Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rok Untuk Lanny

Sebuah Cerpen #MariaPankratia


*Bali Post Edisi Minggu Pon, 4 Desember 2016



Barangkali ia hanya galau sebab rok di lemari sudah terlampau membosankan. Ia gemar memakai rok selebar dan sepanjang gorden. Kegemarannya tidak memiliki alasan, karena ia selalu begitu.
Hari ini, untuk ketiga kalinya ia bertemu lagi dengan rok yang sama. Masih di barisan yang itu-itu juga. Busana Wanita Dewasa. Diam, menanti dihampiri, coraknya hitam-putih. Panjang, menyiratkan jenjang, memancing. Kekaguman itu berubah, serupa imajinasi yang menumpuk setiap  mereka (ia dan rok itu) bertemu. Ia yakin, lepas ini, frustrasi bakal bersarang lebih lama dari biasanya. Pada kali yang kedua, sebelum ini, ia melihat rok panjang itu, rok dengan gambar bunga liar berbahan halus. Ia butuh dua minggu agar berkemas dari risau yang begitu rusuh di kepala.
Jika kemudian mungkin ada yang bertanya, kapan ia bertemu dengan rok itu untuk pertama kalinya? Ia akan kebingungan sebab ia merasa yakin ia dan rok tersebut memiliki ikatan sejak entah.
***
Pertanyaan ini muncul di kepala ketika ia memutuskan untuk menghampiri lagi deretan rok di barisan busana wanita di sebuah pusat perbelanjaan terkemuka kota ini.
“Kok nggak ada diskon yah? Apa belum kali yah?”
Ia mengitarinya sebanyak tiga kali, semacam ritual menghatur mukjizat. Seolah-olah akan ada seorang Bankir atau Pengusaha Kaya berbaik hati datang menawarkan niat membelikannya.
“Kamu suka rok ini? Jadi pacar saya yah, kamu bisa dapatkan satu, bonus pulang bersama saya”
Ia mengandaikan mereka paham, ia hanya selalu mengandalkan kaki dengan pecahan pada telapaknya yang kian melebar setiap hari untuk beranjak ke mana-mana. Setelah mulai lelah memandangi, ia keluar kembali ke pelataran pusat perbelanjaan itu. Ia duduk termenung di tangga, berharap akan ada ide segar muncul seketika.
Sepuluh menit berlalu, ia masuk lagi. Datang dan mengitari. Ia sadar sebuah tatapan serius mengawasinya sejak tadi. Tatapan  itu sekarang menghampirinya bersama mulut dan gerak tubuh yang lain.
“Mau dicoba dulu mungkin?” tawar sang pramuniaga
Ia tersenyum kemudian berusaha mengelak
“Oh, saya cuma mau lihat-lihat kok”
Sang pramuniaga mengangguk mengerti lalu perlahan menjauh.
Ia memutuskan keluar lagi. Duduk lagi, menatap kosong di kejauhan. Rokoknya ia keluarkan, tarikan pertama begitu dalam hingga membuatnya terbatuk. Seorang security muncul menggantikan petugas sebelumnya. Security itu berdiri tepat di belakangnya. Ia sama sekali tak terganggu, konsentrasinya tetap pada rok. Bara pada rokok hampir selesai dan pilihan itu muncul. Ia harus masuk lagi dan melakukan sesuatu.
Ia kembali ke tempat rok terpajang, pelan-pelan ia mengeluarkan lighter dari dalam tas rajutannya. Sambil menatap rok panjang tersebut dengan ekspresi yang campur aduk, ia menghunuskan api perlahan. Kurang sedetik lagi, nyala api itu menghampiri kuncup bunga liar di ujung rok, tiba-tiba sebuah hantaman mendarat tepat pada punggung kepalanya. Saking giatnya ia merencanakan api, ia alpa pada sang pramuniaga dan security yang sejak tadi memasang kode-kode. Tubuhnya diseret ke ruangan belakang, tempat kantor berada.
***
Mereka menyundutnya dengan sengatan minyak angin, tepat di bawah lubang hidung. Ia terbangun dan berteriak kalap, memasang wajah ketakutan sekaligus memohon ampun. Kemudian mereka meninggalkannya sendirian. Lima menit kemudian seorang laki-laki berkacamata lebar masuk dan menarik kursi, mereka duduk berhadapan. Saling memandang cukup lama. Lalu laki-laki itu mulai bertanya,
“Saya harus panggil anda, Mas atau Mbak?”
“Mbak aja”
“Oke, dengan mbak siapa, saya bicara?”
“Lanny”
“Mbak lanny, mbak sadar apa yang baru saja mbak lakukan?”
Ia tidak menjawab melainkan menunduk, tungkai kakinya gemetar tak karuan. Laki-laki itu melanjutkan.
“Mbak lanny kerja apa?”
“Therapist, Pak”
“Di mana?”
“Legian, Pak”
“Mbak lanny, mbak ini baru saja melanggar Pasal 406 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana(KUHP). Mbak bisa dipenjara lho”
Ia berjengit mendengar kata penjara. Air matanya mulai mengalir.
“Kalau nggak mau dipenjara, mbak harusnya tidak nekat seperti tadi. Jangan nyalakan korek api pada barang jualan saya. Saya bisa rugi besar, kacau tadi semua kalau apinya merambat ke mana-mana”
Ia mengangguk sembari tetap menunduk.
“Mbak lanny, mbak dengerin saya yah”
“Iya, Pak”
“Saya lupa siapa yang ngomong ini, tetapi kalau kita paksa minum air laut, dahaga kita gak bakal hilang. Kita bakal haus terus. Mbak lanny kalau pingin barang dagangan saya, Mbak harus beli, kalau belum bisa beli yo ditahan keinginannya. Ngerti?”
“Ngerti, Pak”
“Mbak lanny masih mau roknya?”
Ia terkejut, kepalanya terangkat seketika, pada matanya ada binar sumringah.
“Masih”
Yang terjadi berikutnya adalah laki-laki itu membuka celananya, menggelontorkan kemaluannya begitu saja di hadapan lanny. Ia abaikan bahwa lanny juga memiliki bentuk vital yang sama. Kedua laki-laki itu tengah terjebak pada situasi yang sulit. Dengan sigap laki-laki itu menarik kepala lanny. Hampir sepuluh menit lanny berjibaku dengan benda tumpul itu di dalam mulutnya. Setelah erangan tanda puas bergema, memantul pada dinding-dinding kantor yang lusuh, lanny diusir keluar. Ia disuruh menunggu di samping meja kasir yang tentu saja sedang bekerja tanpa mengendarai kuda supaya baik jalannya. Kasir tersebut menatapnya acuh tak acuh, menerima panggilan telepon di mejanya beberapa menit kemudian. Ia tekun mengangguk-angguk menyerukan kata yang sama
“Iya bos, baik bos”

Ketika pembicaraan di telepon terputus, sang kasir menarik lanny menuju deretan busana tempat rok panjang incarannya berada. Kasir penurut itu menyuruh lanny memilih rok yang ia idam-idamkan. Ia membantu lanny membungkus. Lanny pulang bersama pecahan kaki yang makin melebar, sepat sperma yang tersisa di mulut dan bungkusan rok cantik bercorak bunga liar di genggamannya. Air matanya berderai, kali ini berlomba-lomba dengan gemuruh jantungnya. Bukankah hidup adalah pengorbanan?



Ketika Bapak Hilang



Sebuah Cerpen #MariaPankratia

(Ini cerpen lama yang saya edit dan kirimkan ke Santarang. Lalu diedit kembali oleh Pemred Jurnal Santarang yang ngeri-ngeri sedap itu, maka jadi lah seperti ini. Ada kemungkinan cerita ini akan saya revisi lagi pada bagian akhirnya. Hihi)


*Santarang Edisi Agustus 2016



Lukas melepas celana yang basah setelah sekian lama terendam air sungai. Hampir lima jam Ia menghabiskan waktu untuk bermain bersama kawan-kawan sejak pulang sekolah. Dan kini yang terjadi, Ia mulai menggigil kedinginan dengan jemari yang mulai pucat keriput karena terendam air. Bergegas Ia mendekati tungku yang sedang menyala membara, perasaan hangat menjalar seketika. Beberapa saat kemudian, Mama telah berada di sampingnya sambil memperbaiki letak kayu bakar supaya tetap menyala mekar.

“Dari mana saja kau? Jam begini baru pulang?”

Lukas menyeringai. Dalam temaram dapur, seringai itu nampak menyebalkan. Hal itu membuat Mama bingung dan kesal sehingga menghardiknya.

“Pergi pake baju sudah sana! Besok kau tidak bisa sekolah, kau lihat memang.”

Lukas yang sudah kembali pulih dari rasa dingin lekas bangkit dan berlari ke dalam kamar untuk berpakaian. Di luar, rintik hujan mulai menggerogoti atap ilalang rumah yang perlahan meranggas akibat terlalap musim yang tak pernah pasti.

***

Lukas adalah anak tunggal dari Bapak Petrus dan Mama Ance. Kelakuannya yang “aduhai” mestilah ditoleransi karena usianya yang baru mendekati tujuh. Bapak Petrus sekeluarga menempati sebuah rumah sederhana beratap alang-alang di Desa Pemo, sekian langkah dari Danau Kelimutu. Di sekitar danau bertaburan hutan pinus dan pepohonan yang namanya sulit disebut.

Danau Kelimutu merupakan danau yang indah, bahkan sudah terkenal ke seluruh penjuru Dunia. Air danau Kelimutu memiliki tiga warna berbeda, ceruk-ceruknya dalam mengandung belerang yang berasal dari letusan gunung berapi sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Ada banyak legenda yang melatarbelakangi fenomena Danau Kelimutu. Bapak Petrus, Ayah Lukas, merupakan salah seorang pencerita yang handal. Pernah sekali waktu, Lukas dan kawan-kawannya menghabiskan malam yang panjang mendengarkan sebuah legenda tentang seorang suami yang nekat melompat ke dalam danau demi menemukan isterinya yang telah meninggal dunia. Masyarakat setempat percaya bahwa manusia yang telah meninggal dunia tempatnya ada di dalam danau tersebut.

Danau berwarna hitam (tiwu ata bupu) adalah tempat bagi orang-orang tua, danau berwarna hijau (tiwu ko’o fai nuwa muri) adalah tempat bagi muda-mudi dan danau berwarna merah (tiwu ata polo) adalah tempat bagi mereka yang selama hidupnya melakukan hal-hal yang menyimpang seperti penenung, penyihir dan sebagainya. Dalam bahasa setempat “Polo Wera” atau “suanggi.”

Semalaman mereka dibuat bergidik membayangkan kejadian yang sebenarnya, mata mereka benderang karena takut bermimpi yang bukan-bukan. Tentu saja hal ini menimbulkan geli bagi bapak petrus dan mama ance yang akhirnya bekerja extra untuk merayu anak-anak itu tidur. Kawan-kawan Lukas memilih menginap saja di rumah Lukas ketimbang pulang dan mengambil resiko bertemu sesuatu di jalanan pada malam gelap buta.

***

Hari ini Lukas bersemangat, sekolahnya akan mengadakan panen jeruk. Semua siswa diajak bersama-sama memanen jeruk di kebun belakang sekolah setelah jam istirahat pertama. Itu artinya kegiatan belajar-mengajar hanya diadakan setengah hari. Lukas dan kawan-kawan dapat menghabiskan jeruk semampu mereka hingga puas dan sakit perut. Bapak Petrus juga akan memanen jeruk di kebun mereka yang berdekatan dengan Danau Kelimutu. Sejak pagi beliau sudah berangkat seorang diri. Hasil panen akan dijual saat rega atau hari pasar nanti. Lukas berniat membantu bapak setelah pulang sekolah.

“Mama, sa pi sekolah dulu” Lukas berteriak pamit pada mamanya

Di luar telah menunggu Ebit dan Anis, sahabat-sahabat Lukas.

“Ho, mbana si..mawe-mawe…” (*Iya, pergilah. Pelan-pelan)

Mama Ance membalas salam Lukas dari dalam rumah.

Pada saat rumah begitu senyap, seisi kampung sibuk barkelompok di kebun. Hanya keretak kayu bakar yang mengisi suara-suara siang dan mama ance pun tenggelam dalam kesibukan menyiapkan makan siang bagi suaminya di ladang. Siang nanti setelah Lukas pulang dari sekolah, mama ance akan mengajak putranya mengantarkan makan siang sekaligus membantu sang suami memanen hasil jeruk mereka.

***

“Mama….”

Jika suara Lukas terdengar membahana didepan rumah, itu tanda sekolah telah usai. Lukas tidak pernah membolos, Ia sangat senang bersekolah, bahkan saat kondisi tubuh melemah dan tak memungkinkan atau cuaca tak bagus dan jalanan berbahaya karena diaspal bagus. Lukas tetap akan berangkat ke sekolah dan menantikan jam-jam ketika Ia bersama kawan-kawan dapat duduk manis mendengarkan sang guru berkisah tentang dunia.

“He, kau su pulang?”

“Iya. Jadi ke kebun tidak kita?”

“Jadi le, kita makan di kebun saja e? Kau su lapar?”

“Belum. OKE BOS”

sambil berucap demikian, Lukas mengangkat ibujarinya tinggi-tinggi. Melihat tingkah anaknya, mama ance hanya bisa tertawa.

***

Hari beranjak siang dan kabut perlahan turun di antara ranting-ranting pinus yang bercabang liar. Sejauh mata memandang hanyalah warna putih yang menyelimuti dan rasa dingin yang menusuk. Mama Ance mengencangkan sarungnya sehingga lebih mudah berjalan. Di depannya, Lukas dengan lincah berloncatan melewati semak belukar. Cuaca di pegunungan memang selalu tidak menentu, di siang hari sekalipun yang semestinya panas terik, kabut justru melebat dengan pongahnya.

Lukas mempercepat langkahnya, Ia tak sabar ingin berjumpa bapak. Beberapa saat kemudian, mereka telah tiba di tujuan. Kebun tampak lengang. Dari pondok tempat bapak biasa beristirahat, tampak asap membumbung. Sepertinya beliau sedang membakar sesuatu, entah ubi, kentang atau sejenisnya. Lukas bergegas menuju pondok sambil berteriak memanggil.

“Bapa.. bapa.. kami ra’i do” (*Bapa, bapa, kami sudah datang)

Tidak ada sahutan dari dalam pondok maupun dari sekitaran kebun. Mama Ance masih berdiri, sesekali mengamati palawija yang ditanam di samping pondok. Mama Ance seperti merasakan diam yang aneh. Firasat buruk menghampirinya. Mama Ance menyusul Lukas ke pondok. Di dalam pondok tidak tampak seorang pun kecuali tungku api yang masih menyala terang dengan onggokan ubi jalar yang sepertinya hendak dibakar. Kain sarung bapak tergeletak begitu saja di bale-bale. Mama Ance keluar dan mulai berkeliling menyusuri kebun. Diikutinya jejak sepasang kaki yang diduga adalah kaki suaminya. Jejak kaki itu berakhir di semak-semak yang ditumbuhi rerumputan dan semak belukar. Tiba-tiba mama ance menyadari Ia telah sampai pada batas hutan. Hutan hujan yang gulita meskipun hari tengah siang, hutan yang banyak menyimpan cerita dan mitos. Hutan yang dipercaya oleh masyarakat setempat sungguh keramat. Ada dunia lain di sana yang tidak boleh disentuh, jika tak ingin membahayakan diri sendiri. Mama Ance pucat pasi sementara Lukas mulai menangis, takut kehilangan bapaknya. Mama Ance lalu memeluk Lukas dan berkata,

“Mai si, kita walo ro. Kita nosi ebe gheta nua” (*Ayo, kita pulang saja dulu. Kita beritahu orang-orang di kampung)

Tergesa mama ance dan lukas menyusuri jalan pulang. Tidak terasa lagi onak dan duri yang menggores kulit sepanjang perjalanan. Pikiran keduanya hanya terfokus pada satu pertanyaan, “Di mana bapak?”

***

Om Thomas sedang berkelakar ria dengan beberapa penduduk yang lain di bale-bale depan rumah, ketika Ia melihat dua sosok yang berjalan tergesa-gesa mendatanginya. Setelah dekat barulah disadari, mereka adalah saudari dan keponakannya. Lukas tampak menangis tersedu dan Ibunya begitu pucat pasi seperti ketakutan. Mama Ance menghampiri om thomas segera dan tanpa menunggu ditanya lagi beliau langsung memberitahu

“Petrus… Petrus ata polo sono” (Petrus, petrus disembunyikan suanggi)

Om thomas membelalak terkejut, sebagian yang juga ikut mendengarkan bergumam kaget. Setelah sedikit hilang keterkejutannya, om thomas pun bertanya 

“Leka emba? Kau mbe’o leka sai me?” (*Di mana? Dari siapa kamu tahu bahwa dia disembunyikan?)

“gheta uma” (*Di kebun)


Saat mengucapkan kalimat ini mama ance tidak dapat menahan air matanya lagi. Ia menangis histeris. Om thomas pun langsung mengerti setelah mendengarkan kalimat penunjuk keterangan tempat tersebut. Semua orang kampung tahu jika kebun bapak petrus dan mama ance berbatasan langsung dengan hutan keramat. Beberapa kali mereka selalu diperingati agar memperhatikan hari di mana mereka berkebun karena saat-saat tertentu bisa sangat berbahaya. Hal itu lumrah terjadi karena maklhuk-makhluk tak kasat mata tersebut sangat sensitif terhadap perubahan alam maupun lingkungan di sekitar mereka. Untuk menandakan hal itu mereka akan melakukan hal-hal yang kadang tidak masuk akal bagi manusia.

Om Thomas kemudian menghimbau kepada warga yang ada di situ agar mengajak warga lainnya khususnya kaum laki-laki untuk bersama-sama mencari bapak petrus sebelum hari beranjak malam. Para pria berkumpul di rumah om thomas. Setelah mengadakan sedikit diskusi dan mengatur strategi, mereka pun berangkat menuju kebun bapak petrus. Lukas merengek-rengek pada pamannya agar dia ikut mencari. Om Thomas tidak dapat melihat kesedihan di mata bocah itu. Karena sangat menyayangi keponakannya, ia pun mengijinkan Lukas untuk turut serta mencari. Para warga menyisir seluruh kebun hingga jarak 200 meter setelahnya. Ketika mencapai batas hutan keramat, langkah mereka terhenti. Tidak sembarangan orang dapat masuk ke sana tanpa persiapan terlebih dahulu. Segala tumbuhan dan makhluk yang ada di dalamnya begitu purba dan terjaga sejak lama, seperti bahasa alam yang tidak bisa dijelaskan. Beberapa warga menanyakan pendapat om thomas.

“Bagaimana ni? Kita tidak mungkin masuk ke sana tanpa persiapan”

Om Thomas terdiam, beliau tampak berpikir keras dan akhirnya memutuskan.

“Baik, kita pulang saja dulu. Kita lapor Mosalaki. Semoga Beliau bisa kasih petunjuk”

Mosalaki adalah sebutan bagi pemimpin atau tetua adat di kampung itu.


Rombongan kembali ke kampung dan langsung menuju Sa’o Ria atau Rumah Besar, tempat Mosalaki berdiam. Terjadi perbincangan serius antara para lelaki dan Mosalaki. Pada akhirnya diputuskan akan diadakan upacara “Pati Ka Ata Mata” atau “dhera” atau Upacara memberi makan/sesajen bagi para leluhur. Dengan cara ini Mosalaki yakin para leluhur akan memberikan petunjuk atau jalan keluar atas peristiwa yang tengah menimpa warga desanya. Upacara akan diadakan keesokan hari.

***
Bulan tampak kesiangan diatas pucuk menara Sa’o Ria. Lukas telah terjaga sejak tadi. Ia memilih duduk terpaku di sudut rumah sambil menunggu pamannya terbangun untuk meminta Mosalaki melaksanakan upacara. Lukas mulai frustrasi karena tidak bertemu bapak lebih dari sehari.

“Hei Lukas, kau sudah bangun?”

Om Thomas tiba-tiba sudah duduk di sampingnya sembari memeluk Lukas erat-erat.

“Tenang, kita pasti menemukan bapa”

“Hari ini juga? Bisa?”

“Semoga saja”

Lukas tertunduk lesu mendengar jawaban pamannya yang tidak pasti. Ini akan menjadi hari yang panjang baginya. 

Pukul 10.00 pagi, mama ance telah bergabung bersama lukas, om thomas dan beberapa warga yang berdatangan. Mama Ance membawa dua ekor ayam kampung masing-masing berwarna hitam dan merah. Juga ada beras merah, telur ayam kampung, sirih pinang, kapur sirih dan sebotol Moke. Sementara itu, Mosalaki telah mempersiapkan beberapa perlengkapan untuk upacara tersebut. Setelah melewati sesi konsultasi yang panjang dan rumit antara Mama Ance, Om Thomas dan Mosalaki, upacara pun dilaksanakan. Mama Ance Terlebih dahulu memasak bahan makanan yang tadi telah dibawa. Berasnya harus ditanak di dalam bambu sesuai tradisi masyarakat Lio.

Pukul 12.00 siang semua kebutuhan upacara, termasuk makanan, telah lengkap. Mosalaki menghamparkan semua sesajen di atas sebidang batu datar di depan Sa’o Ria. Kemudian, sambil merapalkan mantra, beliau meminta semua warga yang ada disekitarnya turut serta berdoa agar diberikan petunjuk oleh leluhur dan semesta. Selesai upacara dilakukan, petunjuk tidak otomatis didapatkan. Mosalaki harus menunggu waktu semalam lagi untuk didatangi leluhur yang dipercaya akan memberitahukan langkah selanjutnya.

***

Pagi-pagi sekali, Om Thomas, Lukas dan Mama Ance serta beberapa keluarga dekat mereka telah mendatangi Sa’o Ria. Berharap Mosalaki telah mendapatkan petunjuk. Mosalaki dengan luka lesu kebesarannya duduk berhadapan dengan Mama Ance, Lukas dan Om Thomas. Beliau kemudian berbicara.

“Ada kesalahan kecil yang sudah keluarga ini lakukan sehingga leluhur menjadi marah dan memerintahkan makhluk-mahkluk itu menyembunyikan Petrus. Beberapa hari yang lalu, Lukas dan teman-temannya ada pigi bermain di sungai. Apakah benar?”

Mama Ance dan Om Thomas beralih melihat Lukas. Lukas mengangguk mengiyakan. Kemudian Mosalaki berbicara lagi.

“Nah, kalian tidak hati-hati. Kalian mengambil paksa beberapa tanaman yang seharusnya tidak boleh kalian ambil di hutan. Leluhur tidak memberitahukan tanaman apa itu namun karena kelakuan kalian, kehidupan makhluk di sana menjadi terganggu, karena itu mereka marah sekali. Mereka menyandera bapamu supaya kamu dan teman-temanmu menyadari kesalahan kalian dan berjanji tidak akan melakukannya lagi.”

Lukas terdiam. Ia tiba-tiba teringat beberapa hari yang lalu saat menghabiskan waktu bermain di sungai bersama kawan-kawan. Mereka mematahkan beberapa ranting pepohonan yang mereka sendiri tidak ketahui namanya. Pohon itu memiliki daun yang lebar dan batang yang alot sehingga dapat dipakai sebagai perahu-perahuan di sungai. Mereka mematahkannya dengan paksa sampai terlepas ranting dari pohonnya. Tanpa mereka sadari, pohon itu adalah tempat tinggal beberapa makhluk penjaga hutan. Pohon itu sudah seperti rumah bagi para makhluk tersebut sehingga saat ada orang lain yang tiba-tiba mengusiknya, mereka menjadi sangat marah. Mosalaki kembali berbicara.

“Untuk menebus kesalahan kalian, dan agar bapamu bisa kembali lagi, kalian harus mengadakan upacara sekali lagi di perbatasan hutan. Sesajennya masih sama seperti kemarin. Kita akan melakukan itu sore ini pukul enam di kebun kalian. Semoga saja bapamu akan dikembalikan dan masih dalam kondisi baik-baik saja.”

Mama Ance menarik nafas panjang, Om Thomas menyampaikan terima kasih yang mendalam kemudian pamit untuk segera menyiapkan perlengkapan upacara.

***

Sore beranjak remang, dengan dibantu cahaya dari obor bambu rombongan, yang terdiri atas Mosalaki, Om Thomas, Mama Ance, Lukas dan keluarga terdekat, menuju ladang di kaki Danau Kelimutu. Dari kejauhan, Danau Kelimutu seperti tembok alam raksasa. Matahari sebentar lagi menghilang dan bintang mulai menyembul di langit. Bulan merangkak perlahan dengan cahayanya yang hangat. Tepat pukul enam sore, waktu yang dipercaya sebagai momen peralihan antara dunia siang dan dunia malam, upacara dimulai. Mosalaki kembali menghamparkan sesajen di atas batu datar di pinggiran ladang yang berbatasan dengan hutan. Beliau merapalkan mantra dan melihat ke sekeliling. Sesekali Mosalaki memejamkan matanya dan mengarahkan kepala ke langit seperti memohon. Selang beberapa saat kemudian, munculah sebuah bayangan diantara semak-semak dari arah hutan. Bapa petrus terlihat kuyu dan berjalan terhuyung-huyung menghampiri mereka. Seketika Lukas berteriak kencang sambil menangis

“Bapa…. Ampun bapa, Lukas yang salah…” 

Bapa Petrus tidak berkata apa-apa karena tidak memiliki tenaga lagi. Beliau hanya memeluk Lukas dan Mama Ance erat-erat.

***


Lukas menemukan keceriaannya kembali, keluarganya telah utuh seperti semula. Sejak hari itu, Lukas berjanji untuk memperingati kawan-kawannya agar tidak sembarangan memotong, mencabut atau merusak tumbuhan dan segala hal yang terdapat di hutan.





A D A M



Sebuah Cerpen #MariaPankratia


*Bali Post Edisi Minggu Wage, 3 Juli 2016



Remaja lelaki itu selalu bermain di sepanjang gang kecil padat hunian.  Dengan teman-teman yang dapat diajaknya, mereka menghabiskan waktu bersama. Seumuran atau bukan, satu sama lain selalu memanggil dengan nama yang diberikan kedua orang tua mereka. Atau sesekali dengan nama induk semangnya, jika geram hinggap terkadang.

Aku sedang dalam perjalanan pulang. Hari itu aku lesu, polisi tidur yang biasanya kusentuh dengan ujung sepatuku, kubiarkan melata menunggu. Sesekali ia harus diacuhkan sebab terlampau sering ia diberi perhatian melalui deru kendaraan yang melambat. Adam, nama anak itu, ia menyapaku dengan genit. Sudah beberapa hari ini ia bertingkah aneh bila bertemu.

“Hai, Mba”

Tak kupedulikan panggilannya. Namun ia kukuh mencoba lagi.

“Mba, capek yah?”

Aku berbalik dan membentaknya,

“IYA, KENAPA?”

Ia ngeloyor pergi, kabur membawa amarahku. Tiba di kos, lesu itu menghilang. Segelas air putih membuatku terduduk kebingungan.

***

Kantor tengah dilanda kekacauan selama seminggu. Penjualan produk kami menurun drastis dan seperti biasa, ini adalah musim yang tepat untuk mendapatkan serangan membabi buta dari bos besar. Sepanjang hari kami akan berhadapan dengan wajahnya yang seram menakutkan, lalu racauannya yang tak kunjung mendekati garis finish. Supervisorku terus membobardir dengan berbagai macam masukan, gagasan, ide, inovasi yang dengan sendirinya akan berbalik, bukan hanya kepada dirinya sebagai pencetus tetapi juga kami yang hanyalah kaki tangan penerus perintah dan himbauan.

Setiap hari aku kembali dengan wajah yang kuyu dan merusak suasana hati siapa saja yang kutemui di jalan, termasuk Adam. Hari ini ia menggodaku lagi.

“Mba, mba cakep”

Sunyi

“Ih Mbanya sombong deh.”

Aku mematung, memperhatikannya. Nama Adam ternyata cukup tepat baginya, tinggi semampai, hitam manis dengan bibir yang melankolis. Jenis rambutnya adalah jenis yang dapat diapakan saja ketika air bertemu dengan pomade, dan matanya wahai semacam pantulan bulan bintang di malam takbiran. Kulemparkan sebuah pertanyaan padanya,

“Kelas berapa kau?”

“Dua SMP hihi, ih Mbanya ngomong”

Suaranya merdu, serak dan basah. Aku tersentak dan berjalan menjauhinya. Kawan-kawannya menyoraki Adam dengan riuh.

Kuhempaskan tubuhku di kamar dan bayangan wajah Adam melintas. Anak itu nikmat.

***

Hari ini kantor hanya buka setengah hari, akan diadakan meeting internal. Aku tentu saja tidak masuk dalam jajaran manusia yang harus hadir pada pertemuan semacam itu. Aku dan teman-temanku dipulangkan lebih awal.

Sepanjang perjalanan playlist memperdengarkan suara chrisye, aku gandrung pada pria bersuara sengau. Menurutku ia cukup seksi, bukan karena suaranya tetapi kecerdasan menghadirkan lirik pada setiap lagunya. Tiba-tiba Adam muncul.

“Hai Mba, tumben cepat pulang”

Aku terdiam karena kali ini Adam sendirian. Kulepaskan headseat dari telingaku dan mengajaknya bicara.

“kenapa kalo cepat pulang?”

“hm gak apa-apa” jawabnya

“kamu kenapa jam segini sudah main?” tanyaku lagi

“kan udah pulang sekolah” jawabnya

“ya udah, sama dong” aku berlalu menyudahi pertanyaanku

Tiba di kos, aku membaringkan badanku, menutup mata dan menarik nafas panjang. Pintu kos-ku diketuk. Ketika kubuka pintunya, kepala Adam nongol. Aku sedikit terkejut tetapi hatiku berdesir. Dari balik punggungnya ia mengeluarkan sebuah bungkusan Es Kelapa Muda.

 “Buat Mbanya hihi”

kemudian ia berlari, kencang sekali, sampai terdengar derapnya di lantai satu dari kamarku di lantai dua.

Siang itu aku menyesap Es Kelapa muda pemberian Adam sembari mendengarkan “Kala Cinta Menggoda” milik Chrisye. Senyum terkulum, serasa manis es kelapa muda ini berlomba-lomba dengan wajah Adam di pelupuk mataku.

***

Seminggu kemudian, kantor dinyatakan collaps. Perusahaan harus memotong sebagian tenaga karyawan yang dianggap tidak begitu produktif. Aku salah satunya. Kabar tersebut tersiar dengan gesit, aku bahkan belum sempat membayangkan kekalutan jika harus mengangkat kaki dari pekerjaan ini. Dua puluh tujuh tahun, sendirian, tanpa tujuan hidup; bisa bertahan sampai masa ini dengan makanan dan tidur secukupnya adalah karunia.

Dengan langkah gontai aku menyusuri jalan pulang. Air mata merembes perlahan dari pelupuk mata hingga ujung lubang hidungku. Barangkali pemandangan yang sungguh menggembirakan bagi para pejalan kaki yang lainnya, mereka akan membahas ini saat tiba di tujuan masing-masing.

Sore itu, aku menemukan Adam menanti di depan kos. Dengan tingginya yang hanya sepundak, ia berusaha memperhatikan dua biji mataku. Dalam kamar yang kusam dan sumuk tanpa kipas angin kecuali angin yang nyosor dari lubang jendela, ia menyeka air mata yang berlinangan di pipiku dengan kedua tangkup tangannya yang hitam dan hanya mampu menutup sebagian pipi. Ketika bibir Adam menyentuh bibirku dan melumatnya dengan gairah, aku tak lagi sungkan. Kami menghabiskan waktu yang lama untuk meredakan kesedihan melalui persenggamaan yang dahsyat.

Ini adalah pengalaman pertama bagi kami berdua. Adam begitu lihai. Ketika kepalanya telah bersandar di ujung putingku dan kami tengah membiarkan lelah memudar, barulah ia bercerita bahwa ia dapat sepandai itu karena menonton video yang tersimpan di handphone ayahnya. Ayah Adam seorang guru, begitu yang aku ketahui, sebab setiap pagi kami berpapasan ketika akan berangkat bekerja. Sementara Ibu Adam adalah seorang Ibu Rumah Tangga. Sering kami terlibat perbincangan hambar ketika ada gossip panas seputaran gang. Aku yakin, aku adalah salah satu bintang hangat pada percakapan ibu-ibu saban hari karena Adam ternyata mengenalku dengan sungguh baik.

Katanya “Mba itu sering dibicarain, ibu-ibu itu bilang; ih cakep-cakep belum kawin.”

Aku tersenyum mendengarkan Adam bercerita. Ia kembali ke rumahnya setelah kami melakukannya sekali lagi.

***

Sepanjang dua bulan aku menganggur, mengandalkan tabungan yang cukup membeli siomay atau bajigur. Untuk menahan rasa laparku, Adam sering muncul membawa nasi dan lauk dari meja makan di rumahnya. Kami makan bersama di kamar lalu bersenggama lagi hingga tertidur. Saat petang merayap, Adam kembali ke rumahnya dan menjawab kebingungan teman-temannya sebab ia sulit diajak bermain lagi sekarang.

Hingga suatu hari, Adam tak muncul di depan pintu kamarku, melainkan ibunya. Aku dikatai dan dicaci maki seperti binatang. Dilempari banyak perkakas dan barang. Pemilik kosku hadir sebagai pengamat yang lalu mengetuk palu bahwa aku sebaiknya pindah dan mencari tempat kos yang lain, para Ibu bergunjing sembari memincingkan mata mereka terhadapku. Seolah aku perempuan sampah paling hina.


Dua minggu kemudian, ketika aku sedang menumpang di kamar kos teman. Aku terjatuh di kamar mandi. Janin milikku dan Adam luruh, tak kuat menahan frustrasi dan kekacauan dalam tubuh. Susah payah aku pertahankan bayi ini sejak diusir oleh Ibu Adam, ia akhirnya pergi juga meninggalkanku, sama seperti Adam.


-----





J E R A T



Sebuah Cerpen #MariaPankratia

*Santarang Edisi Mei 2016


Yang melihat dengan nyata, mendengar dua kali...

Kalimat itu keluar dari mulut atasannya, si lelaki Italia. Ia teringat ungkapan masa kecil, juga ayahnya yang senantiasa menyemangati ia bernyanyi sebelum Sekolah Minggu dimulai.

 “Rambu, yang semangat nyanyi e. Karena bernyanyi sama dengan kita berdoa dua kali.”

Dalam ruangan dengan suhu dingin yang menerpa hampir ke sebagian tubuhnya, hanya ada mereka berdua, sang atasan berkepala hampir saja licin dengan aksen Italia yang kental namun memiliki kemampuan bahasa indonesia cukup baik, dan dirinya, seorang gadis yang sedari tadi tergugu pelan. Sang atasan kembali berbicara,

“Dina, maaf sebelumnya, apakah ada masalah yang sungguh membuat kamu sangat terintimidasi sehingga kamu sampai seperti ini? Bapak tidak akan paham duduk persoalannya jika kamu terus saja menangis.”

Gadis itu sama sekali tidak menjawab pertanyaan. Sang atasan terdiam menatapnya yang terus saja menangis. Hanya ada teriakan koki di dapur lantai bawah kepada para pelayan,

“Out Table 35.”


***

Kejadian itu seperti mimpi. Atau kilat ketika hujan. Ringkas. Cepat namun berbekas.
Pukul 07.00 pagi ia telah menyalakan lampu  store. Belum ada karyawan lain yang datang kecuali karyawan dapur yang mendapat jatah piket pagi. Mereka harus menyiapkan makan siang para karyawan, juga bahan mentah yang harus diiris, dipotong atau dibersihkan dari bungkusannya sehingga tidak repot ketika memasak orderan membludak siang nanti. Aroma berbagai macam bahan makanan kebutuhan dapur khusus makanan Italia, seperti  anchovies, arthicoke, wine  dan yang lainnya, menguar dari dalam gudang berbaur dengan wangi makanan yang menyeberang dari dapur di sampingnya.

Ia akan berganti pakaian seperti biasa sebelum memulai aktivitas mengangkat, memindahkan, menghitung, dan segala hal yang menjadikannya pantas digaji karena berada di tempat ini. Ditutup dan dikuncinya pintu  store. Kemudian ia mengecek jendela yang belum sempat ia buka; masih tertutup rapat seraya menghindari CCTV agar lekuk tubuhnya tidak tampak pada tampilan layar di ruang utama.

Tak ada ruang khusus untuk berganti pakaian, hanya disediakan loker bagi para karyawan di lorong menuju lantai dua yang adalah kantor operasional restoran. Bukan menjadi masalah baginya harus bertukar pakaian di gudang penyimpanan, selama ia dapat melakukannya dengan nyaman dan aman.

Sudah sebelas bulan ia menghabiskan waktu di restoran Italia itu, menikmati rejeki Tuhan melalui perantaraan seorang lelaki Italia yang mewujudkan mimpinya dalam dunia kuliner. Bisnis makanan sedang sangat menjanjikan. Tak ada yang cukup istimewa hingga detik ini kecuali banyak pengetahuan baru yang ia dapatkan.

Begitulah yang lumrah terjadi saat kita memulai hal yang sebelumnya tidak pernah kita lakukan. Selain ilmu, tentu saja ada kawan baru dan lawan baru. Sebagian besar pekerja di restoran adalah rekan sekampungnya dari Timur. Mereka memang datang ke kota itu khusus untuk mencari nafkah. Berbeda dengannya. Ia ibarat seseorang yang sambil menyelam minum air. Pagi bekerja dan sore kuliah. Eksistensi dan cita-cita yang membara memang membutuhkan lebih banyak pengorbanan.

Sudah sebelas bulan juga ia berkenalan dan bergaul dengan  pekerja pekerja  lain yang sebagian besar adalah orang dari tanah ini. Tanah di mana ia mengais rejeki dan ilmu. Mereka adalah orang baik. Sangat baik, hingga pada suatu senja yang abu-abu, hari yang selalu sama, saat ia memanfaatkan salah satu sudut gudang tempat ia bersemayam untuk berganti pakaian. Ada seseorang di sana. Menatapnya penuh bisa. 

Lelaki itu selalu baik padanya. Saban hari ia menanyakan kabarnya meski hanya dijawab dengan senyuman singkat atau anggukan pelan karena rasa malu yang bercampur tidak peduli. Lelaki yang selalu ia sadari memperhatikannya diam-diam. Tatapannya aneh.

Meskipun perasaan aneh itu kadang merayap sesekali, tetap saja ia tidak peduli. Mungkin lelaki itu hanya iseng sebagaimana Komang atau Iluh yang selalu suka bercanda padanya dan reaksinya selalu sama. Diam, tersenyum seperlunya dan lalu menjauh. Tak acuh.Saat itu tersisa sepotong kutang yang menutupi kedua puting cokelatnya. Tubuhnya memberikan isyarat kaku, membeku. 

Lelaki itu berdiri di hadapannya seolah sudah lama menanti. Terkejut tak terkira, diraihnya segala yang ada disekitarnya. Botol  wine, galon saus, bahkan krat  soft  drink. Dipukulnya sekuat tenaga lelaki itu bak orang kesetanan. Penuh marah tanpa akal. Setelah kesadarannya kembali ia menemukan kedua tangannya yang telah bersimbah darah. Kutangnya masih utuh menempel dan menutupi lekuk payudaranya, sementara seragam kerja dan kemeja yang hendak ia ganti telah berserakan. Ia terduduk lemas dan menangis.

Senja itu cepat berubah menjadi gelap yang panjang. Kekacauan terjadi dan kembali ia tak sadarkan diri. Semua orang yang ada di restoran seketika ramai semacam kondangan atau pasar malam lebih tepatnya. 

Kasak-kusuk dan bisik busuk berlompatan dari mulut yang satu ke mulut yang lain.Komentar-komentar tentang keterbelakangannya menyebar begitu cepat. Sejak awal ia bekerja semua selalu mengatakan hal yang sama bahwa ia perempuan yang aneh. Karena ia selalu muncul tanpa suara atau sebuah pertanda. Sementara jenazah lelaki itu terkapar, kaku dan kehilangan segalanya. Lelaki itu mati.


***

“Bapak masih menunggu cerita darimu, Dina. Cerita yang benar dan lengkap.”
Suara tangisannya kian keras. Ditatapnya kedua bola mata lelaki Italia itu, berharap seluruh rentetan kejadian yang sesungguhnya melintas pada bola matanya sehingga tidak perlu lagi pertanyaan berhamburan memenuhi isi ruangan.
***
Ayahnya seorang yang rendah hati. Mengantarkannya ke sekolah dan menjemputnya kembali saat hari mulai tinggi. Sekolah tempat ia belajar merupakan satu-satunya Sekolah Dasar yang menampung murid-murid dari lima dusun yang ada disekitarnya. Dusun tempat ia dan ayah tinggal adalah yag paling jauh jaraknya. Membutuhkan waktu tiga puluh menit untuk tiba di sekolah tepat bel tanda masuk berbunyi.

Dalam rumahnya tersisa ia dan ayah, ibunya telah lama pergi menuju  Prai Marapu. Ketika ibu pergi, belum ada bangunan gereja dengan salib terpancang di bubungan. Dulu, saat ibu masih hidup dan segar bugar, ia selalu diajak menyajikan makanan dan berdoa di pohon-pohon besar dan rindang sebagaimana kepercayaan para  Marapu. Ibu meninggal karena menderita tumor yang sangat parah di bagian kiri selangkangannya. 

Beberapa tahun setelah kepergian ibu, ia dikenalkan kepada seorang lelaki yang kemudian diketahuinya bernama Pastor Ansel. Pastor Ansel yang membaptis ia dan ayahnya menjadi Katolik. Pastor Ansel yang baik hati yang selalu membacakan cerita Alkitab yang luar biasa, bukan hanya saat Sekolah Minggu, kapan saja ia boleh mampir ke paroki tempat Pastor Ansel tinggal.

Sebagai  ana humba  yang berbakti, ia tidak ingin melewatkan pengabdiannya pada sang ayah. Sepulang sekolah, ia selalu membantunya mencari kayu bakar barang seikat dua ikat. Atau memungut pinang dari hutan di dekat kampung agar ayah tak kekurangan cemilan yang bisa menenteramkan mulut dan hatinya. Padahal ayah tidak pernah menyuruhnya melakukan itu. Ia senang karena mampu melakukan semuanya dengan tangan kecilnya. Kala senja tiba, ia akan duduk di samping ayah. Mereka akan saling menggoda sementara liur ayah yang memerah akibat  happa  muncrat dan mengotori dinding-dinding rumah. Saat itu ia akan tertawa tergelak menyaksikan tingkah ayah yang lucu.

Di suatu siang yang hangat, ketika ayah sama sekali belum muncul menjemputnya ia mulai resah. Kawan-kawannya telah kembali ke rumah sejak tadi, dijemput orang tua mereka, ada juga yang pulang berjalan sendiri karena lokasi dusun yang tidak begitu jauh dari sekolah tempat mereka belajar.Karena ayah tak kunjung datang, ia memutuskan untuk berjalan saja pelan-pelan, mungkin ayah juga sedang dalam perjalanan. Mereka pasti akan berpapasan di tengah jalan. Harapannya sia-sia, ayah tak juga muncul hingga ia tiba di rumah.

Ketika ia menginjakkan kaki di halaman, terdengar suara teriakan. Suara ayah. Secepat mungkin ia menerobos masuk. Ada dua pria yang sedang bergumul, salah satu pria ia kenali sebagai ayahnya dan pria yang lain adalah pamannya. Adik ibunya, Umbu Herman. Naluri ingin membela dan menyelamatkan ayahnya muncul begitu saja, ia mengambil sebilah bambu yang tergeletak di ruang tamu. Bilah bambu yang akan dipakai ayah merenovasi dinding-dinding rumah mereka. Ia belum pernah tahu bahwa kemarahan dapat mendatangkan kejutan yang luar biasa. Sekuat tenaga ia mengayunkan bambu tanpa mengenali wajah siapa yang akan mendapatkan sasaran pukulan bambu tersebut. 

Darah akibat luka sayatan bambu mengalir deras, usus ayahnya menggelambir dari perutnya yang hitam karena terpanggang matahari sehari-hari. Seketika rumahnya diselimuti diam yang aneh, dingin mengitari sekujur tubuhnya. Matanya seolah bernanah, padangannya kabur dan semuanya hitam. Gadis sepuluh tahun menghabisi ayahnya dengan sebilah bambu. Sejak siang itu, siang di mana ayahnya mati lemas karena perbuatannya, tak pernah ada satu kata pun yang dapat keluar dari mulutnya. Kedua lempeng bibirnya seperti disulam rapat, menyatu. Gagu.

Apa yang terjadi selanjutnya selalu berusaha ia hilangkan dari isi kepalanya. Pastor Ansel yang murah hati mengirim ia jauh ke sebuah kota. Ia diperkenalkan pada kehidupan biara yang syahdu dan tertib demi ketenangan dan perbaikan psikisnya. Pastor Ansel yakin suatu saat ia akan kembali menjadi gadis riang. Gadis yang adalah anak ayahnya. 

Dengan alasan usia serta hubungan darah dan penjelasan pamannya, ia dibebaskan dari tuduhan pembunuhan. Ia disekolahkan dengan baik. Akan tetapi seumur hidupnya ia tidak pernah terbebas dari beban rasa bersalah yang selalu membuat nafasnya tersengal dan dadanya seperti dihantam palu godam. Suster dari biara tempat ia tinggal dengan telaten dan sabar membantunya lari dari kenangan yang terus saja menghantui. 

Kenangan itu berhasil terlupakan untuk saat tertentu namun tersimpan rapi di sudut entah, kemudian akan muncul kembali di saat-saat tertentu dengan atau tanpa sepengetahuannya.
Saat ia merindukan sang ayah, rasa bersalah itu datang bersamanya. Mereka beriringan seperti pengantin menuju pelaminan. Tak ada tangis yang lebih menyayat dari pada tangisan anak yang menghabisi nyawa ayahnya sendiri. 

Dan untuk segala yang sudah ia lewati, ia pungut dan satukan perlahan puing-puing tersebut sebagai harapan. Ayahnya selalu mendambakan sebuah pigura menghiasi ruang tamu mereka. Pigura bergambar ayah dan anaknya yang bertoga. Seorang tukang kayu yang mampu menyekolahkan anaknya hingga sarjana akan menjadi sebuah kebanggaan tak terkira. Ia memutuskan untuk keluar dari biara tempat ia tinggal, mencari pekerjaan dan mendaftar kuliah. Suster yang mengasuhnya begitu sedih saat membiarkannya pergi namun sudah saatnya ia dibiarkan mengambil langkah sendiri. Menentukan pilihan bagi hidupnya.


***

Ruangan itu kini menjadi lebih dingin, sesekali lelaki Italia tersebut menghela nafasnya. Matanya memandang sejurus kepada gadis di depannya. Disodorinya selembar kertas dan sebuah pena.

“Baiklah, Bapak akan memberimu waktu untuk menuliskan segalanya. Karena kamu tidak ingin bertemu polisi, karena kamu juga tidak mampu melarikan diri, Bapak akan tetap di sini, menunggumu menceritakan semuanya.”

Sejak hari di mana ia menghabisi ayahnya, gadis itu memilih untuk menjadi bisu. Sejak siang itu, siang di mana ia begitu mati ketakutan bahwa ia akan kehilangan ayahnya. Ia memilih untuk tidak bicara selamanya. 

Segala yang terjadi padanya selama ini mendekam, mengendap dan berkembang biak di kepala dan hatinya seperti tangisnya yang kini menjelma sungai tak berujung. Bahkan samudera pun tak akan sanggup lagi menampung alirannya. Jeratan yang begitu erat mematikan. Kekal.


Keterangan:

Prai Marapu: Surga Marapu.

Ana Humba: Anak Sumba.

Marapu: sebuah agama atau kepercayaan lokal yang dianut oleh masyarakat di Pulau Sumba. Lebih dari setengah penduduk Sumba memeluk agama ini. Agama ini memiliki kepercayaan pemujaan kepada nenek moyang dan leluhur. Pemeluk agama Marapu percaya bahwa kehidupan di dunia ini hanya sementara dan bahwa setelah akhir zaman mereka akan hidup kekal di dunia roh, yaitu di surga Marapu yang dikenal sebagai Prai Marapu.

Happa: Sirih Pinang.


SESAT



Sebuah Cerpen #MariaPankratia

*Santarang Edisi Februari 2016

Ia memiliki banyak wajah dengan raga yang sama. Setiap wajah mengikuti khayalannya. 

Sekali waktu ia pernah termangu di tepi jalan, terkejut akibat dengung peluit seorang polisi yang sedang mengatur lalu lintas. Dalam diamnya yang cukup lama, ia seperti mengalami trance, memasuki tubuh polisi yang sedang melambaikan kedua tangannya seraya menyesap peluit dengan tekun. Hilir mudik rupa kota sekejap mata menjadi teratur, aman, seturut keinginannya, dan tentu saja harapan pengguna jalan raya yang begitu banyaknya. Ia senang, lalu pulang, dan membasuh badannya di kamar mandi penuh sukacita. Hari ini ia menjadi polisi yang berguna. Lagu anak-anak gubahan Ibu Sud yang dinyanyikan C h i l l a I r a w a n berkumandang sepanjang senja itu bersatu padu dengan guyuran air dan sabun di sekujur tubuhnya.

Pernah ia tepekur di sudut sebuah pusat perbelanjaan, seorang diri. Matanya nyalang m e m p e r h a t i k a n sepasang kekasih yang serius bertukar liur, jari jemari mereka berkaitan s a t u s a m a l a i n , sementara puluhan manusia berseliweran di sekitarnya. Seperti seseorang telah menghunuskan mantra, sekejap mata Ia mampu merasakan getir lidah sang laki-laki dengan nyata, liurnya masam, lebih masam daripada rokok terakhir yang ia jejalkan ke mulutnya. Jemari sang pria begitu dingin, seperti hendak mengatakan bahwa ia sedang khawatir. Khawatir sebentar lagi isi dompetnya akan habis terkuras. Kuluman terakhir berlalu dengan cepat bertepatan, dengan tajam matanya yang arogan untuk menunjukan bahwa ia superior. Wanita, apa pun kondisinya, adalah yang selalu benar, keinginannya harus selalu didengar. Seperti bubuhan pada akhir kalimat dari sebuah dialog sinetron, ―camkan itu!‖ Hari berakhir indah, lemari terisi wangi-wangi baru yang mahal. Ia bahagia, hari di mana ia menjadi sangat luar biasa. Dipuja-puja dan dicurahkan kepadanya segala.

Pagi ini, di sebuah sekolah, ia berlari sepanjang koridornya yang berlantai sungguh licin. Sol sepatunya bercicitan serupa cicit hewan pengerat yang tengah mengerubungi sepotong roti. Kedua tangannya sedang sibuk menenteng peralatan lokakarya. Ia senang membantu dan ia sedang dalam misi persahabatan. Sahabatnya—yang juga seorang motivator handal, begitu yang ia dengar dari orang-orang sekitar yang ia kenal, ia sendiri merasa sahabatnya itu biasa saja— akan mengadakan sebuah pelatihan “menarik” bagi siswa-siswi tahun terakhir di sekolah ini. Dalam perjalanannya menuju ruangan tempat kegiatan dilaksanakan, ia menjelma sahabatnya yang juga motivator itu. Ia mempersiapkan diri untuk tampil penuh kharisma. Orang-orang harus melihatnya sebagai makhluk yang berperangkat tubuh sama namun dengan isi kepala dan hati yang berbeda. Ia adalah yang istimewa dari kaumnya, dengan kemampuan memahami yang berlimpah, motivasi hidup tinggi, ketegasan mumpuni—bahkan ia sangat tegas pada diri sendiri—serta hati yang lemah lembut. Sepanjang kegiatan ia akan berdiri di depan mata siswa-siswi tersebut. Berbicara, membaca pikiran mereka tentang masa depan, lalu dengan luwes meneror mereka dengan pengalaman-pengalaman serta kebijakan-kebijakan yang ia punyai dari semesta ini. Bagian paling akhir dan penting adalah meyakinkan mereka bahwa mereka telah menjadi manusia super yang siap menghadapi tantangan hidup setelah mereka meninggalkan ruangan. Sehari lagi, ia akan pulang dengan perasaan bangga sebab telah membagikan tumpukan masa lalu yang patut diteladani dan merasa damai karena telah memperingatkan mereka melalui strategi dan kebajikan yang pernah ia lakukan. Padahal ia sendiri tahu, itu semua bullshit. Zaman berubah, masalah berbeda, solusi pun tak lagi sama!


***

Dini hari, di dalam ruangan sempit, ia diam meratapi wajah yang sesungguhnya. Ia mengembalikan semua wajah yang telah ia pinjam. Pada etalase tembus pandang, terpajang satu-satu wajah yang sudah ia pakai. Di jalanan, di pusat keramaian, di kuburan, di gereja, di masjid, di warung, di mana pun. Ia tergugu, tak satu pun wajah-wajah itu membuatnya benar-benar merasa bahagia karena ia terus menginginkan wajah-wajah berikut yang berdatangan.