Tampilkan postingan dengan label Ende. Tampilkan semua postingan

Pulang ke Kotamu



*Cerpen ini tayang di Rubrik Inspirasi Pos Kupang, Edisi Minggu, 21 Oktober 2018



Matahari Terbenam 29/9/18 dari Jl. Wirajaya, Ende (depan Gereja St. Yosep Onekore) - dok.pribadi

Kota ini, tiba-tiba menjadi begitu syahdu, di tengah musim yang tak pasti. Angin bertiup kencang dari arah timur dan hujan mendadak tumpah-ruah semalaman di bulan Juni yang seharusnya melimpahkan sinar matahari.

Ia termangu di jok belakang sepeda motor tukang ojek yang ia sewa menuju jalan pulang. Di kejauhan kabut tebal masih menutupi puncak Gunung Wongge dan pendampingnya Gunung Kengo. Jika melihat bentangan alam ini, ia selalu teringat pada impiannya, ia tak akan pernah bisa mewujudkannya, mendaki jauh tinggi hingga ke puncak kedua gunung tersebut. Ada jarak yang tak mampu dibahasakan, tak hanya dari sudutnya memandang secara nyata, tetapi juga dari kedalaman pikiran dan hatinya yang kadang tak bisa ia jelaskan dengan leluasa. 

Hanya pernah sekali waktu, ia mencapai kaki gunung wongge, memanen jagung, membakarnya dan menikmati langsung di tempat, bersama kawan-kawan sepermainannya. Dulu sekali, saat kebebasan bukanlah sebuah perihal yang begitu sangat berharga. Hari-harinya adalah kesenangan belaka.

Ojek melintasi Jalan Wirajaya, sebuah jalan bertabur kenangan di mana seluruh waktunya sepanjang dua belas tahun dihabiskan. Dari seragam merahputih, lalu biruputih, dan akhirnya abuabuputih. Jika ditanya, apakah ia tidak bosan, menghabiskan hidup selama itu melalui jalanan dan lingkungan yang sama? Ia tak akan menjawab, sebagian besar karena ia lupa, lupa apa saja yang telah ia lakukan untuk menghabiskan waktu sebanyak itu pada lintasan yang itu-itu melulu.

Banyak bangunan sekolah berdiri di Jalan Wirajaya, mereka bertetangga dengan akurnya. Oleh karena itu, tidak heran, jika dua belas tahun, ia hanya berpindah gedung dan menyebrang dari sisi jalan yang satu ke sisi jalan yang lain. TKK, SD, SMP, SMA bahkan Perguruan Tinggi. Juga ada gereja dan masjid, biara bagi para pastor, bruder dan suster, yang terakhir cukup mencolok, Kompi Senapan C. Rumah-rumah penduduk, hanyalah sebagian yang menyempil di antara bangunan-bangunan penting tersebut.

Ia tidak ingin membayangkan masa-masa sekolah atau membahas perubahan yang terjadi dengan bangunan dan lingkungan sekolahnya. Ia terlalu sering bernostalgia tentang hal tersebut dengan sahabat-sahabatnya yang saban hari bertemu. Mereka menamai kegiatan tersebut, Reuni Daur Ulang, sebab terjadi terus-menerus dan mereka tak kunjung bosan menceritakan hal yang sama berulang-ulang. Sungguh konyol!

Kompi Senapan C, Lingkungan Angkatan Darat-Tentara Nasional Indonesia yang selalu berusaha ia hindari. Hingga saat ini, ia masih berusaha menemukan alasan, mengapa Ia sangat gugup ketika bertemu orang-orang berpakaian loreng sembari memanggul senjata itu, belum lagi sepatu mereka yang bisa melabrak kepala hingga terbelah dua. Ia teringat sebuah peristiwa, seorang kawan, ia lupa nama dan wajahnya, tetapi tidak dengan kisah yang masih melekat erat di kepala. Sesekali timbul ke permukaan ketika bertemu pemicu.

Senja itu, pukul delapan belas tepat waktu Indonesia tengah. Mereka berjalan kaki cepat agar segera tiba di rumah, setelah melewati sore yang melelahkan untuk menjalani persiapan Ujian Akhir Nasional di sekolah. Kebun belakang SD dan selokan yang mengalir di sepanjang lingkungan Kompi Senapan C, hanya dibatasi sebuah tembok batako yang mulai kusam. Saat melewati Gapura Depan yang bertuliskan Yonif 743-Kompi Senapan C, mendadak terdengar rekaman Lagu Indonesia Raya. Di kejauhan, bendera merah putih menukik turun, perlahan, pada sebuah tiang bercat putih dengan bantuan tiga orang tentara. Para lelaki berseragam itu sungguh gagah. Mereka kemudian mempercepat langkah. Tiba-tiba terdengar suara bentakan dari balik tugu di samping gapura yang bergambar dua prajurit tengah bertempur di medan perang. Rupanya pos jaga di belakang tugu tersebut, berpenghuni.

“Heh, berhenti! Kalian tidak lihat, itu bendera sedang diturunkan? Anak sekolah apa ini, tidak ada rasa hormat pada Bangsa dan Negara.”

Mereka terdiam di tempat, wajah keduanya pucat pasi. Ia menoleh, mendapatkan temannya menggengam buku dan pulpennya lebih kencang, seakan-akan ada yang akan merebutnya, demikian pula yang terjadi padanya. Ia membayangkan, mereka mungkin tidak dapat kembali ke rumah malam ini. Cilaka!

Lelaki bersepatu tinggi, berseragam kacang hijau, bersenapan dan mengenakan helm tersebut kembali membentak,

“Sikap siap dan hormat bendera! Lihat ke arah tiang di atas itu, jangan bergerak sampai lagu selesai.”

Mereka melakukan apa yang diperintahkan, dengan terbata-bata, karena bercampur rasa takut akibat membayangkan hal-hal mengerikan yang bisa terjadi kapan saja.

Ketika Lagu Indonesia Raya selesai dan bunyi yang datang dari pengeras suara menghilang, laki-laki yang memberi aba-aba tadi melihat tepat di mata mereka. Satu per satu dan berkata,

“Sekarang boleh lanjut jalan. Lain kali, kalau lewat di depan sini lagi dan pas bendera sedang dinaikkan atau diturunkan seperti tadi, berhenti dulu, sikap siap dan beri hormat macam tadi. Mengerti?”

“Mengerti, om.” Jawab mereka

“Apa? Ulang?” prajurit tersebut bertanya, memastikan

“Meeeeengeeeertttiiii, Oooom.” Jawab mereka tegas dan meyakinkan seraya menyembunyikan suara yang bergetar karena rasa takut yang masih bersarang

“Baek su. Jalan su. Hati-hati e, su gelap.” Demikian sang prajurit mempersilakan mereka berlalu pulang.

Setelah berjalan cukup jauh, ada sepuluh meter kira-kira, sang kawan memohon berhenti. Napas mereka terengah-engah, seolah tengah berusaha lari menjauh dari kejaran hantu.

“Ja’o pu celana basah.” Ujar sang kawan

“Ha, apa?” Ia bertanya, memastikan telinganya tidak salah mendengar

“Ja’o pu celana basah, ja’o kencing di celana ko. Ja’o takut ngeri tadi na.”

Ia terkesima. Yang terjadi selanjutnya, pantatnya bertemu tanah, ia terduduk dan ngakak sepuasnya. Sementara temannya berusaha menjepit paha yang lembab dan berbau pesing. Mbingu betul!

Ojek berhenti di lampu merah, di persimpangan jalan wirajaya dan jalan el tari, juga jalan menuju kantor pos (demikian mereka biasa melafalkannya sehari-hari). Jalan el tari kini telah menjadi dua jalur yang tak begitu sibuk. Di kiri-kanannya berdiri gedung-gedung kantor baru maupun juga gedung-gedung hasil renovasi dari bangunan kantor yang lama. Jika melalui jalan ini, ia terkenang pada dua ruang membaca yang tak pernah menolak kedatangannya dan kawan-kawan, ketika hari sabtu tiba atau pun hari-hari lain, di mana sekolah berakhir lebih cepat.

Bunyi bel pulang sekolah adalah seperti berkat yang dinanti-nantikan. Perjalanan sejauh tiga puluh menit, tidak lagi melelahkan ketika tiba di ruang membaca tersebut. Mereka menempuh jalanan yang lebih singkat, yang hanya diketahui tuan tanah setempat dan mereka, para penjelajah kebun dan lorong perumahan. Wangi lembaran buku dan majalah, cahaya ruangan yang memadai, membuat aktivitas membaca menjadi sangat menyenangkan. Sekarang, ruang membaca itu, tak ada lagi. Telah diubah sepenuhnya menjadi toko buku yang hanya dikunjungi sesekali oleh orang-orang yang membutuhkan buku. 

Sedangkan satu ruang baca lain, dulu menjadi bagian dari sebuah gedung perkantoran. Kantor tersebut kini berpindah lokasi, entah di bagian mana kota ini. Bersamaan dengan itu, ruang baca itu pun ikut menghilang. Dilupakan begitu saja. Kota ini tidak begitu antusias dengan Buku.

“Kaka turun di mana ni?” Suara tukang ojek memecah lamunannya

“Oh, itu, di depan rumah cat biru tuh. Turun di depan situ.”

Seperti biasa, larutan masa lalu begitu kental dan membuat lupa waktu. Ia turun, membayar ongkos perjalanan dan berusaha memijak kembali pada kenyataan. Sudah dua puluh tahun rupanya, semua begitu cepat berlalu.

Ende, Juni 2018



Keterangan
Ngakak           : Tertawa lepas
Mbingu           : (Ende, red) Gila
Ja’o                  : (Ende, red) Saya, Aku




Versi Koran



Versi digital Rubrik Inspirasi Pos Kupang 21 Oktober 2018

#latepost waktu itu senin pagi, saya bangun pagi dengan enggan karena tak tahu mau bikin apa di hari yang bagi semua orang adalah malapetaka kesibukan. Lalu, saya menemukan sebuah pesan dengan gambar Koran Pos Kupang ini sebagai salah satu informasi. Gambar kedua dikirim kemudian oleh teman yang lain. Saya selalu memiliki dua arsip ketika cerpen muncul di Koran. Dalam bentuk koran dan dalam bentuk digital.
Maksudnya biar pernah menulis untuk kampung halaman, kota kelahiran dan kenangan masa kecil dan dibaca Bapak sendiri. Hanya saja, apakah Pos Kupang hari kemarin sudah tiba di rumah?

Tepat SATU BULAN. Tanpa konfirmasi apa pun, tiba-tiba dapat kabar beginian dari kawan dan sudah lewat sehari. Okkay fainnnns.

Sepesial Danke dr. Ronald Susilo dan Mas Abu Nabil Wibisana 

Kalau Bukan Dilan, Jangan Jadi Orang Ende. Berat! [Bag. III. habis]





Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Ende. Dok. Pribadi

*Catatan cukup penting: Jika tampilan gambar di artikel ini kurang jelas, silakan klik dua kali.

Akhir tahun ini, saya menghabiskan waktu di Ibu Kota, Jakarta. Sebut saja, ini perjalanan menguji kemampuan diri, menakar kualitas, baik secara akademis maupun juga sebagai manusia yang tak pernah luput dari kekurangan.

Saya bertemu banyak orang, yang entah mengapa, mereka adalah orang-orang baik dan memberi kesan dengan caranya masing-masing.

Perjalanan ini berawal dari sebuah antusiasme yang percayalah, saya sendiri tidak tahu datang dari mana sebenarnya.

Pagi itu, saya sedang bermalas-malasan di kasur kos Nana Haibara sebab tak punya kesibukan apa pun. Pengangguran total. Mengecek beberapa notifikasi di Grup What’s App, saya akhirnya menemukan pengumuman Tes CPNS pada beberapa Kementrian di Republik Indonesia tercinta ini dari Grup Bali Blogger Community. Pengumuman itu dibagikan oleh seorang teman Blog yang cukup tersohor di kancah nasional, maka saya pastikan bukan hoax.

Ada pada daftar teratas, lowongan CPNS dari Kementrian BUMN. Saya iseng membuka dan menelusuri kebutuhan formasi yang sesuai dengan latar belakang pendidikan saya, Sarjana Ilmu Komunikasi. Mereka membutuhkan (3) Tiga Analis Publikasi. Cukup menyesakkan tetapi kesempatan ini perlu dicoba. 

Alasan lain, yang membuat saya akhirnya memutuskan mengikuti seluruh proses tes cpns ini, selain untuk mencoba peruntungan dan menakar diri seperti yang saya sebutkan di paragraf awal, saya percaya sistem perekrutan CPNS di rezim ini, tak lagi dibumbui hal-hal berbau Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme sebagaimana di tahun-tahun lawas. Ketika, tidak semua orang bisa memiliki mimpi dan harapan yang sama jika bukan berasal dari keluarga mampu atau memiliki garis keturunan orang penting alias pejabat. Lagipula, syaratnya tak ribet seperti yang sudah-sudah dan yang pernah saya bayangkan. Semuanya bisa dilakukan secara online dari bilik bambu nan sendu.

Saat itu, saya masih berada di Kupang, saya harus ke Ende untuk mengurus kembali KTP dan Kartu Keluarga yang blunder sebelumnya. Jika kamu ingin tahu cerita mirisnya, bisa baca bagian I di sini: Kalau Bukan Dilan, Jangan Jadi Orang Ende. Berat! [Bagian I] dan lanjutan bagian II di sini: Kalau Bukan Dilan, Jangan Jadi Orang Ende. Berat! [Bagian II]

Dari Kupang ke Ende, saya berhutang kebaikan pada beberapa kawan, sebab isi rekening sangat memprihatinkan. Beberapa hal yang patut saya syukuri dan masih membuat saya tercengang hingga saat ini adalah, semuanya berjalan sangat lancar dan tanpa hambatan, bantuan seperti datang dari berbagai penjuru.

E-KTP yang saya nanti-nantikan selama enam tahun, ternyata sudah lama menginap di Kantor Lurah Paupire bersama kartu tanda penduduk milik warga kelurahan yang lain, yang mungkin ketika ke Kantor Dispenduk untuk memeriksa, tidak mendapatkan informasi yang memadai atau dikatakan belum jadi, lalu memutuskan menunggu lagi dan tidak mau membuang-buang waktu mencari yang belum tentu ada di Kantor Kelurahan. Saya dibantu Bibi saya, istri dari Om, adik Ibu saya, yang kebetulan bekerja di Kantor Lurah Paupire (saya tidak menduganya, pernah mendapatkan cerita ini dari Ibu, tetapi kemudian saya lupa). 

KTP AKOHHH...

Kami mencarinya bersama-sama, satu demi satu di antara tumpukan ktp-ktp lain yang sebagian kondisinya mulai mengenaskan, seperti sebagian plastiknya terkelupas, saking lamanya dibiarkan di sana. Beberapa nama di ktp-ktp tersebut saya kenal baik, mereka adalah tetangga, kakak kelas dan adik kandung, anak ketiga dari ibu dan bapak saya. Yassss… hahahahahaha… 

KTP dengan foto dekil saya di zaman semester awal di Undiknas Denpasar tersebut, masih menampilkan status saya sebagai Mahasiswa dengan masa berlaku hanya sampai pada hari ulang tahun saya di tahun ini. HellTheWhat. (Di kemudian hari, ketika saya mengurus Kartu Keluarga di Kantor Dispenduk Kabupaten Ende, saya mengkonsultasikan hal ini. Petugas kemudian meminta saya membaca poin Undang-Undang yang ditempelkan di pintu masuk ruangan, isinya seperti pada gambar di bawah ini).


Lihat Poin 02

Selanjutnya mengurus Kartu Keluarga.

Kartu Keluarga saya, di awal tahun 2018 kemarin, direvisi oleh adik saya demi beberapa urusan. Ketika Kartu Baru tersebut tercetak, nama saya sebagai anak pertama telah hilang. Setelah saya mendatangi lagi Kantor Dispenduk Kabupaten Ende beberapa waktu lalu, ternyata terjadi pendobelan NIK akibat perekaman yang saya lakukan sebanyak dua kali sejak tahun 2012. Maka, mau tak mau, status masih menjadi anak pertama dari kedua orang tua saya harus segera dikembalikan kepada tempatnya.

Nah, pertemuan tak sengaja dengan Bibi saya yang bekerja di Kantor Lurah Paupire tadi, sebenarnya berawal dari kedatangan saya ke kantor untuk meminta tanda tangan Lurah pada formulir pengajuan kartu keluarga yang telah saya lengkapi. Pada akhirnya formulir tersebut tidak digunakan oleh petugas, sebab itu hanya digunakan saat mengurus Kartu Keluarga baru, bukan untuk revisi. Perbincangan tentang KTP muncul secara tidak sengaja, yang kemudian berakhir pada penemuan kartu tanda penduduk saya dan adik saya yang telah lama mendekam di sana.

Saya ingat, saya memasang alarm pukul 05.30 pada pagi hari Jumat 28 September 2018. Bangun lalu berangkat ke Kantor Dispenduk untuk mencatat nama demi mendapatkan nomor antrian teratas, supaya bisa mendapatkan kesempatan tercepat mengubah kartu keluarga tersebut. Saya mendapat nomor antrian (5) Lima. 




Setelah mencatat nama, saya kembali ke rumah untuk tidur lagi, sejam, lalu bangun dan bersiap-siap berangkat lagi ke Kantor Dispenduk. Operasional dimulai Pukul 08.00 pagi, yang yeah birokrasi di mana-mana, hanya judulnya saja jam delapan. Pukul 09 lewat 15 menit baru nomor antrian pertama masuk. Belum lagi, hanya antrian 1-5 yang boleh masuk dan menunggu di dalam ruangan, sisanya silakan menadah panas atau meminta belas kasihan dari ranting dan dedauan pohon mangga di depan ruangan. Saat tiba di dalam ruangan, pendingin ruangan seolah tak berfungsi, hampir semua petugas memasang wajah seperti ingin membunuh. Ha-da-pi dengan senyuman. Demikian.

Sekalian rujakan, enak kali yakh..hihihi

Sialnya, saya tidak memeriksa sebelumnya, bahwa selain nama saya yang harus dimunculkan kembali, status pendidikan akhir saya juga harus diperbaharui. Saya bukan lagi mahasiswi. Saya lupa membawa fotokopi Ijazah. Duh berabe! Petugas Dispenduk yang saat itu membantu, menanyakan kepada saya, apakah akan tetap dicetak tanpa mengubah status pendidikan? Saya tidak diperbolehkan mencetak ulang kartu keluarga hingga tahun depan (2019). Ia menatap saya dengan tajam dan memastikan bahwa saya tidak boleh mengubah pendirian lagi. Dengan sedikit gugup, saya berpikir cepat, karena untuk tes CPNS hanya dibutuhkan nomor kartu keluarga/NIK kepala keluarga, maka saya menjawab dengan tidak masalah, silakan dicetak saja sesuai keterangan yang ada.

Nomor Antrean akohhhh

 Saya pulang ke rumah dengan isi kepala yang penuh, penuh dengan kemungkinan ini dan itu. Saya tidak ingin hanya karena kesalahan yang sepele, tujuan yang cukup besar dan langka untuk terjadi pada saya ini, malah jadi berantakan.

Sore hari, setelah mengajukan cetak ulang kartu keluarga tersebut, saya ke sekolah. Maksud saya, Almamater. SMAK Syuradikara Ende menyelenggarakan Reuni Akbar dalam rangka Ulang Tahun Sekolah yang ke-65. Di tengah keramaian dan basa-basi antara para alumni, saya bertemu dengan K Norman Soludale, salah satu anggota Syuradikara Bali Community. Saat itu, K Norman tengah asik ngobrol bersama kawan-kawan angkatannya.

Saya kemudian dikenalkan kepada dua orang yang paling dekat, salah satunya sungguh tidak asing di ingatan saya. Namanya K Detty Paul. Rupanya, kaka nona adalah Petugas di Kantor Dispenduk yang pagi tadi membantu saya mengurus cetak ulang Kartu Keluarga. Awalnya, kaka nona sempat berkelit bahwa mungkin saya salah orang, barangkali kakaknya ingin mengerjai saya atau bisa jadi tak ingin terbebani (sensitif kan gue hihi). Akan tetapi, saya sulit melupakan wajah orang. Lupa nama, sering. Pada akhirnya kaka nona mengakui dan kami terlibat obrolan panjang.

Pulang dari acara reuni tersebut, saya mengecek isi kertas keterangan pengambilan cetak ulang kartu keluarga yang diberikan petugas siang tadi. Masih tujuh hari lagi, saya baru boleh mengambil hasil cetak ulang. Masih banyak waktu. Karena hari itu, hari Jumat, saya harus menunggu hingga hari Senin, jika ingin membawa fotokopi ijazah untuk mengajukan tambahan perubahan.

Saya menanti Senin dengan berdebar-debar, saya bukan tipe yang bisa memanfaatkan relasi dengan mudahnya, apa lagi baru pernah bertemu dua kali. Tetapi, saya ingin tetap mencobanya, dengan asumsi proses pencetakan ulang belum berlangsung karena setelah hari jumat, dua hari berikutnya bukan hari kerja efektif. Berkas saya pasti masih dalam antrian. Jika pun permohonan tambahan perubahan ini tidak diterima, hal terburuk yang akan saya hadapi adalah amukan petugas dan diusir keluar ruangan. Gak sampai bikin mampus, malu dikit ajah. Gak papalah.

Senin pagi 01 Oktober 2018, pukul 08.00 wita, saya kembali ke kantor Dispenduk. Setelah mengumpulkan keberanian, saya nekat masuk ke dalam ruangan sembari membawa fotokopi ijazah di tangan. Saya mengamati situasi dari bangku depan, mencoba memperhitungkan beberapa hal, menunggu peluang untuk langsung ke meja K Detty. Saya sempat ditanyakan oleh petugas lain yang ada di situ, apakah sudah mengambil nomor antrian? Jika belum, silakan datang lagi besok dengan prosedur yang sama yang telah saya lalui pada hari Jumat kemarin. Tentu saja, itu akan memakan waktu yang sangat lama, padahal urusan saya tersisa menyerahkan fotokopi ijazah terakhir ini.

Suasana pagi hari nan cerah ceria di Kantor Dispenduk Kabupaten Ende, yeah...

Peluang tersebut muncul sekitar lima belas menit kemudian, setelah giliran konsultasi seorang ibu, saya melangkah cepat ke depan meja K Detty. Kami tidak sempat berbasa-basi, entahlah barangkali sudah demikian karakter beliau. Masih tetap profesional, kaka nona menanyakan apa keperluan saya. Saya menjelaskan secara singkat padat dan jelas, sempat K Detty menanyakan berkas-berkas saya yang lain, yang saya jawab dengan menunjukkan kertas keterangan pengambilan yang ia berikan pada hari Jumat yang lalu. Tak butuh waktu lama, ia mengecek beberapa hal, meminta fotokopi ijazah terakhir saya dan selesai. Saya dipersilakan datang mengambil kartu keluarga yang telah direvisi, sesuai jadwal pengambilan yang telah diinformasikan sebelumnya. 

Dengan demikian proses melamar PNS Kementrian BUMN sesuai rencana saya, bisa dimulai.

Berat bukan jadi orang Ende, yang di tahun 2018-2019 ini, kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipilnya masih memakai gaya konvensional dalam melayani masyarakat banyak. Padahal, boleh dikatakan, lembaga ini adalah jantung dari kehidupan masyarakat sipil. Hari-hari ini, bagaimana kau bisa hidup tanpa indentitas dan dokumen-dokumen pendukung? Bagaimana eksistensi dan kelancaran urusanmu dapat terjamin dari kantor dengan ruang tunggunya seperti LAPAK PASAR INPRES MBONGAWANI?! S E R I U S !!!

***

Ikuti terus cerita perjalanan akhir tahun saya di Blog ini! Saya berniat menyicil cerita-cerita saya, pelan-pelan dari sekarang….

Doakan yah~

Kalau Bukan Dilan, Jangan Jadi Orang Ende. Berat! [Bag. II]


Su macam detektif siang itu. 

Berikut kelanjutan kisah KTP saya yang sejauh angan-angan. Kisah sebelumnya bisa cek di sini: Kalau Bukan Dilan, Jangan Jadi Orang Ende. Berat! [Bag.I]

Saya ke kantor Dispenduk lagi hari Jumat 29 Juni lalu, bertemu seorang Ibu yang sangat ramah dan kemudian mengarahkan saya ke Ruang 7 untuk urusan E-KTP. Wah nomor keberuntungan saya ini, semoga yah alamat baiks.

Tiba di sana, saya lalu menyerahkan kertas bukti pengambilan yang lecek lumutan itu dan Kartu Keluarga versi lama. 

Wih saya diomelin, karena itu kartu keluarga zaman bahula, sudah tidak terpakai lagi. Ya iyalah, 2009 hahaha. Oke, saya kasih Kartu Keluarga baru, yang tidak ada nama saya, Petugasnya bingung dan mulai lihat saya atas bawah. 

Oh Come on saya bukan buronan. 

Lalu saya  ditanya lagi, pernah urus surat pindah domisili? Saya merasa tidak pernah mengurus itu, jadi saya jawab tidak. 

Sang Ibu di Ruangan 7 itu, yang demi tuhan, saya kenapa bisa lupa namanya padahal saya sudah sempat bertanya dan saling berjabat tangan, beliau mengajak saya ke ruangan lain, yang di depannya ada tulisan Kartu Keluarga itu (sebelumnya, sempat saya ceritakan di tulisan bagian I). Oh yah Ibu ini berkacamata.

Kami masuk, menuju pojok ruangan dan bertemu dua orang wanita berkerudung, yang satu masih muda, sedang serius di hadapan layar monitor sambil sesekali menimpali obrolan seorang wanita paruh baya yang duduk di sampingnya.

Wanita kedua ini, tengah asik meliuk-liukkan badannya mengikuti irama dari pemutar musik handphone dan terus nyerocos tentang hasil Pilkada Kabupaten Ende yang katanya sangat fenomenal, pas dengan lagu yang sedang mengiringinya bergoyang.

Kamu mau tahu lagu apa yang sedang ia dengarkan? 

GOYANG DUA JARI! YANG BIASA DI APLIKASI SAKTI TIKTOK ITU. 

Makin lama, jarinya ikutan naik, membentuk angka dua sambil tubuhnya tetap bergerak. 

Saya tiba-tiba pusing. Ugh ada apa dengan masya-raqat Ende ini? Mereka suka punya euforia yang sia-sia, mungkin saya dulu juga begitu kah? Duduk nganga di jalan hanya mau ikut rame, gegi mau ikut pawai keliling sampai goyang tidak jelas, sementara Pasangan yang menang tidak kenal kita sama sekali. #Eh Huft…

Sebelum saya, sudah ada seorang laki-laki duduk di depan meja wanita muda itu, tetapi sepertinya dia sedang berusaha menelpon seseorang untuk urusan yang sama, Kartu Keluarga. 

Urusan saya didahulukan, Sang Ibu dari Ruangan 7 menyerahkan dua lembar Kartu Keluarga milik saya untuk diperiksa. 

Ada lima atau enam kali, saya tak sempat menghitung karena mulai pening, wanita muda berkerudung merah muda itu bolak-balik dari komputer yang ada di hadapannya ke komputer yang ada di seberang mejanya. 

Usut punya usut, voila: karena saya pernah melakukan perekaman sebanyak dua kali yaitu pada tahun 2012 di Denpasar dan 2016 di Ende, maka Nomor Induk Kependudukan (NIK) saya terdeteksi ada dua. 

Oleh karena itu, nama saya tidak masuk di Kartu Keluarga baru. Ugh. 

Sabar dulu, ada yang lebih menakjubkan lagi, ternyata oh ternyata, berdasarkan keterangan di sistem, E-KTP saya statusnya sudah “SIAP CETAK” sejak tahun 2012, beberapa bulan setelah perekaman di Gedung Rektorat Unud itu. Oh Anakku…… ENAM TAHUN lamanya pencarian ini. Hadeh kok bisa yah?

Mendadak saya ingin ke Jakarta, bawa serta peralatan lengkap, mungkin mutilasi saja Setya Novanto dan antek-anteknya kah?! SipalomasekiyaBarzulBollock!

Sedangkan perekaman yang saya lakukan pada tahun 2016 di Kantor Camat Ende Tengah, tidak dijelaskan nasibnya bagaimana, saya juga bingung bagaimana analisanya, tetapi karena alasan itu, NIK saya menjadi GANDA, yang berbuntut pada nama saya tidak ada di Kartu Keluarga dan sampai sekarang E-KTP saya belum ada. FIX BLUNDER!

Solusi yang akhirnya berlaku: Sang Ibu dari Ruangan 7 akan mengajukan permohonan Print E-KTP atas nama saya ke “bagian entah,” beliau tidak menjawab pertanyaan saya. 

Ketika saya menanyakan, berapa lama proses pencetakan ini? Jawabannya sungguh menyedihkan: “Ade, saya tidak bisa janji e, kapan ini jadi. Nanti, satu bulan lagi, datang cek ke sini. Datang saja dan cek, siapa tahu sudah ada.” 

OmowahaiGad. Adakah yang bisa menjamin bahwa ketika saya datang sebulan lagi, E-KTP itu minimal bisa di-cek alias jelas juntrungannya, udah sampai di mana dia? Duh!

Ternyata angka 7 di depan ruangan tersebut, tidak mempan sama sekali. T.T

Alhasil, yep, kertas baru lagi wkwkwkw… dengan sebagian kolom yang dikosongkan. Ya Tuhan, butuh kerja keras dan loyalitas benar yah, menguras segala-galanya.


Oh yah, untuk Kartu Keluarganya, saya hanya perlu membawa KK asli yang versi baru untuk selanjutnya dikeluarkan KK pengganti, yang jelas tertera nama saya nantinya di sana. 

Masalah berikutnya adalah: lembar asli Kartu Keluarga dimaksud, masih ada di Denpasar sekarang, dibawa serta adik saya sejak bulan Januari lalu untuk urusannya itu.

Kembali lagi, yah mungkin sudah nasib saya, bahwa ketika saya memutuskan pulang ke NTT, saya sudah harus siap jika SEBAGIAN BESAR WAKTU SAYA DIHABISKAN UNTUK MENUNGGU.

Menunggu di tengah ketidakpastian, kapan E-KTP jadi?

Menunggu lembar asli KK dikirim dari Denpasar.

Sementara saya harus segera kembali ke Kupang. Arghhhhh.

Trus, trus… ini aku kudu ngera emba lagi?! Akan ada berapa bagian lagi untuk curhat panjang lebar kali tinggi bagi luas ini?

Njlimet Kabeh!


Tenang, Nanti Tuhan Tolong!


Kalau Bukan Dilan, Jangan Jadi Orang Ende. Berat! [Bag. I]



*Setelah kesabaran ini terkuras habis, sampai benar-benar kering!


Jika foto yang terlampir kurang jelas, kamu bisa meng-kliknya dua kali untuk melihat lebih jelas. Danke.


Judulnya mungkin hanya mengundang clickbait, akan tetapi sekali lagi, jangan terkecoh judul, baca ini sampai selesai.

Tahun ini, untuk kedua kalinya saya kembali ke Ende untuk menyelesaikan urusan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (E-KTP) yang terkenal menguras waktu, tenaga dan pikiran itu. 

Sebelumnya, di tahun 2012 berdasarkan himbauan Pemerintah dengan Program kerennya tersebut, saya sudah terlibat dalam antrian rekaman segala jenis kebutuhan untuk mendapatkan Kartu Identitas Warga Negara Indonesia ini di Gedung Rektorat Universitas Udayana, Denpasar. 

Tahun 2013, saya kembali ke Ende, untuk mengambil E-KTP di Kantor Camat dari mana saya berasal. KTP tersebut BELUM ADA. Alasannya, belum dikirim dari Pusat. 

Ibu saya, dengan upayanya, membuatkan KTP sementara, yang hingga saat ini masih saya pakai. KTP sementara tersebut akan berakhir pada Hari Ulang Tahun saya tahun depan, 2019.

Tahun 2016, saya kembali, mendatangi kembali Kantor Camat Ende Tengah, menanyakan keberadaan E-KTP saya yang seperti anak hilang, belum menemukan juga siapa pemiliknya. 

Sementara itu, desas-desus Korupsi E-KTP mulai tersebar, saya tentu cemas. Jangan-jangan anak hilang tersebut, benar-benar tak pernah ada, dia hanya pernah dibuahi di Denpasar, lalu keguguran begitu saja dan hilang, tak pernah mengalami kelahiran (ini kenapa saya jadi semacam Ibu-ibu putus asa karena Aborsi tanpa rencana).

26 September 2016, saya diminta datang kembali ke Kantor Camat Ende Tengah di Jl. Melati, saya dianjurkan melakukan perekaman ulang, mulai dari Kornea Mata, Pas Foto (saya ingat, foto saya bagus sekali waktu itu, pakai baju biru berkerah dan rapi dengan latar merah karena saya lahir di tahun ganjil. ugh) dan menyerahkan segala berkas yang dibutuhkan. 

Akhir dari proses tersebut, saya diberikan secarik kertas, sebagai bukti untuk pengambilan hasil jadi E-KTP di Kantor Dinas Kependudukan Kabupaten Ende, satu bulan lagi. 26 Oktober 2016. (Saya memostingnya di Facebook saat itu, berikut fotonya).


Ketika itu, urusan kuliah dan pekerjaan di Denpasar, tidak bisa saya tinggalkan, saya tidak punya waktu sebulan lagi untuk menunggu sampai E-KTP ini jadi, maka dari itu, saya menitipkannya pada Bapak untuk mengambilnya. 

Hal ini sudah saya konsultasikan dengan Pegawai di Kantor Camat, dan berdasarkan informasi tersebut, tidak masalah jika bukan Yang Bersangkutan yang mengambil, selama bukti pengambilan tersebut dibawa serta. 

Oke Fix, saya kembali ke Denpasar dan menyerahkan sepenuhnya urusan tersebut kepada Bapak.

27 Oktober 2016, saya menelpon ke rumah, menanyakan kepada Bapak, sudah sempatkah bersilaturahmi ke DISPENDUK? Beliau menjawab: “Sudah Ine, tetapi mereka bilang, KTPnya belum ada. Tunggu satu bulan lagi.” 

Demikian terjadi, satu bulan sekali Bapak ke DISPENDUK membawa serta kertas bukti sampai HARI INI, 26 Juni 2018. Setelah 1 Tahun, 8 Bulan. Kurang 4 bulan lagi, DUA TAHUN! 

Kertas bukti tersebut, akhirnya lecek seperti gambar di bawah ini, dan E-KTP yang tersayang hanya sejauh angan-angan.



Siang ini, saya ke Kantor DISPENDUK. Saya menemukan ada banyak sekali orang yang mengantri dan hiruk-pikuk ke kiri dan ke kanan, di luar matahari bersinar cerah, panasnya menembusi segala macam sendi dan sum-sum tulang belakang. Dibikin sup, enak kali yah. Hadeh… 

Kemudian saya teringat, ini 26 Juni 2018, sehari sebelum PILKADA dilakukan serentak di seluru Indonesia. Mariaaaaaa…hahahahaha. Puji Tuhan, saya belum ada niat mengikuti Pesta Rakyat tiputapu ini, jadi bagi saya, ini bukan masalah yang cukup mendesak.

Saya melemparkan pandangan ke sekitar, dan menemukan satu ruangan dengan sebuah Tulisan di depannya “Kartu Keluarga” (Nah, ini cerita lain yang juga konyol, setelah ini, kalian bisa menyimak cerita tersebut). 

Saya punya urusan untuk ini juga, saya menuju ke ruangan ini, dan berhenti tepat di depan pintunya karena ada banyak Kertas Pengumuman yang menempel. Berikut, kertas-kertas Pemberitahuan tersebut:



Perhatikan Pemberitahuan pertama, kesalahan saya yang pertama, SALAH KOSTUM. 

Hahahahaha… Saya pakai kemeja dan celana pendek, sandal pulak. Saya tertawa, saat membaca bagian ini, dan dua orang pemuda plus satu pemudi di samping saya berbicara menggunakan bahasa Ende tentang kekonyolan saya ini. 

Mereka pikir, saya orang asing dari mana datang sehingga tidak mengerti mereka omong apa. Sorry Gaes, aku nantang mata kamu yah, tetapi kamu malah lihat ke tempat lain. Kan kita bisa ngobrol. Wew. 

Kesalahan kedua, yah saya sadari sejak dari rumah, sesiang ini saya berkunjung ke Kantor Pemerintahan untuk mengurus hal semacam ini, saya hanya akan disembur omelan dan berbagai alasan yang justru menyerang balik saya (boomerang keto kone).



Pemberitahuan yang kedua, perhatikan dengan seksama. Saya hampir saja melepas tawa berkepanjangan yang mungkin bisa jadi mengejutkan semua orang yang ada di dalam maupun juga di halaman kantor DISPENDUK ini. 

WHAT THE FUCK kan?! Setelah kau menyiapkan waktu dan tenaga, jauh-jauh datang kembali, memastikan bahwa kau tidak keguguran lagi #eh hahahahahaha kau malah menemukan Pengumuman Sial seperti ini. 

Untuk waktu yang tidak tentu, Hep! Mereka akan mengumumkannya melalui media yang tersedia, jika semua sudah kembali normal. Itu kaya Pacaran, terus pasangan minta break dan gak jelas sampai kapan. Mo cari gebetan lain, ntar dibilang selingkuh. Kan an**ng! Ini sudah semakin ke mana-mana..bah!




Dan Pemberitahuan yang ketiga, hal sial lain yang terjadi pada saya, tepat di poin pertama! 

03 Januari 2018 yang lalu, adik saya mengurus ulang Kartu Keluarga di kantor ini juga. Ia membutuhkan lembar asli dengan tanda tangan basah Kepala Dinas Kependudukan dan Capil Kabupaten Ende demi mengurus satu dan lain hal. 

Karena lembar asli di rumah sudah lama hilang, maka ia harus ke Polres Ende, mengurus surat keterangan kehilangan dan meminta pihak DISPENDUK untuk membuat ulang. 

Ia mengaku bahwa sudah mengikutsertakan lembaran KK yang lama, yang jelas-jelas ada NAMA SAYA tertera di situ sebagai ANAK PERTAMA. And I don’t know what the hell is going on with those people, di lembar Kartu Keluarga baru tersebut TIDAK ADA NAMA SAYA. 




Seketika saya lenyap dan tidak diakui sebagai anak sulung dari kedua orang tua saya. 

ILEGAL DONG GUE? 

E-KTP gak jadi-jadi, sekarang nama juga taka da di KARTU KELUARGA. Terus, aku kudu ngere emba?!!!

Fyuh...


Hari ini, saya membutuhkan satu botol arak dan setidaknya potongan daging babi asap dengan campuran lombok yang banyak, sertakan bijinya sekaligus, biar mabok sepuasnya. 

Sesetia apa pun kamu pada tanah airmu, kamu akan lebih sering dikecewakan, karena begitulah hidup mengajarkanmu kesabaran dan ketegaran. Bakbi sekali! Mbingu betul! Arghhhhhh….

TRIAL & ERROR



*Bingung mau kasih judul apa ini tah!


Di tahun 2004 di sebuah kelas IPA di SMAK Syuradikara, saat itu, saya adalah salah satu siswi yang kurang beruntung. Demikian saya mengklaim diri saya sendiri. Saya masih ingat, pagi itu Jam Pertama Pelajaran kelas kami adalah Fisika yang dibawakan oleh seorang Guru Wanita. Sebelumnya, suami Ibu Guru ini, yang adalah seorang Dosen di satu-satunya Universitas di Kota kami, sempat beradu pendapat dengan saya pada sebuah diskusi budaya tentang Asal Usul Seorang Pahlawan Daerah Ende. Jikalau saya salah berpikir, maka maafkanlah, akan tetapi tak pernah intuisi saya mengkhianati saya, mereka tak pernah muncul sia-sia. Hasil kebawelan saya di acara ini juga, yang membuat saya kemudian terpilih sebagai satu-satunya Perwakilan Nusa Tenggara Timur untuk Lawatan sejarah Nasional I di Nangroeh Aceh Darussalam, yang kegiatannya diselenggarakan berkat program terbaru Kementrian Pariwisata dan Budaya Republik Indonesia saat itu.

Kejadian yang akan saya ceritakan ini, berlangsung hanya beberapa hari setelah saya kembali dari Nangroeh Aceh Darussalam, pada bulan Agustus yang mataharinya bersinar sangat cerah bersamaan dengan angin dingin yang bertiup dari arah selatan. Seringkali membikin saya menggigil kedinginan. Persis dengan kejadian ini, yang masih mampu menimbulkan rasa dingin yang tiba-tiba apabila mengingatnya. Dua apa tiga hari sebelumnya (saya lupa tepatnya), kami melaksanakan Tes/Ulangan terhadap salah satu bab yang telah selesai dibahas pada buku mata pelajaran Fisika yang saat itu lazim dipakai. Hasil ulangannya telah dibagikan, dan sebagaimana biasanya, saya yang tak sungguh-sungguh dalam semua mata pelajaran penting pada jurusan saya ini, mendapatkan angka yang bagi saya sudah pas, entah bagi mentor saya atau kawan-kawan saya lainnya.

Pagi itu, Sang Ibu Guru muncul, memberi salam dan berbasa-basi sebentar lalu dengan pongahnya berkata: “oke, jadi hasil ulangan kemarin sudah terima semua toh? Nah sekarang, saya mau, masing-masing duduk sesuai hasil ulangannya, supaya kita tahu, mereka-mereka ini masalahnya di mana?! Ikuti arahan saya, yang lima ke bawah, silakan duduk di deretan kursi sebelah kanan saya (sembari menggerakan tangan beliau, membentuk batasan). Kemudian, yang nilainya enam ke atas, silakan duduk di sebelah kiri saya.” Saat itu, duduk satu deretan ke belakang, (sepertinya tidak ada yang menempati kursi paling depan, kau tahulah kenapa) ada Stivan Agustinus Wungubelen, Euginius Pasely Surya Kandar, Maria Pankratia Mete Seda, Sunartin Abdullah Wahid, Kenisia Natalia Rohy, dua orangnya lagi saya lupa siapa. Jika kalian, penghuni kelas 3Ipa2 ada yang mengingat peristiwa ini, mungkin bisa membantu menyebut dua nama yang kurang. Ruangan kelas yang kita pakai saat itu adalah Ruang A2, deretan ruang kelas di Gedung Induk yang berada pada bangunan yang sama dengan Pendopo Syuradikara yang berlangit-langit tinggi itu.

Saat itu, saya menjadi sangat malu dan terpukul. Seperti dibanting dari udara sahaja rasanya. Yah kau bayangkan, belum selesai bayang-bayang asmara Aceh I’m in Love-ku itu, lalu bertemu pula aku dengan hal memalukan seperti ini. Nol Kilometer Indonesia sudah kucapai, angka enam di atas kertas ulangan saja, tak bisa kujangkau?! What The Fuck kan?
Lebih lanjut, Sang Ibu Guru berkata: “Saya hanya mau kasitahu, kenapa saya pisah-pisahkan kalian begini, supaya kalian tahu diri, ada di posisi yang mana kalian sekarang? masih proses belajar, yang nilainya bagus, jangan cepat puas! Apalagi sombong. Yang nilainya masih hopang, coba dengan sadar. Jangan terlalu sibu-ribu dengan yang tidak ada guna-gana tuh, coba dengan sadar. Tuhan tidak turun tolong kamu supaya nilai mendadak jadi bagus. BELAJAR!” -------- OKE FINE!

Satu hal yang membuat saya sungguh sangat putus asa saat itu dan, merasa yakin bahwa saya tidak akan keluar dari Syuradikara hidup-hidup, bahwa Sang Ibu Guru adalah salah satu yang merekomendasikan saya untuk memilih Jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dari beberapa Guru yang menakar kehebatan siswa/inya dari Nilai Rapor saat kenaikan kelas. Beliau juga yang mati-matian memaksa saya bertahan di kelas yang bukan saya pilih ini, yang begitu sangat horror terdengar di awal Masa Orientasi Sekolah (MOS). Beliau yang menasihati selalu, pun setia menghantam saya dan kawan-kawan dengan sindiran yang mematikan di tengah pelajaran berlangsung; “Kalian-kalian ini, sama sekali tidak merasa bersyukur e, sudah dikasih kemampuan seperti itu, bukannya dimanfaatkan dengan baik.” Kira-kira senada dengan ungkapan Kepala Sekolah Bertugas saat itu: “Tidak punya hasrat menaklukan dunia, mau jadi apa kau?”

Sejak awal pemilihan jurusan, saya sangat ingin bergabung di kelas Bahasa, karena ketertarikan saya pada sastra dan dunia menulis. Akan tetapi, sebagaimana nasib remaja berusia 16 tahun di NTT pada umumnya, jalan hidupmu ditentukan oleh Orang tua, Para Guru, Kepala Sekolah dan Nilai di atas kertasmu. Mereka adalah penentu mutlak yang lebih memahami kemampuanmu daripada dirimu sendiri. Kau siapa? Keci ana kemarin sore, macam jago-jago saja. Well!!! Orang tua saya tentu saja bangga setengah mati, anak saya Jurusan IPA, tidak kalah dengan anak-anak tetangga, rekan kerja, pejabat, de es be-nya.

Mereka tidak akan peduli, seberapa pusingnya kau melihat angka-angka tersebut berseliweran entah dari mana datangnya. Bagaimana kau gugup karena takut akan ulangan umum dan dipermalukan di seantero kelas. Bagaimana kau berusaha tetap mengimbangi bakatmu, yang hanya mendapatkan presentasi terkecil dari perhatianmu. Saya bahkan harus mencuri-curi kesempatan, untuk menuliskan puisi atau cerita ketika mood puitis saya tengah indah-indahnya, saat Guru Kimia sedang mencampurkan bahan-bahan di depan kelas hingga berasap dan menggelegak. Euw. Saya tidak peduli.

Hingga saat ini, saya masih merasa sakit hati jika mengingat kejadian di atas. Saya dibuat merasa sebagai manusia paling bodok, goblok, sial, tidak bisa diharapkan dan kawanannya, jika diketik entah sepanjang apa nanti ini. Kawan-kawan kelas saya harus tahu, bahwa saya pernah begitu benci bangun pagi dan harus berangkat ke sekolah karena mesti bergabung dengan mereka, mengikuti pelajaran sembari mengutuki diri sendiri yang adzubilah min zalik apa isi otak saya ini, sampah?!

Ketika merefleksi ini, saya kemudian paham bahwa saya marah karena tidak bisa menerima cara Sang Ibu Guru memperlakukan siswa/inya dengan bijak. Yang membuat saya merasa begitu sangat tertekan dan putus asa, hingga membencinya. Apakah tidak ada cara lain lagi, dari sekian juta kemungkinan cara di dunia ini, saat itu sudah Milenium, Abad 21. Apakah tidak ada cara lain, untuk membuat kami yang BODOK ini menjadi LEBIH BAIK atau PINTAR sebagaimana lazimnya harapan bangsa yang terpatri sejak dahulu kala? Apakah hanya dengan cara membuat kami malu, maka kami otomatis berubah?

Tiga belas tahun kemudian, saya dipertemukan dengan seorang Guru, bernama Simon Seffi. Yang menuliskan buku berjudul: Bermain dengan Sentuhan Personal – Agar Siswa Bisa Baca Tulis Sejak Kelas Satu SD yang di dalamnya juga menjelaskan bagaimana selama ini siswa/i di NTT sejak tingkat dasar sudah diajar menggunakan metode kekerasan dan hukuman yang pada akhirnya menimbulkan efek jera karena malu dan takut. Kekerasan dan hukuman ini, menimbulkan rasa tidak aman dan nyaman kepada siswa/I yang menyebabkan  siswa/I hanya melakukan apa yang diperintahkan Guru. Mereka bersekolah untuk menyenangkan Guru, bukan untuk mendapatkan ilmu.

Pada akhir tahun ajaran, di tahun 2005, saat Pengumuman Kelulusan, saya sengaja datang terlambat. Saya begitu ketakutan bahwa saya tidak akan lulus dan mempermalukan kedua orang tua saya. Keluarga saya, tetangga saya dan tentu saja diri saya sendiri. Saya datang mengenakan baju putih dan rok putih, perpaduan seragam osis dan yayasan, demi menegaskan (lebih kepada diri saya sendiri) bahwa saya tidak akan mencoret-coret seragam saya, sebab ini dibeli dengan jerih susah kedua orang tua yang setiap hari mengomeli saya dan menjelaskan daftar panjang finansial yang telah dihabiskan untuk anak sulung tak tahu diuntung seperti saya. Saya tiba ketika Pendopo Syuradikara sudah lengang, dan sialnya saya berpapasan lagi dengan Sang Ibu Guru yang tetap saja ketus di detik-detik terakhir: “Mete Seda, kau lulus juga e?”

DEMI DEWA!

Saya memiliki, hm entahlah apakah ini anugerah atau kesialan, bahwa saya mampu merekam kejadian yang telah lewat dengan sangat sempurna termasuk percakapan, raut wajah dan tatapan mata, apa lagi jika kejadian tersebut menimbulkan rasa yang seperti klimaks di hati dan pikiran saya (semacam orgasme: ada harubiru, senang, sedih, marah, sakit hati, campur aduk). Entahlah apa namanya, tidak berlebihan jika kadang saya sangat berapi-api ketika bertemu kawan lama atau orang dari masa lalu, belum lagi jika dia memberi kesan mendalam, saya akan mengupas tuntas segala kejadian yang pernah kami lewati bersama. Nostalgia yang kadang cukup menimbulkan ambigu, bisa senang atau bisa jadi membuat risih apabila bertemu teman yang tak suka mengungkit-ungkit masa silam.

Bertahun-tahun kemudian, setelah saya berdarah-darah dan berusaha menerima, memahami dan memaklumi DIRI SENDIRI, belajar dari banyak hal, syukur kepada Tuhan, saya doyan membaca, bahkan mungkin nanti hingga masuk liang lahat, bahwasannya SEMUA MANUSIA DILAHIRKAN JENIUS, tergantung di mana dia berada, bagaimana dia dididik, dengan apa dan siapa dia bergaul serta bagaimana dia mengolah semuanya, itu yang akan menentukan MANUSIA SEPERTI APA KITA. Saya belajar untuk tidak hidup berdasarkan pilihan dan omongan orang lain, saya hidup atas apa yang saya yakini!

Sampai di sini, saya mengetik sembari tersenyum. Sok sekali rupanya. Ahai.
---------------------------------

Setelah hampir sebulan saya tidak mengupdate blog pribadi ini, di sebuah misa sore yang sama sekali tidak bisa mengintervensi suasana hati saya yang kalut, entah mengapa di tengah konsekrasi, saya malah mengingat peristiwa ini. Dan setelah Komuni, saya begitu sengit dengan kertas dan spidol yang berwarna senada dengan rok yang sedang saya pakai. Orange. Entah apa pulak maknanya. Tetapi saya mengamininya sebagai sebuah jalan perubahan. Saya menulis kembali semua kejadian ini dengan sangat lancar dan penuh haru. Lalu menyalinnya di laptop saat pulang, dan memostingnya di sini. Saya tidak tahu, apa manfaat saya menuliskan ini kembali, dan apa pentingnya kau harus membaca ini? Itu terserah kalian.

Tulisan ini, rencananya, ingin saya ikutsertakan pada Kumpulan Cerita Alumni Syuradikara Edisi kedua, yang sampai saat ini juga masih rencana. Sebelumnya, telah ada Kumpulan Cerita Alumni yang terbit di tahun 2012 berjudul 5900 Langkah. Ada 30 Kisah dari 28 Alumni Syuradikara, dari yang Preman dulunya di Sekolah sampai yang Unggulan dan selalu diperhitungkan Para Guru, bergabung untuk menulis di situ. 5900 Langkah, menyimpan banyak cerita, juga ilmu yang tidak akan kau dapatkan di kelas-kelas Sekolah Menengah Atas dengan banyak mata pelajaran yang pada akhirnya sebagian besar hanya sia-sia bagi kehidupanmu di masa depan. Ini serius!


Panjangnya! Tidak ada gambar lagi. Yang kuat yah….hihi…BYE.

Catatan lain saya, tentang masa-masa labil di SMA, bisa dilihat di sini: AKHIRNYA (*Sebuah Refleksi)


Untuk yang punya foto, saya pinjam. saya temukan di google dan ini bagus. Simo Gemi :)


Taman Bung Karno Ende - Saran untuk pengembangan



Akhirnya!!!

*Jika ingin melihat gambar lebih jelas, bisa double klik pada gambar. Thanks




Saran saya ini sempat saya sampaikan ketika saya ngomel-ngomel di postingan Generasi Bangsa Ini, Diajarkan Untuk Lupa kemarin. Berikut saya uraikan lebih rinci;

Pintu depan: Ada Petugas jaga/Piket yang bekerja beberapa shift (bergantian), Pagi-Siang-Sore-Malam. Petugas-petugas ini juga bertanggung jawab atas Keamanan Lingkungan Taman setiap hari termasuk Security Check. Pengunjung DILARANG membawa spidol,pilox, atau alat-alat lainnya yang memiliki potensi Vandalisme ke dalam taman.

Di pintu depan disiapkan Katalog yang bisa dibagikan ke pengunjung saat akan masuk ke taman sebagai penunjang informasi selain juga PAPAN INFORMASI yang bisa disediakan di sudut tertentu dari taman. Informasi bisa berupa “Kenapa Taman Bung Karno dibangun?” // “Cerita tentang Proses Pembangunan hingga Peresmian” // “Sejarah Bung Karno di Ende” // “Pohon Sukun dan Falsafah Pancasila” // ini salah satu solusi yang ditawarkan untuk mengedukasi masyarakat supaya punya rasa bangga dan kepedulian lebih terhadap Taman.

Patung: Sebaiknya Lokasi Patung tidak diakses leluasa oleh pengunjung, dipagari rapi lalu diberi tulisan “PENGUNJUNG DILARANG NAIK DAN DUDUK DEKAT/DI ATAS PATUNG.” Ini terkesan keras atau mungkin norak tetapi juga mengajarkan pengunjung supaya tidak terlalu kurang ajar karena beberapa pengunjung yang ceroboh malah membuat Patung Bung Karno itu tidak memiliki wibawa sama sekali sebagai Tokoh Proklamator dan Presiden Pertama Indonesia.

Kolam airnya mohon dijaga supaya selalu berisi air, tidak kering. Karena memang begitu fungsinya, menambah keindahan dengan pantulan bayangan patung tersebut ke air (menurut saya sih).

Petugas Kebersihan: Daun-daun yang jatuh dari pohon itu tidak masalah, itu bisa dibersihkan sesekali tetapi sampah plastik atau bekas makanan yang dibuang sembarangan pengunjung itu kadang mengganggu sekali padahal sudah disediakan tempat sampah di titik tertentu. Kita harus menerima kenyataan, masyarakat kita belum begitu paham tentang “Membuang Sampah Pada Tempatnya” sehingga harus dibutuhkan pekerja extra sampai waktu yang tidak ditentukan. Petugasnya usahakan yang memang talentanya di situ, bukan yang terima gaji buta wkwkwkw…

TOILET: Belum ada toilet di Taman Bung Karno (Atau sudah ada, cuma saya yang kurang perhatikan)

Seperti di atas dulu untuk sementara, kalau seiring waktu ada yang nyasar di kepala saya dan belum terlambat untuk disampaikan, saya akan berkabar. Hm..Kalau tambahan petugas itu dirasa akan menguras banyak biaya demi menggaji mereka, pengunjung mungkin bisa dikenakan biaya retribusi masuk yang “masuk akal” untuk mengimbangi hal tersebut.

Demikian~