untuk berangkat bekerja.
Keempat, faktor budaya lainnya: khusus bagi TKI laki-laki. Motivasi untuk berangkat bekerja ke Negara tetangga terkadang bukan hanya tentang keluarga, tetapi tentang perempuan yang akan dinikahi.
Khusus di NTT, tradisi “belis” atau mas kawin sejak beberapa tahun silam terjadi pergeseran makna yang memberikan tekanan cukup besar bagi pihak laki-laki. Jika terus berada di kampung, biaya mas kawin dan resepsi menikah tak akan pernah cukup. Menjadi TKI adalah jalur alternatif yang bisa ditempuh.
Kelima, perkawinan dini mempunyai implikasi yang serius bagi para anak perempuan termasuk bahaya kesehatan, putus sekolah, kesempatan ekonomi yang terbatas, gangguan perkembangan pribadi, dan seringkali, juga perceraian dini. Anak-anak perempuan yang sudah bercerai secara sah dianggap sebagai orang dewasa dan rentan terhadap trafficking disebabkan oleh kerapuhan ekonomi mereka.
Keenam, kurangnya kesadaran, baik mereka yang menjalankan atau terlibat dalam perdagangan manusia ataupun mereka yang menjadi korban perdagangan manusia. Hal ini karena kurang hati-hatinya dan kurangnya informasi serta pengetahuan yang mereka dapat tentang motif-motif dari Perdagangan Manusia.
Ketujuh, pengetahuan yang terbatas yang dimiliki, orang dengan pendidikan yang terbatas memiliki lebih sedikit keahlian/skill dan kesempatan kerja dan mereka lebih mudah menjadi sasaran karena memutuskan bermigrasi mencari pekerjaan yang tidak membutuhkan keahlian.
Kedelapan, orang-orang terdekat yang cukup mengambil andil dalam membentuk keputusan tidak memiliki pengalaman dan pengetahuan yang memadahi sehingga ancaman tidak hanya datang dari luar melainkan juga dari dalam rumah itu sendiri. Tak jarang, iming-iming sejumlah uang justru memperlancar proses keberangkatan. Duit sejuta di pelosok sana, itu BANYAK SEKALI.

Berita Tragis
Akhir Juli 2016, KOMPAS.COM memuat berita tragis dan sungguh menyayat hati: sepanjang 2016 sudah 23 Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Nusa Tenggara Timur (NTT) meninggal di Malaysia. Sayangnya, kabar ini tak sedemikian mencuat dan menyita perhatian khalayak, sebagaimana publik Indonesia menempatkan rasa kepo-nya yang besar pada kasus kopi sianida.
Perdagangan manusia memang bukan isu seksi layaknya drama Jessica dan Mirna.
Pada 11 Oktober 2016 kemarin, Kompas TV bekerja sama dengan Jaringan Relawan Untuk Kemanusiaan (J-RUK) Sumba melalui program Berkas Kompas mengangkat topik “Jalan Gelap TKI Ilegal.” Pada liputan ini, diketahui sepanjang tahun 2016 telah ada 35 korban TKI yang meninggal di perantauan. Hanya ada empat TKI yang berangkat melalui jalur resmi sementara tiga puluh satu lainnya berangkat secara legal atau memalsukan identitas.
Jumlah mereka yang mati dikabarkan terus bertambah. Hingga 25 Oktober 2016, ketika tulisan ini sedang saya kerjakan, sudah 44 orang TKI asal NTT meninggal di negara orang.
Kasus yang cukup menghebohkan adalah kematian buruh migran bernama Yulfrida Selan (19 tahun), asal Timor Tengah Selatan, NTT. Yulfrida meninggalkan kampung halaman tanpa sepengetahuan keluarganya sejak September 2015.
Pada 13 Juli 2016, petugas BP3TKI NTT memberitahu keluarga, bahwa Yulfrida telah meninggal gantung diri di dapur rumah majikannya di Malaysia. Saat jenazah Yulfrida diserahkan pada keluarga, ditemukan sejumlah kejanggalan: identitas korban dipalsukan, kondisi jenazah penuh bekas jahitan, serta dugaan Yulfrida menjadi korban perdagangan organ tubuh, yang kemudian dibantah Polri.
Tak pernah habis masalah TKI ini diangkat, namun tidak kunjung terurai. Kasus di NTT menunjukkan pengiriman TKI tidak resmi lebih jadi pilihan ketimbang jalur legal. Mengapa bisa demikian? Selain karena permintaan tinggi, warga desa mudah ditipu dengan cara ilegal, demi terhindar dari biaya-biaya yang dianggap membebani seperti tes kesehatan, asuransi hingga biaya pelatihan. Identitas mereka dipalsukan, sertifikat keterampilan pun dipalsukan. Oleh para calo, TKI kemudian dikirim ke majikan yang telah memesan.
Data yang dihimpun tim International Organization for Migration menyebutkan 65 persen TKI direkrut oleh pekerja individual, para calo atau tetangganya. Sekitar 35 persen direkrut lembaga penyalur tenaga kerja (PPTKIS), dan sekitar 5 persen bahkan dijerumuskan oleh keluarganya sendiri, sisanya sebagian kecil diculik untuk dieksploitasi.
Kasus terbaru pada 23 Agustus 2016 lalu, Polda NTT mengungkap sindikat perdagangan orang yang menukarkan 20 TKI ke luar negeri, dengan satu mobil Xenia. Sungguh ironi, nyawa manusia hanya dihargai satu buah mobil.
Bagi yang selama ini penasaran, semoga tulisan ini menjawab rasa-rasa yang selama ini berkecamuk di kepala Anda. Kenapa orang-orang ini mau berangkat kerja ke luar negeri? Kenapa mereka bisa menjadi korban perdangangan manusia? Kenapa mereka bisa mati begitu saja dan tidak dipedulikan?
Mulai saat ini, cobalah kita lebih peka dengan situasi di sekitar. Di negara kita tercinta ini. Apabila memiliki tenaga kerja di rumah yang berasal dari pelosok daerah, sudahkah kita memperlakukan dengan layak dan memberikan hak yang seharusnya ia dapatkan?
Begitu pula jika kita mendapat curiga, mencium hal-hal yang mengarah pada cerita-cerita yang sudah saya kemukakan di atas, sepatutnya kita mencari tahu dan mengantisipasi. Terhadap keluarga, kenalan, siapa saja yang kita jumpai. Sampaikan informasi-informasi berharga ini lalu meneruskannya kepada yang sungguh-sungguh membutuhkan. Dengan demikian tidak ada lagi korban-korban selanjutnya pun kesedihan yang berkepanjangan.

Penutup
Jangan terburu-buru sebab tulisan ini belum selesai. Cerita ini tidak fiktif. Ini yang mencuat keluar dari sekian kenangan yang tersimpan lama. Saya tarik dari lemari penyimpanan memori karena dibutuhkan.
Belasan tahun yang lalu, saat itu saya masih sangat kecil dan tidak mengerti apa-apa. Rumah kami kedatangan sejumlah keluarga yang akan berangkat ke Malaysia. Saya terpukau, waow itu kan luar negeri. Kakak sepupu saya yang adalah anak dari kakak ayah saya, mengumpulkan mereka di ruang tamu lalu membagikan Kartu Identitas mereka.
Ia menekankan supaya mereka semua berhati-hati saat naik kapal nanti, usahakan semua tiba di Kalimantan dengan selamat. Saat itu saya hanya bengong menatap biji matanya yang hampir menggelinding keluar, juga kumisnya yang terus bergerak seiring ia bicara.
Tiga tahun lalu, adiknya, salah satu dari yang berangkat, dinyatakan meninggal karena TBC di Malaysia. Hal ini terjadi setelah berkali-kali mereka pulang-pergi bekerja ke Malaysia. Dan saya baru mendengar kabar duka ini setahun lalu dari adik kandung saya.
Laki-laki yang meninggal itu, kami cukup dekat saat saya masih sering bertandang ke kampung. Dia sepupu yang selalu mengabulkan keinginan saya akan mata yang lapar terhadap buah-buah di pepohonan sekitar rumahnya. Hari-hari ini, saya mulai penasaran, apakah sungguh ia mati karena sakit? [b]
#StopHumanTraficking #StopBajualOrangIndonesia #StopBajualOrangNTT








#Rantau



Indonesia kaya akan suku-sukunya, ada ribuan. Yang terdeteksi dan terdaftar maupun tidak. Sebagian besar suku di Indonesia, orang-orangnya sangat gandrung merantau. Tak asik katanya jika tak keluar kampung. Tak punya pengalaman dan pengetahuan luas. Nenek moyang kita orang pelaut, berlayar sampai jauh. Lalu bagaimana dengan nenek moyang kita yang sebagian adalah petani, membajak sampai jauh juga kah? Hanya musim dan langit yang tahu.

Orang Flores punya tradisi keluar dari rumah selepas Sekolah Menengah Atas. Itu yang lumrah terjadi. Sebagian yang bahkan tidak pernah menyentuh bangku pendidikan sudah keluar dari rumah sejak mereka menginginkannya. Bagi beberapa orang, proses menjadi “manusia” sesungguhnya dimulai saat dimana rumah bukan lagi satu-satunya tempat yang nyaman dan memberikan rasa aman seperti yang kita inginkan. Proses menjadi manusia diawali ketika kita menjadi penghuni dari salah satu kamar kos lusuh, lingkungan riuh kampus, pekerjaan harian yang menguras tenaga dan pikiran, serta macam-macam kesibukan Ibu kota.

Entah apa yang diberitakan ke kampung halaman tetapi orang tua dengan jumawa akan mempersembahkan bahan obrolan yang ringan menarik tentang kebanggaannya pada anak-anak yang telah pergi jauh dari rumah kepada sanak keluarga juga para tetangga.

Sebagai perantau yang mengenyam pengalaman pendidikan juga bekerja, saya akan berbagi di sini tentang pengalaman saya saat menginjak tahun kedua di tanah orang. Dari sudut pandang anak kuliahan, bukan pekerja harian.

Tamat SMU dikirim ke Ibu Kota. Bisa ke ibu kota Negara, ibu kota salah satu propinsi di Indonesia. Orang tua dengan sukarela menginvestasikan harta kekayaan mereka kepada kita.

Ilustrasinya kurang lebih begini ; “Ini sa kasih kau doi, banyak ni. Warna merah semua. Ada sekitar dua puluh lembar atau tiga puluh. Pakai beli spoon, lemari, rak buku, kalo agak lebih baru kau beli komputer, yang bekas saja jangan bagaya pake laptop. Nanti kalo su ada uang sendiri baru kau beli. Ingat kuliah baek-baek, kami di sini cari uang susah setengah mati supaya kau bisa sekolah.”
Lalu apa yang terjadi selanjutnya?

Semester awal. Masa adaptasi, belajar menjadi mahasiswa/i sekaligus perantauan, mandiri segala-galanya tetapi belum bisa BERDIKARI. Karena masih menanti kiriman orang tua, menadahkan tangan setiap bulannya di ATM atau Kantor Bank. Situasi yang lumayan rumit ini terkadang menguras biaya dan waktu yang cukup banyak karena harus menyesuaikan diri dengan kondisi Ibu Kota yang ruam di sebelah kiri dan mulus di sebelah kanan. Lingkungan dan teman-teman juga menjadi faktor penting agar bisa terus eksis. Salah sedikit bisa angkut koper, pulang kampung.

Semester Bingung . Bingung karena semester ini Individu mulai merasa punya hak memilih. Pilihannya antara lain; Bertahan, LANJUTKAN. Menjalani aktivitas sebagai Mahasiswa/i dari kampus  tertentu dengan standar pendidikannya. Dosen dari etnis yang berbeda dengan cara mengajar yang bisa menimbulkan kebingungan yang akut. Gaya bahasa, dialek dan cara penyampaian. Tidak semua bisa menerima keterkejutan ini. Belum lagi tugas yang bisa membikin kepala panas dan muka mendadak mengecil saking pusingnya. Atau saking malasnya. Tetapi sebagian memilih bertahan, berjibaku, menantang badai dan menembusi segala perkara dengan cara masing-masing. Lalu sebagian lain? Sebagian lain mulai berpikir tentang kebosanan, tentang kesenangan lain seperti jalur traveling baru. Mengunjungi teman-teman lama di kota-kota yang berbeda. Merasakan keasikan dan suasana baru di tempat lain. Karena setiap tempat menjanjikan kesenangan yang berbeda-beda. Juga kerunyaman yang skalanya sama.

Semester Cinta. Asoi. Roman Picisan, Saat manusia dikenalkan dengan cinta, atau pergi mengenalinya sendiri. Bagaimana menemukan pasangan di lingkungan perkuliahan, menjalani hubungan yang sehat dan normal atau lebih kepada kebutuhan sehari-hari. Kebutuhan sehari-hari ini bisa bervariasi. Dari makan bersama-sama dan menentukan siapa yang bayar. Laki-laki biasanya berperan aktif karena dipasung tradisi. Lalu kebutuhan lain seperti ojek cinta. Siap dua puluh tujuh jam, saya lebihkan tiga jam karena bonus kasih sayang dan perhatian. Juga kebutuhan terakhir yang sering kita aminkan dalam diam. Kenapa dalam diam? Karena kita merasa bukan urusan kita. Biarkan mereka sendiri yang menyelesaikannya, entah di tempat tidur, di bibir pantai, di dalam mobil atau di kamar kos teman. Selanjutnya yang menyusul adalah, pertentangan batin untuk kedua insan atau pertahanan diri agar cerita ini jangan sampai lolos kepada oknum tidak bertanggung jawab. Karena kalau sampai tidak berakhir di ranjang perkawinan maka aib ini akan sungguh menyakitkan, yang lebih sering terjadi adalah, pasangan yang putus saling menghina satu sama lain dan membongkar aib mereka sendiri dihadapan orang-orang yang katanya adalah kepercayaan mereka. Jika hanya sampai di situ, saya pikir manusia masih bisa survive. Karena ingatan akan terlupakan seiring waktu, jadikan tumbal pengalaman. Bagaimana kalau sampai fatal, semisal berbadan dua maksudnya. Impian membeli laptop baru agar menyenangkan orang tua seperti wejangan sebelum berangkat tentu tak akan kesampaian. Dilematis praktis. Pilihan terbentang beberapa. Hilangkan janin, banyak caranya. Jalani dulu perkuliahan sampai janin sedikit bertumbuh besar lalu pulang dan mengakui kesalahan pada orang tua dan berjanji akan bertanggung jawab atas semuanya, bersama dengan pasangan atau tidak sama sekali.  Bagian ini memang mengerikan. Kondisi ketidakstabilan berpengaruh besar pada kehidupan seseorang. Belum lagi pemikiran tentang kemungkinan-kemungkinan yang bisa diraih jika saja kesalahan ini tidak terjadi.

Semester Egois. Semester ini terjadi apabila kesalahan fatal pada semester cinta yang dibahas sebelumnya sama sekali tidak terjadi. Polemik menemukan jati diri dan solusi dari setiap masalah yang timbul dari dalam diri sendiri (Psikologis) ataupun masalah Lingkungan (adat, budaya, tradisi, keluarga, teman, dan lain sebagainya). Kondisi ini terjadi pada mereka yang suka berpikir rumit. Berjuang mati-matian untuk mengenali “siapa saya sesungguhnya. Apa yang ingin saya lakukan dalam hidup ini. Sudah benar kah jalan yang saya ambil sekarang?.” Bahkan ada yang memilih bunuh diri karena tak kuat menantang diri sendiri. Mereka terlanjur kalah karena tak yakin mampu menaklukan diri sendiri. Kuasai diri sendiri saja tidak mampu apalagi kuasai dunia dan tetek bengeknya.

Semester Uzur. Beberapa kategori untuk semester ini.
Yang Bertahan I
Yang bertahan pada kategori  ini, mereka yang menjalani semester awal dan semester bingung dengan ogah-ogahan. Berjuang hingga selesai sebisanya atau dengan jalan pintas. Saya rasa sudah menjadi rahasia umum yang dimaksudkan dengan jalan pintas tersebut. Ada banyak jalan pintas. Membeli skripsi atau sekalian saja ijazahnya, membayar lebih banyak ke pihak kampus. Beberapa kampus serius menangani ini. Dan mereka bisa kembali ke rumah dengan gagah.

Yang Bertahan II
Rasa malu dengan diri sendiri, dengan lingkungan dan orang tua dan tuntutan hidup di masa kini yang tak terkira, memaksa diri untuk memulai semuanya sendiri. Bekerja dengan mengandalkan ijazah yang sudah ada. Di kota-kota di Indonesia yang sudah jauh berkembang pesat, orang-orang berijazah SMA sangat mudah diterima. Karena tenaga yang terjaring dapat dibayar dengan gaji yang jauh lebih murah ketimbang menerima pekerja lulusan Diploma atau Sarjana. Bukankah Kemampuan dan pengetahuan bisa diasah. Ini ujian hidup sesungguhnya, mental seorang manusia ditempa habis-habisan. Pikiran antara bekerja dan menyelesaikan kuliah berpacu. Seperti dikejar waktu, pertanyaan kapan selesai berlomba-lomba dengan deadline di tempat kerja. Prioritas menjadi musuh paling berat. Apa kabar Ibu dan Bapak di kampung halaman. Menanti dengan anteng, mendaraskan doa penuh ketekunan. Tak jarang memohon mukjizat. Prestige sarjana tetap yang utama.

Yang Bertahan III
Pulang, membantu usaha orang tua. Untuk mereka yang tergolong memiliki orang tua mampu, ini adalah solusi yang sangat dianjurkan. Mana ada orang tua yang membiarkan anaknya terlunta-lunta untuk waktu lama. Bagi mereka yang orang tuanya kurang mampu, cukup lah puas dengan bekerja sebagai honorer di kantor-kantor pemerintahan, melamar pada kantor Bank terdekat yang sedang membuka kesempatan berkarir tanpa ada lagi harapan untuk meningkatkan karir lebih tinggi. Yang agak ironi kaum-kaum yang akhirnya kembali tanpa bukti nyata ini (begitu diistilahkan) justru tak pernah belajar dari kehidupan sebelumnya. Ada saja yang bertemu lawan jenis, entah itu jodohnya atau bukan tetapi mereka melakukan kesalahan lain. Marriage by accident. Kondisi masyarakat kita tidak akan membiarkan engkau berlama-lama dengan keadaan tersebut. Maka menikahlah meskipun tidak yakin dengan pilihannya. Dan menjalani hidup seterusnya. Penyesalan itu berkubang dan terkuak pada waktu-waktu tertentu. Oleh karena itu, selingkuh menjadi masalah moral paling tinggi saat ini. Ralat, mungkin sejak beberapa tahun lalu semenjak saya belum juga mengerti bahwa lelaki yang memiliki anak lain di luar rumahnya berarti ia sedang berselingkuh. Dan keluarga termasuk sang isteri berusaha keras menutupi aib tersebut dari telinga masyarakat demi menghindari gunjingan sengit.

Kategori paling parah di semester ini adalah mereka yang membiarkan dirinya dikalahkan waktu dan jaman yang terus berubah. Santai seperti di pantai, selow semacam di pulau.  Berakhir pada DROP OUT, tidak berguna serta menambah angka pengangguran bangsa. Ada banyak yang seperti ini, beberapa saya kenal dengan baik dan mereka tetap dengan cara berpikir yang memang seperti itu. Malas dan acuh tak acuh. Bak simalakama, mereka terus saja berada ditengah kebingungan menentukan nasibnya sendiri.

Saya akan mengakhiri tulisan panjang ini dengan sesuatu yang sarat akan makna bahagia bagi masyarakat kebanyakan. Mereka ini yang mengukir prestasi dan memberikan momen tak terlupakan bagi orang tua, keluarga dan para sahabat. Gambar-gambar mereka akan terpampang penuh wibawa berbalut pigura menawan di ruang tamu, ruang makan bahkan kamar kedua orang tua. Mereka menjalani perjuangannya sejak semester awal hingga semester uzur dengan cara yang gigih dan elegan. Yang tentu saja membikin iri sebagian mereka yang terjebak pada semester bingung, semester cinta dan semester egois. Mereka kembali dengan senyum terkembang dan bahu serta dagu yang terangkat sempurna. Kekurangan dari kalangan ini adalah mereka tak cukup mengalami guncangan sebab jaminan dari orang tua dan kehati-hatian mereka menghindari masalah. Sehingga terkadang mereka begitu bagus di kertas namun tidak dengan kepribadian mereka. Begitu taat pada garis nasib yang telah umum terjadi. Kembali ke kampung halaman, meneruskan usaha orang tua atau melamar pekerjaan. Sasaran pekerjaan yang paling banyak diincar adalah Pegawai Negeri Sipil. Tunjangan pensiunnya memastikan kehidupanmu aman dan nyaman hingga titik darah penghabisan. Dua atau tiga tahun kemudian, mereka akan menemukan pasangan hidup yang diyakini adalah jodohnya. Mengurus pernikahan, mengundang banyak orang, menghabiskan banyak biaya karena rasa syukur luar biasa. Menghasilkan generasi penerus yang akan melakukan pengulangan yang persis seperti telah mereka lakukan. Lahir, sekolah, menikah dan punya anak. Solusi untuk masalah hidup sudah tertera pada buku panduan keluarga. That’s all. Perfecto!

Lalu, apa sebenarnya yang ideal bagi manusia dalam prosesnya menemukan jati diri serta memaknai hidup? Jawabannya bukan dari siapa pun. Tapi dari diri kita sendiri. Yang pasti, merantaulah agar kamu tahu bagaimana sedapnya Mie Instan paling terkenal dari Indonesia di tanggal tua atau lelahnya diusir tuan kos karena telat membayar tagihan kamar. Sebab, rumah akan selalu menjadi tujuan akhir. Sejauh mana pun kita melangkah.
Tetap cool dan nikmati hidup