Tampilkan postingan dengan label Global Information. Tampilkan semua postingan

#BreakTheSilence Seminar; How to Use Your Voice Wisely



Have you ever heard of Facebook Global Digital Challenge (FGDC)?

The great campaign from the largest social media platform, Facebook

This social networking platform invites students around the world to show the public that social media can be a positive media that provides many advantages if used wisely.

One of Indonesia College is selected to participate in this joint venture program with EdVenture Partners is Undiknas University, Denpasar. Five of Undiknas students who passed the selection at the registration stage are selected as program participant , the participants are; Sean Conti from Business Management Study, Deviyanti Putri and Upayana Wiguna from Accounting Study, Faculty of Economics and Business. There is Pipin Carolina from the Law Science Study, Faculty of Law and Maria Pankratia from the Communication Science Study, Faculty of Social and Political Sciences.

This activity begins with a selection phase since January 2017 and will end with submission of activity reports by June 2017. Participants are required to submit essays explaining their motivation to engage in this activity.

All five were selected after going through a tight selection process from the EdVenture Partners. In February 2017, this team began to work. Together, with Luh Putu Mahyuni, Ph. D., CA, as the Director of Academic/Dean of Economics and Business Faculty and Ida Nyoman Basmantra, MPD as the Team Manager who is also the Head of International Office, Undiknas Denpasar. The team discussed the major themes, what should be raised in this campaign.

Seeing the situation of the Nation and the State of Indonesia which began to be attacked various kinds of radicalism issues, in the end an idea about #BreakTheSilence emerged. A campaign targeting the silence majority, people who have had enough insight and understand the situation but prefer to be silence.

As there is a phrase that says, "In a war situation, when you are impartial to anyone, you are actually supporting the ruling party." This campaign seeks to invite more people to care and determine the attitude so that no more narrow-minded people that take this opportunity to destroy everything that has been painfully built by the predecessors.
Following up on this idea, several concept activities are designed. There are visits to the orphanage, photo competition and video storytelling, making video testimonials and social experiment and film production.

There is also a Seminar titled "Pluralism in Relation to Social Media." The seminar was held on May 29, 2017, attended by 234 Students of Undiknas Denpasar and involving 30 people as committee to working together and organize the activities.

The #BreakTheSilence seminar discusses "How to interpret Diversity and speak wisely through the existing Social Media so that it has a great impact on the whole world."
Present as Speakers, there is Dea Rangga, celebgram; Yoga Arsana and Sugi Suartanaya , the Youtubers; And Anton Muhajir, Editor, Journalist and Blogger. the four speakers and the Facebook Team Global Digital Challenge share experiences and suggestions about how to use social media in the midst of the current excessive information flow.

Through this seminar, it is expected that more and more students are inspired to use the internet and social media wisely; also not negligent to forward this good message to the people they meet in their neighborhood. It's time to be, care and use your opinion wisely! More details about this campaign, #BreakTheSilence Team, Undiknas Denpasar, can be seen at:

Facebook Page: Break The Silence
Instagram: @undiknasfgdc_
Twitter: @BreakUrSilence
Channel Youtube: Undiknas FGDC


Do not forget to Follow and Subscribe the above accounts. Thanks. Regards, Bhineka Tunggal Ika. Break The Silence by Breaking Your Silence!




Taman Bung Karno Ende - Saran untuk pengembangan



Akhirnya!!!

*Jika ingin melihat gambar lebih jelas, bisa double klik pada gambar. Thanks




Saran saya ini sempat saya sampaikan ketika saya ngomel-ngomel di postingan Generasi Bangsa Ini, Diajarkan Untuk Lupa kemarin. Berikut saya uraikan lebih rinci;

Pintu depan: Ada Petugas jaga/Piket yang bekerja beberapa shift (bergantian), Pagi-Siang-Sore-Malam. Petugas-petugas ini juga bertanggung jawab atas Keamanan Lingkungan Taman setiap hari termasuk Security Check. Pengunjung DILARANG membawa spidol,pilox, atau alat-alat lainnya yang memiliki potensi Vandalisme ke dalam taman.

Di pintu depan disiapkan Katalog yang bisa dibagikan ke pengunjung saat akan masuk ke taman sebagai penunjang informasi selain juga PAPAN INFORMASI yang bisa disediakan di sudut tertentu dari taman. Informasi bisa berupa “Kenapa Taman Bung Karno dibangun?” // “Cerita tentang Proses Pembangunan hingga Peresmian” // “Sejarah Bung Karno di Ende” // “Pohon Sukun dan Falsafah Pancasila” // ini salah satu solusi yang ditawarkan untuk mengedukasi masyarakat supaya punya rasa bangga dan kepedulian lebih terhadap Taman.

Patung: Sebaiknya Lokasi Patung tidak diakses leluasa oleh pengunjung, dipagari rapi lalu diberi tulisan “PENGUNJUNG DILARANG NAIK DAN DUDUK DEKAT/DI ATAS PATUNG.” Ini terkesan keras atau mungkin norak tetapi juga mengajarkan pengunjung supaya tidak terlalu kurang ajar karena beberapa pengunjung yang ceroboh malah membuat Patung Bung Karno itu tidak memiliki wibawa sama sekali sebagai Tokoh Proklamator dan Presiden Pertama Indonesia.

Kolam airnya mohon dijaga supaya selalu berisi air, tidak kering. Karena memang begitu fungsinya, menambah keindahan dengan pantulan bayangan patung tersebut ke air (menurut saya sih).

Petugas Kebersihan: Daun-daun yang jatuh dari pohon itu tidak masalah, itu bisa dibersihkan sesekali tetapi sampah plastik atau bekas makanan yang dibuang sembarangan pengunjung itu kadang mengganggu sekali padahal sudah disediakan tempat sampah di titik tertentu. Kita harus menerima kenyataan, masyarakat kita belum begitu paham tentang “Membuang Sampah Pada Tempatnya” sehingga harus dibutuhkan pekerja extra sampai waktu yang tidak ditentukan. Petugasnya usahakan yang memang talentanya di situ, bukan yang terima gaji buta wkwkwkw…

TOILET: Belum ada toilet di Taman Bung Karno (Atau sudah ada, cuma saya yang kurang perhatikan)

Seperti di atas dulu untuk sementara, kalau seiring waktu ada yang nyasar di kepala saya dan belum terlambat untuk disampaikan, saya akan berkabar. Hm..Kalau tambahan petugas itu dirasa akan menguras banyak biaya demi menggaji mereka, pengunjung mungkin bisa dikenakan biaya retribusi masuk yang “masuk akal” untuk mengimbangi hal tersebut.

Demikian~


Ini Bukan Jessica dan Sianida, Ini Jualan Manusia



*Balebengong.net terbit 28 Oktober 2016 #CitizenJournalismAward








Mandi pagi saya ini tiba-tiba terputus. Saya jeda karena pertanyaan ini muncul tiba-tiba di kepala. Kenapa saya harus mandi? Kenapa manusia disarankan mandi dua kali sehari? Sejak kapan hal ini berlaku seperti aturan tidak tertulis di dunia? Siapa menganjurkan perihal ini?
Banyak hal yang manusia lakukan di dunia ini tanpa dipikirkan terlebih dahulu hanya karena memang sudah seperti itu yang berlaku dalam kehidupan. Kenapa kita tidak pertanyakan hal-hal yang katanya sederhana itu? Mengapa harus begini, mengapa harus begitu.
Sesekali ada yang bertanya dan akan dijawab sekenanya saja, khususnya oleh para tetua kita: Yah memang sudah harus begitu. Jangan banyak tanya, lakukan saja. Cerewet!
Dalam karyanya Essay Concerning Human Understanding, John Locke mencoba menjawab persoalan dari manakah asal ide dan pengetahuan kita, apa yang mampu kita ketahui, sejauh mana pengetahuan kita memiliki kepastian? Kapan kita dibenarkan berpegang pada pendirian yang didasarkan pada ide kita?
Penelitian semacam ini menjadi penting karena kita akan mengetahui kekuatan dan batas pikiran manusia. Dengan demikian, “pikiran manusia yang sibuk” akan membatasi diri pada pembahasan masalah-masalah yang sebenarnya memang dapat diolah. Dia akan “duduk dengan tenang membiarkan tidak mengerti” hal-hal yang di luar jangkauan kemampuannya.
Begitu banyak hal di sekitar kita yang berpendar seperti cahaya. Saya yakin semuanya penting untuk dipikirkan. Akan tetapi, kebanyakan manusia tidak ingin susah-susah memahaminya karena tidak ingin, bukan tidak mampu. Sebab semua manusia terlahir jenius. Kasarnya, tidak tertarik karena tidak menarik.

Human Trafficking
Seperti Human Trafficking. Kasus yang sedang marak diberitakan ini mungkin sudah menjadi perhatian publik nasional. Namun, nasional di sini tidak berarti semua manusia Indonesia paham dan mau terlibat memikirkannya. Tulisan ini dibikin dengan tujuan menarik perhatian banyak orang sehingga kesadaran dapat muncul. Lalu, makin banyak yang mulai berpikir tentang hal ini. Lebih bagus lagi apabila memutuskan membantu dengan cara masing-masing.
Human Trafficking, pengertiannya yang paling umum, termaktub dalam UU NKRI No. 21 tahun 2007. Di sana tersurat, “Yang dimaksudkan dengan perdagangandalam manusia adalah tindakan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan dengan memanfaatkan posisi rentan, penjeratan uang atau memberi bayaran atau manfaat, sehingga memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain tersebut, baik yang dilakukan di dalam daerah dan di luar daerah maupun antarnegara, untuk tujuan eksploitasi atau mengakibatkan orang tereksploitasi.”
Praktiknya; menemukan manusia dari mana saja yang bisa dikendalikan sebagaimana sapi perah karena seseorang merasa sudah menyerahkan sejumlah uang atau barang sebagai kompensasi. Manusia yang “terbeli” itu dapat diperlakukan sesukanya. Tak jauh beda dengan perbudakan, menurut ngana?
Perlu kita ketahui juga bahwa kebutuhan akan tenaga kerja manusia ini tidak hanya datang dari luar Indonesia seperti Malaysia dan Hongkong. Justru di dalam negeri banyak tenaga kerja seperti pekerja rumah tangga (PRT) dan baby sitteryang didatangkan dari pelosok daerah demi memenuhi permintaan pasar.
Saya pernah menemukan iklan lowongan pekerja rumah tangga di Bali Advertiser. Saya lupa edisi ke berapa pada 2012. Saya pernah memostingnya di Facebook. Iklan itu berisi special request pada baris terakhir “Diprioritaskan yang berasal dari Sumba.” Ini fenomena menarik. Bahwa hari-hari ini, karakter manusia juga menentukan derajat dan kualitas suku atau etnis tertentu sehingga membentuk pasar yang cukup signifikan.
Saya sendiri sangsi, para tenaga kerja yang masih berada di ruang lingkup seputar Indonesia ini apakah mendapatkan hak sesuai  kewajiban yang sudah mereka jalankan atau belum. Di akhir Mei 2016, saya diberi kesempatan mengecap pengalaman ini bersama pengurus Ikatan Keluarga Besar Flores, Paguyuban Flobamora di Bali.
Pada kasus ini, ada 29 orang perempuan yang dicegah keberangkatannya ke Jakarta di Bandara Ngurah Rai, Bali. Beberapa orang yang saya wawancarai berusia masih di bawah 20 tahun. IKB Flobamora Bali dihubungi sejumlah pihak di Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT) baik itu Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) agar membantu membatalkan keberangkatan nona-nona Sumba ini.
Pasalnya pola-pola memberangkatkan tenaga kerja tanpa identitas sering terjadi dan merupakan salah satu modus penjualan manusia (human trafficking). Sebagian besar berangkat dengan dokumen yang baru saja diurus seminggu sebelumnya. Bahkan ada keterangan usia yang tidak sesuai antara KTP, Surat Permandian dan Ijazah. Mereka mengaku akan dipekerjakan sebagai PRT, baby sitter dan merawat orang jompo. Gaji yang dijanjikan pun bervariasi. Tidak semuanya mendapatkan informasi sama dari agen yang merekrut.
Berbagai alasan mereka kemukakan. Sebagian besar mengakui tuntutan kebutuhan ekonomi keluarga menyebabkan mereka harus berangkat ke Jakarta dan bekerja apa saja. Lain lagi dengan alasan beberapa orang anak perempuan yang baru saja lulus SMA. Ketika saya bertanya tentang cita-cita dan keputusan mereka melakukan perjalanan ini. Mereka hanya ingin menabung biaya pendidikan agar bisa bersekolah.
Setelah dua tahun kontrak kerja mereka selesai dan dana sudah cukup, mereka akan kembali ke kampung halaman atau hijrah ke kota lain supaya bisa melanjutkan sekolah. Sesederhana itu rencana yang mereka bangun.
Faktor Pendorong
Beberapa hal yang mendorong hal seperti perdagangan manusia bisa terjadi, saya ilustrasikan seperti berikut:
Bertha ibu dengan empat orang anak di pelosok daerah. Pendidikan terakhirnya Sekolah Dasar. Menikah di usia dini karena sudah telanjur hamil. Setiap hari ia sibuk membantu suami di ladang sebagai petani. Hasil pertanian tidak menentu karena musim tidak pasti serta pengelolaan yang masih sederhana. Bertha sekeluarga pun harus mengikat perut setiap hari. Belum lagi dua anaknya yang paling besar sudah mulai bersekolah.
Suatu ketika, Sius, Sekertaris Desa yang juga teman bermainnya di masa kecil berkunjung ke rumah Bertha. Ia menawarkan pekerjaan di tempat sangat jauh dengan gaji menarik. Pekerjaannya pun tidak terlalu berat, “Kau cuma cuci pakaian, masak, setrika macam yang kau biasa bikin di rumah juga. Itu satu bulan kau sudah dapat sekitar dua juta. Belum lagi tunjangan lain-lain. Nanti saya yang urus kau punya surat-surat. Kau cukup kerja satu atau dua tahun. Kau sudah bisa pulang dan bawa uang banyak. Kerja di luar negeri lagi.”
Sepanjang malam, Bertha tidak dapat memejamkan mata. Ia bahkan membangunkan suaminya dan mengajak berdiskusi. Suaminya sedikit keberatan, mengingat anak-anak mereka akan ditinggalkan ibunya untuk waktu lama. Lagipula, suami Bertha ragu dengan apa yang dikatakan Sius. Malam itu mereka tidur saling memunggungi satu sama lain.
Dua hari kemudian, saat akan beranjak tidur di malam hari, Bertha kembali membahas hal tersebut. Suaminya tetap bersikeras tidak mengizinkan ia pergi. Mereka bertengkar cukup hebat.
Keesokan hari, Bertha mendatangi mertuanya dan mengadu. Kedua mertuanya medengarkan dengan seksama dan merasa Bertha menemukan solusi tepat untuk meningkatkan kondisi perekonomian keluarga. Lalu kenapa anak mereka yang adalah suami Bertha harus melarang Bertha berangkat bekerja?
Suami Bertha dipanggil, diajak berbicara serius. Ia berusaha memaparkan banyak alasan, baik itu anak-anak maupun keraguannya tentang Sius. Alasan tersebut dipatahkan begitu saja oleh kedua orang tuanya. “Anak-anakmu biar kami yang jaga, kasih saja Bertha pergi. Sius itu kita kenal baik. Dia tidak mungkin bikin Bertha luntang-lantung di tanah orang.”
Singkat cerita, Bertha pun berangkat. Hanya membutuhkan waktu satu minggu untuk mengurus dokumen keberangkatan. Bertha begitu total mempercayai Sius. Selama enam bulan setelah keberangkatan, suami dan anak-anaknya tidak pernah menerima kabar berita dari Bertha.
Setahun kemudian, dua petugas Badan Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) mendatangi rumahnya dan memberikan kabar menyesakkan. Bertha dinyatakan meninggal di negeri perantauan akibat sakit yang tidak dapat disembuhkan.
Akan tetapi, banyak pihak yang peduli dan menyangsikan kejadian ini. Banyak kejanggalan sehingga diadakan penyelidikan lebih lanjut. Berita-berita yang menyusul kemudian hanya menjadi mimpi buruk bagi suami dan anak-anaknya serta penyesalan tak berujung bagi kedua mertuanya. Sementara Sius, tetap hidup dengan aman dan tenteram. Ng….salah siapa?
Kesimpulan dari ilustrasi di atas menghasilkan beberapa poin.
Pertama, masih dan akan selalu tentang faktor ekonomi atau kemiskinan. Permasalahan ini sering sekali menjadi masalah utama dalam kasus human trafficking. Tanggung jawab yang besar untuk menopang hidup keluarga, membayar semua pengeluaran dan pendidikan anak, saudara, dan lainnya sering menjadi pemicu mencari pekerjaan di luar negeri yang tidak jelas kepastiannya.
Kedua, keinginan untuk menjadi kaya dalam waktu yang singkat.
Ketiga, faktor budaya seperti: peran perempuan untuk mencari nafkah, memang sudah kodratnya perempuan mengurus rumah dan hanya membantu untu mencari nafkah tambahan, namun tanggung jawab atas keberlangsungan hidup keluarganya menjadi alasan untuk berimigrasi.
Selain itu juga, peran anak dalam sebuah keluarga, kepatuhan anak terhadap orang tua serta rasa tanggung jawab untuk membayar hutang yang keluarganya miliki, memberikan motivasi tersendiri bagi mereka untuk berangkat bekerja.
Keempat, faktor budaya lainnya: khusus bagi TKI laki-laki. Motivasi untuk berangkat bekerja ke Negara tetangga terkadang bukan hanya tentang keluarga, tetapi tentang perempuan yang akan dinikahi.
Khusus di NTT, tradisi “belis” atau mas kawin sejak beberapa tahun silam terjadi pergeseran makna yang memberikan tekanan cukup besar bagi pihak laki-laki. Jika terus berada di kampung, biaya mas kawin dan resepsi menikah tak akan pernah cukup. Menjadi TKI adalah jalur alternatif yang bisa ditempuh.
Kelima, perkawinan dini mempunyai implikasi yang serius bagi para anak perempuan termasuk bahaya kesehatan, putus sekolah, kesempatan ekonomi yang terbatas, gangguan perkembangan pribadi, dan seringkali, juga perceraian dini. Anak-anak perempuan yang sudah bercerai secara sah dianggap sebagai orang dewasa dan rentan terhadap trafficking disebabkan oleh kerapuhan ekonomi mereka.
Keenam, kurangnya kesadaran, baik mereka yang menjalankan atau terlibat dalam perdagangan manusia ataupun mereka yang menjadi korban perdagangan manusia. Hal ini karena kurang hati-hatinya dan kurangnya informasi serta pengetahuan yang mereka dapat tentang motif-motif dari Perdagangan Manusia.
Ketujuh, pengetahuan yang terbatas yang dimiliki, orang dengan pendidikan yang terbatas memiliki lebih sedikit keahlian/skill dan kesempatan kerja dan mereka lebih mudah menjadi sasaran karena memutuskan bermigrasi mencari pekerjaan yang tidak membutuhkan keahlian.
Kedelapan, orang-orang terdekat yang cukup mengambil andil dalam membentuk keputusan tidak memiliki pengalaman dan pengetahuan yang memadahi sehingga ancaman tidak hanya datang dari luar melainkan juga dari dalam rumah itu sendiri. Tak jarang, iming-iming sejumlah uang justru memperlancar proses keberangkatan. Duit sejuta di pelosok sana, itu BANYAK SEKALI.

Berita Tragis
Akhir Juli 2016, KOMPAS.COM memuat berita tragis dan sungguh menyayat hati: sepanjang 2016 sudah 23 Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Nusa Tenggara Timur (NTT) meninggal di Malaysia. Sayangnya, kabar ini tak sedemikian mencuat dan menyita perhatian khalayak, sebagaimana publik Indonesia menempatkan rasa kepo-nya yang besar pada kasus kopi sianida.
Perdagangan manusia memang bukan isu seksi layaknya drama Jessica dan Mirna.
Pada 11 Oktober 2016 kemarin, Kompas TV bekerja sama dengan Jaringan Relawan Untuk Kemanusiaan (J-RUK) Sumba melalui program Berkas Kompas mengangkat topik “Jalan Gelap TKI Ilegal.” Pada liputan ini, diketahui sepanjang tahun 2016 telah ada 35 korban TKI yang meninggal di perantauan. Hanya ada empat TKI yang berangkat melalui jalur resmi sementara tiga puluh satu lainnya berangkat secara legal atau memalsukan identitas.
Jumlah mereka yang mati dikabarkan terus bertambah. Hingga 25 Oktober 2016, ketika tulisan ini sedang saya kerjakan, sudah 44 orang TKI asal NTT meninggal di negara orang.
Kasus yang cukup menghebohkan adalah kematian buruh migran bernama Yulfrida Selan (19 tahun), asal Timor Tengah Selatan, NTT. Yulfrida meninggalkan kampung halaman tanpa sepengetahuan keluarganya sejak September 2015.
Pada 13 Juli 2016, petugas BP3TKI NTT memberitahu keluarga, bahwa Yulfrida telah meninggal gantung diri di dapur rumah majikannya di Malaysia. Saat jenazah Yulfrida diserahkan pada keluarga, ditemukan sejumlah kejanggalan: identitas korban dipalsukan, kondisi jenazah penuh bekas jahitan, serta dugaan Yulfrida menjadi korban perdagangan organ tubuh, yang kemudian dibantah Polri.
Tak pernah habis masalah TKI ini diangkat, namun tidak kunjung terurai. Kasus di NTT menunjukkan pengiriman TKI tidak resmi lebih jadi pilihan ketimbang jalur legal. Mengapa bisa demikian? Selain karena permintaan tinggi, warga desa mudah ditipu dengan cara ilegal, demi terhindar dari biaya-biaya yang dianggap membebani seperti tes kesehatan, asuransi hingga biaya pelatihan. Identitas mereka dipalsukan, sertifikat keterampilan pun dipalsukan. Oleh para calo, TKI kemudian dikirim ke majikan yang telah memesan.
Data yang dihimpun tim International Organization for Migration menyebutkan 65 persen TKI direkrut oleh pekerja individual, para calo atau tetangganya. Sekitar 35 persen direkrut lembaga penyalur tenaga kerja (PPTKIS), dan sekitar 5 persen bahkan dijerumuskan oleh keluarganya sendiri, sisanya sebagian kecil diculik untuk dieksploitasi.
Kasus terbaru pada 23 Agustus 2016 lalu, Polda NTT mengungkap sindikat perdagangan orang yang menukarkan 20 TKI ke luar negeri, dengan satu mobil Xenia. Sungguh ironi, nyawa manusia hanya dihargai satu buah mobil.
Bagi yang selama ini penasaran, semoga tulisan ini menjawab rasa-rasa yang selama ini berkecamuk di kepala Anda. Kenapa orang-orang ini mau berangkat kerja ke luar negeri? Kenapa mereka bisa menjadi korban perdangangan manusia? Kenapa mereka bisa mati begitu saja dan tidak dipedulikan?
Mulai saat ini, cobalah kita lebih peka dengan situasi di sekitar. Di negara kita tercinta ini. Apabila memiliki tenaga kerja di rumah yang berasal dari pelosok daerah, sudahkah kita memperlakukan dengan layak dan memberikan hak yang seharusnya ia dapatkan?
Begitu pula jika kita mendapat curiga, mencium hal-hal yang mengarah pada cerita-cerita yang sudah saya kemukakan di atas, sepatutnya kita mencari tahu dan mengantisipasi. Terhadap keluarga, kenalan, siapa saja yang kita jumpai. Sampaikan informasi-informasi berharga ini lalu meneruskannya kepada yang sungguh-sungguh membutuhkan. Dengan demikian tidak ada lagi korban-korban selanjutnya pun kesedihan yang berkepanjangan.

Penutup
Jangan terburu-buru sebab tulisan ini belum selesai. Cerita ini tidak fiktif. Ini yang mencuat keluar dari sekian kenangan yang tersimpan lama. Saya tarik dari lemari penyimpanan memori karena dibutuhkan.
Belasan tahun yang lalu, saat itu saya masih sangat kecil dan tidak mengerti apa-apa. Rumah kami kedatangan sejumlah keluarga yang akan berangkat ke Malaysia. Saya terpukau, waow itu kan luar negeri. Kakak sepupu saya yang adalah anak dari kakak ayah saya, mengumpulkan mereka di ruang tamu lalu membagikan Kartu Identitas mereka.
Ia menekankan supaya mereka semua berhati-hati saat naik kapal nanti, usahakan semua tiba di Kalimantan dengan selamat. Saat itu saya hanya bengong menatap biji matanya yang hampir menggelinding keluar, juga kumisnya yang terus bergerak seiring ia bicara.
Tiga tahun lalu, adiknya, salah satu dari yang berangkat, dinyatakan meninggal karena TBC di Malaysia. Hal ini terjadi setelah berkali-kali mereka pulang-pergi bekerja ke Malaysia. Dan saya baru mendengar kabar duka ini setahun lalu dari adik kandung saya.
Laki-laki yang meninggal itu, kami cukup dekat saat saya masih sering bertandang ke kampung. Dia sepupu yang selalu mengabulkan keinginan saya akan mata yang lapar terhadap buah-buah di pepohonan sekitar rumahnya. Hari-hari ini, saya mulai penasaran, apakah sungguh ia mati karena sakit? [b]
#StopHumanTraficking #StopBajualOrangIndonesia #StopBajualOrangNTT








South Africa National Anthem~

Barangkali ini yang namanya kekuatan dari sebuah lagu kebangsaan.

Pertama kali saya mendengar lagu ini karena menonton "Invictus" ; film drama biografi tahun 2009 berdasarkan peristiwa di Afrika Selatan sebelum dan selama Piala Dunia Rugby tahun 1995, diselenggarakan di negara itu setelah pembubaran apartheid. Film ini disutradarai oleh Clint Eastwood dan dikenal karena pemeran-pemerannya yang merupakan aktor-aktor bintang Amerika Serikat: Morgan Freeman, Matt Damon, dan masih banyak lagi. Cerita ini diadaptasi dari buku Playing the Enemy: Nelson Mandela and the Game That Changed a Nation karya John Carlin.
Sebuah film yang pada awalnya saya tonton hanya karena ada si Morgan Freeman (berperan sebagai Nelson Mandela), beliau salah satu aktor favorit saya dan juga karena film ini direkomendasi oleh kawan saya Almarhum Shanti Djemarut. Selera filmnya bagus :D

Sebelumnya saya berpikir ini sebuah lagu gereja karena aransemennya yang seperti sebuah hymne, apalagi dinyanyikan oleh Overtune secara acapela (pengisi soundtrack "Invictus"). Sampai pada adegan Matt Damon dan team rugby africa berada di lapangan dan menyanyikannya sebelum pertandingan final piala dunia rugby melawan New Zealand sebagai National Anthem of Africa, baru saya ngeh. Hm... Lagu ini memiliki spirit luar biasa dan iya saya menangis di akhir lagu (seperti biasa).

Fakta yang saya baca tentang lagu ini :

Struktur
Fakta bahwa ada modulasi di lagu ini dan berakhir pada kunci yang berbeda, bagian ini ada kemiripan dengan lagu kebangsaan Italia, sehingga membuat komposisinya tidak biasa. Lirik lagu ini menggunakan lima bahasa yang paling banyak digunakan di Afrika dari sebelas bahasa resmi Afrika Selatan - Xhosa (bait pertama,dua baris pertama), Zulu (bait pertama, dua baris terakhir), Sesotho (bait kedua), Afrikaans (bait ketiga), dan Inggris (bait akhir).

Sejarah
Lagu ini sebenarnya dua lagu yang digabungkan.
'Nkosi Sikelel' iAfrika 'disusun oleh guru sekolah Methodist bernama Enoch Sontonga pada tahun 1897. Lagu ini pertama kali dinyanyikan sebagai himne gereja (berarti dugaan saya tidaklah keliru ^^), tetapi kemudian menjadi sebuah lagu yang mendukung tindakan pembangkangan politik terhadap pemerintahan *apartheid (*cek wikipedia)
'Die Stem' adalah puisi yang ditulis oleh CJ Langenhoven pada tahun 1918 dan pengatur musik oleh Pendeta Marthinus Lourens de Villiers pada tahun 1921. 'Die Stem van Suid-Afrika' adalah lagu nasional Afrika bersamaan dengan ' God Save The King '/' God Save The Queen 'antara tahun 1938 dan 1957, ketika itu menjadi lagu kebangsaan tunggal hingga tahun 1994.

Pemerintah Afrika Selatan mengadopsi kedua lagu tersebut sebagai lagu kebangsaan pada tahun 1994, ketika tampil di upacara pelantikan Nelson Mandela.
Pada tahun 1997, pemerintah kemudian merembukan dua lagu tersebut,'Nkosi Sikelel' iAfrika dan 'Die Stem van Suid-Afrika untuk dijadikan lagu kebangsaan dengan tambahan lirik berbahasa Inggris pada empat baris terakhir dari bait pertama lagu 'Die Stem van Suid-Afrika', dengan perubahan yang dibuat untuk mencerminkan harapan masyarakat Afrika Selatan pasca-apartheid. (Sumber : Wikipedia)



8 ALASAN UNTUK MENCINTAI DIRI SENDIRI #Kompas

Tak perlu menjadi supermodel untuk bisa mencintai diri Anda karena hanya dengan menjadi diri Anda akan banyak pria yang tertarik pada Anda

KOMPAS.com - Banyak orang yang hanya memandang berbagai kekurangan dalam dirinya. Hal ini menyebabkan ia tidak mampu menggunakan berbagai kelebihan dalam dirinya untuk memperluas pergaulan, menambah ketrampilan, mendapatkan pasangan, dan tentunya meningkatkan kariernya. Bila Anda termasuk orang yang selalu fokus pada kekurangan diri, mulailah belajar untuk mencintai diri Anda sendiri. Berikut alasannya:

1. Tubuh Anda berfungsi untuk membedakan Anda dari orang lain, dan memudahkan orang lain mengenali Anda. Ada milyaran orang di dunia ini, sehingga tubuh menjadi salah satu penanda khas diri Anda. Misalnya, Anda memiliki sebuah lesung pipi yang akan terlihat manis ketika Anda tersenyum. Tidak semua orang memilikinya.

2. Salah satu hal yang paling penting untuk bisa menghargai diri Anda adalah karena Anda masih hidup sampai sekarang. Artinya, Anda masih bisa melakukan banyak hal menakjubkan bersama keluarga dan teman-teman Anda, seperti merayakan ulang tahun keluarga, makan bersama, sampai tertawa bersama. Semua hal menyenangkan ini bisa Anda alami karena Anda masih hidup.

3. Anda akan selalu terlihat berbeda. Apa yang Anda rasakan, apa yang Anda lakukan, dan siapa diri Anda, akan selalu membuat Anda unik. Kadang apa yang Anda lakukan, atau apa yang terjadi pada diri Anda, tak selalu membuat orang senang. Tetapi selalu ada potensi untuk melakukan sesuatu hal yang bermanfaat, baik untuk diri Anda maupun orang lain. Ketika seorang teman mengalami musibah, teman-teman Anda yang lain mungkin akan ramai membicarakannya. Namun, hanya Anda yang tergerak untuk mengumpulkan sumbangan untuk teman Anda ini. Itulah yang membedakan Anda dari yang lain.

4. Tak peduli seperti apa penampilan Anda, akan selalu ada orang yang tertarik pada Anda. Setiap orang punya gaya masing-masing, sesuai dengan jatidirinya. Hal inilah yang membuat setiap orang menjadi berbeda dan istimewa. Anda tak perlu menjadi seperti seorang supermodel untuk bisa menjadi menarik, karena tak semua orang tertarik pada mereka. Cukup dengan menjadi diri Anda sendiri, maka orang akan tertarik dengan Anda.

5. Sekarang ini, Anda memiliki kebebasan untuk menemukan dan mengenakan berbagai pakaian yang membuat diri Anda tampak menarik. Kalau sehelai pakaian yang indah bisa menutupi kekurangan fisik Anda, atau membuat Anda lebih percaya diri saat menghadiri wawancara kerja, tak ada yang lebih dapat mencintai diri Anda sendiri kecuali Anda.

6. Banyak hal menakjubkan dalam diri Anda. Jangan selalu melihat kekurangan diri, tapi cobalah liat sisi positif diri Anda yang belum terungkap. Seringkali orang hanya terpaku pada gambaran fisik atau karakter yang tampak di permukaan. Coba kenali diri Anda, apakah Anda mempunyai kelebihan yang tidak dapat dilihat oleh orang lain. Misalnya, Anda ternyata seorang yang tegas dan tidak mudah terpengaruh. Anda memiliki kemampuan untuk mengarahkan orang lain, dan membimbing mereka menjadi lebih baik.

7. Setiap orang memiliki bakat dan kemampuan yang berbeda satu sama lain. Perbedaan kemampuan ini menjadikan Anda istimewa. Misalnya, Anda merasa tak punya ketrampilan untuk memainkan alat musik, memainkan salah satu jenis olahraga, atau menari, sehingga Anda jarang mendapat kesempatan untuk tampil. Namun, Anda ternyata pintar memasak, dan ketika Anda menjamu teman-teman di rumah dengan masakan Anda, mereka memuji kemampuan Anda. Hasilnya, Anda menerima banyak pesanan makanan.

8. Satu alasan lagi mengapa Anda harus mencintai diri Anda adalah karena tidak ada orang yang sempurna. Anda tidak harus mencari cara untuk selalu terlihat cantik, hebat, menakjubkan, lucu, kuat, dan lainnya. Seringkali Anda hanya perlu menjadi Anda sendiri. Selalu ada orang yang mampu melihat kepribadian Anda yang sesungguhnya, dan mampu mencintai Anda apa adanya.


INTEGRITAS!!! (Copas sebagai catatan!)

Definisi Integritas - Integritas adalah adalah konsistensi dan keteguhan yang tak tergoyahkan dalam menjunjung tinggi nilai-nilai luhur dan keyakinan definisi lain dari integritas adalah suatu konsep yang menunjuk konsistensi antara tindakan dengan nilai dan prinsip. Dalam etika, integritas diartikan sebagai kejujuran dan kebenaran dari tindakan seseorang. Lawan dari integritas adalah hipocrisy (hipokrit atau munafik). Seorang dikatakan “mempunyai integritas” apabila tindakannya sesuai dengan nilai, keyakinan, dan prinsip yang dipegangnya (Wikipedia). Mudahnya, ciri seorang yang berintegritas ditandai oleh satunya kata dan perbuatan bukan seorang yang kata-katanya tidak dapat dipegang. Seorang yang mempunyai integritas bukan tipe manusia dengan banyak wajah dan penampilan yang disesuaikan dengan motif dan kepentingan pribadinya.Integritas menjadi karakter kunci bagi seorang pemimpin. Seorang pemimpin yang mempunyai integritas akan mendapatkan kepercayaan (trust) dari pegawainya. Pimpinan yang berintegritas dipercayai karena apa yang menjadi ucapannya juga menjadi tindakannya.

Dari selancar di internet saya menemukan ungkapan yang menarik tentang integritas :

“When you are looking at the characteristics on how to build your personal life, first comes integrity; second, motivation; third, capacity; fourth, understanding; fifth, knowledge; and last and least, experience.

Without integrity, motivation is dangerous; without motivation, capacity is impotent; without capacity, understanding is limited; without understanding, knowledge is meaningless; without knowledge, experience is blind. Experience is easy to provide and quickly put to good use by people with all other qualities.

Make absolute integrity the compass that guides you in everything you do. And surround yourself only with people of flawless integrity.”

Ungkapan yang saya cetak tebal menurut saya sangat inspirasional : Tanpa integritas , motivasi menjadi berbahaya; tanpa motivasi, kapasitas menjadi tak berdaya; tanpa kapasitas, pemahaman menjadi terbatas; tanpa pemahaman pengetahuan tidak ada artinya; tanpa pengetahuan, pengalaman menjadi buta.

Kesimpulannya, integritas adalah kompas yang mengarahkan perilaku seseorang. Integritas adalah gambaran keseluruhan pribadi seseorang (integrity is who you are).

Definisi Integritas
Setelah membaca tentang makna integritas, saya berpendapat kriteria integritas sebagai persyaratan pertama dalam memilih pimpinan, baru berikutnya menyusul syarat kapabilitas intelektual dan manajerial. Semakin banyak tipe manusia dengan integritas yang tinggi akan menentukan maju mundurnya suatu lembaga dan lebih luas lagi akan menentukan masa depan suatu Negara.