Tampilkan postingan dengan label Indonesian. Tampilkan semua postingan

Yuk Intip Aksi Lipooz Kenalkan HipHop di Bali



*Diunggah di website Musiklik.com pada 20 Desember 2016. Website tersebut untuk sementara sedang beristirahat dengan tidak tenang. Hiks T.T


Untuk orang-orang awam, ia bukan sosok luar biasa. Untuk kalangan tertentu, Lipooz menghunus mata dan hati, juga pikiran. Kekuatannya terletak pada rima yang berirama dari mulutnya seiring tempo dan musik yang membisik.

Lipooz atau lengkapnya Philipus R.I. Ngadut (RI itu bukan Republik Indonesia meskipun dia cinta mati dengan NKRI) adalah seorang pria asal Ruteng – Flores yang memilih menekuni Hiphop sejak tahun 2002 di Surabaya hingga kini berdomisili di Denpasar, Bali.

Musik merupakan pilihan untuk berkomunikasi dengan diri sendiri dan orang lain. "Rap mampu bercerita tentang sesuatu secara detail karena panjangnya durasi lirik pada rap jika dibandingkan dengan genre musik lain yang liriknya cuma sepenggal dan diulang-ulang," ungkapnya saat ditemui Musiklik.com, (16/12).

Sampai dengan saat ini Lipooz sudah mengeluarkan dua album hip hop, Words = Power (2005), One Man Army (2007), juga belasan single track, baik solo maupun juga berkolaborasi dengan rapper-rapper dari berbagai kota di Indonesia. Tema yang sering diangkat dalam lagu-lagu Lipooz adalah tentang keseharian, cinta, kampung halaman-kota kelahiran dan self pride menjadi kebanggaan diri bagaimana hebatnya seorang MC memainkan kata-kata.

Pada 2013, Lipooz memutuskan hijrah ke Bali dan bertemu dengan teman-teman pelaku hiphop Bali yang sebelumnya cuma dikenal melalui sosial media. "Saya betah di Bali karena budayanya, keramahan orang-orangnya, alamnya yang luar biasa, serta kebebasan berpikir untuk menerjemahkan seni," ungkap Lipooz, MC-rapper di salah satu klub ternama di Denpasar

Lipooz cukup sering tampil di beberapa tempat di Denpasar untuk mengisi acara-acara tertentu. Bagi Lipooz, teman-teman hiphop di Bali tidak hanya mencakup rap, tetapi juga dance dan breakdance. Masing-masing mereka sudah sangat ahli pada profesinya sehingga ketika diminta untuk bergabung dan perform bersama mereka di acara komunitas Hiphop Bali/Dewata Hiphop, ia mengaku dengan senang hati meluangkan waktu untuk terlibat.

Untuk terus menjaga semangat hiphop, Lipooz tengah sibuk dengan sebuah proyek yang ia beri nama 16BAR.

Tentang itu bisa klik di sini: www.youtube.com/lipooz




Apakah Musiklikers  menyukai musik dengan aliran Hip Hop? Yah, tidak semua orang mengenali genre musik ini. Bukan hanya di Bali, tapi hampir di semua kota di Indonesia, musik Hip Hop adalah musik minoritas, karena masyarakat Indonesia didominasi oleh pendengar musik bernyanyi bukan pendengar musik berbicara (Rap).

Demikian ungkap Lipooz, jadi orang-orang lebih suka musik yang berharmoni dan vokal yang bernada daripada mendengarkan manusia ngomel-ngomel pakai rima dan nada, lanjutnya pada sesi wawancara bersama Musiklik.com (16/12).

Adapun 16BAR adalah sebuah Hip Hop web seri yang digarap Lipooz dengan melibatkan teman-teman rapper di berbagai penjuru Indonesia.

Proyek ini cukup merepresentasikan musik Hip Hop Indonesia saat ini. Alurnya seperti berikut, Lipooz akan menyediakan instrumental hiphop yang kemudian dieksekusi oleh rapper berbeda di setiap episodenya. Instrumen tersebut dibuat dengan alat musik dan perlengkapan seadanya langsung dari ruang kerja sekaligus kamar tinggal Lipooz di Denpasar. Itu kemudian dikirim kepada teman-teman rapper yang berniat mengeksekusi lirik sesuai instrumen.

Proyek ini terbilang masih belia karena baru berjalan empat bulan terakhir. Melalui 16BAR Lipooz sesungguhnya ingin mempromosikan teman-teman yang menggandrungi Hip Hop dan terkendala oleh berbagai macam hal. Proyek ini diharapkan dapat mewadahi musisi hiphop baik di pelosok maupun ibu kota yang memiliki kualitas Rap namun jarang diperhatikan.

 Ke depannya Lipooz berharap dapat menggandeng rapper-rapper Bali dan mengolaborasikan musik tradisional maupun juga bahasa Bali ke dalam Hip Hop yang ia garap.

Apalagi Hip Hop menurut Lipooz merupakan satu-satunya genre musik yang bisa dikombinasikan dengan musik dan budaya apapun, karena Hip Hop sendiri adalah sebuah budaya, bukan terbatas pada musik saja. Thumbs Up!



Penulis : Maria Pankratia
Editor : Luh De Dwi Jayanthi
Foto : Dokumentasi Lipooz
Caption : Lipooz Performance


MUSIK, LIPOOZ, HIP HOP, BALI, RAPPER, INDIE MUSIC, INDONESIA, 16BAR

Taman Bung Karno Ende - Saran untuk pengembangan



Akhirnya!!!

*Jika ingin melihat gambar lebih jelas, bisa double klik pada gambar. Thanks




Saran saya ini sempat saya sampaikan ketika saya ngomel-ngomel di postingan Generasi Bangsa Ini, Diajarkan Untuk Lupa kemarin. Berikut saya uraikan lebih rinci;

Pintu depan: Ada Petugas jaga/Piket yang bekerja beberapa shift (bergantian), Pagi-Siang-Sore-Malam. Petugas-petugas ini juga bertanggung jawab atas Keamanan Lingkungan Taman setiap hari termasuk Security Check. Pengunjung DILARANG membawa spidol,pilox, atau alat-alat lainnya yang memiliki potensi Vandalisme ke dalam taman.

Di pintu depan disiapkan Katalog yang bisa dibagikan ke pengunjung saat akan masuk ke taman sebagai penunjang informasi selain juga PAPAN INFORMASI yang bisa disediakan di sudut tertentu dari taman. Informasi bisa berupa “Kenapa Taman Bung Karno dibangun?” // “Cerita tentang Proses Pembangunan hingga Peresmian” // “Sejarah Bung Karno di Ende” // “Pohon Sukun dan Falsafah Pancasila” // ini salah satu solusi yang ditawarkan untuk mengedukasi masyarakat supaya punya rasa bangga dan kepedulian lebih terhadap Taman.

Patung: Sebaiknya Lokasi Patung tidak diakses leluasa oleh pengunjung, dipagari rapi lalu diberi tulisan “PENGUNJUNG DILARANG NAIK DAN DUDUK DEKAT/DI ATAS PATUNG.” Ini terkesan keras atau mungkin norak tetapi juga mengajarkan pengunjung supaya tidak terlalu kurang ajar karena beberapa pengunjung yang ceroboh malah membuat Patung Bung Karno itu tidak memiliki wibawa sama sekali sebagai Tokoh Proklamator dan Presiden Pertama Indonesia.

Kolam airnya mohon dijaga supaya selalu berisi air, tidak kering. Karena memang begitu fungsinya, menambah keindahan dengan pantulan bayangan patung tersebut ke air (menurut saya sih).

Petugas Kebersihan: Daun-daun yang jatuh dari pohon itu tidak masalah, itu bisa dibersihkan sesekali tetapi sampah plastik atau bekas makanan yang dibuang sembarangan pengunjung itu kadang mengganggu sekali padahal sudah disediakan tempat sampah di titik tertentu. Kita harus menerima kenyataan, masyarakat kita belum begitu paham tentang “Membuang Sampah Pada Tempatnya” sehingga harus dibutuhkan pekerja extra sampai waktu yang tidak ditentukan. Petugasnya usahakan yang memang talentanya di situ, bukan yang terima gaji buta wkwkwkw…

TOILET: Belum ada toilet di Taman Bung Karno (Atau sudah ada, cuma saya yang kurang perhatikan)

Seperti di atas dulu untuk sementara, kalau seiring waktu ada yang nyasar di kepala saya dan belum terlambat untuk disampaikan, saya akan berkabar. Hm..Kalau tambahan petugas itu dirasa akan menguras banyak biaya demi menggaji mereka, pengunjung mungkin bisa dikenakan biaya retribusi masuk yang “masuk akal” untuk mengimbangi hal tersebut.

Demikian~


Ini Bukan Jessica dan Sianida, Ini Jualan Manusia



*Balebengong.net terbit 28 Oktober 2016 #CitizenJournalismAward








Mandi pagi saya ini tiba-tiba terputus. Saya jeda karena pertanyaan ini muncul tiba-tiba di kepala. Kenapa saya harus mandi? Kenapa manusia disarankan mandi dua kali sehari? Sejak kapan hal ini berlaku seperti aturan tidak tertulis di dunia? Siapa menganjurkan perihal ini?
Banyak hal yang manusia lakukan di dunia ini tanpa dipikirkan terlebih dahulu hanya karena memang sudah seperti itu yang berlaku dalam kehidupan. Kenapa kita tidak pertanyakan hal-hal yang katanya sederhana itu? Mengapa harus begini, mengapa harus begitu.
Sesekali ada yang bertanya dan akan dijawab sekenanya saja, khususnya oleh para tetua kita: Yah memang sudah harus begitu. Jangan banyak tanya, lakukan saja. Cerewet!
Dalam karyanya Essay Concerning Human Understanding, John Locke mencoba menjawab persoalan dari manakah asal ide dan pengetahuan kita, apa yang mampu kita ketahui, sejauh mana pengetahuan kita memiliki kepastian? Kapan kita dibenarkan berpegang pada pendirian yang didasarkan pada ide kita?
Penelitian semacam ini menjadi penting karena kita akan mengetahui kekuatan dan batas pikiran manusia. Dengan demikian, “pikiran manusia yang sibuk” akan membatasi diri pada pembahasan masalah-masalah yang sebenarnya memang dapat diolah. Dia akan “duduk dengan tenang membiarkan tidak mengerti” hal-hal yang di luar jangkauan kemampuannya.
Begitu banyak hal di sekitar kita yang berpendar seperti cahaya. Saya yakin semuanya penting untuk dipikirkan. Akan tetapi, kebanyakan manusia tidak ingin susah-susah memahaminya karena tidak ingin, bukan tidak mampu. Sebab semua manusia terlahir jenius. Kasarnya, tidak tertarik karena tidak menarik.

Human Trafficking
Seperti Human Trafficking. Kasus yang sedang marak diberitakan ini mungkin sudah menjadi perhatian publik nasional. Namun, nasional di sini tidak berarti semua manusia Indonesia paham dan mau terlibat memikirkannya. Tulisan ini dibikin dengan tujuan menarik perhatian banyak orang sehingga kesadaran dapat muncul. Lalu, makin banyak yang mulai berpikir tentang hal ini. Lebih bagus lagi apabila memutuskan membantu dengan cara masing-masing.
Human Trafficking, pengertiannya yang paling umum, termaktub dalam UU NKRI No. 21 tahun 2007. Di sana tersurat, “Yang dimaksudkan dengan perdagangandalam manusia adalah tindakan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan dengan memanfaatkan posisi rentan, penjeratan uang atau memberi bayaran atau manfaat, sehingga memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain tersebut, baik yang dilakukan di dalam daerah dan di luar daerah maupun antarnegara, untuk tujuan eksploitasi atau mengakibatkan orang tereksploitasi.”
Praktiknya; menemukan manusia dari mana saja yang bisa dikendalikan sebagaimana sapi perah karena seseorang merasa sudah menyerahkan sejumlah uang atau barang sebagai kompensasi. Manusia yang “terbeli” itu dapat diperlakukan sesukanya. Tak jauh beda dengan perbudakan, menurut ngana?
Perlu kita ketahui juga bahwa kebutuhan akan tenaga kerja manusia ini tidak hanya datang dari luar Indonesia seperti Malaysia dan Hongkong. Justru di dalam negeri banyak tenaga kerja seperti pekerja rumah tangga (PRT) dan baby sitteryang didatangkan dari pelosok daerah demi memenuhi permintaan pasar.
Saya pernah menemukan iklan lowongan pekerja rumah tangga di Bali Advertiser. Saya lupa edisi ke berapa pada 2012. Saya pernah memostingnya di Facebook. Iklan itu berisi special request pada baris terakhir “Diprioritaskan yang berasal dari Sumba.” Ini fenomena menarik. Bahwa hari-hari ini, karakter manusia juga menentukan derajat dan kualitas suku atau etnis tertentu sehingga membentuk pasar yang cukup signifikan.
Saya sendiri sangsi, para tenaga kerja yang masih berada di ruang lingkup seputar Indonesia ini apakah mendapatkan hak sesuai  kewajiban yang sudah mereka jalankan atau belum. Di akhir Mei 2016, saya diberi kesempatan mengecap pengalaman ini bersama pengurus Ikatan Keluarga Besar Flores, Paguyuban Flobamora di Bali.
Pada kasus ini, ada 29 orang perempuan yang dicegah keberangkatannya ke Jakarta di Bandara Ngurah Rai, Bali. Beberapa orang yang saya wawancarai berusia masih di bawah 20 tahun. IKB Flobamora Bali dihubungi sejumlah pihak di Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT) baik itu Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) agar membantu membatalkan keberangkatan nona-nona Sumba ini.
Pasalnya pola-pola memberangkatkan tenaga kerja tanpa identitas sering terjadi dan merupakan salah satu modus penjualan manusia (human trafficking). Sebagian besar berangkat dengan dokumen yang baru saja diurus seminggu sebelumnya. Bahkan ada keterangan usia yang tidak sesuai antara KTP, Surat Permandian dan Ijazah. Mereka mengaku akan dipekerjakan sebagai PRT, baby sitter dan merawat orang jompo. Gaji yang dijanjikan pun bervariasi. Tidak semuanya mendapatkan informasi sama dari agen yang merekrut.
Berbagai alasan mereka kemukakan. Sebagian besar mengakui tuntutan kebutuhan ekonomi keluarga menyebabkan mereka harus berangkat ke Jakarta dan bekerja apa saja. Lain lagi dengan alasan beberapa orang anak perempuan yang baru saja lulus SMA. Ketika saya bertanya tentang cita-cita dan keputusan mereka melakukan perjalanan ini. Mereka hanya ingin menabung biaya pendidikan agar bisa bersekolah.
Setelah dua tahun kontrak kerja mereka selesai dan dana sudah cukup, mereka akan kembali ke kampung halaman atau hijrah ke kota lain supaya bisa melanjutkan sekolah. Sesederhana itu rencana yang mereka bangun.
Faktor Pendorong
Beberapa hal yang mendorong hal seperti perdagangan manusia bisa terjadi, saya ilustrasikan seperti berikut:
Bertha ibu dengan empat orang anak di pelosok daerah. Pendidikan terakhirnya Sekolah Dasar. Menikah di usia dini karena sudah telanjur hamil. Setiap hari ia sibuk membantu suami di ladang sebagai petani. Hasil pertanian tidak menentu karena musim tidak pasti serta pengelolaan yang masih sederhana. Bertha sekeluarga pun harus mengikat perut setiap hari. Belum lagi dua anaknya yang paling besar sudah mulai bersekolah.
Suatu ketika, Sius, Sekertaris Desa yang juga teman bermainnya di masa kecil berkunjung ke rumah Bertha. Ia menawarkan pekerjaan di tempat sangat jauh dengan gaji menarik. Pekerjaannya pun tidak terlalu berat, “Kau cuma cuci pakaian, masak, setrika macam yang kau biasa bikin di rumah juga. Itu satu bulan kau sudah dapat sekitar dua juta. Belum lagi tunjangan lain-lain. Nanti saya yang urus kau punya surat-surat. Kau cukup kerja satu atau dua tahun. Kau sudah bisa pulang dan bawa uang banyak. Kerja di luar negeri lagi.”
Sepanjang malam, Bertha tidak dapat memejamkan mata. Ia bahkan membangunkan suaminya dan mengajak berdiskusi. Suaminya sedikit keberatan, mengingat anak-anak mereka akan ditinggalkan ibunya untuk waktu lama. Lagipula, suami Bertha ragu dengan apa yang dikatakan Sius. Malam itu mereka tidur saling memunggungi satu sama lain.
Dua hari kemudian, saat akan beranjak tidur di malam hari, Bertha kembali membahas hal tersebut. Suaminya tetap bersikeras tidak mengizinkan ia pergi. Mereka bertengkar cukup hebat.
Keesokan hari, Bertha mendatangi mertuanya dan mengadu. Kedua mertuanya medengarkan dengan seksama dan merasa Bertha menemukan solusi tepat untuk meningkatkan kondisi perekonomian keluarga. Lalu kenapa anak mereka yang adalah suami Bertha harus melarang Bertha berangkat bekerja?
Suami Bertha dipanggil, diajak berbicara serius. Ia berusaha memaparkan banyak alasan, baik itu anak-anak maupun keraguannya tentang Sius. Alasan tersebut dipatahkan begitu saja oleh kedua orang tuanya. “Anak-anakmu biar kami yang jaga, kasih saja Bertha pergi. Sius itu kita kenal baik. Dia tidak mungkin bikin Bertha luntang-lantung di tanah orang.”
Singkat cerita, Bertha pun berangkat. Hanya membutuhkan waktu satu minggu untuk mengurus dokumen keberangkatan. Bertha begitu total mempercayai Sius. Selama enam bulan setelah keberangkatan, suami dan anak-anaknya tidak pernah menerima kabar berita dari Bertha.
Setahun kemudian, dua petugas Badan Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) mendatangi rumahnya dan memberikan kabar menyesakkan. Bertha dinyatakan meninggal di negeri perantauan akibat sakit yang tidak dapat disembuhkan.
Akan tetapi, banyak pihak yang peduli dan menyangsikan kejadian ini. Banyak kejanggalan sehingga diadakan penyelidikan lebih lanjut. Berita-berita yang menyusul kemudian hanya menjadi mimpi buruk bagi suami dan anak-anaknya serta penyesalan tak berujung bagi kedua mertuanya. Sementara Sius, tetap hidup dengan aman dan tenteram. Ng….salah siapa?
Kesimpulan dari ilustrasi di atas menghasilkan beberapa poin.
Pertama, masih dan akan selalu tentang faktor ekonomi atau kemiskinan. Permasalahan ini sering sekali menjadi masalah utama dalam kasus human trafficking. Tanggung jawab yang besar untuk menopang hidup keluarga, membayar semua pengeluaran dan pendidikan anak, saudara, dan lainnya sering menjadi pemicu mencari pekerjaan di luar negeri yang tidak jelas kepastiannya.
Kedua, keinginan untuk menjadi kaya dalam waktu yang singkat.
Ketiga, faktor budaya seperti: peran perempuan untuk mencari nafkah, memang sudah kodratnya perempuan mengurus rumah dan hanya membantu untu mencari nafkah tambahan, namun tanggung jawab atas keberlangsungan hidup keluarganya menjadi alasan untuk berimigrasi.
Selain itu juga, peran anak dalam sebuah keluarga, kepatuhan anak terhadap orang tua serta rasa tanggung jawab untuk membayar hutang yang keluarganya miliki, memberikan motivasi tersendiri bagi mereka untuk berangkat bekerja.
Keempat, faktor budaya lainnya: khusus bagi TKI laki-laki. Motivasi untuk berangkat bekerja ke Negara tetangga terkadang bukan hanya tentang keluarga, tetapi tentang perempuan yang akan dinikahi.
Khusus di NTT, tradisi “belis” atau mas kawin sejak beberapa tahun silam terjadi pergeseran makna yang memberikan tekanan cukup besar bagi pihak laki-laki. Jika terus berada di kampung, biaya mas kawin dan resepsi menikah tak akan pernah cukup. Menjadi TKI adalah jalur alternatif yang bisa ditempuh.
Kelima, perkawinan dini mempunyai implikasi yang serius bagi para anak perempuan termasuk bahaya kesehatan, putus sekolah, kesempatan ekonomi yang terbatas, gangguan perkembangan pribadi, dan seringkali, juga perceraian dini. Anak-anak perempuan yang sudah bercerai secara sah dianggap sebagai orang dewasa dan rentan terhadap trafficking disebabkan oleh kerapuhan ekonomi mereka.
Keenam, kurangnya kesadaran, baik mereka yang menjalankan atau terlibat dalam perdagangan manusia ataupun mereka yang menjadi korban perdagangan manusia. Hal ini karena kurang hati-hatinya dan kurangnya informasi serta pengetahuan yang mereka dapat tentang motif-motif dari Perdagangan Manusia.
Ketujuh, pengetahuan yang terbatas yang dimiliki, orang dengan pendidikan yang terbatas memiliki lebih sedikit keahlian/skill dan kesempatan kerja dan mereka lebih mudah menjadi sasaran karena memutuskan bermigrasi mencari pekerjaan yang tidak membutuhkan keahlian.
Kedelapan, orang-orang terdekat yang cukup mengambil andil dalam membentuk keputusan tidak memiliki pengalaman dan pengetahuan yang memadahi sehingga ancaman tidak hanya datang dari luar melainkan juga dari dalam rumah itu sendiri. Tak jarang, iming-iming sejumlah uang justru memperlancar proses keberangkatan. Duit sejuta di pelosok sana, itu BANYAK SEKALI.

Berita Tragis
Akhir Juli 2016, KOMPAS.COM memuat berita tragis dan sungguh menyayat hati: sepanjang 2016 sudah 23 Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Nusa Tenggara Timur (NTT) meninggal di Malaysia. Sayangnya, kabar ini tak sedemikian mencuat dan menyita perhatian khalayak, sebagaimana publik Indonesia menempatkan rasa kepo-nya yang besar pada kasus kopi sianida.
Perdagangan manusia memang bukan isu seksi layaknya drama Jessica dan Mirna.
Pada 11 Oktober 2016 kemarin, Kompas TV bekerja sama dengan Jaringan Relawan Untuk Kemanusiaan (J-RUK) Sumba melalui program Berkas Kompas mengangkat topik “Jalan Gelap TKI Ilegal.” Pada liputan ini, diketahui sepanjang tahun 2016 telah ada 35 korban TKI yang meninggal di perantauan. Hanya ada empat TKI yang berangkat melalui jalur resmi sementara tiga puluh satu lainnya berangkat secara legal atau memalsukan identitas.
Jumlah mereka yang mati dikabarkan terus bertambah. Hingga 25 Oktober 2016, ketika tulisan ini sedang saya kerjakan, sudah 44 orang TKI asal NTT meninggal di negara orang.
Kasus yang cukup menghebohkan adalah kematian buruh migran bernama Yulfrida Selan (19 tahun), asal Timor Tengah Selatan, NTT. Yulfrida meninggalkan kampung halaman tanpa sepengetahuan keluarganya sejak September 2015.
Pada 13 Juli 2016, petugas BP3TKI NTT memberitahu keluarga, bahwa Yulfrida telah meninggal gantung diri di dapur rumah majikannya di Malaysia. Saat jenazah Yulfrida diserahkan pada keluarga, ditemukan sejumlah kejanggalan: identitas korban dipalsukan, kondisi jenazah penuh bekas jahitan, serta dugaan Yulfrida menjadi korban perdagangan organ tubuh, yang kemudian dibantah Polri.
Tak pernah habis masalah TKI ini diangkat, namun tidak kunjung terurai. Kasus di NTT menunjukkan pengiriman TKI tidak resmi lebih jadi pilihan ketimbang jalur legal. Mengapa bisa demikian? Selain karena permintaan tinggi, warga desa mudah ditipu dengan cara ilegal, demi terhindar dari biaya-biaya yang dianggap membebani seperti tes kesehatan, asuransi hingga biaya pelatihan. Identitas mereka dipalsukan, sertifikat keterampilan pun dipalsukan. Oleh para calo, TKI kemudian dikirim ke majikan yang telah memesan.
Data yang dihimpun tim International Organization for Migration menyebutkan 65 persen TKI direkrut oleh pekerja individual, para calo atau tetangganya. Sekitar 35 persen direkrut lembaga penyalur tenaga kerja (PPTKIS), dan sekitar 5 persen bahkan dijerumuskan oleh keluarganya sendiri, sisanya sebagian kecil diculik untuk dieksploitasi.
Kasus terbaru pada 23 Agustus 2016 lalu, Polda NTT mengungkap sindikat perdagangan orang yang menukarkan 20 TKI ke luar negeri, dengan satu mobil Xenia. Sungguh ironi, nyawa manusia hanya dihargai satu buah mobil.
Bagi yang selama ini penasaran, semoga tulisan ini menjawab rasa-rasa yang selama ini berkecamuk di kepala Anda. Kenapa orang-orang ini mau berangkat kerja ke luar negeri? Kenapa mereka bisa menjadi korban perdangangan manusia? Kenapa mereka bisa mati begitu saja dan tidak dipedulikan?
Mulai saat ini, cobalah kita lebih peka dengan situasi di sekitar. Di negara kita tercinta ini. Apabila memiliki tenaga kerja di rumah yang berasal dari pelosok daerah, sudahkah kita memperlakukan dengan layak dan memberikan hak yang seharusnya ia dapatkan?
Begitu pula jika kita mendapat curiga, mencium hal-hal yang mengarah pada cerita-cerita yang sudah saya kemukakan di atas, sepatutnya kita mencari tahu dan mengantisipasi. Terhadap keluarga, kenalan, siapa saja yang kita jumpai. Sampaikan informasi-informasi berharga ini lalu meneruskannya kepada yang sungguh-sungguh membutuhkan. Dengan demikian tidak ada lagi korban-korban selanjutnya pun kesedihan yang berkepanjangan.

Penutup
Jangan terburu-buru sebab tulisan ini belum selesai. Cerita ini tidak fiktif. Ini yang mencuat keluar dari sekian kenangan yang tersimpan lama. Saya tarik dari lemari penyimpanan memori karena dibutuhkan.
Belasan tahun yang lalu, saat itu saya masih sangat kecil dan tidak mengerti apa-apa. Rumah kami kedatangan sejumlah keluarga yang akan berangkat ke Malaysia. Saya terpukau, waow itu kan luar negeri. Kakak sepupu saya yang adalah anak dari kakak ayah saya, mengumpulkan mereka di ruang tamu lalu membagikan Kartu Identitas mereka.
Ia menekankan supaya mereka semua berhati-hati saat naik kapal nanti, usahakan semua tiba di Kalimantan dengan selamat. Saat itu saya hanya bengong menatap biji matanya yang hampir menggelinding keluar, juga kumisnya yang terus bergerak seiring ia bicara.
Tiga tahun lalu, adiknya, salah satu dari yang berangkat, dinyatakan meninggal karena TBC di Malaysia. Hal ini terjadi setelah berkali-kali mereka pulang-pergi bekerja ke Malaysia. Dan saya baru mendengar kabar duka ini setahun lalu dari adik kandung saya.
Laki-laki yang meninggal itu, kami cukup dekat saat saya masih sering bertandang ke kampung. Dia sepupu yang selalu mengabulkan keinginan saya akan mata yang lapar terhadap buah-buah di pepohonan sekitar rumahnya. Hari-hari ini, saya mulai penasaran, apakah sungguh ia mati karena sakit? [b]
#StopHumanTraficking #StopBajualOrangIndonesia #StopBajualOrangNTT








Maiwa La Humba, Mari Membangun Yang Baik



*Tulisan ini ikut serta dalam "Blog Competition oleh Goverment Public Relations" dengan tema "Memotret Pembangungan Indonesia" dan mendapatkan Predikat "Juara Regional Maluku/Nusa Tenggara"



                       Siswa/i Kelas 1 SDN Lumbung saat diajak bernyanyi bersama
*FOTO: DOKUMEN PRIBADI

“….Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu, tetapi tanyakan apa yang kamu berikan kepada negaramu…”

Ungkapan Presiden Amerika, John F. Kennedy sangat tepat menggambarkan kegiatan yang dilakukan oleh Gabungan Mahasiswa Sumba Timur (GAMASTIM) di Bali beberapa waktu lalu di kampung halaman mereka. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 30-31 Agustus 2016 di SDN Lumbung, Desa Maidang, Kecamatan Kambata Mapa Mbuhang.

Saya selaku simpatisan yang diajak bergabung pada kegiatan ini merasa kagum dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya. Hari-hari ini semakin banyak anak muda yang mulai sadar akan kepedulian dan peranan besar mereka dalam proses pembangunan bangsa ini.

1000 buku dari Bali untuk Sumba Timur adalah program yang digagas oleh Gabungan Mahasiswa Sumba Timur di Bali. Program ini dirancang karena munculnya kesadaran bahwa masih banyak anak sekolah yang hanya membawa satu lembar buku untuk semua mata pelajaran, ada pula yang harus rela membagi pensil dengan adiknya agar bisa menulis, belum lagi alas kaki yang hanya cukup menggunakan sendal atau tidak sama sekali. Hal ini ditemukan saat tim survei GAMASTIM mendatangi lokasi tujuan setahun lalu.

Dinamakan 1000 buku dari Bali untuk Sumba Timur sebab para pelaku kegiatan merupakan mahasiswa/i yang berasal dari Sumba Timur yang saat ini berdomisili di Bali demi melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Akan tetapi mereka tidak sendirian.

Melalui promosi di media sosial dan pembicaraan dari mulut ke mulut, banyak orang dengan caranya masing-masing memberikan bantuan. Antara lain, para pekerja asal Sumba Timur di Bali, para simpatisan GAMASTIM dan Himpunan Keluarga Matawai Amahu Sumba Timur (HIKMAST), serta pihak donatur yang peduli akan pendidikan di daerah pedalaman Sumba Timur.

SDN Lumbung yang berdiri sejak 01 agustus 1960, memiliki 4 kelas dengan bangunan yang sudah semestinya direnovasi. Dua kelas baru sudah dibangun beberapa waktu lalu namun belum bisa digunakan karena masih menunggu proses serah terima dari Dinas PPO.Total siswa/i di SDN Lumbung adalah 73 orang, 44 laki-laki dan 29 perempuan.

Akan tetapi karena jumlah ruang kelas hanya 4, maka kegiatan belajar mengajar untuk kelas I dan kelas III terjadi dalam 1 kelas, kelas II dan IV di dalam satu kelas, sedangkan untuk kelas  V dan VI masing-masing dalam satu kelas. Kegiatan belajar mengajar di SDN Lumbung ini didukung oleh dua orang guru PNS, satu orang guru SM3T dan lima orang guru honor.

Lumbung adalah salah satu dusun yang termasuk dalam wilayah administrasi Desa Maidang. Kehidupannya masih begitu jauh dari peradaban modern. Para Penduduknya bercocok tanam dan berternak. Selain keindahan alam yang luar biasa dan sumber air yang mencukupi, tidak ada hal lain yang bisa ditemukan di sini.

Listrik belum ada, jalan masih setapak, fasilitas pendidikan dan kesehatan yang serba terbatas. Lumbung belum mendapat perhatian yang serius dari Pemerintah karena mungkin belum ada sumber daya yang bisa dikembanbangkan untuk menambah pundi-pundi APBD.

Terkadang kita harus peka, pikiran bahwa mengeluh dan menuntut melulu justru tidak akan mendatangkan perubahan. Apabila ada yang bisa ditangani oleh kita sendiri, kita tidak harus menanti pemerintah untuk mewujudkannya. Bukankah pemerintah memiliki banyak sekali “urusan” untuk diselesaikan?

Buku, pensil, pena dan penghapus dikumpulkan di Denpasar lalu dipaketkan ke Sumba Timur dan ditempatkan di salah satu rumah anggota GAMASTIM. Beberapa hari sebelum kegiatan, kawan-kawan yang terlibat di GAMASTIM yang sedang berada di Sumba Timur untuk berlibur dan siap menjadi relawan kegiatan ini, berkumpul untuk mengadakan persiapan. Persiapan dimulai dari rapat teknis, memilah buku, pensil, pena, penghapus agar setiap anak mendapatkan jumlah yang sama.


Sebagaimana jalanan di Nusa Tenggara yang selalu membelah bukit, mengulari lembah, begitu pula perjalanan ke Pelosok Utara Sumba Timur. Perjalanan dengan kendaraan dari Waingapu ke desa yang terletak di Kecamatan Kambata Mapa Mbuhang ini memakan waktu kurang lebih dua jam dan hanya bisa mencapai rumah Kepala Desa Maidang. Selanjutnya harus mengandalkan kaki dan fisik sambil memikul beban yang menjadi tanggung jawab masing-masing.

Jumlah relawan yang memutuskan berangkat adalah lima belas orang (8 orang laki-laki dan 7 orang perempuan). Sementara barang yang diputuskan untuk dibawa adalah 9 dus buku tulis dan pena (berat bervariasi sebab jumlah buku seluruhnya ada 1400 buku setebal 30-50 lembar) yang akan dibagikan kepada siswa/i.




*FOTO: DOKUMEN PRIBADI

Lalu ada 2 karung beras masing-masing 20kg dan 10kg, tiga ekor ayam, satu dus kopi, dua dus air mineral, 2 dus Mi Instan, minyak goreng dan perlengkapan memasak untuk kebutuhan para relawan selama dua hari serta 1 karung bibit jati putih yang akan ditanam sebagai kenang-kenangan. Semuanya dibagikan sesuai kemampuan para relawan untuk memikul, tentu saja tidak ketinggalan ransel perlengkapan masing-masing.

Rute yang ditempuh untuk berjalan sebenarnya tidak begitu jauh, hanya 3 KM. Untuk kondisi jalanan lurus bagi manusia hanya membutuhkan 15-20 menit untuk melewatinya. Namun, lintasan yang ditempuh kali ini berbeda. Relawan harus melalui dua turunan, dua kali (sungai) besar dengan arus air cukup deras, dua tanjakan, Padang Sabana bebatuan karang, pegunungan tandus, hutan dan ladang sambil memikul beban bawaan.

Dibutuhkan waktu dua jam berjalan dengan sesekali beristirahat untuk tiba di lokasi tujuan. Hari sudah gelap ketika para relawan tiba di SDN Lumbung yang juga dijadikan tempat menginap.Tak ada listrik, tak ada sinyal, tak ada kompor gas kecuali tungku api yang menanti, yang terdengar hanya deras arus air di kejauhan, bising jangkrik, derak kayu api yang terbakar di halaman sekolah, suara manusia, serta langit hitam ditaburi bintang-bintang.



*FOTO: DOKUMEN PRIBADI

Jika kita datang membawa sesuatu ke satu tempat yang bagi kita dapat menimbulkan  perubahan, sebaiknya kita mempertimbangkan kebutuhan masyarakat setempat. Apakah hal tersebut memberikan dampak bagi mereka atau sesungguhnya tanpa kehadiran kita pun mereka tetap baik-baik saja. Sementara, kita merasa sudah melakukan sesuatu yang tepat dan luar biasa.

Yang dibutuhkan itu pemberdayaan, menyadarkan mereka untuk berpikir tentang hal-hal dalam hidup ini. Jika kita memberikan bantuan barang, mereka boleh jadi menerima lalu mengharapkan kita akan datang untuk melakukannya lagi, padahal kondisi mereka masih akan tetap sama seperti sebelumnya.

Anak-anak SDN Lumbung sangat jauh berbeda dengan anak-anak sekolah yang berada di kota. Mereka tidak pernah bersinggungan dengan gemerlap teknologi seperti televisi, gadget, dan lain-lain. Belum lagi, perasaan minder karena jarang mengalami interaksi dengan orang baru. Membutuhkan kesabaran ekstra, intensitas yang getol agar bisa saling menyesuaikan, juga kreativitas untuk mengajak anak-anak SDN Lumbung bermain dan belajar.

Oleh bapak kepala sekolah dan para guru, para relawan diberikan kebebasan selama satu hari penuh untuk melaksanakan kegiatan apa saja bersama adik-adik. Sesuai jumlah relawan maka diadakan pembagian, dua orang relawan untuk setiap kelas, tiga orang yang tersisa mendapat tugas lain.

Satu orang untuk beredar ke mana-mana sebagai time keeper dan memantau kegiatan _saya kebagian tugas ini karena keterbatasan saya dalam berbahasa, saya bukan orang asli Sumba Timur_, satu orang mengambil gambar untuk dokumentasi dan satu orang lagi tetap pada tanggung jawab selaku fasilitator yang mengontrol keseluruhan kegiatan.

Siswa/i SDN Lumbung sebagian besar, khususnya kelas I sampai III masih menggunakan bahasa daerah Sumba Timur sebagai sarana berkomunikasi setiap hari. Hanya beberapa siswa/i yang dapat menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Kemampuan menulis dan membaca pun belum merata, kelas empat dan lima bahkan masih membaca terbata-bata.

Hari Rabu, 31 Agustus 2016, Pukul 7.00 pagi beberapa siswa/i sudah muncul. Berseragam merah-putih seadanya, ada yang bersepatu, ada juga yang mengenakan sendal bahkan tidak samasekali. Rumah mereka umumnya jauh dari sekolah, ada yang harus melewati dua bukit sekaligus dan menyebrangi sungai. Seluruh siswa/i SDN Lumbung yang berjumlah 73 orang itu, hadir pada kegiatan ini.

Berbagai macam kegiatan dilaksanakan, antara lain kegiatan belajar-mengajar dan kuis tanya jawab seputar pengetahuan umum, bermain, bercerita tentang cita-cita dan makan siang bersama. Pihak sekolah, tanpa sepengetahuan para relawan, mengorbankan satu ekor kambing untuk dimakan bersama. Di penghujung kegiatan barulah para relawan membagikan buku tulis, pensil, penghapus dan pena yang sudah dibawa pada hari sebelumnya.



*FOTO: DOKUMEN PRIBADI

Kesan para Guru disampaikan penuh haru, mungkin di zaman ini, kedatangan mahasiswa/i dari kota seperti Denpasar untuk melakukan kegiatan berbagi seperti ini dipandang sebagai hal yang sungguh luar biasa bagi mereka. Seharusnya mereka tahu, saat ini terdapat sebuah trend yaitu meracuni orang lain untuk kecanduan berbagi melalui hal-hal sederhana semacam ini. Saya pribadi berharap, kegiatan ini dapat menginspirasi anak-anak muda lain khususnya di Sumba Timur untuk melakukan hal yang sama atau bahkan lebih.

Ada banyak kesulitan yang dihadapi semenjak kegiatan ini dimulai. Dari keterbatasan komunikasi karena lokasi yang dituju tidak memiliki kekuatan sinyal yang memadahi dan medan yang ditempuh sangat tidak biasa bagi beberapa relawan yang belum pernah melakukan perjalanan menantang.Namun semuanya dilakukan dengan senang hati dan penuh tanggung jawab serta semangat yang menggebu-gebu. Kegiatan ini menjadi stimulus untuk melanjutkan survei pada sekolah-sekolah berikutnya.

Sumba mungkin begitu indah sebagai destinasi wisata, namun ada banyak hal memprihatinkan yang selalu luput dari perhatian. Bagaimana kita begitu ngotot mempromosikan Sumba ke dunia luar sementara Sumber Daya Manusia-nya masih belum siap menghadapi kejutan-kejutan yang akan datang.

Baik para relawan maupun para guru di SDN Lumbung berharap agar program ini terus diadakan. Selanjutnya, penanganan dari persiapan hingga pelaksanaan harus ditingkatkan dan dikemas lebih baik. Sadar akan masih banyaknya kekurangan pada kegiatan ini, para relawan bertekad untuk terus belajar dan melanjutkan program ini.

Saya selaku simpatisan kegiatan yang terlibat langsung mengucapkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya sudah diajak dan disertakan. Salam Pahadang Mahamu, Mari Membangun Yang Baik.


Keterangan:

Maiwa La Humba: Mari Kembali ke Sumba
Pahadang Mahamu: Membangun Yang Baik







FOTO: DOKUMEN PRIBADI






Terima Kasih, Semesta! Pengumuman Pemenang bisa dilihat di sini






Generasi Bangsa Ini, Diajarkan Untuk Lupa



(Balada Taman Bung Karno di Ende)


“He turun, sembarang saja, ko tahu tidak, itu Presiden Indonesia yang pertama? Tidak tahu hormat, pigi duduk lagi di atas kepala Presiden. Ko punya orang tua tidak pernah ajar kah?!”

Hardikan itu keluar dari mulut saya. Jelas saya marah, marah sekali. Sebagian orang yang ada di situ pasti berpikir saya tidak waras atau sedang putus asa. Kenapa saya bisa semurka itu?

***

12 September 2016, saya akhirnya dapat berkunjung lagi ke Taman Bung Karno bersama dengan beberapa kawan SMA. Kami jalan-jalan dan melihat-lihat kembali Taman yang tiga tahun lalu diresmikan.

Bulan Juni 2013, saya kebetulan juga sedang ada di Ende untuk berlibur. Taman ini diresmikan dan dibuka untuk umum. Acara peresmiannya sangat lah meriah, bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila. Ilham akan Pancasila itu sendiri disimbolkan dengan Pohon Sukun yang berdiri tepat di samping Patung Bung Karno yang sedang duduk menatap jauh ke Pantai Ende. Konon katanya, di bawah Pohon itu lah Bung Karno berkontemplasi demi merumuskan Falsafah Negara Indonesia, Pancasila. Taufiek Kiemas selaku Ketua MPR hadir saat itu, dan Bapak Boediono selaku Wakil Presiden RI turut datang sebagai yang meresmikannya.


Foto: AntaraNews.Com


Awal dibuka, saya terpesona. Ciamik lah pokoknya. Pertama kali dan satu-satunya yang hadir di Kota Ende. Dulunya, saat masih anak ingusan yang ke Lapangan Perse/Lapangan Pancasila hanya jika ada Upacara Bendera 17-an atau Hari Pramuka, melihat Pohon Sukun yang dipagari itu hanya sambil lalu saja, bukan hal yang besar apalagi menarik. Kemudian saat hal tersebut berubah menjadi perhatian Nasional, saya begitu bangga. Ada harapan yang besar menggantung di atas ubun-ubun. Saya gencar memamerkannya kepada kawan-kawan di luar daerah, khususnya yang belum pernah ke Ende.

Saya mengajak mereka, Ayo ke Kampung Halaman saya, di sini Bapak Proklamator kita menemukan landasan Negara tercinta. Mungkin ketika kamu ke sini kamu akan lebih paham tentang Indonesia yang sesungguhnya, yang sekarang mulai carut-marut.


Foto: Dokumen Pribadi

Beberapa bulan setelahnya, ada sebuah gerakan dari anak-anak muda di Ende yang diberi judul "Relawan Taman Bung Karno." Mereka punya kepedulian melalui aksi nyata untuk memastikan Taman ini tetap tampil paripurna meskipun sebenarnya hal tersebut sudah menjadi tanggung jawab Pemerintah yang dilimpahkan melalui Dinas Pariwisata Kabupaten Ende.

Nama Relawan tersebut sekarang berganti menjadi “Relawan Bung Karno” yang tetap melakukan kegiatan sosial di lingkungan masyarakat. Mereka tidak mengurusi lagi perihal taman ini karena Dinas Pariwisata dengan tegas mengeluarkan kebijakan untuk mengurus sepenuhnya kondisi Taman ini.

Kemudian, satu tahun lalu. Ada fenomena mengejutkan yang terjadi sebab salah satu Pejabat justeru memanfaatkan Lokasi Taman ini untuk menyelenggarakan Pesta Pernikahan anaknya. Banyak pihak menentang akan tetapi resepsi tetap dilaksanakan. 

Link beritanya dapat dilihat di sini: Gelar Pesta di Situs Bung Karno, Wakil Bupati Ende Diprotes


Tiga tahun empat bulan dua belas hari dari hari Peresmian, saya ke sini lagi dan menemukan pemandangan berikut.




Foto: Dokumen Pribadi


 Sebelum saya mendapatkan gambar-gambar di atas, saya sempat seperti orang gila ngamuk ngamuk tak jelas terhadap satu anak laki-laki yang nekat naik sampai ke puncak kepala patung dan duduk di sana untuk berfoto. Sebagaimana yang saya ilustrasikan pada awal tulisan ini.

Bukan hanya itu, pompa air yang sebelumnya digunakan untuk menyalurkan air ke kolam tempat patung duduk di atasnya, sudah tidak ada. Telah lama dicuri. Isu beredar, hanya beberapa bulan setelah peresmian, pencurian itu terjadi.

Beberapa pertanyaan muncul "Apakah memang masyarakat kita belum siap dengan hal-hal semacam Situs Konservasi Sejarah atau Monumen Nasional sehingga sama sekali tidak ada kesadaran untuk menjadikan tempat seperti ini sebagai tempat yang berharga, dijaga dan diperkenalkan kepada anak cucu? Dan Pemerintah, ke mana? Pemerintah selaku Penanggung Jawab resmi dan jelas garis hirarkinya?

Fenomena ini cenderung terjadi di Nusa Tenggara Timur. Bukan baru kali ini saya menemukan situasi semacam ini. Sejak dahulu kala, memang seperti ini. Di berbagai tempat yang dikelola Pemerintah, khususnya ruang publik. Kenapa selalu saja pembangunan sarana publik seperti panas tahi ayam. Dibangun, dimanfaatkan hanya beberapa saat (dan selalu singkat) lalu dibiarkan begitu saja tak terawat hingga menjelma bangunan kosong atau taman yang gersang tak terurus, bisa sebaliknya juga,  seperti hutan liar dihuni para reptil.

Ini semua tidak dibangun dengan daun atau waktu semalam sebagaimana Bandung Bondowoso Membangun candi bagi Roro Jonggrang agar lamarannya diterima. Bukan kah biaya perawatan bakal lebih murah dari pada biaya merenovasi kembali semuanya??? Dan saya yakin dana APBD untuk hal semacam itu PASTI ADA. Orang Ende bilang, Wonge mule demi iwalatu!!! (Artinya: Bohong besar jika tidak ada dana untuk itu)

Tak ada yang salah dengan menempatkan seorang Petugas yang berjaga di depan gerbang. Jika memang tiket masuk dibebaskan, paling tidak ada security check untuk memastikan semua kegiatan di dalam taman berlangsung aman dan nyaman bagi semua pengunjung. Petugas ini juga bisa menyiapkan semacam brosur atau katalog sederhana yang berisi tetang Taman Bung Karno. Brosur atau katalog ini sebagai pengantar sebelum pengunjung masuk dan berkeliling melihat-lihat, bersantai dan berfoto. Zaman sekarang, foto saja tidak cukup, foto yang memiliki narasi jelas lebih bermanfaat. Bukan sekedar pajangan menjadi sampah linimasa.

 Tak ada yang keliru dengan Pagar yang mengelilingi Patung disertakan sebuah tulisan "Dilarang naik dan berfoto sampai ke atas Patung.” Sebagaimana yang sering kita temukan saat berkunjung ke Situs sejarah, Monumen atau Museum Perjuangan.

Petugas kebersihan dan perawatan? Sama sekali tidak ada. Jika ada, tidak mungkin kondisi taman persis kondisi Bangsa yang sekarang borok di mana-mana. Iya, kondisi Indonesia yang penuh dengan isu KEMISKINAN, HAM dan SARA di setiap pelosok daerah sementara masyarakatnya malah fokus menonton sinetron-sinetron India dan Turki yang tayang hampir 24 Jam di Televisi Nasional.

Ini bukan sembarang patung, ini bukan patung sekedar hiasan di gapura selamat datang yang bisa kau ajak berfoto untuk dipamerkan bahwa kau telah tiba di kota tertentu. Ini patung yang adalah sarana bagaimana cara kita mencuci otak anak cucu bangsa ini agar mengenal Pahlawan serta Falsafah Bangsa dan Negara kita. Menghargai Jasa Orang-orang yang sudah menjadikan Negara ini ada, Indonesia yang seperti sekarang.

Apakah kita akan tetap menjadi Bangsa yang besar ketika kita tidak menghargai Pahlawan-pahlawan kita? Tidak ingin mencari tahu bagaimana sesungguhnya Sejarah Bangsa ini bergulir hingga saat ini? Bagaimana setiap peristiwa telah menghantarkan kita bukan hanya ke depan pintu gerbang Kemerdekaan melainkan juga menjadi seperti alarm bagi kita untuk tetap mempertahankan Kemerdekaan yang sudah kita nikmati. Segala hal yang dibangun pasti ada tujuannya toh?!

16 September 2016, Situs Bung Karno diumumkan sebagai Juara I Pemenang Anugerah Pesona Indonesia 2016 sebagai kategori Situs Sejarah paling Populer. Bisa dibaca di sini: Inilah Destinasi Wisata Favorit Pemenang Anugerah Pesona Indonesia

Ketika orang berkunjung ke Situs Bung Karno, mereka tentu saja tidak mau ketinggalan untuk singgah ke Taman Bung Karno. Kedua tempat ini memiliki kaitan yang sungguh erat.

Lalu, apakah kita masih ingin membiarkan situasi ini? Sampai kapan?